Cerita Si Pengantar Rantang

Karya . Dikliping tanggal 31 Agustus 2015 dalam kategori Arsip Cerpen, Koran Lokal, Minggu Pagi
LIMA stel rantang sudah tersusun rapi di sebuah kotak kayu yang diikatkan di jok belakang sepeda motor matik, yang khusus untuk mengantar pesanan para pelanggan katering harian. Sudah tiga tahun aku bekerja di rumah makan Padang Bundo Lia ini, sebagai pengantar rantang, mulai pukul 10.00 bersama tiga orang karyawan lain. Walaupun jam kerjaku mulai pukul 08.00. Sebelum mengantar rantang, aku terlebih dahulu membantu di dapur. Aku senang dengan pekerjaan ini, walau bos rumah makan ini selalu bersikap kasar kepadaku.
Satu yang membuatku bertahan, aku menyukai perempuan-perempuan yang selalu menunggu kedatanganku. Mereka selalu saja mengkhawatirkanku, apakah kedatanganku tepat waktu, atau malah akan terlambat. Sikap mereka membuat hidupku terasa berarti, aku merasa masih ada yang mengharapkan kehadiranku di antara kesendirian.
Sudah pukul 10.00. Tugasku akan dimulai sekarang. Aku akan menceritakan pada kalian, seperti apa pelanggan-pelangganku itu, dan mengapa aku bertahan karena mereka.

Rumah Pertama: Perempuan Kucing

AKU selalu memulainya dari rumah ini. Sebuah rumah tua bekas peninggalan Belanda. Nama jalan ini sungguh aneh, aku sempat berpikir mengapa namanya Jalan Bundar? Setelah aku selidiki, ternyata jalan ini persis sekali dengan Bundaran HI yang terkenal itu. Ada 12 rumah peninggalan Belanda di Jalan Bundar ini, dan salah satu dari rumah itu adalah rumah pelangan rantangku.
Seperti biasa, aku selalu mendapati perempuan itu sedang bermain dengan dua ekor kucing kampung. Perempuan ini juga seringkali mengenakan daster bermotif bunga-bunga. Perempuan itu duduk di depan rumah, sudah sedari tadi dia menungguku. Aku parkirkan sepeda motor di halaman rumahnya, aku ambil serenteng rantang plastik susun tiga.
“Paman rantang datang tepat waktu,” serunya
Dia membahasakan kata “paman” pada kucingnya untuk memanggilku. Aneh sekali, apa mungkin kucing-kucing itu dapat berbicara? Saat aku berdiri di depan pintu, dua kucing itu mendekatiku, mereka bermain di kakiku, seperti seorang keponakan yang melendot di kaki pamannya.
“Mereka selalu menyukaimu,” ucapnya saat aku menyerahkan rantang itu kepadanya.
Kemudian perempuan itu membuka susunan rantangnya. Kulihat isinya hanya tiga ekor ikan goreng di masing-masing rantangnya. Tanpa dikomando kucing-kucing itu pun segera mendekat ke arah perempuan itu. Aku pun bergegas pergi.
Sepuluh meter dari rumahnya, dari kaca spion sepeda motorku, aku tidak lagi melihat perempuan itu. Yang ada hanya tiga ekor kucing yang sedang menyantap ikan goreng tadi.

Rumah Kedua: Perempuan yang Menggoda

DI depan pintu rumah ini, jantungku berdebar kencang. Darahku mengalami tekanan, ada yang sedang bekerja pada saraf seksualku. Di dalam kepala, aku sedang memikirkan perihal yang porno-porno. Betapa tidak, rumah pelanggan yang sedang aku datangi ini selalu membuat aku gregetan. Perempuan di rumah ini terlihat begitu menggoda, terlebih dengan tubuhnya yang sangat kenyal dan montok. Dia tinggal di sebuah asrama tentara yang tidak jauh dari tempatku bekerja. Setiap aku datang, perempuan ini selalu saja terlihat sensual. Dia menyambut kedatanganku dengan pakaian yang serba minim. Jarang sekali aku melihatnya mengenakan daster atau baju yang lebih tertutup. Dia selalu mengenakan baju tidur tipis berwarna merah muda.
Aku selalu menelan ludah banyak-banyak saat memandangi tubuhnya. Aku pikir pasti dia sengaja melakukan hal ini agar aku tergoda dan tertarik pada tubuhnya. Kalau saja suaminya bukan tentara pasti aku sudah terpancing. Tapi aku takut sampai suaminya menembak kepalaku jika melihat aku bersama dengan istrinya. Itu sebabnya aku selalu menahan diri walau hasratku sudah memuncak, dan sarafku sudah menegang di tempat yang paling sakral, hingga peluhku terlihat seperti jagung. Aku harus tetap bertahan. Aku tidak mau ditembak suaminya, aku tidak mau mati muda karena kasus asusila, apa lagi harus sampai dipenjara.
Wajah perempuan itu mulai terlihat kecewa jika aku pergi begitu saja, tanpa sedikitpun menggodanya. Mungkin dia kesal jika usahanya selalu saja gagal untuk menjebakku. Aku naik ke sepeda motor, kunyalakan mesin motor, kudengar bibirnya mencibir diriku.
“Dasar homo,” desisnya seperti ular. Aku tancap gas, tidak memperdulikan ucapannya.
Perjalananku berlanjut, bukan menuju rumah pelanggan lain, tetapi mencari pom bensin terdekat. Aku membutuhkan toiletnya. Sebab, sudah sedari tadi aku menahannya, air liurku sudah menetes, pakaian dalamku terasa sedikit basah dan aku ingin segera menuntaskannya, dengan caraku sendiri.

