Ivonne [4]

Karya . Dikliping tanggal 1 November 2015 dalam kategori Cerita Bersambung, Majalah Femina
Theo teringat akan tingkah lakunya yang selalu melakukansegala sesuatu tiga kali. Dia mengatakan itu kepada Pak Darmawan.
”Ya,” Pak Darmawan mengangguk. ”Itu dan beberapa hal aneh lainnya. Kamisekeluarga sungguh berharap dia dapat sembuh, tapi dia tidak mau kami bawa kepsikolog. Dia tidak pernah mau melepaskan kebiasaan yang membuatnya jadi aneh.Dia takut kalau akan mendatangkan celaka bagi dirinya dan bagi orang lain.”
”Obsesive-compulsive disorder?” Theo teringat akan istilah psikologi  yangbiasa digunakan untuk mendefinisikan tingkah laku Ivonne.
”Terlihat seperti itu.” Pak Darmawan mengangguk. ”Tapi, kami belum dapatmemastikan karena dia tidak mau diperiksa psikolog.”
 “Dia mengernyitkan dahinya saat saya memanggilnya ‘Ivi’,” ujar Theo.
Pak Darmawan tersenyum. “Ivi adalah panggilan sayang dari kedua orang tuanya.Tidak pernah ada orang lain yang memanggilnya seperti itu.” 
Theo mengangguk-angguk. “Dia juga tidak pernah mau memanggil saya Theo. Diaselalu memanggil nama lengkap saya.”
“Itu salah satu caranya untuk tidak mendekatkan diri kepada orang lain.” 
Kepala Theo kembali terangguk-angguk.
“Dia gadis yang baik. Saya sangat berharap dia bisa kembali ceria lagi. Sepertidulu….” Mata Pak Darmawan tampak menerawang.
Pintu diketuk lagi. Kepala Ivonne muncul lagi.
“Mr. Theofilus Lundenberg,” sapanya. “Ini data costumer yang rencananya akandidatangi besok. Silakan diperiksa dulu,” ujarnya, sambil menyerahkan setumpukdata costumer, lalu berlalu pergi. 
Theo memeriksa data itu. Semua tercetak dengan rapi, menurut abjad, danlengkap!
“Dia memang gadis yang cekatan,” puji Pak Darmawan.
Theo tersenyum, kemudian bangkit berdiri. Dia pamit dari ruangan Pak Darmawandan berjalan menghampiri meja Ivonne. Gadis itu tampak sedang merapikantumpukan kertas di mejanya. Theo sengaja tidak memanggilnya. Tampak Ivonnesedang merapikan tumpukan kerta itu untuk ketiga kalinya. Setelah itu, Ivonnemengangguk, tersenyum puas. 
“Ivi,” panggil Theo.
Ivonne tampak terkejut. Wajahnya kembali bersemu. 
“Mr. Theofilus Lundenberg. Ada perlu apa?” tanya Ivonne, berusaha menutupikecanggungannya.
Theo tersenyum. “Tidak apa-apa. Hanya mau mengatakan bahwa kamu telah bekerjabaik sekali.”
Ivonne mengangguk. Bibirnya tersenyum tipis.
“Sepulang kerja,” Theo memperhatikan jam tangannya, “sebentar lagi, temani akupergi. Sudah lama aku tidak ke Jakarta.”
Ivonne mengangguk. Tidak dapat menolak.
Theo tersenyum.
Ivonne dapat mendengar dengus tidak suka dari cubicleNovelita, salah satu rekan kerjanya. Dengus itu disusul dengan kata-kata penuhcemooh.
”’Kamu telah bekerja baik sekali’. Cih! Pekerjaan saya sudah pasti akan jauhlebih baik dan jauh lebih cepat dibandingkan dia! Saya juga tidak akanbertingkah unusual seperti gadis aneh itu!!!”
Ivonne memejamkan matanya. Gadis seperti Novelita tidak perlu diladeni. Makinditanggapi, akan makin senang dia. Ivonne sibuk memikirkan ajakan Theo.Menemaninya keliling Jakarta. Memang dia sekarang adalah personal assistantdari Theo, tapi apakah menemaninya berkeliling Jakarta termasuk dalam job-descseorang personal assistant? Ivonne ragu.
Dia mulai merasa terganggu dengan kehadiran Theo. Apalagi lelaki itu sudahbeberapa kali memergokinya saat sedang melakukan ritualnya. Dia harus lebihhati-hati sekarang. Jangan sampai tingkah lakunya dijadikan parameter untukmengukur profesionalisme kerjanya.
”Bu Ivonne,” panggil Pak Andi, sopir kantor. “Bapak Theo sudah menunggu di lobibawah.”
