Pengantin Luka [2]

Karya . Dikliping tanggal 1 November 2015 dalam kategori Cerita Bersambung, Majalah Femina
Bli Gus Taram, aku memanggilnya. Rasa yang kunamakan cinta itu datang tanpa bisa kucegah. Meski aku tahu, cinta kami akan sulit. Tapi, aku tak berdaya, meski aku sadar, aku hanya Ni Made Sekar Andini, seorang gadis Bali biasa, walau dari keluarga yang berkecukupan dan cukup terpandang di masyarakat. Sedangkan dia, lelaki berkasta, anak lelaki satu–satunya. Aku sangat menyadarinya. Maka, dengan susah payah aku coba ingkari rasa itu. Sejak itu, aku mengklaim cinta ini bukan lagi anugerah, tapi awal petaka.
“Masa iya zaman sekarang, perbedaan macam begituan masih masalah. Kalian kan seagama, cukup, tho?” cecar Nina, seorang sahabat yang berbeda suku dan agama denganku.
Aku tersenyum maklum. “Aku juga berharap semuanya sesederhana itu. Tapi, sayangnya tidak. Bagaimanapun, kami tetap dipandang berbeda, setidaknya bagi keluarganya,” aku coba menjelaskan.
“Kamu kan bisa belajar, semuanya proses,” bujuknya.
Entahlah, yang aku tahu, tidak pernah ada komitmen pada hubungan kami. Setidaknya, sampai setahun berjalan, tidak pernah Bli Gus mengakuiku sebagai pacar, saat kami bertemu seseorang yang ia kenal. Teman, hanya begitu ia memperkenalkanku. Dia juga tak sekali pun membawaku ke tengah–tengah keluarganya. Tapi, Bli Gus Taram selalu ada buatku. Kami melakukan banyak hal bersama. Kami mendatangi semua tempat yang aku atau dia sukai bersama-sama. 
Hingga suatu malam. ”Apa yang kamu rasakan pada Bli Gus?” Saat itu kami sedang duduk bersisian. Melepas lelah di hamparan pasir Kuta. Matahari baru saja terbenam. Siluetnya masih sedikit tersisa.
Aku menoleh padanya, dia menatap lurus ke pantai. “Nggak tahu. Saya nyaman kalau ada Bli Gus. That’s it,” jawabku.
Kami menarik napas bersamaan. “Apa kamu mau jadi istri Bli Gus?”
Deg! Refleks aku memperbaiki duduk, kuamati lelaki itu dalam-dalam. Ya, aku mencintainya, meski masih terus kuingkari hingga detik saat kami bersama ini. Dan, apa yang dia bilang barusan, lamaran yang seriuskah itu? 
Bukankah dia selalu menyebutku hanya teman pada semua orang yang kami kenal. Lalu, mana pernah tebersit dia akan melamarku saat usiaku baru menginjak 22 tahun, di saat aku tidak pernah membayangkan bagaimana jika suatu hari akan menjadi bagian dalam keluarganya. 
“Woiii, bercandanya nggak lucu, ah. Bli Gus tadi salah makan apa?” tanyaku, berusaha melucu. Tapi, wajahnya justru menegang.
“Jadi?” dia meyakinkanku lagi, juga mungkin tengah meyakinkan hatinya tentang apa yang barusan ia tanyakan padaku.
Lagi–lagi aku memperbaiki posisi dudukku. Pasir pantai jadi terasa tak nyaman di tubuhku. 
“Hmm, bukan begitu. Umur saya baru 22 tahun, Bli Gus. Selama ini saya nggak pernah berpikir apa yang Bli Gus katakan barusan akan saya dengar sore ini. Tapi kan, Bli Gus juga yang selalu menyebut hubungan antara kita hanya teman…,” aku menggantung kalimatku.
“Apakah status di depan orang–orang sangat penting untuk kamu? Umurku 29 tahun, Sekar,” ia mencoba memperingatkanku, meski ia pasti sadar aku tahu itu. Aku bersamanya saat ia merayakan ulang tahunnya. Bahkan, aku yang membelikan kue bertatahkan angka itu. Jadi, mana bisa aku tak ingat usianya sudah 29 pada tahun ini.
Aku tahu dia akan bicara begitu. Beda usia kami cukup jauh, 7 tahun. Namun, bentangan kasta yang lebih memberatkanku. Aku terlampau naïf, jika terus–menerus mengingkari kasta bukan persoalan. Karena nyatanya, dalam masyarakat kami hal itu sangat penting. Terutama bagi keluarganya. 
