Camar-camar Matsushima

Karya . Dikliping tanggal 17 Januari 2015 dalam kategori Arsip Cerpen, Majalah, Majalah Femina
Aku langsung menukik tatkala melihat tangan yang terjulur itu. Instingku bekerja ketika melihat makanan di ujung jemari-jemari. Tubuhku melesat seperti anak panah yang lepas dari busur. Namun, seketika ada yang berdenyar ketika kutemukan wajah yang memiliki tangan itu. Kecepatanku seketika berkurang. Saat itulah yang lainnya langsung mencuri kelengahanku, menyambar makanan yang seharusnya menjadi jatahku. Padahal jarakku hanya tinggal beberapa kepak. Aku terpesona.
“Sudah?” suaranya, mengambil alih perhatianku.
Kemudian baru kusadari ada sosok lain yang tengah mengawasimu di anjungan kapal. “Seharusnya dialah tadi yang menang.” Terkejut aku ketika pemuda itu menunjukku. Tak kusangka kedua matanya mengawasiku. “Tiba-tiba saja dia melambat tadi. Sepertinya dia takut kepadamu,” ujarnya saat kuliukkan badan, yang lalu disusul kekeh tawa.
“Benarkah? Mana?” suaramu. Kini kedua mataku benar-benar tertuju ke arahmu.
Kedua mataku seketika menghangat. Seraut wajah itu telah membangunkan kenangan yang lama berdiam dalam kepala. Karena khawatir tak mampu menguasai diri, akupun melesat kembali mengikuti angin. Hamparan langit dan laut tergenang air mata di pelupuk mataku.
*       *       *
Aku tahu mereka adalah sejoli yang tengah dirundung cinta. Ketika diam-diam aku kembali mendekati kapal itu, kulihat si pemuda tengah memakaikan jaket ke si gadis. Langit Matsushima dirundung mendung pekat. Angin bekerja sempurna. Cuaca seolah merestui kemesraan mereka.
“Sebenarnya aku tak merasa kedinginan,” suara gadis itu. Kenangan tiga tahun silam kembali menguasaiku. Mula-mula ditolaknya jaket itu, meski akhirnya ia terima juga karena sebenarnya itulah yang memang dia inginkan. Perhatian.
“Apa karena ada aku?” katanya bernada menggoda.
“Kau ingin tahu sudah berapa kali aku mengunjungi tempat ini? Lima kali,” ujar gadis itu kemudian, yang seperti sangkalan halus bahwa ia sudah terbiasa dengan kondisi tempat ini. Mengingkari bahwa hangat itu juga berasal dari debaran dada lantaran keberadaan si pemuda.
“Oya?”
“Kau tak percaya? Sayangnya aku memang tak pernah meninggalkan tanda tangan atau jejak apa pun di sini. Asal kau tahu, hal semacam itu dianggap sebagai tindakan kaum primitif di sini. Tak seperti di negaramu, di setiap tempat indah pasti bisa dengan mudah ditemukan tanda tangan kaum zaman batu.”
“Ha…ha…ha…, aku selalu percaya kepadamu,” tukas si pemuda dengan senyum. “Karena kamu sudah berkali datang ke tempat ini, sudikah sekarang kau menjadi guide-ku?”
“Memangnya kau berani bayar berapa?” kentara tak bisa menyembunyikan rasa senang.
“Untuk guide secantik kamu, tentu saja aku berani bayar mahal.”
“Berapa?”
“Berapa ya? Padahal dirimu kan yang mengajakku ke sini? Apa pantas aku yang menentukan berapa tarifnya?”
“Ha…ha…ha… dasar!”
Aku segera kembali mengangkasa. Melesat menaiki tangga angin. Memungut kembali kenangan demi kenangan yang pernah tertinggal di tempat ini, kembali merasai hangatnya.
Teluk Matsushima tengah dikepung hawa dingin. Dari atas angin terlihat betapa pulau-pulau itu seperti tebaran mutiara hijau, tertata acak namun memikat. Tentu saja. Ini adalah surga ketiga setelah Amanohashidate di Kyoto dan Itsukushima di Hiroshima.
