Dajjal di Kampung Surga

Karya . Dikliping tanggal 6 Agustus 2018 dalam kategori Arsip Cerpen, Suara Merdeka

Kegemparan pecah di Kampung Surga. Wajah para penghuni yang selama ini selalu berseri dibinari senyum suci, mendadak kusut oleh rasa takut. Penyebabnya adalah kelahiran seorang bayi pagi tadi dari rahim Kunti, remaja yang telah delapan bulan dikabarkan menghilang.

Bayi itu, bayi laki-laki berambut keriting itu, tak menunjukkan keanehan ketika kedua matanya terpejam. Namun jika kausibak kedua kelopak matanya, barulah kau tahu dia hanya memiliki satu bola mata. Rongga mata sebelah kanan gelap kosong seperti gua. Kelak, penduduk Kampung Surga meneriaki anak itu dengan sebutan Dajjal!

***

Warga baru saja selesai salat subuh berjamaah di musala ketika kehebohan itu bermula. Sekelompok ibu bermukena dalam perjalanan pulang dari musala berteriak-teriak, menggaduh luar biasa. Mereka menemukan seorang perempuan terbaring mengangkang, memakai daster bermotif bunga-bunga, dengan rambut terburai menutupi muka, di tepi kebun Haji Darmaji, sang imam musala.

Astaghfirullaahal’adziim, Kunti!” Seorang ibu berteriak setelah menyibak rambut dri wajah si perempuan dan mengenalinya.

Kalimat istigfar dan tasbih sahut-menyahut, tak putus-putus. Hari belum juga benderang ketika kerumunan melebar dan kehebohan membesar. Di dalam daster si perempuan, di antara kedua paha, sesuatu menggeliat: seonggok bayi merah dengan tali pusar masih terhubung dengan tubuh si perempuan. Bayi itu hanya bergerak-gerak kecil. Mulutnya terbuka, tetapi tak sepercik pun suara keluar.

Deru istigfar dan tasbih pun meninggi, memekik-mekik. Seorang ibu pingsan.

***

Dusun kecil yang dikelilingi hutan jati itu disebut Kampung Surga bukan tanpa alasan. Para penghuni, yang seluruhnya muslim, dikenal sangat giat beribadah. Musala sederhana di bagian timur dusun itu tak pernah sepi dari jamaah salat dan pengajian. Tak seperti di dusun-dusun tetangga (yang cukup jauh karena terpisah oleh hutan jati cukup luas), warga di dusun itu secara sukarela meninggalkan pekerjaan begitu lantunan azan sampai ke telinga. Tak hanya itu. Warga dusun itu juga sangat ramah. Ucapan salam assalamuíalaikum merupakan sapaan standar yang lebih sering terdengar di sana ketimbang di tempat mana pun. Seolah tidak puas oleh keunggulan-keunggulan itu, dusun tersebut menegaskan nuansa surgawi dengan satu keistimewaan: gaya hidup bersih warga. Bisa dipastikan, di dusun itu tak ada sejumput pun sampah berserak tidak pada tempatnya.

Julukan Kampung Surga kali pertama diberikan oleh seorang peneliti dari Departeman Agama yang sedang meneliti kehidupan keagamaan di dusun terpencil itu. Dalam laporannya, si peneliti menyimpulkan denyut gairah keberagamaan di dusun itu tidak bisa dilepaskan dari peran besar seorang tokoh karismatik, Haji Darmaji.

Haji Darmaji adalah lelaki berusia menjelang enam puluh. Ia bukan warga asli dusun itu. Pada usia dua puluhan akhir, ia datang dari sebuah pesantren di luar pulau (yang tak terlalu dikenal) sebagai pendakwah. Tiga tahun setelah kedatangannya, ia menikah dengan gadis setempat dan memutuskan menetap di sana.

***

Beberapa hari sejak kemunculan Kunti yang menggemparkan, misteri mengenai Kunti yang menghilang selama delapan bulan sebelumnya dan juga mengenai si bayi tidak juga terpecahkan. Kunti bungkam seperti orang hilang akal. Orang-orang pun menganggap ia sudah benar-benar gila dan bersepakat membawanya ke rumah sakit jiwa. Namun Hajah Kunarti, istri Haji Darmaji, mencegah. “Biar aku saja yang merawat Kunti dan bayinya,” katanya ketika itu.

Sebelum menghilang, Kunti tinggal berdua bersama neneknya di sebuah rumah papan sederhana di tenggara dusun, tak jauh dari kediaman Haji Darmaji. Sang nenek meninggal tiga bulan setelah Kunti menghilang. Orang-orang bilang, sang nenek meninggal akibat tekanan batin setelah kehilangan Kunti, cucu satu-satunya.

Setelah Hajah Kunarti mengungkapkan kesediaan merawat Kunti dan bayinya, atas permintaan Haji Darmaji, Kunti dan bayinya tetap tinggal di rumah yang dulu ia tinggali bersama sang nenek. Bukan dibawa ke rumah Haji Darmaji. Atas permintaan Haji Darmaji pula, kasus itu tidak dilaporkan ke polisi.

“Untuk menghindari fitnah dan kehebohan. Kasihan Kunti,” jawab Haji Darmaji ketika ditanya alasannya.

