Jejak Seribu Penyu [9]

Karya . Dikliping tanggal 1 November 2015 dalam kategori Cerita Bersambung, Majalah Femina
Mimpi itu, juga foto-foto di album Fei. Rasanya, itu sudah lebih dari cukup. Toh, ia tak memiliki kepentingan dan hubungan sebab akibat apa pun dengan masa lalu Annisa. Peduli dengan ‘niat’ Annisa yang hendak menunjukkan sesuatu padanya. Bukankah ia telah cukup berbaik hati untuk menuruti ‘keinginan’ Annisa dengan mendatangi Pantai Penepat?
“Maaf, telah mengganggu waktumu. Aku pulang dulu,“ pamit Via, seraya berlalu dari hadapan Fei yang bergeming, tak berusaha menahan langkahnya ataupun sekadar mengangguk dan mengangkat wajahnya yang tertunduk kelu.
Penat tubuh Via serasa bertambah lima kali lipat saat telah kembali ke rumah. Layar laptop-nya masih menyala, dengan tulisan namanya yang membentuk gerak horizontal menari-nari pada screensaver. Karena terburu-buru membuatnya lupa mematikan laptop.
Via duduk di hadapan laptop seraya menggerakkan mouse tanpa tujuan. Tulisan-tulisan yang kemudian kembali bermunculan di layar, masih tentang berita-berita seputar penangkaran yang beredar di berbagai website. Via bahkan lupa untuk memutuskan koneksi internet dengan modem yang masih terpasang.
Penangkaran penyu. Kalimat itu berembus lirih dari bibir Via seiring dengan tarikan neuron-neuron di kepalanya yang bergerak menuju ke satu fokus. Jemarinya pun telah kembali lincah mengarahkan gerak kursor.
Ada sesuatu yang menggelitik benaknya. Sesuatu yang selama ini tak pernah sedikit pun melintas di pikirannya, tentang betapa pentingnya upaya perlindungan satwa yang nyaris punah. Dan, dalam kasus penangkaran penyu di Tambelan, terdapat ironi yang menyeruak, antara upaya pemerintah untuk mempertahankan eksistensi penyu dari kepunahan, dengan pemutusan sumber nafkah masyarakat yang banyak bergantung pada penjualan telur penyu.
Perlahan, adrenalin Via yang sempat drop drastis kembali bergerak naik. Seakan dirinya dapat melihat wajah Annisa terpantul jelas di layar datar, berlatar belakang pantai berpasir putih dan kaki-kaki mungil hewan melata yang bergegas mencapai laut, seperti apa yang Via lihat pada beberapa lembar foto di album Fei.
Inikah yang hendak kau tunjukkan? Besarnya luapan semangatmu untuk mempertahankan eksistensi penyu dari kepunahan?
Setetes tiara bening meloncat, membasahi sudut mata Via. Aneh. Mengapa tiba-tiba saja harus tebersit rasa kagum, akan perjuangan seseorang yang hanya pernah wujud dalam keleluasaan visualnya?
Nirwana Garden Resort, Lagoi, tiga bulan kemudian
Tempik sorak sambung-menyambung. Mengiringi ratusan anak penyu yang meluncur dari puluhan tangan mungil, seraya mengungkap kalimat sukacita dalam beragam bahasa yang berbeda. Semua mata tertuju lekat pada gerak halus di atas pasir yang tanpa ragu merayap, kian lama kian gegas, seakan berlomba hendak lebih dulu mencapai bibir pantai.
Event tahunan yang digelar oleh resort terkemuka itu, adalah salah satu acara yang paling banyak diminati turis. Terutama para bocah yang diperkenankan untuk melepas penyu dengan tangan mereka sendiri. Merasakan gelinjang kaki anak penyu di genggaman tangan sebelum dilepas, lalu berteriak-teriak memberi dukungan pada ‘jagoan’ mereka saat berlomba menuju laut, yang mereka beri nama sendiri dengan turtoise race, telah menghadirkan kesan keunikan tersendiri di benak para turis kanak-kanak itu.
Via mengamati semuanya dari kejauhan. Membiarkan kelegaan yang damai, perlahan merasuki jiwanya. Juga kegelapan, sejenak menutup pandangannya.