Kami pun selalu memenuhi angkasanya pada jam-jam tertentu demi melengkapi keindahan itu. Menemani para wisatawan yang ingin menikmati jeda sejenak dari rutinitas yang membunuh semangat. Ya, dari ketaksengajaan itulah aku dulu pertama kali melihatmu.
“Itu Meotojima,” suara itu seperti muncul dari dalam kepalaku sendiri. Bergema  di antara awan gemawan yang menguarkan aroma beku. “Yang kanan itu bernama Takatojima, lebih dikenal sebagai Onnajima atau pulau wanita karena bentuknya yang memang bercorak serupa yoni. “Sedang yang kiri itu bernama Onikotojima, lebih dikenal sebagai Otokojima atau pulau pria.”
“Atau lihatlah itu Niojima. Jika kau melihatnya dari dekat, aku yakin kau pasti akan berdecak-decak saat melihat arsitekturnya. Itu asli buatan ombak yang dibantu terpaan angin, hujan, dan salju selama beribu tahun. Pulau Sagijima di sebelah sana itu juga seperti itu,” menunjuk ke lain arah.
Bagaimana aku bisa lupa dengan semua kehangatan itu? Sesuatu yang sempat kukira akan berakhir bahagia. Kau terpilih sebagai salah seorang penerima beasiswa di Fakultas Teknik Kagoshima. Hidupmu penuh keajaiban, serupa dunia nano teknologi yang kau geluti. Keluargamu bukanlah yang serba berkecukupan.
Tapi ndilalah (katamu dengan bahasa Jawa yang sempat membuat aku butuh dua kali penjelasan darimu), kau bisa sampai hingga pada taraf pendidikan setinggi itu. Cerita tentang masa lalumu yang pahit telah membuatku sadar bahwa hidup terlalu berharga untuk disia-siakan.
“Mungkin karena doa orang tuaku,” ujarmu. “Mereka orang yang taat beragama.”
“Apa doa itu akan manjur jika kau tak bekerja keras?” perdebatan kecil tentang doa pun terjadi. Hal inilah yang memang menjadi pembeda antara kita. Aku dibesarkan dengan rasio. Sementara kau dibesarkan dengan sangat religious. Namun aku yakin, dua sumbu yang terlihat bertentangan ini sebenarnya bisa berdampingan dengan begitu indahnya.
“Kau akan kembali pulang, meski di sini kau mendapatkan banyak tawaran bagus?” tanyaku lanjut.
“Tentu saja. Indonesia rumahku. Di sini aku hanyalah tamu,” jawabmu. Seperti pinus-pinus yang menjadi penghuni dominan kepulauan ini, ada yang tertebah angin. Harapan di dalam dadaku.
“Meskipun ada aku juga di sini?” tanyaku, terdengar bergetar.
Kau tersenyum, tapi terlihat hambar. Aku tahu ada yang mengganjal dalam benakmu tatkala kemudian kau alihkan pandang ke lain tempat. Hingga akhirnya keluarlah semua yang selama ini kau pendam. Bahwa kau sering menangis diam-diam tatkala mendengar nama negaramu diremehkan di mana-mana. Bahwa kau sangat ingin mengabdi kembali ke negaramu, meski tahu kondisi penghidupan di sana amat tak layak untuk manusia dengan otak secemerlang dirimu.
“Budaya korupsi seperti tak dianggap sebagai masalah serius. Padahal, segala bentuk korupsi sifatnya membunuh. Imbasnya pun ke mana-mana. Yang mestinya bisa berkembang jadi terhambat karenanya,” tuturmu, tanpa kumintai penjelasan tentang risaumu.
Kau pun terus saja bercerita, seperti keran bocor. Dengan gaji yang amat besar di sini, butuh tiga tahunan mengumpulkan bekal untuk pulang. Meskipun tawaran yang menggiurkan datang dari sana-sini, yang pastinya akan lebih bisa menjamin penghidupanmu hingga masa pensiun kelak.
“Meskipun tawaran itu datang juga dariku?” potongku. Penuh harap.
“Tawaran apa?” raut mukamu amat sempurna untuk seorang yang berlagak bodoh. Atau mungkin kau sedang memancingku.
