Cengkung

Karya . Dikliping tanggal 1 Maret 2019 dalam kategori Arsip Cerpen, Koran Kompas

Ketenangan pagi di kampung Lubuk Tampui serentak pecah oleh teriakan keras Mat Boneh. Lelaki bujang tua itu berlari tunggang langgang dari arah sawah Tanjung Raya. Wajahnya pucat pasi seperti baru berjumpa hantu kesiangan.

Seperti orang gila ia menjeritkan warta yang membuat puluhan butir kepala bermunculan dari balik pintu dan jendela.

“Ada orang mati tergantung! Ada orang mati tergantung!”

“Di mana? Di mana?” tanya orang-orang yang bergegas menghampirinya.

“Tergantung di pohon kepayang dekat sawah Mang Saleh!” jawab Mat Boneh terbungkuk-bungkuk dengan napas tersengal-sengal.

Sekejapan, berbondonglah orang-orang menuju tempat yang dimaksud. Setibanya di sana tampak di dahan pohon kepayang tua yang tumbuh di dekat pondok milik Mang Saleh, sedikit terlindung oleh gerumbul daun-daun, sesosok mayat perempuan berayun-ayun memilukan.

Melihat pemandangan itu, bukannya menolong, orang-orang malah menjauh. Tidak ada lagi keriuhan. Kerumunan berangsur menyusut begitu saja. Hanya satu-dua saja yang berusaha menurunkan mayat, sedangkan sisanya pergi tanpa bicara.

***

Satu bulan sebelum peristiwa pahit itu terjadi, serombongan laki-laki bertandang ke rumah Pacik Awang. Rombongan itu adalah utusan Pacik Hambali yang bermaksud mengajukan pinangan untuk Kemala — dara jelita, putri satu-satunya Pacik Awang untuk Anwar, putranya semata wayang.

Dari hulu sampai ke hilir kampung Lubuk Tampui tak ada yang meragukan ken cantikannya Kemala. Telah banyak pula pemuda yang berniat meminangnya, tetapi mahar yang dicanangkan Pacik Awang membuat mereka harus menimbang niat beribu kali.

Lelaki tua itu tak tanggung-tanggung meletakkan mahar untuk Kemala. Bila tak sanggup menyediakan perhiasan emas ratusan gram serta sutra pengikat berlarat-larat, jangan harap bisa menikahi putrinya. Tetapi syarat itu tidak berlaku bagi Pacik Hambali. Ia adalah saudara terpandang di kampung Lubuk Tampui. Mahar yang diminta Pacik awang bukan sesuatu yang sulit baginya.

Lagi pula, Pacik Hambali bersahabat dekat dengan Pacik Awang. Persahabatan yang terjalin bukan setahun dua tahun belaka. Mereka bersahabat lebih dari saudara. Namun, persoalan datang justru dari Kemala. Gadis itu menolak rencana perjodohan yang digadang-gadang untuk dirinya.

“Pernikahanmu dengan Anwar adalah ujian martabatku. Jangan sesekali menolak, kecuali kau ingin mengguyur kepalaku dengan kotoran.”

“Bukan aku menolak, Ayah,” sahut Kemala ragu-ragu.

“Tapi….” “Tapi kenapa?” potong Pacik Awang tak sabar. Wajah Kemala berubah pucat seperti mayat. Tusukan tajam mata lelaki tua itu membuat jantungnya menciut. Hampir dua puluh tahun hidupnya tak pernah sekali pun ia membantah kata-kata ayahnya.

“Apakah anak bujang Kasim itu yang membuat kau durhaka padaku seperti ini?” Pacik Awang muntab. Ia tegak berkacak pinggang, sebilah skin tersembul dari balik bajunya.

“Aku tak punya hubungan apa-apa dengan Bang Radin, Ayah.” Kemala menundukkan wajah. “Bang Radin hanya teman sesama guru.”

“Nah, kalau begitu apa alasan kau menolak perjodohan ini?”

“Aku tak setuju jika cengkung dipakai dalam adat pernikahanku,” jawab Kemala pelan. Wajahnya menunduk semakin dalam.

“Kenapa kau tak setuju? Tak perlu takut jika kau tak berbuat apa-apa.” Pacik Awang mulai melunak. Tatapannya pisaunya menumpul.

“Aku tak takut.”

Pacik Awang menatap Kemala penuh selidik. “Tapi, kenapa kau menolak? Apa karena alasan kau tak suka pada Anwar. Sudahlah, Kemala, rasa suka itu akan muncul jika kalian berumah tangga. O, atau kau sudah melanggar adat, hingga takut cengkung tak berbunyi di malam pengantinmu?”

