Marissa [3]

Karya . Dikliping tanggal 1 November 2015 dalam kategori Cerita Bersambung, Majalah Femina
Ya, ampun… aku baru sadar betapa perihnya perutku. Ini sudah hampir pukul tujuh malam dan aku hanya berbuka dengan air mineral untuk membatalkan puasaku. Beef teriyaki ini rasanya benar-benar super. Ebi katsu, tepanyaki dan ekado-nya juga spicy serta crunchy…  oh, yummy… yummy!
Saat aku tengah asyik makan, Satya sudah balik lagi dan membuatku buru-buru menyesap jus stroberi dengan float es krim vanilla. Enak, sih. Tapi, akan lebih enak lagi kalau tidak ada Satya berdiri di sana. Dia seakan memberikan tekanan mental manakala berada di sekitarku. Rasanya aku dituntut untuk selalu benar dan beres di hadapannya.
Ia memandangku dengan ekspresi datar saja.
“Makanlah. Jangan berhenti karena aku ada di sini,“ katanya, sambil duduk kembali di sisiku. Aku merasa tidak nyaman memperhatikan beef teriyaki di pangkuanku yang masih separuh itu. Aroma minyak wijen dan saus kikkoman yang bergelimang di antara irisan daging dan bawang bombay…. Oh, tidak!
“Aku membuatmu kehilangan selera, ya?“
Makin tidak menyenangkan saja. Separuh menyesal, kututup kotak untuk menghindari aroma yang menggoda.
“Tidak juga… perutku masih beradaptasi setelah sekian lama kosong,“ jawabku. Betapa munafiknya!
“Puasa?“
Aku mengangguk.
“Kau persis Tante Dian,“ ia menyebut almarhumah ibuku tanpa ekspresi. Rasanya acara makanku memang harus selesai. Seleraku lenyap seketika.
“Aku tidak habis pikir. Bagaimana mungkin Delia bisa lupa akan segala sesuatu mengenai dirinya?“ Satya bersandar pada bangku, lalu menoleh padaku, “Kau percaya itu?“
Mengapa tidak? Aku membatin. Seseorang yang berada dalam tekanan seperti yang dialami Delia, tidak hanya bisa menjadi histeris karena stres. Mungkin  ia bisa juga nekat bunuh diri. 
“Keluarganya sudah diberi tahu?“ Satya kembali bertanya. Aku menggeleng.  Kuceritakan pengalamanku tadi siang bersama Pak Harso dan menjelaskan keadaan Delia selama bermukim di apartemen itu. Satya mengerutkan alisnya.
“Kau harus kerja keras mencarinya. Aku tidak mau diganggu oleh wanita itu lagi.”  
Aku menatapnya takjub. Betapa tidak berperasaan! Celakanya lagi, dia adalah sepupuku!
“Delia sedang sakit…,” aku hanya berusaha menyindirnya karena Delia bisa seperti sekarang mungkin juga akibat dari kekejaman sikapnya.
“Kita harus bisa segera kembali fokus ke pekerjaan. Dan pastikan Bu Nanik mencari penggantinya dalam minggu ini. Atau….”
“Atau apa?”
“Kau yang akan menggantikan Delia.”
Aku tak mau itu terjadi. Menjadi sekretaris Satya? Tidak. Terima kasih. Aku lebih baik mengundurkan diri. Aku beranjak ke tempat perawat untuk pamit dan mengharapkan mereka menghubungiku atau Bu Nanik, apabila terjadi sesuatu pada Delia. Setelah itu, aku menyusul Satya yang sudah berjalan lebih dulu. Itulah Satya, selalu bergerak cepat. Memberikan kesan terburu-buru.
Kami diam sepanjang perjalanan. Aku memang selalu merasa kurang nyaman, bila berada di dekatnya. Mungkin karena ada tekanan dalam diriku. Sebab, di saat yang sama, ia adalah sepupu dan juga bosku. Dan Satya sama sekali tidak pernah menunjukkan perbedaan kapan menjadi saudara dan kapan menjadi bos. Bagiku, ia selalu menunjukkan dirinya bos di mana pun ia berada. Sehingga, aku merasa ada jarak antara dirinya dengan kami semua.
