Cara-cara Klise Berumah Tangga

Karya . Dikliping tanggal 10 September 2018 dalam kategori Arsip Cerpen, Koran Kompas

Malam itu ia mampir ke kios bunga. Tiga blok ke arah timur dari Stasiun Shin-koenji. Tiga tangkai shiragiku, katanya. Lelaki itu meminta krisan putih.

Ia telah merencanakan segala sesuatunya. Sembilan Agustus 2018. Krisan putih dan sampai apartemen sebelum jam delapan. Makan malam dan berbincang-bincang. Ia mengintip jam tangan di balik lengan kemeja, pukul 19.50. Dari kios itu, apartemennya sudah tampak. Lantai kelima, unit paling kiri. Lampu ruang tengah telah dinyalakan; jendelanya berpendar kuning pucat.

Lelaki itu menekan bel apartemennya sendiri. Deringnya janggal, entah karena ia tak terbiasa mendengamya dari luar sini atau lantaran sudah kelewat lama tak berbunyi hingga terasa asing. Dari tempatnya berdiri itu, ia juga menangkap suara beradu alat-alat makan dari kayu. Air keran yang mengucur lalu berhenti. Sesuatu yang dibereskan. Sebelum tapak-tapak kaki bergerak mendekat.

Seorang perempuan membuka pintu sambil mengatakan rupanya kau sudah pulang. Ia mengenakan terusan katun putih dengan gradasi biru muda di ujung gaunnya. Tubuhnya tampak proporsional di dalam pakaian itu. Dada yang berukuran sedang-sedang saja, pinggang dengan lekuk sewajarnya, dan betis kecil namun berisi di bawah lambaian roknya.

“Ah, kau membawa bunga. Terima kasih,” kata perempuan itu. Ia mengibaskan rambut yang menutupi pipi kanannya dengan menggerakkan kepala searah jarum jam.

“Shiragiku kesukaanmu. Ini ulang tahun pernikahan kita,” balas si lelaki.

Perempuan itu mengusap pipi lelaki itu (baru disadarinya satu dua uban mencuat dari sejumput rambut dekat pelipis si lelaki). Ia mengambil alih bunga itu, lalu masuk dan tampak mencari-cari sesuatu di dapur.

“Vasnya di lemari sebelah kulkas. Laci kedua,” si lelaki tanggap.

“Tentu saja. Bisa-bisanya aku lupa,” tukas yang perempuan.

Ia mengisi vas itu dengan sedikit air, menjejalkan tangkai krisan ke dalamnya, lalu meletakkannya di atas kulkas. Si lelaki mengambil vas itu dan memindahkannya ke meja makan. “Di sini kau selalu menaruhnya,” katanya pada satu-satunya lawan bicaranya di ruangan itu.

“Okonomiyaki?” tanya perempuan itu, yang sudah sibuk mengelap entah apa di dapur.

“Tentu.” Lelaki itu sengaja tidak membeli onigiri di kedai langganannya dekat stasiun malam ini.

Perempuan itu membuka kulkas. Mengambil apa-apa yang perlu. Kubis dan daun bawang yang dibelinya tadi sore, beberapa lembar irisan tipis perut babi, juga telur dan mayones. Lemari es itu mendadak tampak kosong, hanya ada sisa sake yang tidak habis diminum dan yang masih utuh, acar yang terlihat tidak menarik, serta beberapa jenis saus kedelai.

Okonomiyaki sungguh masakan yang praktis untuk makan malam. Kau hanya perlu memotong sayuran, mencampurnya di dalam adonan tepung dan telur, lalu menggoreng. Perempuan itu menata lembaran-lembaran tipis daging babi di permukaan wajan yang telah dipanaskan. Ditunggunya sekitar dua menit agar daging cukup garing— sesuai selera lelaki itu—sebelum menuang adonan di atasnya. Bunyi recik minyak berpadu deru mesin pengisap udara di atas kompor.