“Tawaran tinggal di sini,” kukedipkan mata kiri dengan genit.
Kau malah mengalihkan pandang. Membuatku dicubit-cubit cemas. Kau pikir buat apa kemarin-kemarin aku mengajakmu  melakukan semua itu? Berlagak berakrab-akrab dengan aneka cara. Mencobai sake hastukokoro dari Ishikawa, hingga wajahmu memerah seperti terbakar, dan entah sadar atau tidak tiba-tiba saja kau meracau bahwa aku cantik. Kau mungkin tak menyadari bahwa hari-hari setelah itu aku benar-benar merasa telah menjadi seorang bidadari yang turun ke bumi.
Aku jadi lebih getol mengajakmu mencicipi aneka kuliner negeriku di berbagai restoran. Dari mulai sakizua, (udang di atas tahu wijen hitam dan kacang salju), maewan (mi dingin dengan sedikit jeruk plum), tukuri sashimi (ikan laut yang disajikan dengan belut, irisan wortel, dan es), hassun (telur dadar gulung isi belut dan kepiting, ubi jalar, tahu), dan tomewan (sup isi tahu goreng, kerang), sampai mizumono (melon dan puding mangga).
Kau bilang aku terlalu royal. Apa kau sadar? Cinta memang selalu butuh segala sesuatu yang ekstra. Aku tak peduli dengan omongan rekan-rekan sekantor kita.
“Jadi begitu, ya?” seolah kau masih belum percaya dengan segala yang telah kita lalui kemarin.
“Bagaimana dengan orang tuamu? Jika kau tinggal di Indonesia, bukankah mereka akan kehilangan seorang anak?”
“Akulah yang akan menjalani semua. Bukan mereka,” berusaha kuyakinkan diri sendiri.
“Beri aku waktu sebulan lagi, oke?” katamu tersenyum,   seperti dipaksakan. Dan setelah itu aku seperti baru disadarkan dengan kenyataan bahwa kedekatanmu denganku kemarin mungkin saja hanya karena kau tak ingin mengecewakanku. Aneka prasangka pun bermunculan kemudian. Rasa waswas seperti ombak yang berduyun-duyun datang.
Aku segera melesat turun dari awan-awan yang menyimpan banyak kenangan itu. Kembali menemui gadis dalam kapal yang tengah bersenda gurau dengan kekasihnya. Namun, kejadian ini lagi-lagi terulang kembali. Seperti ada yang salah dengan mataku.
Tubuh pemuda itu tiba-tiba saja serupa asap yang perlahan memudar dan lalu menghilang. Saat aku menukik demi memastikan apa yang sebenarnya terjadi, kedatanganku langsung bersambut sorak-sorai orang-orang yang menawarkan aneka remah-remah makanan. Namun, itu pun hanya sementara. Dari arah samudra lepas, kulihat permukaan laut begitu saja naik dan bergerak cepat ke arah kapal. Orang-orang berteriak panik. Kapal jelas kekurangan waktu untuk mundur kembali ke sebalik pulau-pulau kecil yang telah jauh di belakang tadi. Saat kapal mulai nyata kemiringannya, aku sudah yakin bahwa semua akan tamat.
Dan aku melihat itu, ketika ombak menggulung semua. Mengempaskan kapal. Menelan orang-orang di atasnya. Jerit tangis pilu. Dan lalu menyisakan pemandangan yang menyedihkan. Tapi kau takkan menemukan apa-apa lagi saat menjejakkan kaki ke tempat ini sekarang. Semuanya telah menghilang di dalam mataku ini. Menjadi kenangan.
Gadis itu?
Hampir  tiap hari aku masih bisa melihatnya di sini. Di atas sebuah kapal. Menunggu seseorang. Sesekali ia terbang bersama kami, camar-camar Matsushima. Mengamati semua pelancong. Mencari-cari seorang pemuda yang pernah mengucapkan janji kala itu. Tiga tahun sudah janji itu tak pernah tunai.
Ia masih menunggu sampai sekarang. Kadang-kadang ia bahkan seperti merasukiku. Seekor camar yang mungkin tengah mengamatimu.(f)
Kalinyamatan – Jepara, 2014
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Adi Zamzam
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Femina”