Cerita Nenek

Karya . Dikliping tanggal 11 September 2018 dalam kategori Arsip Cerpen, Koran Lokal, Pikiran Rakyat

“KAMI pada ngumpet di semak-semak. Rumah-rumah kami pada dibakarin semua. Hanya tersisa beberapa saja yang mereka gunakan untuk tempat mabuk­-mabukan. Aku masih menyimak dengan saksama cerita-cerita Nenek prakemerdekaan Indonesia. Nenek adalah saksi mata kebusukan prajurit-prajurit Belanda. Ia terpisah dengan saudara laki-lakinya ketika lari di tengah hutan. Jangankan berjumpa kembali dengan saudara laki-lakinya itu, mendengar kabarnya saja tidak.

“Banyak teman-teman Nenek yang digilir oleh mereka. Seperti binatang.”

“Diperkosa?” Tanyaku tiba-tiba memo­tong pembicaraan Nenek. Nenek tidak menjawab, hanya menganggukkan kepala sebagai isyarat pembenaran pertanyaanku.

“Gadis-gadis kampung mereka kurung. Tangan dan kakinya diikat persis binatang piaraan. Dikasih makan sekadarnya saja. Kadang malah dikasih air kencing untuk mereka minum. Dari tengah hutan, hampir setiap malam kami mendengar jeritan te­man-teman Nenek itu. Sesekali pula dibarengi tawa prajurit-prajurit biadab itu. Kami sudah mengira mereka kembali menggilir, melampiaskan nafsu bi­natangnya.”

“Apakah tidak ada yang berani menolong mereka, Nek?” Seperti ada sengatan listrik menjulur di sekujur tubuhku. Entah, tiba-tiba aku menjadi geram.

“Pernah suatu ketika Pak Lurah mem­beranikan diri keluar dari semak-semak. la terus terbayang-bayang akan putri ke­sayangannya. Kami sudah berusaha mencegahnya untuk tidak keluar, tetapi karena jeritan para gadis kampung yang terus memecah kegelapan hutan, Pak Lu­rah tidak bisa kami tahan. Dengan garang ia menuju sumber jeritan. Tak lama dari keberaniannya itu, terdengar suara tem­bakan. Bertubi-tubi.”

Nenek menghentikan ceritanya. Aku melihat ada cairan yang mengalir di pelataran pipinya. Aku pun tak tahan, akhimya menangis pula. Aku berusaha menebak dalam batin bahwa Pak Lurah mati di ujung senapan para prajurit Belan­da itu.

Aku lihat tangan Nenek menggenggam erat-erat bibir kursinya. Lengannya yang sudah tak berdaging terlihat gemetaran. Aku segera masuk ke dalam rumah, mengambilkan segelas air putih. Seusia nenek masih mampu bicara saja aku rasa sudah luar biasa. Apalagi mampu berjalan meski agak sedikit sempoyongan.

Nenek sudah melewati 82 tahun usia. Kebiasaan unik Nenek yaitu nyirih-mengunyah daun sirih dengan bumbu tembakau, kapur sirih, gambir, dan buah pinang. Mulut keriput yang masih bergigi itu dengan lembut mengunyah bahan-ba­ han tersebut. Kata Nenek, giginya kuat karena kebiasaan nyirih. Pemah suatu ketika, karena penasaran, diam-diam aku mengambil sehelai daun sirih milik Nenek dan sedikit tembakau. Belum lama kukunyah, isi perut serasa naik ke atas. Hampir muntah aku dibuatnya.

Pernah pula, suatu ketika Nenek aku tawari bubur ayam kesukaanku. Beliau menggelengkan kepala sambil menarik bibirnya ke sudut bawah. Gak enak, katanya. Gak kenyang. “Bikin sakit perut. Dulu gak ada makanan begini. Kami lebih suka nyirih dari pada makan nasi jagung. Apalagi beginian.” Tentu aku merasa aneh dengan jawabannya yang menurutku nyeleneh.

Setelah aku bantu minum, Nenek mem­persilakanku untuk duduk lagi. “Suatu pagi, ada satu dari kami kebelet berak. la keluar dari persembunyian, hen­dak buang hajat. Belum selesai buang hajatnya tiba-tiba ada pasukan Belanda lewat. Ia lari terbirit-birit dengan sisa am­pas yang belum tuntas. Celana dan pahanya belepotan kotoran. la terus dikejar oleh pasukan-pasukan. Sesekali mereka menembak senapannya ke udara. Untung saja dia tidak ditembak.” Nenek berhenti sejenak. Menarik napas dalam-dalam.

“Dia tertangkap, Nek?” Tanyaku tak sabar.

Nenek mengangguk.

“Dibunuh?”

Nenek menggelengkan kepala.

“Dikurung?”

