Cucur

Karya . Dikliping tanggal 15 Juni 2015 dalam kategori Arsip Cerpen, Koran Lokal, Minggu Pagi
IBUKU pembuat kue cucur terlezat di dunia. Kue cucurnya sangat enak dan laris. Saban hari ibu membuat kue cucur: mencampur tepung beras, tepung terigu, larutan gula merah berpewangi pandan, air dan tangan-tangannya yang kecil tapi kuat menguleni dengan telaten. Ibu kemudian menggoreng adonan kue tradisional berserat berasa manis legit itu. Sering tengah malam aku terbangun dan mendapati ibu sedang berada di dapur, di depan tungku panas, wajan mengepul, dan minyak yang mengapung, kue-kue cucur enak berenang riang di samudra minyak, ibu menungguinya sampai kue matang, kemudian menaruhnya di tampah yang sudah dialasi kertas jerami.
Aku tak pernah tahu sejak kapan ibu berjualan kue cucur. Seingatku saat aku SD dulu, ibu sudah berjualan cucur. Kuhitung-hitung sudah 20-an tahun. Kini aku tak perlu lagi diam-diam bangun tengah malam untuk mengintip ibu menggoreng cucur. Lima tahun lalu ibu mengajariku membuat kue cucur. Sebagai sarjana PAI yang mengampu pelajaran bahasa Indonesia di sebuah MTs, gajiku miris karena statusku tenaga honorer. Untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari aku mengikuti ibu berjualan kue. Walau aku bisa bikin cucur, tapi jujur, cucur buatanku tak seenak bikinan ibu. Padahal ibu tak menyembunyikan resepnya untukku. Bahkan pada tetangga atau orang yang ingin membuat cucur, ibu tak enggan berbagi.
Ibuku supel. Masih terlihat cantik di usianya mleewati kepala lima. Beberapa lelaki ingin mempersuntingnya. Tapi entah ibu sepertinya enggan menikah lagi. Mungkin trauma pada pernikahannya dulu.
Ibu sering berkisah padaku, tentang pernikahan merah. Perkawinan yang tak direstui orangtua ayah, karena beda agama. Demi ibu ayah rela meninggalkan keluarga besarnya. Sayangnya badai menerjang setelah berumur sepuluh tahun, ketika keluarga ayah mempengaruhi ayah untuk menikah lagi, gara-gara ibu tak bisa memberi keturunan berjenis kelamin lelaki. Ibu tak sanggup bertahan, ketika ayah beristri lagi. Ibu yanng tak mau dimadu memilih bercerai.
***

IBU hilir mudik ke kamar mandi. Muntah-muntah. Wajahnya pucat. Sebagai pedagang ibu sering bepergian. Aku menghentikan kegiatanku sore ini, menyiram bunga ceplok piring. Kuhampiri dna kusentuh pundak ibu. “Ibu sakit?”

