Pengantin Luka [4]

Karya . Dikliping tanggal 1 November 2015 dalam kategori Cerita Bersambung, Majalah Femina
Ting… tong… ting… tong…. Pukul 2 dini hari. Aku merasa rindu kehidupan lamaku. Dulu aku sering kali menghabiskan malam keluar-masuk bar dengan teman–temanku. Aku bisa tertawa sepuasnya, melakukan hal–hal yang kumau tanpa berusaha menjadi wanita anggun seperti yang selalu aku coba lakukan jika Bli Gus ada bersamaku.
Kepalsuan itu akhirnya membuatku terbiasa menjadi Ni Made Sekar Andini yang berbeda. Aku meninggalkan semuanya. Tidak ada rokok. Tidak ada clubbing hingga pagi tiba. Juga tak ada lagi pekerjaan sebagai MC yang menjadikanku sebagai pusat perhatian dan berlimpah uang hanya dengan sejam atau dua jam berdiri di panggung. Aku tidak hanya kehilangan pekerjaanku, tapi juga komunitasku. Tak ada teman, apalagi sahabat. Hidupku hanya dia dan dunianya. Setahun ini, saat dia menghilang, pantaslah aku limbung. Mencoba memulai lagi semuanya dari awal, aku tak yakin sanggup.
Menjelang pukul 4 dini hari hujan turun. Sengaja aku buka lebar–lebar jendela kamar. Hujan  makin deras. Aku terlelap, dia datang di mimpiku. Kurasakan sakit hatiku makin menjadi, kucoba terbangun, tapi ia menahanku tetap bersamanya. Dia tak hanya merajaiku di alam nyata, namun juga khayalku. Tuhan, tolong buat aku terbangun.
Keesokan harinya…
Kepalaku masih terasa sedikit pening dan mengantuk. Seperti biasa, efek obat tidur baru aku rasakan utuh sehari setelahnya. Pukul 11 siang, aku belum juga mandi. Bahkan belum beranjak dari ranjang. Aktivitasku hanya mengamati lalu-lalang orang–orang melalui jendela kamar yang terbuka sejak semalam. Bau basah sehabis hujan masih tercium, cuaca pun masih tetap mendung.
Titttt…titttt….drtttt…
Gea! Lagi di mana? Aku & Nina mau makan siang, gabung, yuk.
Pesan singkat dari sahabatku. Cukup lama kami tidak berkumpul. Meski dengan semangat yang belum terkumpul sempurna, kurapikan sekenanya tempat tidur sambil menjawab SMS Gea, memintanya menungguku.
Mandi.
Berdandan… Aku pilih jeans dan kaus hitam. Aku masih berkabung karena kehilangan ’brahmana-ku’ pada akhirnya.
Aku mencium pipi mereka satu per satu. Mereka tampak dewasa dengan seragamnya. Ah, seandainya kuturuti ajakan untuk bergabung bekerja bersama mereka, tentu seragam itu juga akan  membalut tubuhku kini. Tapi, kata Bli Gus, wanita itu terlahir menjaga keluarga, bukan sebagai pekerja. Kali itu aku tak setuju. Aku sangat fasih bicara tentang kesetaraan gender pada tulisan– tulisanku. Tapi, saat ia mengatakan itu, aku hanya bisa menelan kata–katanya. Ahhhh….
Tidak terlalu banyak senda gurau siang itu. Kami sibuk dengan makan siang masing–masing.     
“Ada apa, sih, Sekar. Kamu kenapa, kok, kelihatan nggak lepas. Apa lagi ada masalah? Ceritalah kepada kita,” bujuk Nina.
Gea beranjak dari kursinya. Tanpa meminta persetujuan kami, ia pesan tiga gelas teh lemon lengkap beserta tiga piring kecil makaroni pedas. Sambil diikuti gerak mata mereka, mengalir semua kisah yang terjadi padaku di lobby rumah sakit tempo hari. Kususut perlahan air mataku. Nyatanya ketangguhanku bobol lagi. Aku yang selalu tampil sempurna, kuat, dan mandiri di hadapan mereka, kini datang menjelma menjadi Ni Made Sekar Andini yang hancur.
