Dalam Bayangan Cinta

Karya . Dikliping tanggal 1 Juni 2015 dalam kategori Arsip Cerpen, Kedaulatan Rakyat, Koran Lokal
LENGANG menyungkup suasana; telah berjalan cukup lama; mungkin tak kurang dari jam, nasi goreng lombok ijo telah tandas. Sepertinya saling enggan untuk memulai membuka percakapan, seakan saling menunggu. Pengunjung setengah cafe semakin menyusut; dihelanya napas.
”Ada beban?” tanya si perempuan di depannya, menatapnya. Perlahan diangkat kepalanya;  dipandangnya wajah si perempuan, hanya sekilas. Kembali diam.
”Ada yang kau pikirkan, menggelisahkanmu, dan menjadi beban?” si perempuan melanjutkan tanyanya; ia tak menjawab, kembali menarik napas, dan dilepas disertai desah; kemudian,”Aku tahu, kau pasti menginginkan kepastian.”
Pelayan datang, sambil ibu jarinya menunjuk ke piring, meminta izin, ”Bisa ditarik?” Si perempuan menjawab, ”Silakan” dan berujar, ”Kami masih beberapa saat lagi.” Si pelayan menjawab,”Tutupnya masih agak lama.”
Sepi kembali menyambangi mereka; Ia diam. si perempuan juga diam, tak membalas dengan kata mengiyakan, meski memang itu yang selama ini ditunggu darinya, kepastian hubungan. Beberapa tahun sudah berjalan, tak kurang lima tahun, orangtuanya, terutama ibunya, sudah sering menanyakan,”Bagaimana kelanjutan hubunganmu dengannya? engkau perempuan, umurmu terus berjalan.”
”Kau tahu, aku beberapa kali hubungan dengan perempuan, dan selalu kandas di tengah jalan.” Ia hentikan kata-katanya, menunggu reaksi dari si perempuan.”Lalu kenapa?
Apa kaitannya dengan hubungan kita?”
”Apa yang ada dalam benakmu tentangku?”
”Tak ada apa-apa.”
”Tak pernah terlintas tentangku, laki-laki yang suka memainkan perempuan?”
”Kenapa mesti memikirkan hal seperti itu. Aku juga telah berganti beberapa kali kawan laki-laki.”
”Di antara perempuan yang pernah berhubungan denganku, dan kebetulan ada yang kau kenal, adakah yang pernah menceritakan tentangku?”
”Tak ada. Kalaupun ada, aku tak akan percaya begitu saja, sebelum aku membuktikannya. Biasa, kan, perempuan kalau merasa dikecewakan, ceritanya bisa lain. Tak juga beda dengan kaum laki-laki. Nyatanya sampai saat ini tak ada yang menceritakan keburukanmu, paling mengatakan, kau lelaki baik. Itu saja.”
”Itu saja? Tak lebih tak kurang?”
Si perempuan sedikit tertawa; ”Maumu cerita apa dan yang bagaimana?”
Ia kembali diam; diambilnya kentang goreng di depannya, beberapa potong dimakannya.
”Kenapa kau mau bertahan?”
”Aneh pertanyaanmu.” Ia diam, sedikit membetulkan letak duduknya, untuk dapat benar-benar menghadap pada si perempuan. 
”Tak ada alasan untuk meninggalkanmu, aku melihat kesungguhanmu.”
”Aku tak tahu, apakah engkau juga seperti mereka, setelah mendengar ceritaku, siapa aku, tentang asal-usulku, pelan mundur teratur, kemudian benar-benar menjauhiku.”
Si perempuan menatapnya dalam-dalam. Ingin menyelami samudera hatinya, penasaran, sepertinya misteri benar; apa sesungguhnya yang terkandung dalam dirinya, sehingga perempuan-perempuan yang pernah dekat dengannya, mundur teratur setelah mendengarnya.
Di luar tak, terutama dari perempuan yang pernah dekat dengannya dan kebetulan dikenalnya, tak ada cerita tentang dia berkelakuan buruk, selain mengatakan, dia laki-laki baik. Itu saja; tak lebih tak kurang., saat ditanya.
”Coba ceritakan, aku ingin mendengarnya,” si perempuan memintanya.
Ia tak langsung memenuhi permintaan si perempuan; gelas diangkat, bibir gelas dilekatkan di bibirnya, diteguknya beberapa kali isi yang ada di gelas.
”Bapakku dikenal sebagai penjahat”. Ia berhenti sampai di situ, ditunggu bagaimana reaksi si perempuan, si perempuan agak kaget tapi coba tak dinampakkan.
”Sekarang?”
