Marissa [2]

Karya . Dikliping tanggal 1 November 2015 dalam kategori Cerita Bersambung, Majalah Femina
Apartemen ini mirip dengan hotel. Ada lobi, minimarket, restoran, children ground, salon & spa, juga tempat menjual majalah.  Aku menuju resepsionis yang sudah tersenyum padaku saat aku berjalan ke arahnya. Dengan ramah ia memperkenalkan dirinya, lalu menanyakan maksud kedatanganku. 
Sudah pasti aku berterus terang mengharapkan bantuan mereka agar dapat masuk ke dalam apartemen Delia. Karena ketidaklaziman ini, aku harus menjalani beberapa prosedur ruwet yang akhirnya mempertemukan aku dengan manajer pengelola yang bertugas saat itu. Aku harus mengulang kembali ceritaku sebelum akhirnya diizinkan membuka pintu apartemen Delia didampingi manajer pengelola itu dan seorang anggota sekuriti.
“Bu Delia sakit apa, Bu?”  Pak Harso, manajer yang mengawalku, bertanya ketika kami berada di dalam lift.
“Kurang tahu, ya, karena masih diobservasi. Hasil laboratoriumnya juga belum keluar. Saya diminta mencari keluarganya, Pak.”
“Oh, begitu. Mungkin agak susah juga bagi Ibu,” di luar dugaan, Pak Harso mengatakan sesuatu yang mengejutkanku.
“Mengapa demikian?”
“Selama tinggal di sini, kami hampir tidak pernah melihat Bu Delia kedatangan tamu. Beliau juga tidak pernah bergaul dengan para penghuni apartemen lainnya. Sama seperti teman-temannya yang terdahulu.”
“Teman-temannya terdahulu?” aku mengerutkan alis.
Pak Harso tersenyum sopan seraya mengangguk.
“Para sekretaris almarhum Pak Yudha memang tinggal di sini. Ada tiga seingat saya. Bu Marissa, Bu Nadia, dan Bu Delia.”
Oh, ya, ampun… aku malah baru tahu. Memang ada rumor miring mengenai kehidupan Pak Yudha, ayah Satya itu. Wajahnya memang tampan, bertubuh tinggi tegap. Ia adalah mantan pelaut yang sukses membuka usaha penangkapan, pengalengan, dan pembekuan ikan. Penampilannya flamboyan, dan suka sekali pada wanita-wanita cantik dan bertubuh seksi. Sangat berbeda dengan Satya yang keras, tegas, dan fokus pada segala hal yang membuatnya sukses di usia yang belum mencapai tiga puluh tahun.
Aku tidak tahu mengapa mereka berdua begitu berbeda. Satya sangat  bersemangat, sedang ayahnya angin-anginan. Satya penganut klan jomblo, ayahnya adalah seorang casanova. Atau mungkin karena Satya anak angkat Pak Yudha? Tapi, anehnya, kalau memang Satya seorang anak angkat, mengapa wajah dan perawakannya demikian mirip dengan Pak Yudha? Kecuali kulit Satya lebih putih dibandingkan ayahnya yang mantan pelaut itu.
Pintu terbuka. Aroma pengap langsung menyerbu keluar menandakan ruangan ini kurang mendapatkan udara segar, atau jarang dibersihkan. Pak Harso dan aku masuk ke dalam, sedangkan petugas sekuriti itu berdiri di ambang pintu.
Aku berjalan ragu-ragu sambil memperhatikan keadaan yang menurutku tidak nyaman karena keadaan cukup gelap. Pak Harso menyalakan lampu. Sekarang aku bisa melihat jelas pada apartemen yang ditata minimalis ini. Sayangnya, berantakan sekali. Piring dan gelas kotor tergeletak asal saja di atas meja, rak teve, dan meja telepon. Tisu bekas berserakan.
Pak Harso kemudian mengarahkan aku ke ruang tidur Delia.  Ternyata sama saja berantakannya, dan terus terang membuatku malu sebagai wanita. Ranjangnya acak-acakan, bantalnya digulung oleh bed cover yang menjuntai ke bawah ranjang. Baju-baju kotornya juga bergantungan di kapstok. Handuk, sandal jepit, dan kimononya berserakan di atas lantai. 
“Silakan, Bu, saya menunggu di sini saja,“ dengan sopan Pak Harso keluar. Mungkin ia tidak mau aku terlihat kikuk dengan keadaan yang porak- poranda itu. Aku berterima kasih padanya.
