Jejak Seribu Penyu [6]

Karya . Dikliping tanggal 1 November 2015 dalam kategori Cerita Bersambung, Majalah Femina
“Hey, itu Fei… bukan?” Via berseru tiba-tiba, seraya telunjuknya terarah lurus ke pantai. Sebuah sepeda motor tersandar pada pohon kelapa, dan seorang pria yang memunggungi arah jalan, tengah duduk mencangkung di batu karang. Pick-up yang mereka tumpangi telah menuju arah pelabuhan yang terasa kian sunyi dan gelap, oleh minimnya lampu penerangan juga rumah penduduk di kiri-kanan jalan.
“Tajam juga matamu! Hm… sedang apa dia? Mau bunuh diri agaknya!” komentar Zoel, acuh tak acuh. 
“Datang jauh-jauh ke pulau malah bertapa di tepi laut. Tak takut kesurupankah?” tukas Heru.  
“Huss! Jangan bicara macam-macam!” Marsha cepat menyilangkan telunjuk di bibir.
Tidak. Dia tidak sendirian. ‘Seseorang’ tengah menghampirinya. 
Hingga pick-up menjauh dari tepian pantai, kedua mata Via masih memaku. Pada Fei dan ‘seseorang’ yang masih bergeming di atas batu karang.

Dimensi Annisa
April 2006

Rumah Sahak kembali didatangi ramai orang. Namun, bukan rombongan lima pemuda yang datang mengancam Nisa waktu itu. Sebaliknya, mereka yang mengaku berasal dari Yayasan Konservasi Satwa Langka, ada tujuh orang semuanya, dua orang wanita dan lima orang pria.
“Kami mendapatkan informasi bahwa Anda telah sejak lama gigih memperjuangkan nasib hewan-hewan penyu di pulau ini. Terus terang, kami salut. Jarang-jarang ada orang muda seperti Anda yang mau bersusah payah menyelamatkan satwa langka dari kepunahan,” ujar wanita yang memperkenalkan diri sebagai Linda, dengan logat bicara layaknya orang perkotaan.
“Jadi, Mbak Nisa tak keberatan ‘kan mengajak kami langsung melihat penangkaran? Terus terang, waktu kami di sini tak banyak. Sambil melihat-lihat, kita lanjutkan pembicaraan,” ujar wanita yang seorang lagi.
“Tentu, penangkarannya dekat saja, hanya 10 meter di belakang rumah ini,” jawab Nisa. 
“Jika memungkinkan, bagaimana kalau sesudah melihat penangkaran, kita langsung ke pantai tempat Mbak Nisa biasa melepas penyu?” kali ini seorang pria berpenampilan kelimis 
yang bertanya.
“Boleh-boleh saja, Pak. Tapi, saat ini kebetulan belum ada penyu untuk dilepas. Paling cepat mungkin baru tiga bulan lagi, menunggu mereka cukup umur,” ujar Nisa, seraya memandang ke arah Sahak. 
“Perlu Pakcik temani kau?”  Nisa menggeleng. 
Percakapan masih berlangsung untuk beberapa menit sebelum mereka berangkat menuju penangkaran dan pantai. Sudah jadi kebiasaan tuan rumah di Tambelan untuk menyuguhkan makanan ‘lengkap’ kepada tamu, berupa nasi dan lauk-pauk, meski hanya menu sederhana, terlebih lagi, tamu yang datang dari jauh. 
“Betul kan kata Nisa, Pakcik. Yang namanya perjuangan, suatu saat pasti akan berhasil,” bisik Nisa di telinga Sahak dengan mata penuh binar. Sahak hanya menggedikkan bahu. “Semoga mereka tak sekadar berbual kosong. Hati-hati, Nisa. Pulang jangan sampai kelewat petang.” 
Sebuah benda kecil di atas lemari berbunyi pelan. Namun, Sahak yang sudah kelelahan, memilih langsung masuk ke kamar demi menunaikan hasrat tidur siang.
Sebuah SMS terkirim ke ponsel Nisa yang ketinggalan. 
Nisa, org2 yayasan yg aku kbrkan ttgmu itu blm bisa dtg. Nt kan ku br kbr jika mrk sdh positif akan ke sana. Sdg apa sayang?
Dimensi Lyvia
Pagi yang teduh di Pantai Penepat  
Akhirnya, Via berhasil mengajak, atau lebih tepatnya membujuk tiga orang ibu-ibu muda sebayanya dari rombongan anggota PKK untuk bersama-sama melihat Pantai Penepat, setelah gagal mengajak kelima rekan sekretariatnya yang lebih memilih memborong oleh-oleh sebelum kapal bertolak kembali ke Bintan. 
