Bunuh Diri – Jantung Warna

Karya . Dikliping tanggal 1 Mei 2016 dalam kategori Arsip Puisi, Koran Tempo

Bunuh Diri

Niat bunuh diri itu ikut makan malam bersama kami
meminta kursi dan duduk satu meja.
Ia memandangi mata kami satu-satu
melucuti dirinya dan meletakkan apa saja yang dibawa
berdetak dengannya selama ini.
Tawarannya seperti ikut tersaji di atas piring-piring kami
tergeletak, siap dihabisi mulut dan gigi nalar ini.
Ia bukan ingin mengingatkan sebuah jalan ke langit
dari sepucuk pistol, atau dari setetes bisa
apalagi dari uluran tali dari atap rumah ini.
Pernah kami mengetuk jendelanya di angkasa
meminta ia mengajarkan cara tersenyum
tapi bagi si kidal nan bebal, seorang bayi
yang belajarnya bernyanyi
dan istri tak tahu diri
ia mungkin lebih cergas memetik gitar
Setelah menyelesaikan obrolan pelik dengannya
salah satu dari kami harus ada yang mengantarnya pulang
memasangkan sepatunya lagi.
Menunjukkan arah di mana ia pernah sembunyi
dan terakhir membiarkan segenap hati
tanpa gugup menerima cinta matinya pasti.
(2016)

Jantung Warna

Tak memiliki bentuk bukanlah pilihannya
walau seketika ia selalu mudah dicintai dengan berbagai gaya
yang menelikung kata-kata yang kita punya.
Ia surga yang terurai setiap berulang kali
bersentuhan benda
jaga hanya mampu menebar-debar
pada kejatuhan cahaya pertama
Tak memiliki daya bukanlah kelemahan ia semata
riasnya sebatas pecahan rupa
tak perlu memiuh apalagi mematahkannya
dalam pokok dan dahan awal mula titik
diciptakan dunia.
Ia memasang wajahnya tanpa menentukan angka usia
setiap bilah tangga yang pernah diinjaknya
mungkin tertangkap bayang
mungkin memerangkap lamunan.
Arusnya khidmat meniti ruang dan isi
menggelinding atau tergigit nurani
sangat bertahan sebagai tamu atau  pulang
menyisakan jejak kekalahan.
Hampir saja kekayaannya tak pernah habis
siapa yang akan menjadi ahli waris
mereka yang buta atau siapa pun itu
yang melihat ia berkelakar lagi hari ini?
(2016)
Mugya Syahreza Santosa, lahir 3 Mei 1987 di Cianjur. Buku puisinya Hikayat Pemanen Kentang, 2011. Tinggal di bandung.
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Mugya Syahreza Santosa
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Koran Tempo”” edisi 30 April – 1 Mei 2016
Beri Nilai-Bintang!