Pengantin Luka [6]

Karya . Dikliping tanggal 1 November 2015 dalam kategori Cerita Bersambung, Majalah Femina
Hening….aku tak menemukan kalimat yang pas untuk memulai menceritakan apayang sedang aku alami. Bagaimana mungkin aku menceritakan bahwa sahabat yang iapercaya untuk menjagaku dan ia restui berpacaran denganku, pada akhirnyamencampakkanku. 
Hening….
Lalu aku mendesah pelan, ”Gus Taram sebentar lagi akan menikah.” Hanya itukalimat pembuka yang bisa kuucapkan. Takut–takut aku berusaha melihatnya, iadiam. Aku menebak–nebak, sakitkah ia mendengar kalimat dengan nada getirku ituatau justru ia pikir Gus Taram akan menikahiku.
Lama sekali Wicak terdiam. Pandangannya masih lurus. Dan dia meraihku dalampelukannya. Ooh, aku mendengar ada isakan. 
Aku mencari–cari jawaban, bagaimana mungkin kakakku yang tangguh ini menangisinasibku. 
”Kenapa Wicak yang nangis?” Aku berusaha tertawa, seolah aku tak terpengaruholeh  perlakuan Gus Taram.
”Sebulan lalu Gus Taram datang pada Wicak. Dia minta izin untuk menikah denganperempuan lain. Saat itu Wicak marah sekali. Wicak nggak terima waktu diabilang, bagaimanapun dia harus menikah dengan perempuan dari kastanya. Apa yangsalah dengan kita yang terlahir tanpa kasta?” katanya. 
Napasnya memburu. Sedangkan aku hanya bisa diam. Setengah hatikuterkaget–kaget, Wicak nyatanya sudah tahu semuanya, bahkan sebelum akumengetahuinya. Tapi, ia rapi menyembunyikan dariku.
Aku sadar saat bulir bening itu berhamburan loncat dari bola mataku. Sesaat akuterisak. Wicak membiarkanku menangis. 
”Jelas aku salah. Bagaimana bisa aku membiarkan cinta tumbuh, padahal aku tahuyang namanya percintaan antarkasta pasti akan ada banyak halangan.”
”Aku yang tidak realistis, Wi….” Aku meyakinkan hati bahwa yang baru sajakukatakan sama sekali bukan niat membelanya. Apalagi membersihkan namanya dimata Wicak.
Wicak lagi–lagi menghela napas. ”Terus, sekarang bagaimana kamu?”
”Bagaimana apanya? Aku, ya, aku. Aku akan jadi pemandu liburanmu.” Akumengembangkan senyumku selebarnya, meski sakit masih merajaiku.
Kembali pada malam sesudah pestanya
”Sekar…? Kamu kenapa?” Ia mengguncangkan badanku lembut.
Huhhh…  aku melihat selintas bayanganku di cermin. Dia masih dengan bajupengantinnya. Berapa lama aku terombang–ambing pada ingatan masa lalu itu.Apakah ia menyadari reuni masa lalu yang baru kulakukan.
”Kamu apa bawa mobil, atau aku bisa minta izin istriku untuk antar kamu, ya?”tawarnya yang dengan segera kutolak. Tampaknya ia telah fasih memanggilperempuan itu dengan sebutan istri. Ooh, sakit sekali mendengarnya.
Niatku sudah bulat. Ini malam terakhir kisahku dengannya. Cukup sudah ketololandemi ketololan yang aku lakukan deminya. Menjadi MC untuk resepsi pernikahannyadengan perempuan Ida Ayu-nya adalah hal terakhir yang menjadi alasan kami untukbertemu.
”Saya pulang dengan taksi saja.” Aku bergegas merapikan perlengkapanku.Memasukkan semuanya sekenanya, lalu berpamitan padanya.
Di luar kamar ganti aku berpapasan dengan pengantin perempuannya. Aku tahu,sungguh perempuan ini tak pantas aku benci. Namun, sama kuatnya denganketidakinginanku marah padanya, sekuat itu juga rasa benci itu aku perlihatkan.