“Entahlah, Nuk. Mungkin hanya masuk angin.”
Ibuku menatap ragu. Seperti ingin mengatakan sesuatu. Kulihat  ibu malah menghela napas panjang beberapa kali.
“Ibu mau Nuk kerok?”
“Ya.”
“Biar Nuk ambil minyak klentik.”
Di kamar ibu yang luas, aku mengerokinya. Sampai punggung ibu berselang-seling merah, seperti garis zebra, Aku melaburinya dengan balsam. Kemudian ke dapur membuatkan teh manis hangat.
“Ibu minum teh manis ini. Setelah itu istirahat ya, tidur.”
Ibu menurut, tiduran sambil kupijitin kakinya. Tak berapa lama tertidur. Aku mencium keningnya. Agak panas.
***
“IBU sakit? Sakit apa?” Tarjo terdengar khawatir ketika pulang kerja di bengkel. Pemuda 18 tahun dan duduk di kelas 11 SMK itu memang sangat sayang pada ibu. Tentu saja, ibuku yang mengangkatnya dari jurang kemiskinan. Orangtuanya beranak-pinak banyak, sebelas anak. Ekonomi pas-pasan. Yu Olah, emaknya Tarjo setiap hari ia mengulak kue cucur, kemudian ia ngider. Suatu hari dia berkeluh kesah tentang anak sulungnya yang cerdas, ingin melanjutkan sekolah tapi tak punya ongkos.
“Lah, nanti kamu bilang anakmu. Aku akan menyekolahkannya ke STM otomotif. Dia bisa tinggal di sini. Membantu apa saja. Kebetulan aku tak punya anak lelaki.”
Esoknya Yu Olah membawa anak lelaki seusiaku ke rumah. Namanya Tarjo.
Sebagai anak desa, Tarjo rajin. Di rumah sebelum dan setelah sekolah Tarjo membersihkan halaman, meyirami kebun. Dan disuruh ibu mengantar kue cucur ke pelanggan. Pekerjaanku sekarang agak ringan. Hanya mengurusi mencuci dan memasak. Tarjo tak bisa memasak. Pernah satu hari di dapur dia kusuruh mengambilkan merica, eh malah mengambilkan ketumbar.
Seiring hari Tarjo kuajari memasak. Membuat nasi goreng atau sayur sederhana. Sayur sop, sayur bening dan sayur asem. Goreng tempe dan tahu. Tak lupa bikin sambal terasi. Tarjo penurut. Ia bisa dipercaya dan jujur. Prestasi akademiknya juga bagus. Tak sia-sia ibu menyekolahkannya. Tarjo juga banyak memiliki teman. Tarjo tegap dan ganteng. Beberapa teman cewek pernah main ke rumah. Ibu menasihati Tarjo jangan pacaran dulu. Tarjo menurut.
Adik-adikku juga suka di rumah kami ada Tarjo. Kebetulan kami bertiga perempuan semua. Karena inikah bapak meninggalkan ibu? Entah ada di mana lelaki itu sekarang. Bukankah sebuah alasan yang hanya dicari-cari jika dia meninggalkan ibu hanya karena ibu tak bisa memberinya anak lelaki? Padahal bukankah yang menentukan jenis kelamin bayi adalah Allah. Apakah jaminan jika dia menikahi perempuan lain dia akan punya anak lelaki? Apakah setelah menikahi perempuan pilihan orangtuanya ayah akhirnya memiliki anak lelaki?
Entah. Aku malas memikirkannya. Pernah suatu hari kupancing-pancing ibu, bagaimana reaksinya jika tiba-tiba ayah datang dan membawa anak lelaki ke rumah ini? Ibu terlihat muram. Sejak itu aku tak mau lagi mengungkit-ungkit lagi kisah ayah di hadapan ibu. Sungguh aku tak ingin membuat ibu bersedih. Jika keadaan kami sekarang sudah membuat ibu bahagia, untuk apa aku membuka lagi lembaran luka lama?
***
IBU masih sakit. Kondisinya semakin memburuk. Kami hendak membawanya ke dokter, tapi beliau menolaknya. “Tak usah, Nuk. Ibu cuma kecapekan.”
“Tapi, Nuk dan adik khawatir dengan kesehatan Ibu. Tarjo juga.”
“Tarjo di mana?”
“Lho… Tarjo PKL, Bu. Di bengkel. Pagi subuh dia berangkat.”
“Beberapa hari Ibu tak melihatnya.”
“Tarjo lembur. Pulang jam sebelas, dan ibu sudah tidur.”