Andai kau di sini, pasti kau akan merasa lebih dari bahagia.
“Untukmu!” sepotong kata berseru di telinga Via yang masih terpejam. Via membuka mata, dan … “Hey! What a surprise!”  Via terpekik. Buletin itu cepat berpindah tangan, dan kedua matanya yang lincah menyusuri lembaran buletin yang memajang foto dirinya saat berdiri di depan meja hidangan dalam ukuran cukup besar. Dua baris kalimat tertera di bagian terbawah, nyaris tak terlihat saking kecilnya. Lokasi pemotretan, dan nama sang fotografer.
“Hmm. Baru hari ini kuketahui nama lengkapmu. Ferry Irwansyah. Sayang, namamu terlalu bagus untuk disingkat menjadi Fei,“ komentar Via, sambil melempar senyum pada Fei yang telah duduk di sisinya, namun pria itu justru mengalihkan pandangannya pada kerumunan turis, juga event pelepasan anak penyu yang masih berlangsung.
“Kau tahu ada berapa ekor anak penyu yang dilepas hari ini? Tak kurang dari dua ratus ekor! Ini jumlah terbanyak sejak event diadakan dua tahun lalu,” ucap Fei antusias, seraya mengarahkan camcorder-nya pada deretan anak-anak penyu yang telah  makin dekat ke bibir pantai.
“Jejak seribu penyu. Telah terpenuhi impianmu…”
“Apa? Kamu bicara dengan siapa?” wajah Fei memerah. Di luar dugaannya kalau lirihnya tertangkap oleh Via.
“Berhentilah menyimpan sendiri semua permasalahan dan kenangan. Semua itu akan saling tumpang tindih dan berakumulasi membentuk sebongkah beban yang kelak tak akan mampu kau tanggung sendiri.”
Fei menoleh. Ada kesungguhan tergambar jelas di wajah gadis itu. Kesungguhan yang dalam beberapa detik kemudian, untuk pertama kalinya berhasil mendongkrak sebait kejujurannya.
“Itu mimpi Annisa. Mimpi untuk menorehkan jejak seribu penyu di pasir putih sebelum hewan-hewan itu meninggalkan tempat persinggahan dan kembali ke habitat asalnya. Aku masih menyimpan semua catatannya, catatan akan jumlah penyu yang dilepas ke pantai. Dan hari ini, genap sudah seribu penyu, bahkan lebih dua puluh lima ekor, yang dilepas sejak hari pertama Annisa melakukannya.”
“Apa yang kau rasakan sekarang? Setelah bicara jujur?”
Untuk sesaat, Fei melakukan seperti apa yang secara diam-diam ia amati sering dilakukan gadis itu. Memejamkan mata. Untuk beberapa detik. Lalu membukanya perlahan-lahan.
“Tenang. Seperti laut tanpa gelombang. Seperti desir angin pantai jelang dini hari. Terima kasih banyak. Karena sudah memberi aku masukan.”
Dan Via membiarkan pria di depannya kembali memejamkan mata serta menghirup napas dalam-dalam. 
“Sekarang giliranmu untuk bicara jujur.”
“Aku?” Sepasang alis Via mengernyit. Namun, kernyitan itu spontan berhenti saat beradu dengan tatap Fei yang lekat memakunya.
“Ceritakan padaku, bagaimana kau tahu tentang Annisa?”
“Kau benar-benar ingin tahu?”
Fei mengangguk.
Sejenak, Via terdiam oleh ragu. Namun, tatap mata yang kian meneduh itu, perlahan tapi pasti memberangus keraguannya dari mengungkap kejujuran yang sama. Kejujuran yang selama ini tak pernah ia ungkap terhadap siapa pun. Bukankah Fei telah membagi secuil kejujurannya tanpa sedikit pun keraguan?
“Begini….”
Bibirnya mulai bertutur, dan sungguh, ia tak peduli apakah Fei kelak akan percaya atau tidak. (tamat)
Riawani Elyta. Pemenang penghargaan Sayembara Mengarang Cerber Femina 2009
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Riawani Elyta
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Femina” 

Baca juga:  Perempuan Limited Edition (20)