“Demi Tuhan dan demi Ibu yang melahirkanku. Aku masih suci, Ayah. Aku selalu menjunjung tinggi harga dirimu.”

Mata Kemala berkilat, suaranya berderak di antara hening yang memantul di rumah panggung berdinding papan itu. Matanya berair saat memandaang potret bisu perempuan yang sedang tersenyum beku di dinding rumah itu.

“Aku tak mungkin menistakan diri dan membuat ibu menangis di alam kubur,” isak Kemala.

“Jika begitu tak ada yang perlu kau cemaskan. Lagi pula siapa yang akan meneruskan adat di kampung ini kalau bukan kalian-kalian yang masih muda.”

“Tidak, Ayah! Tidak!” seru Kemala. Ia berdiri menantang, bagai menjelma harimau luka. Gadis itu menantang mata ayahnya. “Cengkung adalah adat yang menghina. Ayah harus tahu bahwa kesucian wanita tak selamanya berpaut pada tetes darah di lembar pembungkus orang mati!”

“Cukup!” bentak Pacik Awang dengan wajah merah padam.

“Kau tak usah membantah. Aku dan Hambali sudah sepakat. Kau dan Anwar akan menikah bulan depan!” tegasnya menyudahi perdebatan. Lelaki itu lantas meninggalkan Kemala duduk terdiam tanpa mampu menjawab apa-apa.

Selepas pertengkaran hebat itu, Kemala menjadi batu. Di punggungnya bagai ada sebongkah es yang merayap. Dentang cengkung adalah sangkakala penanda kiamat. Pengadilan adat akan menjerat lehernya, tak peduli meskipun ia tak pernah mencurangi dirinya sendiri.

Kemala dirundung bingung, sebab tak tahu harus berbuat apa. Kesucian wanita memang tak selamanya dibuktikan setetes darah di malam pertama. Namun, ayahnya dan orang-orang di kampungnya mana tahu dan mana peduli perihal itu. Kemala menekur diri, membayangkan musibah besar yang akan jatuh menimpa apa apabila perjodohan itu betul-betul terlaksana.

Di dalam aturan ada yang berlaku turun-temurun, usai pesta pernikahan digelar, kehormatan dan kesucian pengantin wanita harus dibuktikan di atas sehelai kain putih dan dentang cengkung di malam pertama. Hanya dengan cara itu kesucian akan dijamin. Bagai hitam di atas putih, terang-gelapnya tak bisa dipersengketa.

Ketika sepasang pengantin menyibak tirai kamar, seisi kampung akan menunggu. Apabila cengkung berbunyi bertalu-talu, itu pertanda pengantin wanita masih perawan dan apabila cengkung membisu, maka kampung dianggap telah ternoda dan harus melakukan upacara tolak bala.

Hujat gunjing akan menjadi racun yang menusuk tulang belikat. Orangtua yang ketahuan anak gadisnya tak lagi suci akan dicemooh dan dihina. Sedangkan sang gadis akan diusir. Adat inilah yang menjadi hantu di benak Kemala, berpuluh hari sejak diterimanya pinangan itu oleh ayahnya.

***

Apa yang diucapkan Pacik Awang satu bulan yang lalu menjadi kenyataan.Hari yang paling ditakuti Kemala tiba juga. Akad nikah dilaksanakan dan Kemala tak memiliki kesempatan untuk menghindarinya.

Rumah panggung yang panjangnya hampir tiga puluh depa itu ramai oleh tamu-tamu undangan. Ruang berbentuk aula dijadikan tempat untuk berkumpul. Pacik Awang dan Pacik Hambali sibuk meladeni tamu-tamu yang berasal dari beragam latar belakang. Ada pejabat, ada saudagar, ada rakyat biasa. Sesekali mereka tertawa dan saling menepuk bahu tanda memuji.

Di atas kursi pelaminan, Kemala dan Anwar duduk bersanding bagai raja dan permaisuri. Anwar duduk gagah dengan senyum yang tak henti-henti. Ia bangga telah menyunting Kemala, kembang kampung Labuk Tampui. Tapi Kemala terlihat kuyu. Ada ketakutan yang membayang di wajah cantiknya.

Kemilau songket bersulam emas tak sanggup menyulan senyum di bibir Kemala. Risau terpahat begitu nyata. Gadis itu bagai bidadari yang terperangkap di samping raksasa jahat. Meski ia tak menangis, namun ketakutan itu membayang jelas.

