Ivonne [10]

Karya . Dikliping tanggal 1 November 2015 dalam kategori Cerita Bersambung, Majalah Femina
Theo menjabat tangan Pak Darmawan Sejati. Hari ini, dia akan kembali ke Australia. Dia akan berangkat ke bandara diantar oleh Pak Andi. Alexander Natanegara akan ikut ke Australia. Sebagai karyawan yang berpotensi, Theo merekomendasikan Alex mengikuti training yang akan diselenggarakan oleh Chemical International Cooporation.
Theo memandang ke arah meja kerja Ivonne. Gadis itu tampak sedang sibuk mengetik di komputernya.  
Pak Darmawan menepuk pundaknya. ”Tampaknya Ivonne masih tetap harus sendirian,” Pak Darmawan menghela napas.  ”Dia gadis yang baik, entah sampai kapan dia akan terus begini. Tapi, terima kasih karena kamu sudah mencoba untuk mengubahnya….” 
Theo mengangguk singkat. Hatinya terasa kosong, hampa. Seolah ada yang tertinggal di sini, di PT Kimia Utama, di meja kerja Ivonne, di hati Ivonne….
“Ayo, Alex. Kita jalan sekarang…,” ajak Theo.
Theo berjalan melewati meja kerja Ivonne. Ketika Theo mendekat, Ivonne bangkit sambil membawa cangkir kosongnya. Dia beranjak ke dispenser air minum yang terletak di sudut ruangan. Berlama-lama di sana, memenuhi cangkirnya yang berukuran tidak terlalu besar. Jelas sudah, Ivonne menutup dirinya. Tidak mau mendekati dan didekati oleh Theo.
Theo meneruskan langkahnya masuk ke dalam lift. Pintu lift menutup, Theo melihat sosok Ivonne perlahan-lahan menghilang dan kemudian… tertutup sama sekali.
Ivonne kembali ke meja kerjanya. Tidak butuh waktu lima menit untuk mengisi cangkir kecilnya, tapi dia sengaja berlama-lama di depan dispenser. Ketika pintu lift sudah menutup, dia baru kembali ke meja kerjanya. Hatinya pilu. Theo menghadirkan rasa lain di hatinya. Dia ingin menangis, tapi ditahannya keinginan itu kuat-kuat. 
Ivonne menepuk punggung tangannya tiga kali, lalu mulai bekerja lagi. Entah mengapa, pandangannya  makin kabur dan dia merasakan cairan hangat mengalir di pipinya. Dengan kesal, dia menghapus cairan itu. Tidak seharusnya dia menangis! 
”Kamu telah menghancurkan hati Theo,” ujar Pak Darmawan, dengan lembut. 
Ivonne terlonjak kaget dan buru-buru menghapus air matanya.
”Kamu yakin mau terus menghindari lelaki baik itu?” tanya Pak Darmawan, masih dengan lembut. Tatapan matanya teduh. Pak Darmawan yang sangat perhatian terhadap dirinya. Pak Darmawan yang tampak menyerupai sosok ayahnya. 
Pak Darmawan tersenyum lembut, ”Sudahlah, Ivi. Maafkan dirimu sendiri. Berdamailah dengan dirimu.”
Ivonne tersentak. “Pak Darmawan Se… Om Darma. Saya harus pergi. Saya mohon izin….”
Pak Darmawan mengangguk. Senyumnya bertambah lebar. “Lakukan apa yang harus kamu lakukan….”
Ivonne berlari ke luar  kantor. Dia masuk ke sebuah taksi yang terdapat di luar kantor. 
”Bandara,” bisiknya pelan. Suaranya tercekat, matanya basah oleh air mata. Kecelakaan yang dialami kedua orang tuanya bukanlah kesalahannya. Kecelakaan yang terjadi beberapa hari lalu juga bukanlah kesalahannya. Ivonne harus berhenti menyalahkan dirinya sendiri. Memaafkan dirinya sendiri dan berdamai dengan dirinya sendiri.
Sekarang, dia harus mengejar Theo. Memberikan kesempatan kepada lelaki baik itu. Membuka dirinya kepada lelaki yang sungguh peduli padanya. 
”Sudah sampai, Bu.”
Ivonne buru-buru membayar  ongkos taksi  dan meloncat keluar dari taksi itu. Dia terus berlari ke bagian penerbangan luar negeri. Tanpa sengaja dia menabrak pohon bugenvil yang tertanam di pot besar. Tusuk kondenya tersangkut pada ranting-ranting pohon bugenvil tersebut. Gelung ketat rambutnya terlepas, menggerai rambutnya, tapi Ivonne tidak berhenti untuk merapikan rambutnya. Dia terus berlari, mengejar Theo.
Ivonne terus berlari, matanya menangkap sosok Alex dan… di depannya tampak sosok Theo.
“Theo!!!” panggil Ivonne sekuat tenaga. “Theo!!!”
Theo langsung berbalik mendengar suara Ivonne. Terkejut bukan main mendengar Ivonne memanggilnya ’Theo’. Lebih terkejut lagi melihat Ivonne berlari-lari dengan rambut tergerai kusut dan kaki telanjang.
Ivonne masih tetap berlari, kemudian menghambur ke pelukan Theo. Theo balas memeluk Ivonne dengan erat. Ini bukan Ivonne yang biasanya. Ivonne yang biasanya tidak akan mungkin berlarian dengan rambut tergerai liar, baju kusut, dan kaki tanpa sepatu. Ini Ivonne yang berbeda. Yang lebih ceria, lebih segar, lebih hidup!!! Dan pelukan ini. Pelukan yang sedemikian eratnya ini…. 
”Aku….” Ivonne terengah-engah mengatur napasnya. ”Aku sudah memaafkan diriku sendiri, aku sudah berdamai dengan diriku sendiri. Kecelakaan kedua orang tuaku, kecelakaan yang kita alami, itu bukanlah karena kesalahanku.” Mata Ivonne berbinar-binar, tampak sangat lega telah mengucapkan kalimat itu.
Theo kembali memeluknya. ”Ya, Ivi… Itu semua memang bukan kesalahan kamu,” ujarnya, sambil mengelus lembut rambut Ivonne.
”Aku juga…  aku juga tidak perlu menghindari kamu, karena aku bukanlah pembawa bencana bagi kamu,” Ivonne masih meneruskan perkataannya.  
Theo mengangguk.  ”Kamu bukanlah pembawa bencana bagiku, atau bagi siapa pun juga. Kamu adalah gadis manis yang menarik. Kamu gadis yang sangat menyenangkan!”
Ivonne tersenyum lebar dan memeluk Theo dengan erat. 
”Aku tidak mau kehilangan kamu lagi… kamu hal yang baik dalam hidupku,” bisiknya. (tamat)
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Irene Tjiunata
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Femina” 

Baca juga:  Ivonne [8]