cerita moyang – kelis – di kampung parebbaan

Karya . Dikliping tanggal 17 April 2016 dalam kategori Arsip Puisi, Suara Merdeka

cerita moyang

demikianlah cerita moyang:
konon di kampung parebbaan ini
kami tak mengenal kalender
apalagi bunyi alarm,
kami hanya tahu suara kentongan
dan menaksir bulan tengah malam
untuk menemukan waktu, musim
dan kapan hujan-kemarau berakhir
mengganti tanaman jagung-padi
ke tembakau.
di tengah kampung ini,
kami menertawakan nasib yang jatuh dari perkumpulan:
main petak umpet, salodur, lek-kile’en
merangkul lengan satu sama lain pada keindahan
sinar bulan yang samar-samar,
setiap malam, sebab kami tak mengenal jam tidur
apalagi jadwal perpisahan
kami selalu percaya kebugaran badan ada pada pikiran
(pikiran yang jernih, jalan hidup juga jernih)
ambek laok, ambek dejeh
senandung kemenangan
peje penggir, masok tenga
kekal dalam ingatan
kampung yang permai, pohon-pohon yang berjejer
ke bukit pangelen, mengkultus setiap anak yang lahir
adalah doa batu-batu:
tangguh menghadapi macam pertarungan hidup
dukalara dan suramnya masadepan
cerita-cerita moyang ditularkan dalam percakapan perimbun
mulai menutur langkah dari tangga surau
sampai lembar-lembar amalan yang harus dihapal
satu persatu perimbun disemburkan
lalu mereka mengamalkan.
ada yang dikultus di tepian kali, di warung kopi
di mana kopyah hitam dan sarung legam menghiasi badan
itulah rahasia diri mereka, rahasia moyang
dan puisi tak bisa mengkajinya dengan telanjang
di masa itu kami tak takut bedil, apalagi senapan
urat kami kekar, kulit kami sekeras batu
bila kami harus bertarung atas nama harga diri
hanya tuhan yang boleh menentukan kalah-menang,
sungguh tak ada getir siapapun yang datang, jendral atau klo-
nial
kami libas sampai tak ada bekas.
maka begitulah, kami moyang dari masa lampau
berbagi harap untuk manusia abad ini
yang hanya faham kuasa modal.
madura-bragung, 2016

kelis

– embuk dan pak kaeh
tanah merah menurun, kami kunjungi tiap hari
menabur biji jagung, kedelai, dan mentimun
kami melempar doa-doa pada semak dan batu-batu leke
berharap mata air ngalir dari puncak bukit
melebatkan daun dan buah yang segar
kami dirikan berung di pinggir ladang
di samping pohon asam, biar rindang menepikan ingatan
membaringkan lelah yang dihunjam matahari siang,
agar tenaga kembali bugar, untuk menuntaskan meladang
sampai sore menjelang.
setiap hari di tanah ini, keringat mengucur
cinta menyenandungkan buah yang tua dan segar
(selamat dari ancaman hama dan hewan-hewan pemangsa)
bagai mimpi yang mekar di tangkai yang kekar, kami petik
di atas hidup yang damai.
madura-bragung, 2016

di kampung parebbaan

suatu hari, suatau waktu
bumi tampak kecil
serupa lapangan bola
lalu hatiku berbaring di atasnya
menyaksikan tuhan turun dalam wujud anak kecil
bermain di lapangan
berebut bola dengan kaki-kaki kecil
senyum yang mungil
mata yang berbinar
memancar ke batinku dan damai
di kampung ini, cahaya menakar dari segala
seperti bintang malamhari
seperti bunga-bunga di suatu pagi
seperti sesuatu yang tak pernah mencecap masasilam
di mana ingatan keruh oleh kenangan
jiwaku bangkit mengutuk anak-anak di lapangan
bermain dengan tuhan
untuk sesuatu yang memang diberangkatkan dari ketiadaan
dan akan kembali pada ketiadaan.
madura-bragung, 2016
Anwar Noeris, lahir di Madura (tapi bukan penyair Madura). Ia mahasiswa Adab dan Ilmu Budaya UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. dan bergiat di lesehan sas- tra kutub Yogyakarta (lsky). Menulis puisi, cerpen, dan esai budaya, beberapa tulisannya telah terbit diberbagai media lokal dan nasional. Kini tinggal di Cabeyan, Sewon Bantul, Yogyakarta. (92)
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Anwar Noeris
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Suara Merdeka” Minggu 17 April 2016
Beri Nilai-Bintang!