Rumah Ketiga: Nek Marshita

NAMANYA nek Marshita. Perempuan berusia lanjut itu sudah menunggu kedatanganku sejak lama. Dia duduk di kursi malasnya, pintu rumahnya dibiarkan terbuka. Aku mengetuk pintunya dengan pelan, aku juga memanggil nenek itu dengan suara lirih. Aku takut membuatnya terkejut, sebab kata para tetangga, Nenek Marshita menderita penyakit jantung sejak lama. Sebab itu Nek marshita tidak boleh sampai terkejut.
“Siapa kamu?” tanyanya
Aku tidak terkejut mendengar pertanyaannya, karena Nek Marshita selalu menanyakan hal yang sama di setiap aku datang. Selain menderita penyakit jantung, Nek Marshita juga sudah pikun.
“Saya yang selalu mengantarkan rantang, Nek,” jawabku ramah.
“Saya tidak memesan kentang,” Nek Marshita membntakku.
“Bukan nek. Ini rantang sayur pesanan Nenek,” ucapku lagi.
“Tapi saya tidak membeli apa pun dari kedai kelontong Niur.” Dia masih menatapku dengan sinis.
Aku terdiam dibuatnya. Aku menghela napas, kedua gigiku saling bertemu, rahangku juga sudah mengeras. Aku sudah semakin kesal dibuatnya. Selain penderita sakit jantung, pikun, ternyata Nek Marshita juga  tidak lagi dapat mendengar.
Amarahku sudah memuncak, aku letakkan rantang itu di atas meja. Lalu aku pergi sambil menendang pintu rumahnya dengan keras. Aku sangat kesal dibuatnya.
Keesokan harinya, rantang yang aku bawa untuknya terpaksa dikembalikan ke rumah makan Padang Bunda Lia. Karena di rumah Nek Marshita terlihat banyak sekali orang-orang yang datang melayat.

Rumah Keempat: Perempuan yang Ingin Anaknya Mirip dengan Wajahku

BU Ambon membukakan pintu rumahnya untukku. Beliau memersilakanku masuk, dia tidak segera mengambil rantang dari tanganku. Dia dipanggil Bu Ambon karena suaminya memang orang Ambon. Aku dan dia seumuran, hanya dia sudah menikah sedang aku masih hidup melajang. Dia perempuan sederhana, aku menyukainya. Wajahnya tidak terlalu cantik tapi memesona. Aku jatuh hati pada perempuan yang sedang hamil lima bulan itu.
“Saya ingin anak ini mirip dengan wajahmu,” ucapnya seketika.
Aku terkejut mendengarnya. Dia juga memintaku untuk mengelus perut buncitnya. 
“Nanti kalau suami Ibu marah bagaimana?”
“Kenapa dia harus marah? Ini kan…” Kalimatnya tercekat.
“Kenapa harus mirip dengan wajah saya?”
“Karena ini anak kamu!” Dia memberitahuku.
Kemudian aku mengecup keningnya. Sebab jatuh cinta tidak pernah melibatkan apa pun, walau pada akhirnya cinta juga yang melibatkan apa pun itu untuk membenarkan dirinya.

Rumah Kelima: Dia Ingin Aku Kembali (Lagi)

ANJING-ANJING hitam yang berkeliaran di pekarangan rumah pelangganku ini selalu saja menggonggongiku saat aku berteriak “rantang” pada si penghuni rumah, dari balik pintu pagar. Tak lama keluar seorang perempuan berambut ikal yang berjalan mendekatiku, wajahnya ayu sekali. Aku memberikan rantang terakhir yang aku bawa padanya.
“Seperti apa kota siang ini?” tanya perempuan itu dengan ramah.
“Sangat membosankan. Kota diselimuti debu dan polusi,” keluhku padanya.
“Apa kau tidak melihat bunga-bunga?” tanyanya lagi.
“Ya,” aku mengangguk.
“Banyak bunga warna-warni yang kutemui di pinggir jalan. Namun semuanya terlihat kusam,” jelasku.
“Kenapa?” Wajahnya terlihat cemas kali ini.
“Bunga-bunga itu tidak lagi terlihat segar di saat pagi hari, bahkan tidak lagi berkembang di waktu siang. Sudah banyak orang yang merampas kecantikannya, hingga yang tertinggal hanya kekusaman.”
Aku bercerita panjang lebar pada perempuan itu. Dia hanya manggut-mangut saja.
“Apakah besok kau akan kembali lagi?”
Nada tanyanya terdengar parau. Aku memandangi wajahnya, ada ketakutan dan kecemasan di sana.
“Mengapa kau terlihat begitu mencemaskanku?” tanyaku penuh selidik. Aku menghela napas, dia juga.
“Aku takut tidak ada lagi orang yang bercerita banyak hal kepadaku, jika kau tak datang lagi,” ungkapnya.
Aku tertegun mendengarnya. Perempuan itu kembali masuk ke dalam rumahnya, ditemani sebuah tongkat sebagai penunjuk arah. Dan anjing-anjing itu pun terus menggonggong ke arahku.
Aku segera kembali ke rumah makan Bundo Lia, tugasku sudah selesai. Mereka semua yang membuatku bertahan dengan semua ceritanya. Itu sebabnya aku selalu bertahan dengan pekerjaan ini. Mendadak tubuhku pun merasa sangat lelah sekali. (k) 
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Sawaluddin Sembiring
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Minggu Pagi” 28 Agustus 2015