Cerita di Balik Pintu

Karya . Dikliping tanggal 2 Juni 2015 dalam kategori Arsip Cerpen, Cerita Remaja, Koran Lokal, Minggu Pagi
“TRAUMA ternyata dapat mengubah hidup seseorang.”   Itu yang aku lihat dari perempuan yang sudah seminggu ini tinggal di rumahku.
***
SEPERTI malam-malam lalu, aku menemukannya meringkuk di pojok kamar. Butir-butir keringat deras tampak membasahi bajunya. Rambut poninya tak teratur lagi.
Aku menepuk bahunya perlahan. Mencoba membangunkannya kembali pada kenyataan. Sejurus kemudian dia tergagap. Seperti kebingungan, menengok kanan dan kiri. Meski sudah seminggu berada di rumahku namun sepertinya dia belum juga terbiasa.
“Hei, bangun, sekarang sudah pukul setengah enam pagi,” kataku mengingatkan.
Dia hanya tersenyum sekilas. Memperbaiki posisi duduknya. Lalu mencari sesuatu di tumpukan kertas yang berserakan. Aku yang berdiri di dekatnya langsung tahu apa yang dia cari. Handphone. Benda yang selalu saja hilang dari pandangannya namun dengan mudah kutemukan.
“Ini,” kataku sambil mengulurkan handphone-nya. Dia mengucap terima kasih.
“Kalau sudah selesai, segera siap-siap. Temani aku ke pasar. Manusia butuh makan, kan?” kataku lagi.
Mendengarku berkata begitu, dia pasti tertawa.
***
NESA. Sebuah nama yang singkat. Hanya itu yang aku tahu, selebihnya aku tak tahu banyak tentang latar belakang ataupun pekerjaannya. Dia bilang pekerjaan sebagai penulis lepas. Entah itu surat kabar atau internet, aku tak begitu memperhatikan.
Aku mengenalnya ketika kami sama-sama menghadiri sebuah seminar. Saat itu, kami hanya berbincang sedikit. Setelahnya tak kusangka akan bertemu lagi dengannya di rumahku.
Aku memang menyewakan rumah. Istilahnya berbagi kamar. Karena kehidupanku sendiri tak cukup menutup semua kebutuhan. Maka, kusewakan rumah untuk tinggal bersama.
Aku terkejut ketika Nesa datang ke rumah. Dia berkata ingin tinggal bersama denganku. Lalu kukatakan semua peraturan rumah dan dia menyetujuinya.
Ketika kutanyakan apa kebiasaan atau ada yang tak bisa digangu gugat untuknya, dia hanya tersenyum dan berkata:
“Aku hanya tidak suka jika tidur dalam keadaan pintu tertutup. Dan aku mohon izin menutup lubang kunci pintu dengan lakban.”
“Kenapa?” tanyaku heran.
“Aku hanya tidak suka,” jawabnya singkat.
Kupikir karena itu rahasia maka aku tak bertanya lebih lanjut. Esok harinya aku tahu kenapa dia tidak bisa tidur dalam keadaaan pintu tertutup. Karena aku menemukannya meringkuk di pojok kamar dengan keadaan seperti orang yang habis dikejar perampok. Keringat dingin  mengalir membasahi bajunya.
Mulanya tentu aku takut. Namun kucoba membangunkannya, setidaknya aku tahu bahwa dia masih mampu diajak komunikasi. Dan memang setelah itu dia tersadar. Seperti biasa meski agak sedikit linglung. Aku bergegas mencari air putih untuk menenangkannya.
Aku ingat hari itu hari Rabu. Hari di mana aku terlambat kerja karena mendengarkan cerita masa lalunya.
***
NESA sering bercerita bahwa dia punya kehidupan masa kecil yang bahagia. Kehidupan yang biasa. Ayah ibunya hidup rukun. Dia juga punya kakak laki-laki yang jaraknya tak terpaut jauh. Lalu tibalah masa di mana hidupnya merasakan tragedi. Ayahnya meninggal dan itu membuat ibunya harus bekerja apa saja.