Sedikit nekat, Via menaiki sepeda motor yang membonceng sekaligus tiga orang. Dirinya, Nila, dan seorang gadis tetangga Pak Rahman. Telah bertahun-tahun Via tak beraksi sekoboi ini, apalagi, sepeda motor yang dikendarai gadis belia itu lumayan ngebut. Dalam sesaat, Via merasakan sensasi yang luar biasa. Terlebih, saat berpapasan dengan beberapa pasang mata yang menatap tanpa kedip. Via dan Nila nyaris tertawa serentak, ketika melewati Pak Bupati bersama rombongan kecilnya yang tengah berjalan kaki hendak meninjau sekolah dasar. Wajah orang-orang penting itu yang melongo sesaat lalu geleng-geleng kepala, akhirnya meledakkan tawa mereka berdua ketika motor telah menjauh.
“Maaf, Kak. Kite berhenti di sini. Tanjakannya tinggi sangat. Saye jemput kawan-kawan kakak yang dua orang tu. Nanti saye susul,” ucap gadis itu seraya mematikan mesin motor. Via dan Nila melompat turun. Lalu menaiki tanjakan dengan berjalan kaki. Ternyata, tanjakan itu tak hanya tinggi menjulang, namun juga lumayan jauh. Napas mereka berdua terengah-engah saat telah tiba 
di jalan mendatar. Seorang pria berjalan kaki seorang diri dari arah berlawanan. Via menghentikannya. 
“Maaf, Pak. Numpang tanya. Masih jauhkah Pantai Penepat?” 
Tak ada jawaban. Pria itu justru memacu langkahnya.
“Agaknya, dia mengira kita ini bukan manusia,“ ucap Nila, seraya terkikik. Via melirik arlojinya. 
“Mungkin saja. Baru pukul tujuh. Masih terlalu pagi di Tambelan. Siapa gerangan yang berniat ke pantai pagi-pagi buta begini?” tukas Via yang ikut mengikik. Keduanya lalu kembali berjalan, melewati jalan setapak yang dikelilingi rimbun pepohonan, diiringi musik alami berupa kerit belalang dan jangkrik meningkah sunyi, juga sesekali berpapasan dengan lembu yang ditambat dan ayam hutan yang berkeliaran bebas.
“Wah… lihat di sana, Via!” tertakjub suara dan gerak mata Nila saat telunjuknya terarah ke seberang. Via mengikutinya. Sebuah bukit batu dengan rimbun hijau di sebagian sisi, dan di bawahnya, lautan biru yang luas membentang. Kabut samar menutupi sebagian bukit. Dari kejauhan terlihat seperti sebuah dunia lain, dunia yang menggantung di antara langit dan bumi. Padahal, semua itu merupakan bagian dari pulau terpencil ini.
Via berdecak kagum. Dan Nila telah beberapa kali menjepretkan kamera digitalnya. “Rugi mereka kalau tak segera menyusul kemari. Aku mau coba menuruni jalan setapak itu. Syukur-syukur bisa sampai ke pantai. Kamu masih ingin di sini?”
Via mengangguk.
Sesaat, ada desir angin yang meniup dari arah belakang. Sejuk. Via menoleh. Tujuh orang –lima pria dan dua wanita– yang entah kapan dan entah bagaimana caranya, tahu-tahu saja telah tiba di belakangnya dan berdiri mengelilinginya. Aneh. Via tak mengenal seorang pun. Bulu kuduknya spontan meremang.
“Terakhir kalinya kami tegaskan pada Anda, Nona. Segera sudahi usaha Anda yang sia-sia itu! Anda tak hanya telah mencabut tradisi yang sudah terpelihara bertahun-tahun, tapi juga mengancam sumber mata pencaharian terbesar penduduk pulau ini!” seorang pria berbicara lantang, dengan sinar mata berapi-api.
Via spontan melangkah mundur ketika dua orang maju mendekat. “Kalian penipu! Kalian menjebak saya! Kalian bukan orang yayasan!” 
Tuhan! Darah Via langsung tersirap. Ia tak mengenal mereka, namun kalimat itu … kalimat lantang itu meluncur dari bibirnya!

Riawani Elyta. Pemenang penghargaan Sayembara Mengarang Cerber Femina 2009
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Riawani Elyta
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Femina”