Ivonne mengangguk, kemudian bersiap-siap. Dia perlu merapikan gelung rambutnya.Dia masuk ke dalam toilet. Bilik toilet terisi penuh. Dia sendirian, dia aman,lalu dia mulai mengurai gelung rambutnya kemudian mengikatnya kembali denganketat. Satu kali… dua kali… dan ….
Tiba-tiba pintu terbuka. Novelita masuk. Kembali mendengus tidak bersahabatmelihat Ivonne. 
Ivonne terpaku. Tidak meneruskan gerakannya. Ritual tiga-nya telah kacau! Kalauada jeda antara ritual tiga itu, maka dia harus mengulangnya dari awal. Tapi…dia tidak dapat melakukannya, apabila ada orang lain di dekatnya. Bukan begituaturannya. Ivonne mulai panik…. 
Matanya memandang gelisah ke arah Novelita yang kini sibuk menambah polesanmake-up-nya. Tampaknya kegiatan itu akan memakan waktu yang cukup lama. MataIvonne terbelalak memandang banyaknya produk kecantikan yang dikeluarkan.Apakah memang sedemikian buruknya wajah asli Novelita sehingga dia membutuhkanbegitu banyak produk untuk mempercantik wajahnya?
Ivonne memandang gelisah jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya.Theo sudah menunggu di lobi bawah, sementara rambutnya masih tergerai lemas dibahu. Dia tidak bisa keluar, apalagi menemui Theo dengan keadaan seperti ini.Dia tidak pernah membiarkan orang lain, terutama lelaki, melihat rambutnyatergerai lemas seperti ini.
Sementara itu, Novelita masih tampak sibuk memulaskan pemerah ke pipinya.
Bagaimana ini? pikir Ivonne panik. Tangannya terangkat ragu-ragu, berusahauntuk merapikan rambutnya. Tapi… tidak bisa. Bukan begini caranya! Dia tidakdapat merapikan gelung rambutnya tiga kali di depan orang lain!
Pintu salah satu bilik toilet terbuka. Ivonne menghela napas panjang. Seorangwanita keluar dari bilik itu. Ivonne menerjang masuk ke dalam bilik, lalu buru-burumerapikan gelung rambutnya. Satu kali, dua kali, dan tiga kali! Ivonne menghelanapas lagi. Lega. Dia menepuk punggung tangannya tiga kali, lalu keluar daribilik.
Novelita masih di sana. Masih sibuk dengan semua produk kecantikannya. Kali inidia mencibir melihat Ivonne keluar dengan rambut tergelung ketat.
“Orang aneh…,” katanya, pelan.
Ivonne menundukkan kepalanya. Dia tidak menjawab.
****
Theo menunggu di dalam mobil. Dia tersenyum kecil melihat sosok Ivonneberlari-lari keluar. Rambutnya tergelung rapi. Disatukan dengan sebuah hiasanrambut berwarna hitam.
”Maaf, saya terlalu lama.” Ivonne mengangguk sedikit. 
Ivonne mengetuk ujung kakinya tiga kali, persis ketika Pak Andi menyalakanmesin mobil. Ketukan kakinya sedikit teredam suara deru mesin mobil, tapi tetapsaja Theo menyadari hal itu.
”Kita ke mana, Pak Theo?” tanya Pak Andi.
”Ke jalan ini….” Theo memperlihatkan secarik kertas kepada Pak Andi. Itualamat rumah Oma Rima.
”Baik, Pak Theo.” Pak Andi mengarahkan mobilnya dengan mantap.
Ivonne diam saja. Theo juga tidak mau mengganggu hening yang, tampaknya, sangatdinikmati gadis itu.
Tanpa terasa, laju mobil melambat. Kemudian menepi di sebuah rumah tua yang masih sangat terawat. Rumah tua Oma Rima, neneknya tercinta, yang masih terawat dengan baik.
”Ayo, Ivi,” ajak Theo.
Ivonne tampak ragu-ragu. Theo tersenyum kecil. Pasti dia tidak menyangka kalau Theo akan mengajaknya ke sebuah rumah.
“Pak Andi ikut masuk saja,” ajak Theo.
Kali ini raut wajah Ivonne agak lega.
”Tenang saja,” ujar Theo, sambil tersenyum kecil. ”Ini rumah omaku. Aku sudah janji akan mengunjunginya begitu aku tiba di Jakarta.”
Ivonne mengangguk. Theo sempat melihat Ivonne mengetuk ujung kakinya tiga kali sebelum keluar dari mobil.
Theo mengetuk pintu utama rumah tersebut. Di wajahnya tersungging senyum lebar.
Pintu terbuka perlahan. Oma Rima keluar.
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Irene Tjiunata
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Femina” 

Baca juga:  Ivonne [9]