”Terima kasih,” ucapnya, sungguh–sungguh.
”Untuk apa? Untuk ’brahmana-ku’ yang akhirnya berhasil kamu rebut atau untukpestamu yang berakhir indah dengan kehadiranku di atas panggung?” kataku,sinis.  Aku lalu tertawa dengan wajah licikku, berlalu meninggalkan IdaAyu.
Setahun setelah malam itu….
Aku mengabulkan janjiku, itu adalah malam terakhir kami bersama. Aku samasekali tak mau tahu atau tak mau berusaha mencari tahu tentang kehidupannya.
Aku hari itu ada di Pura Besakih. Hari itu hari kedua perayaan Panca WaliKrama. Besakih sangat ramai. Bahkan, aku harus memarkir mobil sangat jauh dibawah sana. Untungnya ada jasa ojek dari masyarakat sekitar, jadi aku tak mestisusah payah berjalan. Aku datang seorang diri. Aku ingin memperlihatkan padaHyang Widhi bahwa aku masih kuat bertahan. Meski telah ia ambil seseorang yangsangat berharga sekalipun.
Aku duduk termenung, bersimpuh sangat lama. Tak terasa kesemutan yang biasanyamenggerogoti sekujur kakiku. Lama–kelamaan mataku terasa memanas.
Tuhan… semua betara–betari yang beristana di Pura Agung ini… aku datangpada kalian, berserah dengan segala daya yang masih kupunya. Telah kau ambilseseorang yang aku pikir dialah yang aku cari selama ini. Jika ini tandamu diabukan jodohku, terima kasih Tuhan. Ambil saja dia, dan biarkan aku tetapberusaha kuat di tempat ini….
Aku terus bersimpuh, meski telah habis semua yang ingin kusampaikan pada-Nya.Hari makin larut, tapi masih kudengar hiruk pikuk para umat sesamakuberlomba–lomba mendatangi pura ini. Dan hujan pun turun.
”Gek kenapa bengong di sini, hujan akan turun deras. Berteduh saja dulu disana,” seorang bapak tua menyadarkanku. Tangannya masih menunjuk pada sebuahbalai–balai di sisi pura.
”Nggih, Pak,” jawabku, sambil menyembunyikan mataku yang sembap.
Aku larut di antara campuran rintik hujan, gamelan, dan kidung. Kali ini akumenikmatinya. Entah karena aku sedang tak sungguh–sungguh  ada dalam alamnyataku, atau memang aku mulai belajar mencintai kesenian leluhurku. Entah.
Pukul 11 malam aku baru bisa berjalan menuju tempat kuparkirkan mobilku.Jalanan sungguh licin. Tapi untungnya, lampu penerang cukup banyak. Lagi–lagiaku menangis dalam mobil. 
”Kamu diterima, 12 Mei kamu mulai bekerja, ya.” Perempuan muda yang tampakanggun dengan jilbabnya tersenyum puas dengan hasil interview-nya padaku.
Tak bisa kusembunyikan senyum senangku.  ”Ohh, baiklah, tapi boleh tahuapa posisi yang saya tempati?”
”Sekretaris direktur, Mbak,” jawabnya, singkat.
Hahhh?? Aku menggigit ujung bibirku. Memastikan apa yang baru saja kudengar  bukan sekadar imajinasiku. Bagaimana bisa, Ni Made Sekar Andini,gadis lulusan diploma II yang masih 22 tahun dan belum pernah bekerjasebelumnya ini mendapatkan posisi sepenting itu. Dan aku mendapatkannya karenausahaku. Bukan atas pemberian atau bantuan koneksi orang. Aku kini punyapekerjaan tetap.
”Mbak? Anda siap, ’kan. Tidak usah khawatir. Bapak, bos yang baik, kok.Teman–teman di sini juga pasti siap membantu Anda,” kata perempuan itu, memberisemangat.
”Ohh, iya, saya siap. Saya akan datang kembali Senin nanti, 12 Mei,” janjiku.
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Putu Pertiwi
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Femina”

Baca juga:  Pengantin Luka [8]