Burhan

Karya . Dikliping tanggal 18 September 2018 dalam kategori Arsip Cerpen, Suara Merdeka

“Burhan?”

Suara itu muncul dari mulut seseorang. Sepertinya perempuan. Tiba-tiba ia menghentikan langkah, setelah melangkah dengan kehati-hatian pencuri agar bisa mengelilingi rumah tanpa menimbulkan suara. Hampir meluncur teriakan dari kerongkongannya.

Suara itu dari lantai dua. Tepat ketika ia akan sampai di anak tangga pertama menuju lantai dua, langkahnya tertahan. Mungkinkah ada orang lain? Ia merasa ngeri; sendirian di kegelapan rumah, lalu menyadari ada orang lain. Dari ujung bawah tangga itu ia melihat cahaya lampu menyala dari lorong di lantai dua.

“Burhan? Itukah kau?”

Matanya tak berkedip sejak suara pertama muncul. Bulu kuduknya berdiri. Angin berdesir menyentuh tengkuk dan telinganya. Sayupsayup suara langkah muncul dari lorong itu. Tidak cepat, terdengar hati-hati. Ia gelagapan.

Ia mundur dengan hati-hati. Tepat di belakangnya adalah jalan menuju ruang makan sekaligus dapur. Ia ke sana. Ruangan itu memiliki meja panjang yang dikelilingi beberapa kursi. Ada lemari dapur dan kulkas.

Dengan senter dia mengenali dengan baik benda-benda itu. Ruang itu tak seberapa besar. Meja hanya muat lima orang. Jika dipaksakan bisa jadi enam. Sepanjang sisi meja terkikir rapi, peliturnya masih bagus. Kursi-kursi kayu yang tak ia kenali jenisnya memiliki bantalan yang membuat nyaman orang yang menduduki. Lampu gantung cukup rendah bergeming di atas meja. Terlihat seperti empat tulip putih yang akan mekar dan tertangkup terbalik. Perpaduan senter dan mata yang cemerlang mengenali semua itu dengan mudah. Telinganya tak kalah cemerlang, terutama menghadapi ketakutan seperti saat ini.

Suara itu muncul lagi. Terdengar lebih dekat dan tajam. “Burhan? Kaukah itu? Tak apa, kemarilah.”

Mungkin sosok itu sudah sampai di anak tangga. Mungkin sedang menuju ke ruang makan. Ia tak mungkin menjawab, “Di sini gelap. Aku tak bisa mendengarmu.” Atau semacamnya. Ia diam saja. Namun dalam pikirannya berkelebat kemungkinan agar bisa keluar dari situasi itu.

Tak mungkin bagi dia unjuk diri di hadapan sosok itu. Ia tak yakin itu perempuan. Kalaupun perempuan, ia tak akan unjuk diri. Ia masih teguh pada keyakinan: hanya ia seorang di rumah ini.

Takut dan bingung, ia merangkak masuk ke kolong meja panjang. Kursi berderit menimbulkan suara ketika ia merangkak. Dari kolong meja terdengar langkah-langkah menyerbu ke ruang makan. Ia ketakutan setengah mati. Terlampau takut hingga ia memejamkan mata. Kedua tangannya erat sekali memeluk tas penuh makanan. Dalam pejam mata, ia memikirkan hal-hal baik yang pernah ia alami; beberapa jam sebelum ia masuk rumah, saat masih di jalanan yang panjang dan dingin, bintang- bintang menghiasi langit malam — banyak dan terserak.

Dulu, sang ibu bercerita bertemu ayahnya di bawah malam penuh bintang. Di suatu ruas jalan yang panjang dan sepi, mereka bertemu tanpa pernah tahu: takdir membawa mereka jauh. Tanpa tahu akibat pertemuan itu, mereka menghabiskan malam bersama, minum banyak minuman yang sama, dan berbaring di ranjang yang sama. Ketika pagi menyingsing, ayahnya hilang meninggalkan sebuah lukisan: potret malam penuh bintang.

“Ayahmu orang baik, Nak. Ia tinggalkan lukisan ini agar lebih mudah diingat. Jika kautemukan dia lebih dulu, ajaklah pulang,” ujar sang ibu sesaat sebelum pergi mencari ayahnya.

Sejak saat itu, sang ibu tak pernah pulang. Rumah yang sepi jadi lebih sepi. Ia tinggal sendirian bersama lukisan malam penuh bintang itu. Malam selalu cerah dalam lukisan itu. Di bawah langit malam ada sebuah desa dikelilingi perbukitan. Ia membayangkan berbaring di salah satu bukit, memandangi bintang-bintang.

Sang ibu juga pernah berkata, jika tak kunjung pulang, ia sedang berkeliling dari satu bintang ke bintang lain, mencari sang ayah. “Barangkali Ayah dan Ibu di sana,” pikirnya.

Dengan satu tas penuh makanan, aku akan menyusul mereka. Dan, makan bersama mereka. Karena itu, ia harus segera keluar dari rumah ini. Ia tak akan menunda tekadnya.