Aku merasa terlalu muda menjadi istrinya. Terlebih kultur keluargaku dengannya sangat berbeda jauh. Aku besar dalam lingkungan moderat. Bahkan, aku tak fasih berbahasa Bali, meski aku paham jika seseorang bercakap denganku menggunakan bahasa itu. Aku juga tak terlalu hobi mengunjungi pura. Aku sangat tidak Hindu. Aku sering bilang, aku terperangkap pada tubuh ini tanpa bisa memilih mau jadi manusia macam apa. 
Sedangkan dia, seorang Hindu yang taat. Dia hampir hafal hari–hari piodalan di semua pura Bali. Bahkan, dia bisa berhitung jatuhnya piodalan berikutnya. Berbahasa Bali, dia jagonya. Dia seorang lelaki berkasta yang patuh pada ajaran tradisinya. Aku sering menduga, jangan–jangan ia peninggalan purbakala. Hmm….
Aku tepekur menatapnya. Tak ingin kehilangan dia sebagai ‘teman’, tapi aku juga yakin tak mungkin akan bisa mendampinginya. Bisa kubayangkan bagaimana komunitasnya akan mencemooh Bli Gus, jika dia meminangku. Aku hanyalah kaum sudra yang sama sekali tak paham soal agama dan tradisi. Lalu, bagaimana mungkin aku tiba–tiba menjadi seorang istri dari Ida Bagus Gede Mataram Diwangkara ini.
Dia meraihku dalam pelukannya. Ada semburat aneh dari air mukanya. Aku merasakan lagi kunang–kunang menggelinjang di perutku. Kali ini membuatku sangat  mual dan gelisah. Pelukannya kurasakan tak lagi nyaman.
Sejak malam itu, seperti yang kuduga, hubungan kami menjauh. Dia lebih sering menjadi lelaki yang tak aku kenal. Dia jadi mempersoalkan ketidakbiasaanku mengucapkan salam saat mengangkat teleponnya. Dia meributkan hal–hal yang sejak dulu memang tak kusukai. Inikah wajah aslinya, yang tak ia perlihatkan selama kami bersama. Atau, ia sedang mencari–cari kegusaranku, sampai aku sendiri yang memutuskan menghindarinya.
Sampai ia tiba–tiba menghilang, setelah malam sebelumnya kami nonton film Ungu Violet di rumahnya. Tidak ada salam perpisahan, apalagi pesan terakhir. Dia hilang bukan hanya dari hidupku. Ia juga meninggalkan perusahaannya. Karyawannya sibuk menghubungiku. Aku  makin panik. Aku nyaris sakit jiwa.  Tiap pagi kuteliti berita penemuan mayat di koran. Aku terjaga, kalau–kalau mayat itu berwajah yang aku kenali, dia. Aku menangis putus asa dalam doa–doa malamku. Entah berapa kali aku mengucapkan nama itu. Jika saja Tuhan bisa kudengar suaranya, mungkin telah lama ia berteriak bosan akan doaku yang selalu sama setiap malam.
Sebulan, dua bulan, hingga enam bulan. Dia tidak juga datang. Aku membersihkan rumahnya setiap akhir minggu. Aku pastikan rumah itu harus bersih, kalau–kalau ia pulang. Selalu setelahnya, aku menunggu di pintu menatap penuh asa, berharap ia muncul dari gerbang itu. Nyatanya tak pernah ada yang mendatangi rumah ini, selain aku.
“Aku tidak mencintainya, aku hanya telanjur terbiasa akan kehadirannya,” begitu ulangku, membatin.
Pengingkaran itu tidak membuatku membaik. Hanya  makin membuatku sadar, cinta itu telah tumbuh di tempatnya dengan sangat baik. Suatu petak dalam hatiku telah penuh dan subur  atasnya. Dan, tak bisa lagi aku sembunyi lari atas rasa untuknya. Tapi, ke manakah dia, seburuk itukah cintaku hingga ia harus menghilang tanpa sebuah perpisahan. Setidaknya, ia tidak meninggalkanku dalam kecemasan.
“Aku harus cari dia ke mana lagi, Tuhan.” Malam itu pertahananku bobol lagi. Kumaki–maki Tuhan karena menjauhkan kami.
“Tuhan, tidakkah kau tahu kami akan saling mencintai seperti ini sampai– sampai kau harus melahirkan kami dengan status yang berbeda?” Tak ada jawaban. Tidak malam itu, atau malam–malam setelahnya.
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Putu Pertiwi
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Femina”