Lalu ada seorang lelaki yang memperistri ibunya. Namun ternyata dia seorang lelaki penipu dan membuat hidupnya tak kunjung membaik. Di bulan yang entah ke berapa, ibunya terlibat pertengkaran dengan ayah tirinya. Dan dengan segera membuat wajah sang ibu lebam di sana sini.
Nesa yang waktu itu berusia remaja merasa ketakutan dan hanya bisa menangis. Ibunya selalu menyuruhnya masuk ke dalam kamar. Menutup pintunya. Meski begitu Nesa selalu dapat melihat sekilas bagaimana ibunya mendapatkan pukulan-pukulan dari ayah tirinya lewat lubang kunci pintu.
Sampai akhirnya sang kakak tak mampu lagi meredam amarah. Ketika ayah tirinya memukuli ibunya untuk kesekian kali, sang kakak menghujamkan pisau dapur ke arah ayah tirinya. Nesa menyaksikan semua itu meski di dalam kamar. Polisi dan warga berdatangan. Kasusnya lumayan ramai dibicarakan karena itu kota kecil di mana gosip bisa terasa fakta.
Sang kakak masuk penjara dengan hukuman percobaan pembunuhan. Nesa dan ibunya pergi mengungsi di pinggiran kota bersama sang nenek. Hidupnya tak semudah yang kubayangkan. Dari cerita Nesa, terkadang aku berpikir bagaimana dia masih tersenyum menghadapi kenyataan pahit hidupnya.
***
NESA yang tadinya kuanggap sebagai seorang mansuia yang biasa ternyata menyimpan luka yang tak kubayangkan sebelumnya. Aku berusaha memahami kelakuannya. Namun tetap kusarankan dia untuk pergi ke psikiater agar mendapatkan penanganan sebelum terlalu serius. Dan jika aku berkata begitu, dia selalu menjawab dengan senyuman.
Lambat laun, aku tak menghiraukan lagi masa lalu Nesa. Dia malah sudah kuanggap seperti adikku sendiri. Aku tak lagi kikuk untuk menceritakan kisah hidup dan juga hubungan asmara dengan Fadli, pacarku.
Meski kadang trauma Nesa kambuh ketika aku tak sengaja menutup pintunya karena takut ada tikus yang masuk ke dalam kamar. Namun, aku tak mempermasalahkannya lagi. Bahkan sudah terbiasa menghadapinya.
Hari ini aku bertengkar dengan Fadli pacarku di ruang tamu. Aku tak tahu jika Nesa ada di dalam kamar. Karena pintunya tertutup.
Aku tak terima mendapati SMS mesra dari wanita lain di handphone-nya. Lalu memakinya dengan kata-kata yang tak pernah kuucapkan. Dia balas menamparku. Dua kali.
Sepersekian detik kemudian, kulihat sesosok perempuan berlari ke arah Fadli. Sambil mengacungkan pisau dapur, dia meneriakkan kata yang tak jelas. Fadli tak sempat menghindar. Tubuhnya roboh seketika.
Aku menangis sesenggukan melihat Fadli diam selamanya.
“Kamu… kamu…” Kataku tergagap, sembari kulihat Nesa tersenyum puas. Pisau dapur dilemparkannya begitu saja ke lantai. Seolah trauma masa lalu tak lagi menguasainya.
Nesa tampak berjalan mendekatiku. Ingin aku berlari keluar rumah lalu berteriak meminta tolong sekencangnya. Namun ketakutan yang teramat sangat membuat tubuh ini tak bisa aku gerakkan. Mulutku terasa terkunci. Entah apa yang akan dia lakukan kepadaku, aku hanya bisa pasrah. 
[] Yogyakarta, 5 Mei 2015

Herumawan Prasetyo Adhie, Pringgokusuman GT II Yogyakarta 55272
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Herumawan Prasetyo Adhie
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Minggu Pagi” pada 31 Mei 2015