Siang menyasar menuju sore, sore beringsut menuju malam. Tibalah pada acara puncak yang paling ditunggu-tunggu. Malam pertama pengantin baru. Seperangkat cengkung sudah dipersiapkan di atas panggung dan kain putih telah digelar dia tas ranjang pengantin.

Detik berjalan senyap bagai tak bernyawa. Orang-orang menunggu berkasak-kusuk. Ada yang tertawa, ada yang berbisik mengumbar canda. Permpuan-perempuan juru masak di dapur terkikik-kikik. Semua membayangkan apa yang tengah terjadi di bilik kamar pengantin.

Suasana malam yang penuh kasak-kusuk dan tawa tertahan-tahan itu redam oleh derit pintu kamar yang terbuka. Berpuluh pasang mata tak sabar menunggu kabar. Anwar melangkah keluar dengan muka masam. Di tangannya tergenggam kain putih yang telah kusut. Ia tak banyak bicara, hanya menyodorkan kain putih itu pada ayahnya.

“Tak perlu menabuh cengkung!” teriak Pacik Hambali pada tetua adat yang menjadi perwakilan mempelai laki-laki. “Kain ini tidak akan berdusta. Kampung ini telah ditaburi bibit bencana. Tega nian engkau padaku, Awang! Anak gadismu ternyata tak lagi perawan. Ini buktinya!”

Lelaki itu melempar kain putih ke wajah Pacik Awang. Ia lantas membukanya dengan jemari gemetar. Tak ada bercak noda di sana. Tak ada darah yang menjadi bukti kesucian Kemala. Datuk Awang merintih. Ia terduduk lunglai tanpa bisa berkata-kata.

Malu serupa skin yang ditusukkan ke ulu hati. Anak kebanggaan sekaligus anak yang menjadi penjunjung harga dirinya telah melumurkan najis kepadanya. Kenyataan itu telah membungkam mulut Pacik Awang unutk membela harga dirinya yang jatuh di hadapan berpuluh pasang mata.

Di balik kamar pengantin, Kemala meratap. Tipis nian adat membalut harga dirnya. Setipis kain putih yang menjadi pembukti kesuciannya. Sungguh berat beban malu yang akan ditanggungnya. Ia akan terusir, bukan karena kesalahan yang dikira orang-orang melainkan karena adat yang buta pada kesalahan yang tak pernah dilakukannya.

Pesta pernikahan malam itu menyisakan luka yang menganga. Satu per satu orang-orang meninggalkan rumah panggung Pacik Awang. Malam pun kian melengang, hanya sesekali terdengar isak tangis Kemala yang bersikejar dengan rintih pedih Pacik Awang.

Bulan menggantung pucat di langit kmpung Lubuk Tampui. Saat malam menuju dini hari, Kemala meninggalkan rumahnya. Diam-diam gadis itu menerabas kepekatan malam dan menuju sawah Tanjung Raya. Di dahan pohon kepayang tua, ia menebus malu dengan nyawanya. (*)

Catatan:

Cengkung, sejenis gong kecil yang ditabuh saat malam pertama. Jika gong dibunyikan, pertanda mempelai perempuan masih perawan. Sebaliknya, jika tidak ditabuh, pengantin perempuan dianggap tak lagi perawan dan pihak mempelai laki-laki berhak menceraikannya. Adat ini masih ada sampai sekarang di Kabupaten Muara Enim, Sumatera Selatan.

Adam Yudhistira bermukim di Muara Enim, Sumatera Selatan. Cerita pendek, cerita anak, esai, puisi dan ulasan buku yang ditulisnya telah tersiar di sejumlah media massa cetak dan daring di Tanah Air. Saat ini mengabdikan diri unutk mengelola Taman Baca Masyarakat Palupuh untuk anak-anak di sekitar tempat tinggalnya. Buku kumpulan cerita pendeknya, Ocehan Semut Merah dan Bangkai Seekor Tawon (basabasi, 2017)

Kun Adnyana, perupa yang juga dosen seni rupa dan desain Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar. Lahir di Bangli, 4 April 1976, meraih gelar doktor bidang Pengkajian dan Penciptaan Seni Rupa dari Pascasarjana ISI Yogyakarta. Telah menggelar 12 pameran tunggal, baik di Jakarta, Yogyakarta, Bali, Michigan Amerika Serikat, maupun di kota Tainan, Taiwan. Meraih penghargaan Visiting Scholar/Artist Awards tahun 2013 dari Gwen Frostic School of Arts, Western Michigan University.


[1] Disalin dari karya Adam Yudhistira
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Kompas” Minggu 24 Februari 2019