Calon Imam

Karya . Dikliping tanggal 23 Agustus 2016 dalam kategori Arsip Cerpen, Koran Republika
HAIDA hannya memiliki satu hati, dan akan ia labuhkan sepenuhnya pada ‘kekasih halalnya’. Tapi, siapa? gadis itu berada dalam  kegamangan. Bukan karena tak ada satu lelaki pun yang ingin mempersuntingnya. Oh, andai memang hanya ada satu, mungkin Haida tidak akan merasa bimbang seperti saat ini. Sayangnya, ada dua pemuda yang sedang menunggu keputusannyaa, untuk mengetahui siapa yang akan menemani Haida di pelaminan. Menjadi calon suaminya.
Besok malam, Haida harus memberikan jawaban pada kiai sepuh tentang lamaran yang diajukan padanya. Sedari awal, beliau bertindak bijak, tidak memaksanya untuk menerima.
Langit menyipratkan semburat kemerahan. Senja ini akan segera berakhir. Waktu menjelang Maghrib, juga waktu untuk berbuka. Haida ingin segera kembali ke kamar. Asramanya Syanggit, berada di sentral bangunan pesantren, berdekatan dengan masjib putri. Tak jauh pula dari ndalem kiai sepuh. Ia hanya ingin menenangkan diri sebentar. Menatap diri di depan cermin, melihat hatinya.
“Ukhti Haida, ada titipan. Antum bisa ambil di ghurfah dhaifah.” Itu Laras yang tiba-tiba mengabari Haida perihal bingkisan untuknya tempo lalu. Ia mengernyit bingung, belum pernah gadis itu menerima bingkisan selama ini. Orang tuanya di kampung juga tak mungkin, Haida tahu betul itu
Bingkisan itu adalah cerin yang sedang ditatapnya sekarang. Lamat-lamat Haida semakin tenggelam dalam perasaannya. Teringat bagaimana ia melewati hari dengan mimpi-mimpi masa depan terhadap Zul. Bahkan saat pertama kali ia meletakkan cermin pemberian lelaki itu di atas lemari setinggi dagunya di samping tempat tidur, Haida sangat mengingatnya, cermin itu jatuh. Terpelanting. Berdentum saat mencium lantai. “Wah, ukhti, ini tandanya cinta kalian kuat sekali.” Begitu seloroh Halimah melihat cermin pemberian Zul tidak retak, apalagi pecah.
Zul adalah putra keempat kiai speuh. Jarak umurnya tak jauh beda,  Haida satu tahun lebih muda, adik eklas satu tingkat semasa di Madrasah Aliyah. Mereka berdua hanya saling tahu bahwa ada dua hati yang telah diselimuti cinta. Sementara Gus muda itu melanjutkan sekolah ke Pakistan, haida meneruskan nyantri sambil mengasah keterampilan di pesantren. Saat itu, ia dikelilingi harapan bahwa Zul adalah calon imamnya di masa depan. Bermimpi jika kiai speuh meminangnya untuk Zul.
Haida baru tahu Zul pulang dari Pakistan saat ia dipinang. Gadis itu diberi waktu untuk memikirkan jawabannya. Maka, malam ini ia dirundung kebingungan. Orangtuanya di kampung kemarin berkunjung  ke pesantren. Hal yang jarang sekali terjadi. Haida bisa maklum jika bapak dan emak-nya sungkan menolak undangan Kiai sepuh. Terlebih, memang sudah lama emak yang mulai sakit-sakitan ingin melihat putri semata wayangnya menikah, dan yang membebani bagi Haida adalah, masalahnya ini berurusan dengan hati.
Ini semua bermula dari Fawas. Kerabat dekat dari Kiai sepuh yang berkunjung dan mengabdi di pesantren dua tahun silam. Saat itu Haida di masa akhir sekolah. Lelaki itu juga pernah mengajarnya, dan tidak ada yang terjadi selama ini. Sampai suatu ketika, Kiai sepuh mendesaknya untuk berumah tangga. Beliau menyuruh Fawas untuk Shalat Istikharah.
Keesokan harinya, Fawas menghadap Kiai sepuh. Menceritakan perihal petunjuk yang didapatnya. Gadis itu sekarang berada di kepengurusan pesantren putri. Hanya itu yang diketahuinya. Maka, seluruh pengurus putri dipanggil menghadap.
