Cerita Uang

Karya . Dikliping tanggal 21 September 2015 dalam kategori Arsip Cerpen, Cerita Remaja, Koran Lokal, Minggu Pagi
PAGI masih diselimuti mendung bekas hujan semalam. Airnya pun masih menggantung di pucuk-pucuk dedaunan, menunggu saatnya jatu terserap oleh tanah. Layaknya suasana pagi ini, seperti itulah suasana hati Pak Bonsai. Pagi-pagi ia sudah duduk dilincak belakang rumah sembari meremas-remas rambut yang sudah tak lebat lagi. Pagi ini masih kalah mendung dibanding hati Pak Bonsai. Bagimana tidak? Saat ini hidup Pak Bonsai bak air di pucuk dedaunan. Istrinya sebentar lagi mau melahirkan, tunggakan SPP anak pertamanya yang menunggu dilunasi, belum lagi utang sana-sini. 
Kepala Pak Bonsai terasa cumleng. Harus bagaimana lagi ia mengatasi problematika hidupya. Menggali lubang lagi, tak mungkin. Mengandalkan hasil menukang apalagi. Ah, andai ia bisa bicara dengan uang. Akan dicertakannya semua masalahnya pada uang. Mana tahu, dengan suka hati uang-uang itu akan menyelinap masuk ke kantongnya untuk membantunya. Ia membuka dompetnya dan dilihatnya hanya ada selembar uang ratusan dan bebrapa uang ribuan serta recehan. Tiba-tiba sebuah suara mengagetkan datang dari dompet Pak Bonsai.
“Hei orangtua, tolong keluarkan aku dari sini.”
Pak Bonsai kaku terdiam. Tak percaya dengan yang didengar dan dilihatnya barusan. Selembar uang ratusan bicara padanya. Ia menepuk-nepuk pipi bulatnya. Mimpi? Atau hanyailusi semata. Ata memang dia sudah menjadi gila. 
“Hei bung. Mengapa engkau murung?” kata salah satu uang ribuan yang sudah lusuh.
“Ka… kalian bisa bicara?” tanya Pak Bonsai masih belum percaya. 
“Sudahlah. Tak perlu kau urusi kami bisa bicara atau tidak. Anggap saja Tuhan sedang memberimu ilmu gaib,” kata uang duapuluhribuan yang ternyata ada di situ juga.
“Ceritakan saja kegalauanmu.”
Dengan masih ketidakpercayaannya, Pak Bonsai menceritakan semuanya pada uang-uang ajab itu. 
“Bung, dengar ya. Bersyukurlah kamu masih empunyai sebagian dari kami di dompetmu. Banyak orang-orang di luar sana yang tidak lebih beruntung dari kamu. Kamipun sebenarnya ebih sedih dar kamu,” kata uang seratusan ribu.
“Mengapa jadi kalian yang sedih? Bukankah kalian selalu membuat manusia senang?” sergah bapak berkepala botak itu.
“Hahaha… dengarkan cerita kami dulu bung. Kami semua memang membuat manusia senang tapi sebagian dari kami sedih karena masih ada manusia yang tidak mempunyai kami. Dan kami juga sedih tidak diperlakukan sepantasnya.”
“Maksud kalian apa?”
“Kami para uang punya peraturan sendiri juga. Peraturan pertama, dua koma lima persen dari jumlah kami harus berada di tangan orang-rang yang tidak mampu. Tapi nyatanya banyak sekali omanusia yang menggunakan kami semua untuk berhura-hura tanpa menyisihkan kami untuk orang yang tidak mampu,” cerita yag seratusan ribu.
“Perturan yang kedua, kami para uang harus berada di tangan manusia dengan prosinya masing-masing. Nyatanya, banyak dari kami berada di tangan manusia dengan prosi berlebih. Terkadang cara mereka mendapatkan kami dengan merampas kami yang sudah menjadi hak masing-masing manusia,” kata uang duapuluhribuan.
