Jejak Seribu Penyu [5]

Karya . Dikliping tanggal 1 November 2015 dalam kategori Cerita Bersambung, Majalah Femina
“Hei, sejak kapan wanita diperkenankan mentraktir pria di kopi tiam? Sudah, simpan saja dompetmu!” cegah Ian yang segera melompat dan menyerahkan selembar dua puluh ribuan pada seorang nyonya yang tengah duduk di kursi kayu seraya menggeser lincah butir-butir sempoa. 
Purnama menerangi jalan sunyi saat mereka berenam beranjak dari kopi tiam. Meski akan ada pertunjukan kesenian yang digelar di halaman kantor kecamatan, sepertinya ritme kehidupan penduduk tak banyak berubah. Beberapa kali berpapasan dengan sekumpulan orang menuju arah yang sama, namun jauh lebih banyak mereka yang membunuh sunyi dengan bermain catur dan lacak (domino) di kopi tiam, juga di kedai-kedai makan. 
Lima belas menit berjalan, mereka akhirnya tiba di rumah Pak Burhan. Salah seorang tetua kampung yang sudah dikenal baik oleh anggota rombongan pemda yang sering berkunjung ke Tambelan. Pemandangan dari arah dapur dengan seorang wanita yang tengah mengaduk-aduk di dalam panci yang mengepulkan uap air, sejenak menarik perhatian Via untuk tak langsung menuju meja makan. 
“Masak apa, Bu ?” 
Wanita itu menoleh. Sedikit terkejut. “Eh, ini, merebus telur sisik. Adek suke tak?” 
“Mmm…. suka, sedikit,“ Via menjawab gugup. Tak tega rasanya membohongi mata tua yang berbinar polos itu. 
Via hanya pernah sekali mencicipi telur sisik. Berbeda dengan telur rebus biasa, pada saat telah matang pun, isi telur sisik tetap tidak mengeras, melainkan berwujud cairan keruh yang sedikit kental. Cara memakannya pun bukan dengan dikupas lalu dikunyah, melainkan dengan disedot.
Kata orang, telur sisik paling enak disedot hangat-hangat. Entah karena waktu itu Via menyedotnya saat suhunya telah dingin, membuat cairan telur yang menjalari kerongkongannya, rasanya jadi mirip ingus. Eksperimen pertama yang langsung membunuh seleranya, kapok untuk menyantap lagi telur sisik.
Saat menuju ruang makan, hanya tinggal Rachmat yang masih berdiri di depan meja. Hmm… lagi-lagi ikan. Bedanya, kali ini ikannya dibungkus di dalam daun pisang sebelum dibakar, orang sini menyebutnya dengan pais. 
Via langsung mengambil dua bungkus pais. Mumpung. Di mana lagi bisa menyerap omega 3 yang benar-benar murni? Sepertinya, nasinya cukup sesendok saja. Karena di ruang tamu, telah berjejer hidangan pencuci mulut yang tak kalah menggiurkan. Bingke berendam. Kue basah khas Tambelan yang rasa manisnya selangit. Juga kole-kole. Kue dari kacang hijau yang digongseng lalu dihaluskan, dimasak bersama gula, telur dan santan. 
“Sepertinya sekarang telur-telur penyu dan sisik sudah jarang dijumpai, ya, Pak?” tanya Rachmat, seraya menyedot telur sisik dalam sekali sesap. Via ternganga. Telur-telur sisik yang disedot Rachmat, dan kulitnya ia letakkan di wadah plastik itu, jumlahnya sudah mencapai enam butir! Padahal, yang Via tahu,  telur sisik mengandung kolesterol cukup tinggi.
Apakah Rachmat juga sama sepertinya, yang hendak memuaskan selera semaksimal mungkin dengan makanan khas Tambelan yang sulit dijumpai, bahkan di Bintan sendiri? Bedanya, kalau Via bertujuan menyuplai omega 3 melalui masakan ikan-ikan segar, Rachmat justru tengah menimbun tubuhnya dengan kolesterol.
Pak Burhan yang telah selesai makan, menjawab pertanyaan Rachmat. “Begitulah, Dek. Sejak pemerintah pusat melarang penjualan telur penyu dan sisik ke luar daerah, dengan alasan bahwa habitat penyu sudah nak punah, penjualan telur oleh masyarakat langsung menurun drastis. Yang ade sekarang ni, hanye sekadar untuk konsumsi saje.”
“Kalau menurut Bapak sendiri, sudah tepatkah kebijakan itu? Setahu saya, sudah sejak berpuluh tahun, masyarakat Tambelan mengandalkan sumber mata pencaharian dengan berjualan telur penyu,” tukas Ian, yang kemudian menyusul jejak Rachmat, mengambil beberapa butir telur sisik.
