Cincin Untuk Diyza

Karya . Dikliping tanggal 4 Agustus 2015 dalam kategori Arsip Cerpen, Cerita Remaja, Koran Lokal, Minggu Pagi
KAKEK itu sangat menarik perhatianku. Ia berdiri di depan tokok emas sejak tadi. Pakaiannya sangat sederhana, kaos putih bergambar partai dipadu celana tomprang bergambar segitiga berwarna biru. Caping kusam menaunginya dari sengat mentari. Kakinya tak beralas. Dua keranjang kosong tergeletak di sampingnya.
Berulangkali kakek itu memandang ke dalam toko. Dengan punggung tangan ia menyeka keringat sebelum melangkah gontai memasuki toko. Namun, ia berhenti tepat di bawah rolling door. Terlihat ragu. Sementara orang-orang di dalam toko seperti tidak memedulikan keberadaannya. ENtah kenapa kakek itu kembali lagi ke tempatnya semula.
Hari berikutnya aku kembali melihat kakek itu, di tempat yang sama. Hanya bajunya terlihat lebih bersih, setelah kemeja kusam dan celana hitam. Ia juga beralas kaki. Kali ini tidak ada keranjang yang dibawa. Dan, sperti kemarin, kakek itu berulangkali emmandangi toko di depannya. Saat angkudes yang kutungu datang, kubiarkan ia berlalu. Rasa penasaran menguasai pikiranku. Apa yang akan dilakukan kakek itu?
Perlahan aku bergeser mendekatinya. Ia menggumamkan sesuatu setelah menghitung uang di tangannya.
“Mau beli apa, Kek?” tanyaku sekenanya. “Maaf, kalau saya lancang.”
“Ah, nggak apa-apa, Nak. Ini kakek mau beli cincin buat ennek. Tapi, kayaknya uangnya kurang!” Kakek itu menunjukkan uang kepadaku. “Cuma seratus enam puluh ribu. Apa cukup untuk beli cincin emas satu gram?”
“Kenapa kakek nggak tanya langsung ke toko?”
“Malu. Kemarin Kakek ke sini, tapi tidak ada yang menemui kakek. Mungkin karena penampilan Kakek yang gembel.” Seusai mengucapkannya, si Kakek terkekeh. Aroma mulut yang sering terasapi tembakau menyusup ke hidungku. Mengingat penampilannya kemarin, sebagian orang memang akan memandangnya rendah. Ah, kenapa masih ada orang yang melihat orang lain dari penampilannya?
“Bagaimana kalau saya menanyakannya, Kek?”
“Kamu mau?” Wajah kakek terlihat ceria.
Aku mengangguk, lalu masuk ke toko.  Tidak berapa lama kemudian, “Kek, kata mereka cincin satu gram harganya tiga ratus enam puluh ribu.” Aku berkata pelan berharap Kakek tidka kecewa.
“Belum waktunya!” Aku tidak menangkap kecewa di wajahnya. Bibirnya menyunggingkan senyum tulus.
***
AKU mengayuh sepeda ke pasar dengan perasaan bingung. Nanti malam, aku diundang Diyza ke acara ulang tahunnya. Kado apa yang pantas diberikan untuk orang yang diam-diam kutaksir? Aku meraba kantong celana, memastikan uang hasil memecah celengan tadi masih di sana. Dengan uang tujuh puluh ribu rupiah, apa yang bisa kubeli?
Saat keliling pasar, aku melihat sosok yang tidak asing. Ya, aku bertemu kembali dengan kakek itu di tempat yang sama, seperti empat hari yang lalu.
“Kek, masih mau beli cincin?” Aku menghampiri dan menyapanya.
Si Kakek terkejut, kemudian tersenyum. “Dulu, kakek memakai cincin nenek untuk modal. Kakek berjanji akan emngembalikannya. Eh, kakek lupa dan baru ingat. Sayangnya, kakek tidak punya tabungan. Hasil kerja selama ini hanya cukup untuk makan kami berdua,” cerita Kakek, tanpa kutanya.
“Anak-anak?”