“Bagaimana hasil jualan cucur?”
“Ada cucur yang kembali, Bu. Mungkin karena cucur buatan Nuk tak seenak bikinan Ibu.”
“Siapa bilang, Nuk. Cucur buatanmu sudah enak. Tak ada hubungan dengan jualan hari ini. Mungkin orang lagi bosan makan cucur. Semoga besok dagangan laris.”
“Amin.”
“Nuk, kau tahu mengapa cucur buatan Ibu rasanya enak? Karena Ibu membuatnya dengan perasaan tulus dan cinta. Dengan resep sama, bahan sama, akan mendapatkan hasil berbeda ketika kita mengerjakannya dengan terpaksa. Membikin kue tak asal bikin, ketika membuatnya dengan hati senang, maka kue pun menjadi sesuatu yang menyenangkan, dan disukai banyak orang.”
“Nuk mengerti Bu.”
“Ibu merasa seluruh badan lemas, Nuk. Mungkin karena Ibu sudah tua, ya?”
“Sudah sepuh? Padahal usia ibu menginjak 54 tahun. Tapi pengalaman pahit yang dilalui membuat ibu terluka. Namun gurat-gurat kecantikannya masih kentara. Karena kecantikan ibu pula ayah terpesona. Tapi gara-gara ibu ‘hanya’ bisa melahirkan tiga anak perempuan, lelaki itu memilih kabur menikahi janda muda – kaya raya. Kejam!
***
IBU menangis. Gemetar jemari kurus mengusap air bening dan hangat. “Maafkan Ibu, Nuk.”
Aku terdiam seribu bahasa. Haruskah aku memaafkan perbuatan Ibu? Aku memang menyayanginya, menghormati. Ibu bagi kami adalah segalanya. Karenanya kami bagai ditampar godam ketika mendengar mengakuan dosanya.
“Ibu hamil.”
Seperti mendengar petir di siang bolong. Hatiku seperti di patuk ular.
“Bu, Nuk tak percaya. Nunuk sulit percaya.”
Seandainya ibu memiliki suami, tentu kami tak kaget kalau beliau berbadan dua. Tapi sudah puluhan tahun ibu menjanda.Bapak tak pernah datang ke rumah, sejak menoreh arang hitam itu. Dan kini ibu tiba-tiba mengandung?
“Dengan siapa Ibu hamil?”
Ibu hanya menjawab dengan gelengan kepala. Semakin aku mendesak, air hangat bercucuran. Runtuh. Aku tak sampai hati. Tak tega.
***
SUNGGUH ibu telah mengecewakan kami. Ibu yang selama ini kami anggap perempuan suci, ternyata tak berbeda dengan wanita jalang. Siapa lelaki bejat di luaran yang telah mempermalukan kami? Mencoreng nama baik ibu sebagai janda?
Aku menatapnya ngilu. Mengapa dia tega melakukan perbuatan tak senonoh pada ibu. Apakah karena kesepian, ibu menjalin cinta terlarang dengan lelaki seumuran anaknya?
“Maafkan kami, Nuk. Kami khilaf.”
“Oh, Tuhan… ibu dan Tarjo sudah berzina.
“Kami akan menikah.”
Aku benar-benar mendengar geledek di siang bolong. Berulang-ulang.
***
UNTUK menutupi aib, ibu sementara waktu mengungsi di sebuah desa. Tarjo telah menikahinya. Aku yang tak tega pada ibu turut menjaganya. Tak ingin hal buruk terjadi pada perempuan yang tak pernah pelahirkan kami. Aku dan kedua adikku ternyata dipungut dari panti asuhan.
Ibu ternyata dicerai karena tak memiliki momongan. Ibu dilecehkan karena dianggap perempuan mandul, gabug. Ibu kemudian berjualan cucur, dan suatu hari memungut kami bertiga anak yatim piatu. Kedua orangtua kami tewas dalam bencana tanah longsor. Sungguh mulia hati ibu. Aku, kami, sangat menyayangi ibu, walau ibu telah membuat kami kecewa.
Enam bulan kemudian ibu melahirkan bayi perempuan. Kami memberinya nama: Cucur. (k)

[] Kota Ukir, 11 Januari – 21 Februari 2015

Kartika Catur Pelita; pegiat Akademi Menulis Jepara.
Rujukan:
[1] Disalin dari karya 
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Minggu Pagi” pada 14 Juni 2015