Celotehan Kaum Sandal Jepit – Senandung Para Pujangga

Karya . Dikliping tanggal 29 Januari 2017 dalam kategori Arsip Puisi, Koran Lokal, Pikiran Rakyat

Celotehan Kaum Sandal Jepit 

Apalah arti pergi bila tak ada malam
Apalah arti kejujuran bila tak ada ketulusan
Janji-janji bukan tindakan kesetiaan
Hanya bualan dari jiwa-jiwa yang mengagungkan kekuasaan
Kami hanya bisa terdiam dan terbungkam
Menerima kodrat sebagai kaum sandal jepit
Yang selalu terhimpit dalam angkuhnya keserakahan
Terkapar dalam kenestapaan
Bagaikan pungguk merindukan bulan
Wahaiii… haiii… hai….!!!
Malaikat bijak yang berada di Surga
Datang dan bebaskan kami
Dari belenggu penindasan ini
Sandal jepit memang tak seelok sepatu kulit
Yang selalu berkilau bila kerasukan cahaya sang surya
Namun…
Sepatu kulit syarat akan keangkuhan
Seperti para anggota dewan yang berkedok bagaikan cendekiawan
Seperti politisi yang bersikap bagaikan priai
Yanng tak mengenal arti ketulusan
Yang tak menghargai arti kesederhanaan
Secarik pesan kami dendangkan
Untuk sentilan yang mengagungkan kekuasaan…

Senandung Para Pujangga

Alamku telah ada
Banyak puing-puing kegelapan yang merasukinya
Begitu sulit untuk menyembuhkan duniaku ini
Begitu fana dan penuh teka-teki kehidupan
Para penyamun berperilaku seperti malaikat
Wanita fatamorgana berperilaku bagaikan bidadari
anggun di langit ke-7
Namun…
Semua itu terselimuti oleh kenistaan
Api menjadi dingin dan es menjadi panas
Begitu kental kemunafikan manusiawi
Sekental dosa transparan yang tersirat akan ketiadaan
Begitu rumit untuk dipahami
Begitu abstrak untuk dicerna oleh otak-otak kecil yang terbengkelai
Begitu hampa untuk dirasakan
Sang hati menjerit tak bertuan
Rengkarnasi alamku begitu cepat
Secepat dosa yang mudah tertoreh pada kanvas kehidupan
“Sungguh aneh tapi nyata…”
Itulah kata-kata para pujangga
Muhamad Ryan Hidayat, penulis adalah guru SMK Pasundan Bandung. Aktivis teater lembayung senja. Pernah bergabung dengan LISMA (Lingkungan Seni Mahasiswa). Konsentrasi pad asastra.
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Muhamad Ryan Hidayat
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Pikiran Rakyat” edisi 29 Januari 2017