Dalam Lipatan Kain – Penjara Muara- Pintu Hari Baru – Tiga Jam Telah Lewat

Karya . Dikliping tanggal 17 November 2014 dalam kategori Arsip Puisi, Koran Tempo

DALAM LIPATAN KAIN

Kutemukan kembali namamu
dalam lipatan kain

dengkurmu, jatuhan bulu matamu, potongan kukumu
dengung kalimat terakhirmu sebelum pohon angasa itu
tercabut dari pangkal.

“Hallo, sisa dengkurku
telah menyelamatkanku dari mimpi buruk
dari hari buruk
dari masa lalu yang remuk.”

Tapi jatuhan bulu matamu adalah kangen terbengkalai
potongan kukumu memberi tanda bahwa usia kian selesai
dengung kalimat terakhirmu merupa penolakan hari baru.

Kulipat kain
kulipat namamu
kulipat waktu.
Padang, Agustus 2014

PENJARA MUARA

Sebab ketakutan ada dalam retakan dinding

coretan tanggal dengan angka berlepasan
hari kabur
bulan terbudur
tahun demi tahun terbujur.

Sebab ketakutan ada dalam retakan dinding
kereta tua dengan loko mampus
rel sepanjang muara diputus
jerit orang-orang rantai terperam batubara
dingin menyisip
dencing jeruji beradu besi
dingin mengapit
dentang kuali dipukul malam.

“Hamba sahaya, Tuan. Istri mati
tinggalkan anak yang tiga.”

“Hamba buangan, Tuhan. Berkahi kami
kematian cepat tanpa bahasa dendam.”

Ketakutan, jagalah kami
di antara ruang tidak seberapa ini
di koridor busuk dengan kawat bergetar ini
jagalah kami, bersama maut, biarkan kami luput.

“Bapak, Bapak… kecuali rel sudah diputus
ke mana jalur akan kami perlurus?”
Padang, September 2014

PINTU HARI BARU



Telah engkau lepaskan aku dari tubuhmu
kau biarkan aku berjalan ke daratan tak bernama itu.

Punggungku dibekali batu-batu, dadaku diasapi bara gaharu
perutku dituangi panasnya gulai tembusu, lengking tangis
membuat satu-persatu pecahan pada pembuluh darahku.

Dari rahimmu kutemukan pintu nasibku
pintu hari baru

meski pembebasan
adalah ketakutan paling dahulu.
Padang, Agustus 2014

TIGA JAM TELAH LEWAT




Tiga jam telah lewat dan malam hampir tergusur
ke dalam serakan kaca meja.

Masih ada harum gerai rambutmu
anggur terserak ke lantai
sisa mabuk berat membuat udara menebar batuk.

“Aku dengar musik, adinda. Kersik daun kering
pasir teralih badai, batu-batu hitam tenggelam
ke dasar kolam.”

Masih tersisa lesatan cahya matamu
tapi tiga jam telah lewat
waktu begitu cepat membuat napas berangkat.

Parak siang ini
kesendirian benar membikin nyeri
aku jauhkan jantung dari detak
kusembunyikan rabu dari udara bergerak
dan getar jam itu
derik bohlam hampir putus itu
kletak suara sepatu…

“Aku dengar musik, adinda. Langit beralih warna
ledakan bintang, pohon tumbang, dan jatuhan
tubuh ke sebuah jurang.”

Tiga jam telah lewat
dan malam sempurna pudur.

Padang, September 2014

Esha Tegar Putra, kelahiran Solok, 29 April 1985. Tinggal di Padang dan mengelola Komunitas Kandangpati.

Rujukan
[1] Disalin dari karya Esha Tegar Putra
[2] Tersiar di surat kabar “Koran Tempo” pada 16 November 2014