Hajah Kunarti pun kemudian lebih sering berada di rumah Kunti ketimbang di rumahnya. Karena jarak yang dekat, ia tidak mempersoalkan hal itu.

Tiga hari setelah Hajah Kunarti memutuskan merawat Kunti dan bayinya, timbul kehebohan baru yang tak kalah dahsyat dari kemunculan ajaib Kunti beberapa hari sebelumnya. Hari itu, Hajah Kunarti membelalak tanpa suara, menyadari si bayi dalam gendongannya hanya memiliki satu mata.

Ketika kali pertama mendengar hal itu dari sang istri, Haji Darmaji dengan raut muka sulit dijelaskan, hanya berkomentar singkat dan pelan, dengan suara bergetar pula, “Daj-jal….”

Komentar itu menimbulkan pertengkaran di antara Haji Darmaji dan Hajah Kunarti, sebelum Hajah Kunarti kembali ke rumah Kunti, dan mendapati Kunti menimang sang bayi sambil menyebut-nyebut sebuah nama, “Isa…. Isa….”

Maka jadilah, sejak hari itu, anak Kunti bernama Isa. Kunti pun berangsur-angsur bersikap normal, meski tetap bungkam soal peristiwa hilangnya ia dan kemunculannya delapan bulan kemudian dengan seorang bayi.

***

Isa telah berusia empat tahun lebih. Ia tumbuh dengan keengganan dan komentar-komentar tidak mengenakkan dari orang-orang di sekitarnya.

“Matanya satu, rambutnya keriting, sesuai dengan ciri dajal.”

“Semua bayi menangis saat dilahirkan karena disentuh setan. Kalian tentu ingat, anak Kunti bahkan sama sekali tidak bersuara ketika itu. Ia tidak menangis, sebab setan yang menyentuh ketika ia lahir tak lain adalah temannya.”

“Entah bagaimana si dajal itu sampai diberi nama Isa. Dalam salah satu hadis, Nabi Isa disebut sebagai sosok yang akan membunuh dajal pada akhir zaman. Menamai anak Kunti dengan Isa adalah penistaan terhadap Nabi Isa!”

“Barangkali, dulu Kunti dihamili jin kafir….”

Komentar-komentar itu bermunculan dan terus menyebar dari bisik ke bisik. Orang-orang tidak pernah secara langsung menyampaikan komentar-komentar itu kepada Kunti. Mereka bahkan selalu berusaha menghindar melihat Kunti dan anaknya. Jika terpaksa berpapasan dengan Kunti di jalan atau tidak sengaja melihat Isa kecil bermain di halaman rumah, mereka merasa jeri dan segera pergi.

Di luar komentar dan perlakuan buruk mereka kepada Kunti dan Isa, warga Kampung Surga tetaplah warga yang giat beribadah. Musala tetap ramai saat salat berjamaah. Salat mereka tetap khusyuk, sebelum pada suatu malam, sesuatu mengganggu kekhusyukan itu.

Ketika itu, salat isya telah sampai pada rakaat kedua. Kundori tengah menunduk khidmat di saf kedua, mendengarkan lantunan ayat Alquran yang dibacakan Haji Darmaji, ketika seorang anak kecil mengisi ruang kosong di sebelah kanannya dan bertakbir, menjadi makmum masbuk. Kundori, dengan sudut mata, segera mengenali anak kecil di sebelahnya. Dengan keterkejutan luar biasa, spontan ia berteriak, “Dajjal!”

Demi mendengar teriakan Kundori yang tiba-tiba, jamaah salat pun buyar. Hanya Haji Darmaji yang bertahan dengan salatnya, sementara seluruh makmum membatalkan salat dan memandang ngeri ke arah Isa.

Mendapat perlakuan seperti itu, Isa sontak berlari keluar musala. Ia telah sampai rumah ketika Haji Darmaji menyempurnakan salatnya. Di hadapan sang ibu, ia menangis sesenggukan.

“Kamu Isa… mereka yang dajal… merekalah dajal itu….” Berurai air mata, Kunti membisikkan kata-kata itu.

***

Malam itu Haji Darmaji mengigau. Bibirnya mendesis-desis, “Daj-jal…. Daj… jal….”

Hajah Kunarti yang terbangun begitu mendengar igauan itu. Dia berusaha membangunkan Haji Darmaji. “Pak? Pak?” Dia tepuk-tepuk pundak Haji Darmaji. Sia-sia. Haji Darmaji bertahan dengan igauannya.

Hajah Kunarti tidak tahu, ketika itu Haji Darmaji sedang bermimpi buruk. Dalam mimpi, seseorang menikam perutnya. Seseorang berambut keriting itu, sambil menggenggam pisau yang menusuk lambungnya, menatap dengan mata kiri berurai air mata. Bibir si penikam membisikkan satu kata, “Ayah….” (44)

Bhakti Persada Indah, Dini Hari, 22 Juli 2018

– Mazka Hauzan lahir di Cirebon, Desember 1993. Saat ini dia berusaha merampungkan studi S-1 yang telah memasuki tahun keenam di Jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang.

 

[1] Disalin dari karya Mazka Hauzan
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Suara Merdeka” Minggu 5 Agustus 2018