Nenek menggelengkan kepala. Tak lama kemudian ia kembali menarik napasnya dalam-dalam.

“Para prajurit memintanya untuk mengambil kotoran yang berceceran di celana dan pahanya dengan tangan kosong. Lalu…”

“Lalu apa, Nek? Ditembak?” Aku tak sabar. Entah kenapa, Nenek kembali menarik napasnya. la memberikan isyarat padaku untuk mengambilkan gelas minumnya yang tadi aku taruh di meja de­pannya.

“Para prajurit memaksanya memakan kotoran itu!Kalau tidak mau akan ditem­bak kepalanya.”

“Bangsat!” Hentakku tiba-tiba.

Cekatan Nenek mengangkat tangannya dan mengacung-gelengkan jari telun­ juknya. la melarangku untuk mengumpat.

“Para prajurit merasa terhibur melihatnya. Teman Nenek itu terus dipaksa untuk menelan sampai bersih kotorannya sendiri.”

Aku benar-benar marah, tetapi tak ada pergerakan apa-apa. Aku hanya duduk sambil mengadu gigi kuat-kuat dengan mata melotot. Kedua kepalan tanganku terasa gatal ingin menonjok muka bajingan itu.

Cerita Nenek“Setelah merasa puas dengan semua perlakuannya itu, tiba-tiba teman Nenek tersebut ditinggal begitu saja. Mereka tertawa terbahak-bahak. Teman Nenek kabur terbirit-birit menuju tempat persembunyian kembali. Kami menda­patinya dengan mulut celemotan kotoran. Baunya ke mana-mana. la menangis. Matanya merah seakan menahan rasa pahit di mulutnya. Sesegera mungkin kami mengelapnya, kemudian membersihkanya dengan sisa air kami semalam. Setelah meneguk air yang kami berikan tiba-tiba badannya lemas. Kayak orang mau pingsan.”

Gigi-gigiku masih saling mengadu. Tanganku mengepal kuat. Rasanya ingin sekali bikin babak belur muka prajurit tengik itu. Napasku mulai tak beraturan. Dadaku naik turun menahan kesal.

“Dan masih banyak cerita penderitaan kami sebelum merdeka, Neng. Banyak sekali.”

“Kami tidak tahu bagaimana cara kami berterimakasih pada Nenek dan para pen­dahulu. Kini kami sudah merdeka. Sudah bergelimang kenikmatan. Nenek adalah veteran bagi kami meski tidak menyandang gelar tentara atau pasukan khusus. Kesabaran dan kekuatan Nenek bersem­bunyi di tengah hutan tidak mampu kami balas meski dengan segudang perhiasan.” Aku menangis. Aku bersimpuh di kaki Nenek. Aku peluk kedua kakinya erat­-erat. la menepuk lembut tengkukku den­gan gemetaran.

“Setiap peringatan kemerdekaan seperti ini Nenek selalu teringat teman-teman Nenek. Banyak dari kami yang berhari-hari kelaparan. Banyak dari kami yang mati di ujung senapan. Banyak di antara kami yang jadi pelampiasan nafsu bi­natang.Cukup dengan kamu datang ke makam para leluhur, Nenek sudah senang melihatnya. Cukup dengan mengirimkan setangkai bunga dan doa-doa, Nenek su­dah bahagia. Teman-teman Nenek juga pasti akan bahagia. Terima kasih kamu tidak pernah mengikuti pesta pora di atas penderitaan kami. Terima kasih sudah bertahun-tahun kamu tidak mengikuti penghambur-hamburan makanan dengan dalih perlombaan. Meski hanya kerupuk yang tak seberapa bagimu saat ini, itu akan menjadi sangat berharga bagi kami saat itu. Banyak pohon pinang yang kalian tebang hanya untuk kerumunan tawaan. Karung dan tambang yang kalian pakai untuk mainan itu adalah senjata kami bertahan dari hawa dingin angin malam dan untuk mengambil buah kelapa dari pohonnya. Kalian kini selalu berpesta atas nama kemerdekaan. Kalian menggelar tawa di mana-mana atas nama peringatan tujuh belasan. Terima kasih kamu menu­ruti permintaan Nenek untuk tidak mengikuti itu semua, Neng.”

Aku bangkit. Aku peluk tubuh Nenek yang sudah tak berdaging itu. Nenek pun demikian, melingkarkan kedua lengannya ke pundakku. Aku merasakan getir per­juangan dari pelukannya. Aku merasakan derita yang berkapanjangan dari tetesan air matanya. Dalam pelukan Nenek ini aku bersaksi bahwa Indonesia belum merdeka. Rakyatnya masih dijajah oleh nafsu atas nama perayaan kemerdekaan bangsa.***

[1] Disalin dari karya Ahmad Moehdor Al Farisi
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Pikiran Rakyat” Minggu 9 September 2018