Coblos

Karya . Dikliping tanggal 15 April 2019 dalam kategori Arsip Cerpen, Suara Merdeka

Saodah gundah. Pak RT datang lagi mengetuk pintu rumah. Ini kedatangan yang kali kesekian. Sudah bisa ditebak, Pak RT datang dengan misi sama: meminta Saodah datang ke TPS pada hari pencoblosan.

“Jangan lupa, Odah, ingat tanggal dan harinya! Odah tidak boleh tidak memilih. Harus datang dan coblos nomor atau gambarnya. Begitu saja kan tidak susah. Betul tidak?” kata Pak RTdengan suara manis-lembut. Seperti sebelumnya, yang diajak bicara diam saja, tafakur sambil memainkan ujungujung jari tangannya.

Pak RTmenghela napas, berusaha menahan ketidaksabaran yang hampir muntah dari mulutnya.

“Odah,” Pak RT berusaha lagi. “Kalau bingung siapa yang mau kaupilih, nih Pak RT kasih tahu lagi: pilih gambar calon pasangan yang punya kumis hitam-tebal. Mereka bakal jadi pemimpin hebat! Kelihatan dari fotonya kan, gagah-amanah! Kalau mereka menang, hidup kamu bisa lebih baik dari ini. Semua harga bahan makanan kembali murah, biaya rumah sakit tidak akan mahal. Jalan-jalan tidak rusak lagi dan taman-taman di kota kita menjadi indah. Yang begitu bagus kan? Jadi ingat ya, Odah, yang punya kumis hi-tam tebal!” tegas Pak RT.

Yang diajak bicara masih juga diam. Wajah Pak RT mengeras. Ia mulai tidak sabaran.

“Terserah kamulah. Tapi kalau kamu sampai tidak datang ke TPS, warga di sini akan mengucilkan kamu. Saya juga tidak bisa membantu kalau kamu kesulitan, sebab kamu saja tidak peduli pada masa depan negaramu!”

Setelah berkata demikian, Pak RT pun pergi. Meninggalkan Saodah, gadis berumur dua puluh satu yang terus saja diam, tafakur sambil mempermainkan ujung-ujung jari tangannya.

Sejak saat itu, Pak RT tidak pernah datang lagi ke rumah Saodah untuk misi apa pun. Namun gadis itu tahu, para tetangga sudah kasak-kusuk menebak apakah ia akan menuruti kata-kata Pak RTatau tidak. Namun Saodah tak mengindahkan. Perasaan terkucil sudah ia rasakan sejak lama, semenjak ibunya menutup diri dari apa pun dan siapa pun, termasuk Saodah, anak satu-satunya.

***

Hari pencoblosan tiba, Saodah langsung teringat hal itu sejak pagi membuka mata. Ini pemilihan umum pertama yang dia ikuti sebab pada pemilihan sebelumnya, ia masih berusia enam belas.

Seketika wajah Pak RT dengan suara yang manis membujuk, kertas yang harus ia coblos bergambar dua lelaki gagah-amanah yang memiliki kumis hitam-tebal, serta janji akan kehidupan lebih baik dari sekarang, membayang di kepalanya. Saodah tak bisa menahan seulas senyum yang terbit dari segala rasa sakit.

Saodah bangkit pelan-pelan dari kasur. Gadis, yang dunianya kini hanya seluas rumah kecil milik orang tuanya di Jalan A, kantor partai tempat ayahnya dulu bekerja sebagai pesuruh di Jalan B, dan warung siomai langganan di Jalan C, merasa energinya habis. Hal itu memang sering terjadi, terutama setelah ibunya, yang menderita penyakit gila sejak lama, meninggal dunia.

Sebelum ibunya meninggal, jalan sepanjang lima kilometer yang menghubungkan rumahnya di Jalan A, kantor partai di Jalan B, dan warung siomai di Jalan C, dapat ia tempuh berjalan kaki dengan mudah.

Meskipun harus bergerak cepat (kadang setengah berlari) serta menanggung malu saat mengikuti ibunya yang berjalan di depan sambil meracau dan marah entah pada siapa, semua itu masih bisa ia tanggung tanpa rasa lelah. Namun kini jalan yang telah ia akrabi bertahuntahun itu tampak mulur dua puluh kali lipat. Jarak menjadi makin panjang dan melelahkan, momok yang harus ia hadapi saat bangun pagi dan menjadi mimpi buruk saat tidur pada malam hari.