Kupungut handuk dan kimononya, lalu kuletakkan pada sebuah ember di kamar mandi. Demikian juga dengan baju dalamnya yang tergantung pada shower, kupindahkan ke dalam ember yang sama. Kubuka lemari bajunya yang sama berantakan isinya. Sungguh mengherankan, ada seseorang yang sedemikian jorok. 
Kuambil pakaian dan baju dalam seperlunya. Lalu kutarik sebuah travel bag dari atas lemari yang segera saja menebarkan debu yang membuatku terbatuk-batuk. Jatuh bersama travel bag itu beberapa berkas yang langsung bertebaran di atas lantai.
“Ibu tidak apa-apa?“ Pak Harso melongok. Ia lalu tersenyum canggung melihatku mengibas-ngibaskan tanganku ke udara untuk menghalau debu. Dengan penuh inisiatif, lelaki itu meraih remote dari atas meja rias dan menyalakan AC untuk menetralkan hawa yang kurang nyaman ini. 
Pak Harso kemudian menyodorkan sebuah blister obat yang sudah kosong yang diambilnya dari meja rias. Exelon, itu yang terbaca di antara kepingan bungkus aluminium yang bisa kubaca.
“Barangkali diperlukan, Bu,“ ujarnya, sopan.
Berkas-berkas yang berserakan itu juga kumasukkan kembali dalam sebuah map yang ikut terjatuh, lalu kujadikan satu ke dalam travel bag. Setelah semuanya kupandang cukup, aku dan Pak Harso sama-sama menandatangani surat pernyataan serah terima barang dari apartemen Delia. Sayangnya, aku tidak menemukan laptop atau PC yang dapat kuambil datanya.
Ketika sore itu aku tiba kembali ke rumah sakit, aku dikejutkan oleh laporan Bu Nanik mengenai keadaan Delia saat kutinggal tadi. Katanya, Delia berteriak-teriak histeris seperti orang gila. Delia tidak dapat mengendalikan dirinya sampai ia harus dipegangi banyak orang. Ia tidak mengenali Bu Nanik yang berada di dekatnya. Bahkan, ia tidak mengenali dirinya sendiri. 
“Dia terus meminta cermin dan mengatakan ingin kembali… ingin kembali. Tidak tahu mau kembali ke mana. Sudah kayak gini, Ran,“ cerita Bu Nanik, sambil menyilangkan telunjuknya di dahi.
Aku merasa tidak enak seketika. Apakah ia ingin kembali bekerja? Vonis Satya atasnya merupakan pukulan telak yang bisa menghabisi jaminan masa depannya. Bagaimana tidak? Untuk seorang sekretaris dengan kategori lemot begitu, Delia memiliki gaji besar. Hampir setara dengan gaji manajer senior!
Bu Nanik bangkit dari duduknya. 
“Mau ke mana, Bu?“ tanyaku tidak enak melihatnya seperti mau kabur begitu. Wanita berusia lima puluh tahun itu tertawa. Ia mengatakan harus kembali ke kantor karena Satya mendesak dibuatkan ini dan itu. Bu Nanik juga mengatakan, Satya akan menyusul ke rumah sakit, tapi tidak dijelaskan kapan waktunya. Oh, sempurna sekali.
Lalu aku ditinggal sendirian. Aku mulai menyibukkan diri dengan menyelesaikan beberapa masalah Delia. Mengatur bajunya di loker kecil di bawah mejanya, menebus beberapa obat di apotek dan beberapa administrasi lainnya yang cukup melelahkan. Aku harus mondar-mandir ke sana-sini sampai akhirnya semuanya selesai selepas magrib. Aku baru bisa duduk beristirahat pada sebuah kursi di depan kamar Delia.
Kuangkat wajahku saat aku mencium aroma parfum yang amat kukenal menebar harum di sekitarku. Satya berjalan mendekat dengan gayanya yang khas. Tegak, lurus, dan tanpa suara. Jika saja ia tidak mengenakan parfum Bvlgari-nya, pasti aku tidak akan menyadari kehadirannya. Tanpa bicara, diletakkannya sekotak makanan yang dari etiketnya aku tahu itu makanan Jepang kesukaanku. Kemudian ia berjalan menuju ruang perawat. Memberikan kesempatan padaku untuk makan.
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Shanty Dwiana

[2] Pernah tersiar di surat kabar “Femina”