Sesaat setelah beres membasuh kaki dan mukanya, juga berganti baju, yang lelaki membantu mengoles saus pada okonomiyaki yang sudah matang. Ia melakukannya dengan khusyuk. Diusapnya pelan-pelan spatula di atas santapan makan malamnya itu. Disesapnya harum yang meruap pada udara dapurnya—bau gurih telur dan daging, juga aroma manis saus okonomi dan mayones.

“Aku tak terlalu suka katsuobushi. Tolong taburkan sedikit saja untukku,” kata yang perempuan ketika lelaki itu hendak membuka kemasan plastik berisi serpihan tuna kering. Lalu lelaki itu membubuhkan sedikit saja katsuobushi di atas satu porsi okonomiyaki.

“Bagaimana rasanya? Enak?” Mereka sudah duduk di meja makan. Dan perempuan itu lebih tertarik bertanya pada si lelaki ketimbang menyantap makanannya.

“Seperti bertahun-tahun lalu. Terima kasih,” kata lelaki itu tulus.

“Bagaimana pekerjaanmu? Ada yang menarik hari ini?”

Klise Berumah TanggaLelaki itu tiba-tiba saja sadar betapa ia rindu ditanyai begitu. Betapa selama ini hanya sedikit yang benar-benar peduli padanya—kalau tak mau dibilang tidak ada, atau tidak ada lagi. Dan berhubung pekerjaannya adalah petugas administrasi di salah satu perusahaan manufaktur, rutinitas yang dilakoninya hampir sama saja setiap harinya. Ia mengatakan pada perempuan itu, ia memeriksa kondisi dan ketersediaan alat-alat inventaris kantor, membereskan beberapa pencatatan, juga memasukkan angka-angka pada tabel laporan. Tampak membosankan memang, meski nada suara lelaki itu ketika menjawab terdengar bungah.

Si perempuan memain-mainkan kelopak krisan putih di hadapannya dengan ujung jarinya. “Bunganya bagus,” katanya.

“Aku tidak pernah tahu alasanmu menyukai krisan putih. Keterlaluan, ya.”

“Ummm… Bagaimana mengatakannya ya? Kalau mau jujur, bukan itu yang ingin kuucapkan. Aku mau bilang, bunga yang dibeli di kios sesungguhnya bukan hadiah yang terlalu menyenangkan. Terlalu mudah ditebak, kau tahu. Padahal perempuan suka kejutan.”

“Oh….” lelaki itu tak tahu harus merespons apa.

“Tapi setidaknya bunga tidak membuat perempuan tersinggung. Suamiku pernah memberiku panci pada ulang tahunku yang ketiga puluh lima. Waktu anakku berusia dua tahun. Malamnya, aku tidak berhenti menangis. Sungguh, ia tak pernah mengerti. Yang kuiinginkan hanyalah jeda dari urusan dapur dan segala hal melelahkan tentang mengasuh anak.”

“Oh…,” lagi-lagi si lelaki tak siap menanggapi. Ia teringat suatu kali di ulang tahun istrinya yang entah keberapa, ia memberikan buku resep masakan. Ia juga baru sadar, buku itu tak terlalu berguna kemudian. Bertahun-tahun mereka hanya memasak okonomiyaki dan makanan lain yang bisa disiapkan tanpa melihat resep. Sayang, ia tak berpikir untuk bertanya atau benar-benar menaruh perhatian pada perasaan istrinya waktu itu.

“Maaf ya. Tidak semestinya aku kelepasan begini,” ujar perempuan itu.

“Apakah kau pemah selingkuh?” Pertanyaan itu tiba-tiba saja terlontar tanpa sempat tersaring di otak lelaki yang biasanya tidak gegabah itu. Ia sampai agak tersentak sendiri dengan apa yang dikatakannya.

“Kenapa kita membicarakan ini?”

Si lelaki cepat-cepat menguasai diri dan merasa toh tidak ada ruginya ia mengajukan pertanyaan itu. “Aku benar-benar tak akan mempermasalahkannya. Kau tidak perlu terbebani dengan jawaban terus terang,” kata si lelaki seolah berjanji.

“Tiga atau empat kali.”

“Apakah kau bahagia?”

“Aku cenderung menganggapnya cara menyelamatkan diri dari kebosanan.”