“Kami tidak dikasih anak sama Allah!” Sekilas kulihat wajahnya bersedih. Tapi hanya sekejap. Ia kembali tersenyum. Tulus. “Hari ini Kakek harus dapat cincin emas, walaupun cuma setengah gram.”
“Ayo, Kek, saya temani.”
Kami masuk toko. Kakek terlihat bingung melihat-lihat isi lemari kaca. Beberapa pegawai toko melihat kami dengan pandnagan nyinyir. 
“Cari apa, Kek?” Seorang karyawan bertanya dengan ketus.
“Anu….” Kakek terlihat gagap.
“Cincin, Mbak,” potongku
“Berapa gram?” Nada suara karyawati itu sungguh tidak mengenakkan.
Aku membisiki telinga Kakek. 
“Kakek ada uang berapa?” 
“Tiga ratus ribu,” jawabnya, pelan tapi bisa didengar dengan jelas.
“Tidak ada yang harga segitu di sini! Silakan cari di toko lain,” kata karyawati tadi. Suaranya benar-benar menyebalkan.
“Maaf, Mbak. Kalau cincin satu gram berapa?” Aku mencoba bersabar.
“Tiga ratus empat puluh ribu.”
Aku merogoh kantong celana. “Kek, ini ada tambahan dari saya. Biar kakek bisa beli cincin satu gram,” kataku sambil menyalami tangan kakek.
“Tidak usah, nak. Biar kakek nabung aja dulu.” Mata kakek berkaca-kaca.
***
AKU menyimpan kado buat Dyza di saku celana. Meski lutut gemetar, aku memberanikan diri menemuinya saat ia sedang duduk sendiri. Aku terpana melihat penampilannya. Gaun merah muda yang dikenakan membuatnya tampak bercahaya. Suara degup jantungku seakan mengalahkan musik yang disetel kencang.
“Diy, selamat ulang tahun ya,” ucapku singkat, sembari menyodorkan kotak kecil berbungkus kertas biru muda.
“Terima aksih, ren. Jadi ngerepotin.”
“Ah, nggak. Bukan apa-apa kok! Cuma kenangan kecil dariku.”
“Boleh dibuka?”
Aku mengangguk. Jujur, aku sebenarnya takut dan khawatir  Diyza akan kecewa. Sekilas kutatap wajah Diyza saat ia asyik membuka kado. Dahinya berkerut, membuatku khawatir.
“Maaf, Diy. Aku nggak bisa ngasih yang lebih bagus.”
“Ren! Ini?” Diyza terdiam beberapa saat. Aku tidak berani mendongakkan wajah. “Kamu membuatnya sendiri?”
Aku mengangguk. Aku tersentak saat Diyza memegang tanganku. Saat kutatap wajahnya, ia tersipu dan tersenyum manis.
Sungguh tak kusangka Diyza menyukainya. Ternyata ketulusanku tadi siang berbuah manis.
“Terima kasih, Nak.” Kakek tak henti berterima kasih begitu kami keluar dari toko. Ia terlihat sangat gembira. Kakek mengambil sesuatu dari saku bajunya. Sebuah cincin. “Sebenarnya kakek sudah menyiapkan ini. Bukan emas, hanya uang lima ratusan yang Kakek buat menjadi cincin.”
“Bagus, Kek!”
“Kamu mau? Ini!” Kakek itu menyodorkan cincin itu kepadaku.
“Buat saya, Kek?”
“Ah, ini tidak ada nilainya. Tidak sepadan dengan bantuanmu, Nak. Tapi, anggaplah ini sebagai ungkapan terima kasih.”
Aku mengambil cincin dari tangan kakek. Mengamatinya. Otakku bekerja. Ya, cincin ini akan kuubah.
Sesampainya di rumah, aku mengambil kikir. Kuasah pelan-pelan cincin uang logam itu. Setelah berjuang hampir setengah hari aku memandang cincin di tanganku. Aku tersenyum puas saat membaca tulisan LOVE di sana.
Tangerang Selatan, Juli 2015
Riswandi. Berdomisili di Pamulang Tangerang Selatan
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Riswandi
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Minggu Pagi” Agustus 2015