”Maksudnya?”
”Masih?”
”Tidak.”
”Kan sudah tidak.”
”Setelah tertembak kakinya, meninggalkan cacat. Masyarakat pada umumnya kan tetap memberi label bekas penjahat. Mending koruptor, meski perbuatannya sama-sama jahat, masih dihormati, apalagi kalau pejabat.” Si perempuan diam; ia diam. Hampir bersamaan keduanya mengambil kentang goreng, mencocolkan ke saus.
”Dan tak tahu, aku dilahirkan secara sah atau tidak.”
Agak njenggirat-secara refleks si perempuan mengangkat kepala; wajah lelaki di depannya dipandang, cukup lama; seakan ingin membaca yang ada di balik wajah. Dengan tersenyum, lelaki yang ditatap berkata,”Kaget, ya.” 
Si perempuan belum berucap; ia masih menatapnya. 
”Tapi aku tetap menaruh rasa hormat pada bapakku, apalagi pada ibuku, yang melahirkanku,” lanjut kata-kata si lelaki.
”Bagaimana itu bisa terjadi,” tanya si perempuan, setelah menata hati.
”Aku mesti bercerita padamu, dan ini sesungguhnya terlambat; mestinya awal-awal ketika berkawan.”
”Tak ada yang terlambat.”
”Aku merasa bersalah kalau engkau nanti akhirnya kecewa.”
”Tak ada yang bersalah. Tak mungkin kau mendekatiku, menaruh perhatian khusus, dan bertahan sampai lima tahun, bersungguh-sungguh, kalau aku tak memberi jalan, membuka pintu, menerimamu.”
”Tetapi bapakku tanggung jawab. Kebutuhan ibu dipenuhi, pendidikanku diperhatikan. Aku bisa sampai lulus perguruan tinggi.”
”Bagaimana kau bisa berkata, dilahirkan sebagai anak sah atau tidak.”
”Dalam akta kelahiran yang tercantum sebagai orangtuaku nama ibuku.”
”Ooo…,” hanya itu yang keluar dari mulut si perempuan.” Sesungghnya bapakku anak seorang pejabat, cukup berada. Orangtuanya tak menyetujui, tak bersedia menikahkan dengan ibuku, pacar ba
pakku; Bapakku dipindahkan ke lain perguruan tinggi. Mungkin karena cintanya pada ibuku, tetap menafkahi, mungkin dengan uang saku dari orangtuanya, selama jadi mahasiswa. Dengan penghasilan sendiri setelah berpenghasilan.”
”Lalu dengan istri sekarang?”
”Dijodohkan orangtuanya, ada hubungan kerabat.”
”Bagaimana bisa jadi penjahat?”
”Mungkin karena pergaulan, pengaruh teman-temannya.”
”Apakah begitu lulus langsung jadi penjahat?”
”Tidak; setelah lulus diberi modal bapaknya, diberi satu perusahaan.”
”Jadinya penjahat?”
”Tak mampu mengelola perusahaan, jadi bangkrut. Orangtuanya sudah tak lagi mau membantu, hanya membiayai hidup keluarganya, sebatas untuk istri dan anaknya. Untung orangtua istrinya cukup kaya juga.”
Si perempuan kembali menyedot minuman di gelas, meski tak merasa haus, sebatas untuk menenangkan yang mulai berkecamuk di hatinya; mengambil kentang goreng; menggigit sambil menyandarkan bahunya ke kursi, pandangnya jauh dilepas. 
”Menyesal? Bingung bersikap?” Si perempuan tak menjawab. Hanya menatapnya.
”Lalu dengan bapakmu sekarang?” Si perempuan mencoba menunjukkan ketenangannya setelah mendengar cerita si lelaki.
”Ibuku cukup lama bertahan tak menikah; seingatku sampai aku kelas empat.”
”Bapakmu yang sekarang tahu?”
”Ibu terus terang.”
”Aktamu tak diubah? Kau tak diadopsi?”
”Tetap.”’
”Tetapi bapakku yang sekarang, sangat baik denganku. Memperlakukanku tak ubahnya sebagai darah dagingnya sendiri.”
***
Sudah terdengar satu dua kokok ayam. Tak lama lagi subuh. Hari menjelang fajar Si perempuan belum juga bisa pejam; meski beberapa kali menguap. Digelisahkan oleh batinnya. ”Bagaimana aku mesti menjelaskan pada bapak ibu yang masih memegang bibit-bebet-bobot?” Adzan subuh berkumandang. q- g
Jakarta, 291212
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Dharmadi
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Kedaulatan rakyat” pada 31 Mei 2015