Sering kali dalam mimpi, jalan-jalan itu memanjang dan terus saja mulur. Ketika Saodah melangkahkan kaki, jalan itu melunak seperti adonan donat yang sering dibuat ibunya saat masih sehat. Jalan itu membenam kakinya, membuat langkahnya berat dan lamban, seperti adegan slow motion dalam adegan silat.

Masih dalam mimpi, Saodah memaksa terus berjalan. Kakinya berat. Bertambah berat. Sangat berat. Tapi ia harus terus berjalan. Harus! Ayahnya ada di sana, menunggu di warung siomai di Jalan C, menunggu ia dan ibunya datang untuk dibelikan dan makan siomai kesukaan Saodah selepas sang ayah gajian. Namun Saodah tak pernah berhasil sampai di sana.

Dalam perjalanan, saat tiba di kantor partai, selangkah pun ia tak dapat bergerak maju. Ia melirik gedung kantor partai dalam pandangan hitam-kelabu. Ia bergidik manakala melihat pagar besi yang roboh ke tanah, kaca-kaca jendela yang pecah, bendera-bendera yang tercabik, dan sebagian gedung terbakar api raksasa berselubung kelabu pekat. Jantungnya berdetak keras manakala melihat orang-orang bergelimpangan dengan tubuh luka dan penuh darah hitam yang menggenang di sepanjang jalan kantor partai. Tapi ia yakin ayahnya sudah tidak berada di sana. Ia yakin, sebagaimana ibunya pernah meyakini, ayahnya sedang menunggu di warung siomai di Jalan C, menunggu istri dan anaknya datang untuk makan siomai bersama. Saodah pun bergegas, menarik satu kakinya kuat-kuat dari benaman jalan melunak serupa adonan donat yang terus mengisap. Dia curahkan segenap tenaga, dia coba lagi. Ia mengerang, mengejan, mencoba mendapatkan kekuatan. Namun kakinya tak kunjung bergerak. Saodah bangun dan mendapati dirinya basah. Ngompol, bersimbah peluh, dan air mata. Ini mimpi paling menakutkan bagi Saodah. Mimpi yang tidak hanya membayangi saat tidur, tetapi juga saat terjaga.

Dan pagi ini, meski tak merasakan kekuatan pada tubuh dan kakinya, Saodah merasa yakin harus pergi, sebagaimana yang selalu ibunya lakukan setiap hari, menelusuri jalan lima kilometer dari rumahnya di Jalan A, melewati kantor partai di Jalan B, hingga tiba di warung siomai di Jalan C.

Saodah pergi tanpa mandi atau mengunci pintu rumah. Di luar, ia melihat jalan-jalan lengang dan berhias menyambut pencoblosan. Tak ada anak berseragam sekolah berkeliaran. Pegawai kantor pun diliburkan.

Melewati lapangan bulu tangkis tempat TPS didirikan, suara Pak RT terdengar. Dari kejauhan, Saodah melihat lelaki tua itu bergegas menyambutnya senang. Tapi Saodah terus berjalan. Menjauh dan tak menghiraukan Pak RT yang keheranan. “TPS bisa menunggu, kembalikan saja dulu suamiku,” terngiang ibu Saodah berkata ketika Pak RTmeminta mencoblos pada hari pemilihan, jauh sebelum ibunya dianggap menderita kegilaan.

Dan Saodah bisa mengerti sekarang. Seperti sang ibu, ia pun akan mencoblos gambar lelaki berkumis hitam-tebal itu, atau gambar kucing, atau gambar cacing sekalipun, seandainya mereka bisa mengatakan, ke manakah ayahnya menghilang sejak kantor partai dilanda kerusuhan. (28)

Nilla A Asrudian, cerpenis dan penulis lepas, berdomisili di Depok, Jawa Barat. Karyanya dimuat di terbitan sastra dan media massa, seperti Kompas dan Suara Merdeka.Tulisan-tulisan lain dimuat di blog lifestyle beritasatu.com, jakartabeat.com, dan galeribukujakarta.com.


[1] Disalin dari karya Nilla A Asrudian
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Suara Merdeka” edisi Minggu 14 April 2019.