“Kau tahu sendirilah seperti apa hak dan peraturan kami dilanggar manusia. Kebanyakan dari mereka adalah orang-orang yang bedasi yang berada di dalam gedung mewah itu. Serakah sekali mereka itu.”
Pak Bonsai mengangguk-angguk.
“Beda lagi denganku. Beberapa manusia tidak peduli denganku saat aku jatuh. Mereka menganggapku tidak ada nilai dan harganya. Mereka malu untuk memungutku kembali. Padahal kami yang telah terjatuh dan tidak diperdulikan lagi akan sangat berharga di mata par apengemis dan pengamen. Sayangnya, manusia lebih senang mencampakkan kami daripada memasukkan kami ke kantong-kantong atau kaleng-kaleng para peminta,” cerita uang receh.
“Jangankan kamu yang uang receh, aku yang masih ada nilai lebihnya dari kamu saja juga diperlakukan tidak pantas. Sering kali, tubuhku ini dicoret-coret oelh tangan usil manusia. Entah nomor handphone, nama, atau tulisan-tulisan lain yang sama sekali tidak bermutu. Setelah itu aku jadi tidak berharga lalu tubuhku lama-lama terkikis. Jadilah aku tampil sebagai uang yang paling sering lusuh, lecek, sobek-sobek pula.”
Pak Bonsai hanya bis termenung dan mengiyakan semua omongan mereka.
“Bung, kau sudah mendengar keluh kesah kami tentang suka duk akami menjadi uang. Kami akan sangat bahagia bila kami memang beada di tangan orag yang kesusahan sepertimu. Tapi kami juga akan sedih bila komitmen kami tidak diperhatikan manusia dan diperlakukan semena-mena. Seolah kami adalah pemuas kebutuhan satu-satunya,” lanjut uang bewarna merah kejingga-jinggaan itu. 
“Berapapun nilai kami yang dikorupsi, dibelanjakan, atapun disedekahkan, itu semua tidak akan merugikan kami. Justru manusialah yang kelak harus mempertanggungjawabkannya ketika ditanya Tuhan mereka. Bekerja keraslah Bung, kami yakin Tuhan tidak akan pelit mengalirkan kami ke kantongmu. Dan, ingat juga masih banyak saudara-saudaramu diluar sana yang jugaa butuh uluran tanganmu, walaupun hanya sejengkal dari tanganmu.”
Klontheng…. Bunyi panci dipukul terasa jelas di telinga Pak Bonsai.
“Oalah, Pak…. bangun pagi-pagi kok cuma mau pindah tidur di lincak. Ada apa ta Pak?”
Suara Bu Mariyem, istri Pak Bonsai, menyadarkan Pak Bonsai bahwa apa yang barusan ia alami adalah kembang tidur.
“Oalah, syukur Bu. Semua hanya mimpi. Tak kira Bapak ki edan tenan, bisa bicara dengan uang. Hampir saja Bu, bapak berniat memakai uang warga,” desah Pak Bonsai ngos-ngosan sambil memeluk istrinya yang buncit.
“Jadi Bapak di sini dari tadi memikirkan perekonomian keluarga kita ta Pak? Pak, kesusahan apapun yang kita alami jangan sampai mempertaruhkan amanah Bapak sebagai bendahara kampung ya. Kita memang sedang susah, tapi jangan pernah menggunakan uang yang bukan hak kita. Apa bapak mau ikut-ikutan yang ada di teve itu?” goda Bu Mar sambil meletakkan tanan suaminya di perut buncitnya.
“Iya Bu. Ngomong-ngomong itu ada uang receh jatuh dekat sumur. Diambil sja, nanti dia marah sama Bapak, Bu,” Senyum tersungging di bibir Pak Bonsai. []
Anindita Suryaningtyas Purnamasari
Jalan Nglangensari No 144 Condongcatur Depok Sleman Yogya
Teknik Kimia UN Vetaran Yogya
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Anindita SP
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Minggu Pagi” 18 September 2015