Ndalem hampir sesak oleh tujuh belas pengurus putri yang semuanya tidak tahu, ihwal apa mereka dipanggil.
“Coba kamu amati mereka. Apa petunjuk gadis itu ada di antara pengurus putri ini?” Kiai Sepuh berbicara pada fawas, membuat para gadis yang duduk bersimmpuh dana menunduk di depannya membatin-batin. Apa gerangan yang sedang berlangsung sekarang?
Sayangnya, ia tidak mendapat petunjuk lain. Ia hanya tahu jika gadis itu adalah pengurus, hanya itu, tidak lebih. Melihat kenyataannya seperti itu, Kiai sepuh meminta Fawas kembali emlakukan Shalat Istikharah untuk mendapatkan petunjuk selanjutnya.
***
Haida memegang gelang jam biru pemberian ibunya, dan masih berdiri memandang dirinya di depan cermin dari Zul. Kepalanya itu seolah pemutar kenangan yang membuatnya mengingat secara detail semuanya. Bagaimana smeua ini bisa terjadi. Semua pengurus dikumpulkan lagi esoknya. Haida, sekalipun ia belum mengikrarkan hatinya untuk Zul, tapi ia yakin dengan perasaannya.
Tampak Ustaz Fawas membisiki Kiai sepuh, sepertinya ia sudah menemukan calon permaisurinya.
“Fatma, Wahdah, dan haida,” mata Kiai sepuh mengamati lagi barisan anak didiknya, kemudian mengangguk-anggukkan kepala. “Kalian tinggallah dulu sebentar, yang lainnya bisa kembali ke asrama.”
Deg!!!

Ketiga jantung gadis itu hendak melompat. Semakin berdegup tak karuan. Tanpa irama yang teratur, seperti usai lari-larian karena dikejar bagian keamanan saat masih santriwati karena terlambat ke masjid. Tidak. Ini elbih parah. Saking cepatnya kerja jantung yang memompa darah ke seluruh tubuh, ketiganya seolah lupa bagaimana caranya bernapas.
Tiba-tiba sesak. Mungkin paru-paru mereka terlalu banyak menerima pasokan darah. Dua gadis, karena tinggal satu langkah lagi impian bersuamikan idola pesantren diraih. Satu gadis, karena ini bukan kabar baik baginya, ia masih sangat mengharapkan Zul.
“Taruh tangan kalian di atas meja,” pinta Kiai sepuh segera, ia menatap Ustaz Fawas, diikuti anggukan takzim, “Coba amati dulu.”
Fawas mengamati tangan-tangan yang telah bertengger di atas meja. Bukan tangan pemiliknya sebenarnya yang tengah dia amati, melainkan gelang jam biru yang menempel di sana. Ketiganya menggunakan jam tangan berwarna biru, tapi dengan corak yang berbeda. Mata lelaki itu semakin tenggelam pada benda biru di depannya. Tiba-tiba ia merasakan debaran aneh di dadanya.
“Yang tengah kiai.”
Senyum kiai sepuh menyembul semringah. Kemudian mempersilahkan Fatma dan Wahadah untuk kembali terklebih dahulu, menyisakan Haida yang perasaannya semakin tak menentu. Kala itu, senja hampir sepenuhnya dilahap petang.
Kiai speuh tak banyak basa-basi, segera menjelaskan bahwa ini bukan keputusan sepihak. Haida boleh mempertimbangkannya terlebih dahulu. Sama sekali tidak ada paksaan. Hanya saja, ia harus mengingat kalau hal ini bukan main-main. Istikharah yang dilakukan Fawas bukan sebuah lelucon.
***
“Ukhti Haida!” Halimah muncul tiba-tiba.
Tak sengaja tangan Haida menyenggol cermin di depannya. Lamunannya buyar. Benda itu terlempra jauh. Pelan. Dna terjatuh di atas ranjang. Praakk!!! Cermin itu retak hingga kemudian terbagi menjadi beberapa bagian.
Hening. Tidak Haida maupun Halimah, keduanya terdiam, atau lebih tepatnya, tercengang. Apa yang sebenarnya baru saja terjadi? Bagaimana mungkin cermin dari Zul pecah saat mendarat di ranjang? Sedangkan tempo lalu tak pecah saat terpelanting ke lantai.
“Haida, ‘afwan.” Halimah memecah keheningan, merasa bersalah, “Aku tak sengaja mengagetkanmu.”