Lelaki itu mencoba meletakkan lagi segala sesuatu pada tempatnya. Sudah pukul sembilan lebih. Waktunya tak banyak. Ia mengambil sisa sake yang diminumnya kemarin dan satu botol lagi yang baru.

“Sake untuk pernikahan yang masam?”

Perempuan itu tertawa, “Aku suka selera humormu. Hei, itukah yang membuatku dulu jatuh cinta? Selamat hari ulang tahun pernikahan, Tetsu.” Untuk pertama kalinya perempuan itu menyebut nama si lelaki.

Sepasang lelaki dan perempuan itu minum sake di atas tatami sambil membicarakan hal-hal tak penting. Si lelaki menggelar matras tipis untuknya agar punggungnya yang sedari pagi tegak bisa sedikit rileks. Perempuan itu duduk di sampingnya. Televisi dinyalakan sebagai latar tanpa benar-benar ditonton, seperti yang terjadi pada banyak rumah tangga.

***

Lelaki itu tak ingat ia minum berapa banyak, juga kapan mulai tertidur. Ketika terjaga, ia menemukan catatan di meja makan. Dari perempuan yang beberapa jam lalu bersamanya.

“Aku terpaksa pergi sebelum kau bangun. Tak bisa terlalu lama. Kartu akses apartemenmu bisa kau ambil kembali di agen yang mengatur pertemuan kita di kantor Family Romance. Oh iya, selera istrimu soal pakaian bagus sekali. Akan kukirimkan kembali gaunnya setelah kucuci.”

Sambil membaca pesan itu, si lelaki bertanya-tanya, apakah semasa hidupnya dulu istrinya pernah sekali saja bermain-main dengan lelaki lain. Apakah kehidupan mereka tergolong pernikahan yang membosankan.

Ia mengambil vas berisi shiragiku dari meja, lalu memindahkannya ke altar mendiang istrinya. Memaafkan istrinya kalau dulu ia pernah berselingkuh. Juga memaafkan dirinya untuk terjebak pada cara-cara yang klise dalam mencintai. Di kehidupan berikutnya, pikir lelaki itu, ia bakal mencari akal untuk membuat keseharian rumah tangganya terasa lebih menarik. Ia akan melakukan lebih dari sekadar mengecup kening atau bibir, berpamitan untuk bekerja atau sama-sama bekerja, pulang, memberi hadiah bunga atau buku resep, makan malam, menonton televisi, bercinta, dan tidur. Atau jatuh cinta, menikah, punya anak, berpisah, dan kesepian.

Sementara itu, di tempat yang tidak diketahui lelaki itu, seorang perempuan telah diam-diam merasa terlepas dari beban yang selama ini menggayutinya. Ia baru tahu, sebuah pengakuan kecil saja bisa membuatnya merasa seenteng itu. Perempuan itu kembali pada lelakinya dengan perasaan jauh lebih ringan. I a akan memasak lagi, menanyakan bagaimana harimu, pura-pura menonton televisi, bercinta, dan tidur. Atau sekali-sekali keluar dari rutinitas itu kalau ada klien yang membutuhkan jasanya—salah satu caranya menyelamatkan diri dari kebosanan.

Novka Kuaranita, lahir di Jakarta, 19 November 1988. Lulusan Ilmu Komunikasi Universitas Atma Jaya Yogyakarta. Mengikuti program Menulis dan Berpikir Kreatif Salihara, Kelas Cerpen Kompas 2018. Penyunting beberapa buku di Kepustakaan Kompas Gramedia.

Ipong Purnama Sidhi, perupa kelahiran Yogyakarta. Studi di ASRI/ISI Yogyakarta dan melanjutkan studi seni cetak grafis di Konsthogskolan Stockholm, Swedia. Menerima penghargaan dari Ikatan Penerbit Indonesia (Ikapi) untuk desain buku sebanyak tujuh kali. Kini menjadi salah satu kurator di Bentara Budaya Jakarta.

[1] Disalin dari karya Novka Kuaranita
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Kompas” edisi Minggu 9 September 2018