“Sebenarnye cukup dilematis. Setahu saye, sejak menetap di pulau ni, habitat penyu tu belum pernah punah same sekali. Dah banyak pule orang tue yang berhasil sekolahkan anaknya sampai jadi sarjana dari hasil berjualan telur penyu. Tapi, untuk berjualan bebas seperti dulu, masyarakat tak berani lagi. Tahun lalu, pihak kepolisian tak teragak-agak (ragu) menangkap oknum yang ketahuan membawa ribuan telur penyu ke negeri jiran (tetangga),” cerita Pak Burhan, panjang lebar. Heru dan Zoel yang telah selesai makan, kini ikut bergabung bersama mereka di ruang tamu.
Sudah makin dekat. Tak akan lama lagi.
Sebentuk pantulan samar membayang di dinding ruang tamu. Via spontan mengalihkan pandangan. Sorot matanya yang seolah tengah ‘berbicara’, akan mudah memancing curiga. Lebih baik memejamkan mata. Ya, terpejam lebih baik.
Saat Via membuka mata, piring berisi bingke telah bergeser jauh. Dikerumuni oleh lima makhluk yang saling menyendok dengan berebutan. “Salah sendiri, siapa lambat, tak kebagian, “ celetuk Zoel.
“Sepertinye adek satu ni pemalu betul. Ni sile lah makan.”
Via jadi tersergap malu. Istri Pak Burhan telah menyiapkan sepiring kecil yang lain, berisi bingke berendam dan dua potong pisang goreng. Ya. Sudah menjadi tradisi masyarakat setempat untuk makan bingke berendam bersama pisang goreng. Berbeda dari bingke biasa, bingke berendam yang terbuat dari adonan santan, telur dan gula dalam takaran yang sama itu permukaannya masih disiram lagi dengan air gula. Mungkin, kehadiran pisang goreng dibutuhkan untuk mengimbangi rasa manis bingke yang sudah hampir menyamai induk gula itu.
“Tahu macam tu aku pura-pura malu saja tadi,“ seru Marsha, yang diikuti komentar sirik keempat rekannya. Via tak peduli. Lalu menggeser duduknya ke sebelah Rachmat. 
“Pak Burhan, di pulau ini, di mana gerangan pantai yang banyak berbatu karang?” 
“Hampir semua pantai berbatu karang, Dek.” 
“Pantai yang jalanannya menurun? Juga banyak ditumbuhi pohon pisang?”
Dahi Rachmat langsung mengernyit mendengar pertanyaan beruntun Via yang sama sekali di luar topik pembicaraannya dengan Pak Burhan. Namun, pria ramah itu tetap menjawab pertanyaan Via.
“Mungkin, maksud Adek ni Pantai Penepat. Dari jalan menurun menuju ke pantai tu memang banyak pohon pisang. Pantainya sendiri taklah terlalu istimewa. Tetapi, dari tanjakan tertinggi, kita bisa melihat bukit batu di seberang. Cantik. Anak saya pernah sekali mendaki bukit tu. Katanya, 0kalau dah sampai di puncak, rasanya tak mau turun.”
Obrolan masih berlanjut. Hingga akhirnya, bunyi dentang sembilan kali pada jam dinding ruang tamu Pak Burhan, sekaligus menjadi isyarat untuk mereka berpamitan dengan lambung yang telah terisi penuh.
“Bagaimana kalau kita cari mobil? Perut kenyang begini letih betul rasanya berjalan kaki.“ saran Marsha, ketika mereka telah berada di luar pekarangan rumah Pak Burhan, yang langsung mendapat anggukan yang lain. 
Syukurlah, tak lama kemudian tampak sebuah pick-up di depan toko, dengan beberapa kotak kardus yang tengah dinaikkan ke bak pick-up. Rachmat menghampiri sang sopir yang duduk di belakang kemudi. 
“Mau ke mana, Pak?”
“Ke pelabuhan.”
“Boleh kami menumpang? Kebetulan tempat menginap kami searah. Tak mengapalah kalau Bapak nak ke pelabuhan dulu, baru setelah tu mengantar kami.” Sang sopir mengangguk seraya menghidupkan mesin.
“Naiklah, Dek.“ Dan, satu per satu mereka meloncat naik ke bak pick-up, lalu duduk dengan menekuk lutut, sedikit berdesakan dengan tumpukan kardus.

Riawani Elyta. Pemenang penghargaan Sayembara Mengarang Cerber Femina 2009
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Riawani Elyta
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Femina” 

Baca juga:  Lewat Secangkir Kopi [5]