Haida mengangguk pelan. Kepalanya berusaha mencerna apa yang sebenarnya berlangsung pada dirinya. Pinangan, gelang jam dari emak-nya, dan sekaranng cermin dari Zul. Rasanya ada godam yang menghantam tepat di ulu hati. Tiba-tiba kepalanya mendadak berat. Bukan hanya hatinya saja yang terguncang, tapi ternyata juga seluruh yang ada pada dirinya seolah runtuh.
“Da,” Halimah menepuk-nepuk ringan pundak Haida dari belakang, berusaha memberi efek menenangkan, “Zul menunggumu di kebun belakang dekat tembok pembatas pesantren. Sepertinya ia juga sudah tahu. Temuilah! Dia juga berhak mengutarakan apa yang dirasakannya sekarang. Tenang saja, aku akan mengawasi kalian berdua. Semoga tidak ketahuan.”
Halimah mencoba berempati. Ia memang tidak pernah terlibat masalah cinta-cintaan. Tapi ai cukup tahu jika temannya sekaranng sedang mengalami keadaan yang sangat tidak biasa. Haida mengiyakan usulan Halimah. Ia akan memberitahu Zul keputusannya sebelum ia menghadap Kiai Sepuh.
“Apa keputusanmu, Da?,”” dari celah kecil di tembok pembatas Zul bersuara.
Tapi Hadia hanya bisa diam. Tak tahu harus berkata apa.
“Tak apa, Haida, aku bisa menerima apa pun keputusanmu.”
“Zul,” suara Haida tercekat, rasanya terjebak di kerongkongan, cukup sulit untuk meloloskannya. “Zul, istikharahnya menunjuk pada jam tangan pemberian emak. Sementara cermin pemberianmu pecah saat terjatuh di atas ranjang, tidak seperti pertama kali yang aku ceritakan padamu.”
“Aku bisa mengerti, Haida. Tenanglah!” Zul menghembuskan napas pelan, berusaha menyunggingkan senyum di bibirnya. “Aku sennag jika yang menjadi calonmu adalah Mas Fawas. Ia adalah orang yang tepat untukmu. Yakinlah, Da. Kamu akan bahagia dengannya. Dengan begitu, aku bisa bahagia.”
“Tapi Zul…” Haida tak sanggup melanjutkan kata-katanya. Membiarkan keheningan menyelimuti keadaan. Tanpa ia mengatakannya, Zul selalu tahu. Dari dulu ia selalu seperti itu. Dan hari ini, ia masih seperti itu. Senyumannya barusan tertangkap oleh mata Haida, ada rasa mengikhlaskan, merelakan, dan berusaha bahagia. Haida, bahkan sampai detik ini, ia sulit memahami Zul.
***
Pernikahan itu akan diselenggarakan tidak kurang dari dua bulan dari sekarang. Sayangnya, Zul sudah harus berangkat ke Pakistan kembali, atau lebih tepatnya, itu adalah hal yang menguntungkan. Sebesar apapun Gus muda itu mengikhlaskan, pasti ada rasa yang mencubit ulu hatinya.
Menjelang hari keberangkatannya, ia tak sempat berpamitan pada Haida. Hanya menitipkan surat pada Halimah untuk gadis itu. Berpesan agar ia selalu bahagia dan tak pernah lupa untuk berbahagia.
Kala surat itu sampai di tangan Haida. Kata demi kata meluruhkan anak sungai di kedua matanya. Di detik itu, sampai pula padanya kabar jika pesawat yang ditumpangi Gus muda terjatuh di tengah lautan.
Satu hal yang dapat dimengerti Haida dari perkataan Zul tempo lalu. Lelaki itu bahagia mengetahui calo imam untuk Haida sebelum ia pergi dan tak akan kembali padanya. Gus muda itu menitipkan pada orang yang dirasanya tepat. Zul, Haida berjanji akan selalu bahagia dan tak lupa untuk berbahagia.
Banyuwangi, 26 Juni 2016

Kosakata:
1. Ndalem : rumah kiai
2. Ukhti     : saudara perempuanku
3. ghurfah dhaifah : kamar tamu (biasanya untuk pengunjung pesantren)
4. ‘Afwan : maaf
Luthfi Nur Kholidiya. Mahasiswa Universitas Negeri Malang
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Luthfi Nur Kholidiya
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Republika” Minggu 21 Agustus 2016
Beri Nilai-Bintang!