BurhanIa membuka mata perlahan. Ketika kedua kelopaknya hampir terbuka sempurna, pintu kulkas terbuka. Ia memejam kembali, tak berani membuka mata. Ia memilih tetap memikirkan hal-hal baik yang pernah ia alami. Namun yang muncul adalah hal-hal buruk yang akan terjadi setelah pintu kulkas terbuka. Suara teguk air muncul di telinga. Sungguh itu orang lain?

Namun masih dalam keyakinan sama, ia tak ingin mengambil risiko untuk meyakini memang benar ada orang lain di rumah. Sejak awal kemunculan suara itu, ia yakin: itu suara hantu. Namun mana ada hantu melangkah?

Suara langkah muncul kembali. Entah menuju ke mana. Langkah itu terdengar sayup, hingga tak terdengar sama sekali. Perasaan lega menghampiri. Kelopak matanya yang menegang, kini bisa beristirahat. Dari tas penuh makanan, ia mengambil senter. Ia harus keluar sebelum pemilik langkah itu menemukannya.

Ia merangkak keluar sepenuh kehati-hatian. Setelah memastikan semua ia kenakan pada tempatnya, ia menyalakan senter dan berjalan mencari jalan keluar. Pintu utama bisa dia capai dengan belok kiri setelah keluar dari ruang makan. Jika ingin keluar dari sana, ia perlu kunci. Namun saat ini ia tak memegangnya. Ia juga tak mungkin belok kanan, karena lantai dua di sana, tempat suara itu muncul kali pertama. Ia tak tahu ke mana langkah itu pergi. Ia menduga langkah itu kembali ke tempat semula. Namun rasanya ia tak dapat mengambil jalan terus ke lorong. Lorong itu menghubungkan kamar-kamar dan perpustakaan. Ia tak memikirkan cara keluar apa pun selain melompat keluar melalui jendela besar di ujung lorong.

Dengan tas penuh makanan di punggung, ia memutuskan jalan terus menuju lorong yang cukup panjang itu. Lampu di lorong lantai dua telah padam. Di antara ketakutan bakal ketahuan saat melangkah menuju jendela besar atau saat setelah melompat, ia masih sempat melihat-lihat pajangan dinding di lorong itu. Senternya menerangi lukisan-lukisan dan beberapa awetan kepala hewan di sana. Sebuah kepala beruang yang disematkan lengkap dengan gigi-gigi tajam mengilat tampak jelas mempertunjukkan sisa kegarangan. Lukisan-lukisan indah terpajang, dan ia merasa salah satunya persis lukisan yang diceritakan dan dimiliki sang ibu. Beberapa meja di lorong berhias keramik-keramik antik. Ada yang bertuliskan aksara yang ia tak mengerti. Alangkah sia-sia meninggalkan semua itu. Namun ia harus pergi.

Sebuah pintu di sisi kiri lorong sedikit terbuka. Dari celah sempit itu terlihat rak-rak penuh buku diterangi cahaya bulan. Ia turunkan senter menghadap lantai dan mendekat. Dari celah sempit itu ia mengintip dan berpikir tak mungkin sosok itu ada di perpustakaan. Dengan perlahan dan senyap, ia masuk. Tak ada siapa-siapa. Hanya ia, buku-buku, dan sebuah jendala besar di hadapannya. Dari sana cahaya bulan menerangi perpustakaan. Sebuah ruang persegi yang sedikit lebih besar dari ruang dapur. Rak-rak ditempatkan bersinggungan dengan dinding. Kursi dan meja diletakkan tepat di tengah ruang, posisi yang mendapat penerangan maksimal. Di atasnya ada lampu gantung.

Ia memutuskan masuk lebih dalam, beberapa langkah, lalu duduk di sebuah kursi panjang. Matanya berhadapan dengan jendela. Di sana ia melihat bulan dan bintang-bintang. Sesaat ia lupa suara dan sosok yang tak dikenal. Perasaannya damai getir sekaligus. Ia melepaskan tas, lalu meletakkan di salah satu sisi kursi. Ia berbaring. Dengan mata terpejam, ia membayangkan tengah berkeliling dari satu bintang ke bintang, mencari jejak Ayah dan Ibu. Bertanya ke setiap bintang, lalu kembali ke desa di tengah-tengah gugusan bukit. Ia membayangkan sebuah keluarga yang terperangkap dalam lukisan. Lukisan malam yang indah, tetapi dingin dan kosong. Hanya ada dia, yang beruntung memiliki seluruh desa itu. Dan, untuk Ayah-Ibu jika mereka kembali. Air mengalir dari matanya. Dari pintu, sepasang tangan masuk membawa sebilah pisau. Pucat dan gemetar. (28)

Semarang, Agustus 2018

Achmad Agung Prayoga, lahir 11 Juli 1999, besar di Semarang. Kini, mahasiswa Universitas Islam Negeri Walisongo ini aktif di Komunitas Prosatujuh.

[1] Disalin dari karya Achmad Agung Prayoga
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Suara Merdeka” edisi Minggu 16 September 2018