“Pastikan kau mendapatkan sebuah nama untuk bisa didatangkan, Ran,“ ia menatapku dengan pandangan menusuk.
“Tapi… saya harus mengurus gaji staf,“ aku memberi alasan.
“Bu Nanik yang akan menanganinya.“
Sungguh keterlaluan. Ia sudah merencanakannya dengan baik sejak awal. Aku menjadi sebal sekali padanya. Aku hanya bisa memperhatikan bagaimana ia menyetir dengan cepat, seperti ingin segera keluar dari urusan Delia yang kini dibebankan padaku.
Kami tiba di depan rumahku pada pukul 21.30. Mbok Nah, pembantuku, segera berdiri dari duduknya di teras. Ia sedang menungguku. Hanya Mbok Nah yang tinggal bersamaku sekarang setelah Mama tiada. Sedang kedua abangku hidup dengan keluarganya masing-masing di Jakarta dan Makassar.
Satya menyapa Mbok Nah dengan ramah saat kami masuk membawakan pekerjaan rumahku ke dalam. Ia memang sudah akrab dengan wanita tua yang sudah seperti keluargaku sendiri sejak belasan tahun yang lalu. Mbok Nah rupanya sudah membuatkan jamu kunir asem untuknya. Menurut ibuku dulu, Satya kecil sempat sakit-sakitan. Ia bisa menjadi lebih baik setelah diberi jamu kunir asem buatan Mbok Nah. 
“Sebaiknya kau tinggal dengan Mama saja, Ran. Jangan sendirian di sini,“ Satya memandang berkeliling memperhatikan betapa sepinya rumah kami.
Aku tidak membalas komentarnya itu. Mbok Nah sudah datang membawakan sebotol kunir asem di dalam kantong kresek. Masih kelihatan dingin karena baru keluar dari kulkas. Satya tersenyum kecil. Kelihatan bagus kalau dia sedang tersenyum, sekalipun sedikit aneh. Lebih baik begitu daripada tegang, dan kelihatan harus meledak saja kepada setiap orang.
Aku mulai mengisi ulang baterai ponsel Delia yang kudapat dari tasnya. Sementara menunggu, aku mulai menyalakan laptop-ku sendiri untuk mengecek e-mail. Karena tidak ada yang penting, aku kemudian mengeluarkan kertas-kertas yang dijejalkan begitu saja ke dalam tas.
Kurapikan dan kususun kertas-kertas yang berjumlah sebelas lembar. Menarik sekali karena semua kertas itu sudah berumur lama. Aku segera memilahnya. Tiga lembar kuasumsikan berasal dari kelompok institusi, dua lembar dari kelompok medis, tiga lembar lainnya adalah billing statement kartu kredit, dua lembar foto, dan empat lembar tanda terima dari Bpk. Heriandi masing-masing antara Rp5 juta – Rp10 juta. 
Dua lembar dari kelompok medis adalah hasil sebuah laboratorium terkenal di Surabaya, dan yang lainnya adalah fotokopi sebuah resep dari seorang dokter ahli saraf di kawasan Gubeng, Surabaya. Aku bisa membaca tulisan Exelon di situ, sama dengan bekas blister obat yang diberikan Pak Harso. Resep itu dibuat beberapa  bulan yang lalu. 
Aku beralih pada tiga lembar berkas lain yang sudah kusam kekuningan. Semuanya adalah salinan ijazah dari Akademi Sekretaris dan Manajemen Dharma Jaya Yogyakarta dalam kurung ASMADJY. Menilik dari tanggal kelulusannya, sungguh luar biasa. Angkatan delapan puluhan! Yang lebih hebat lagi, dua dari tiga nama yang tercetak pada fotokopi salinan ijazah itu cukup kukenal, setidaknya dari nama depan mereka. Marissa Subyastuti dan Nadia Rahmadhanti. Nama-nama mantan sekretaris Pak Yudha dulu.
Mereka semua disebutkan oleh Pak Harso tadi siang. Dan mereka berasal dari sekolah yang sama. Betapa menakjubkannya, bahwa keduanya bisa berada di tempat yang sama dalam kurun waktu berbeda.
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Shanty Dwiana
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Femina”

Baca juga:  Marissa [4]