Nina kehilangan kata–katanya. Ia hanya merangkulku sambil berusaha membetulkan deru napasku. “Ssstttt… sabar, ya,” hanya itu yang mampu ia ucapkan.
Gea menyeruput habis tehnya. Wajahnya tampak bingung. Tak tahu harus bagaimana berlaku padaku. Tak tahu juga mesti bicara apa. Selama ini yang ia tahu, aku yang selalu menguatkan pada tiap hal yang ia dan Nina hadapi. Aku suporter setia mereka. Aku akan datang dengan semangat dan keceriaanku, juga sedikit kebawelanku. Tapi kali itu, Gea dan Nina mendapatiku tak berdaya. Bahkan tak sanggup melanjutkan ceritaku.
“Terus apa rencanamu sekarang?” tanya Nina, saat dilihatnya aku mulai tenang. Kujawab dengan gelengan.
“Nggak bisa begini. Gus Taram kawin, ya, sudah, tapi kamu nggak boleh hancur begini. Bukannya kamu yang selalu bilang, nggak boleh kita ditindas sama laki–laki. Katamu, kita boleh cinta mampus sama mereka, tapi tidak boleh mampus gara–gara mereka. Ingat?” tutur Gea perlahan, seolah ia takut salah menasihatiku.  
“Kamu cari kerja saja, ya. Biar ada kesibukan, jangan habiskan waktu di rumah melulu. Kamu cari kerja di dekat vila tempat kita kerja, ya. Jadi, jam makan siang kita bisa jalan sama–sama, pulang kantor juga bisa hang out. Mau, ya, kita bantu cari…,” kata Nina, menatapku dengan semangat.  Aku mencoba mentransformasikan semangat mereka berdua, tapi hanya anggukan tak pasti yang aku berikan. Bekerja di dekat vila mereka, berarti bekerja di bidang pariwisata. Mana punya aku keahlian di situ.  
“Jangan khawatir, kamu pasti bisa melewati semuanya. Pasti…,” bujuk Gea, sambil menyodorkan sepiring makaroni, seolah ia tahu kekhawatiran yang melintas di kepalaku.
“Thanks, ya. Seandainya aku mendengarkan kata–kata kalian sejak awal untuk tidak pacaran sama manusia itu, pasti aku nggak akan seperti hari ini. Aku lupa, kalau dia akan tetap menjadi Ida Bagus, sedangkan aku tidak akan berubah menjadi seorang Ida Ayu,” lidahku terasa kelu mengucapkan kalimat barusan.
“Sssstt jangan gitu, yang sudah, ya, sudah. Kan kamu yang selalu ingatkan kami, jangan menyesali rasa sakit karena suatu hari nanti kita akan berterima kasih pada rasa sakit yang telah membuat kita  makin kuat,” bujuk Nina, sembari mengecek jam di layar ponselnya.
Kami lalu berpisah di halaman restoran dan  berjanji akan makan siang lagi lain kali. Nina dan Gea juga mengingatkanku untuk  menyiapkan surat lamaran kerja dan CV. Jadi, kalau mereka menghubungiku, aku sudah siap. Semangat mereka sama sekali tak memengaruhiku. Aku tetap saja merasakan hampa yang teramat sangat.  
Tiga kesalahanku, terlahir dengan usia 10 tahun lebih muda darinya. Kesalahan keduaku, tak ada gelar Ida Ayu di depan namaku. Kesalahan ketiga, yang masih kuingkari hingga hari ini, adalah kebodohanku jatuh cinta padanya, meski menyadari akan kesalahan nomor satu dan dua. Artinya, harusnya aku sudah menyiapkan diri akan rasa sakit dan kecewa ini sejak awal, bukan?!
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Putu Pertiwi
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Femina”

Baca juga:  Perempuan Limited Edition (2)