Dan Batu pun Menitikkan Air Mata – Sebilah Pisau di Matamu – Ada Yang Datang, Ada Yang Pergi – Jejak Buram Penyair Mirdad

Karya . Dikliping tanggal 26 Juli 2015 dalam kategori Arsip Puisi, Jawa Pos

Dan Batu pun Menitikkan Air Mata

:Catatan buram dari Lapindo

hanya sebongkah batu
tapi ia mulai menitikkan
air mata lewat retakan kecil di sudut kirinya,
ketika ia dengar kembali rintihan itu,
sedusedan itu,
: pohon-pohon pisang yang tiba-tiba lunglai
pohon-pohon mangga yang ranggas daun-daunnya
anak-anak yang kehilangan halaman bermainnya
dan orang-orang yang terusir dari rumahnya
hanya sebongkah batu. tapi tak dapat lagi menahan suara tangisnya, ketika serangga-
serangga mati dan burung-burung pergi tak kembali
ketika lumpur menggenang makin tinggi
merengkuh atap gereja dan masjid dalam sunyi
atap-atap rumah pun tertimbun
dalam derita yang tak tersudahi
: sambil berlari, seorang bocah menunjuk
seraut wajah di televisi, tapi sosok itu cepat
dirahasiakan
di balik pintu kulkas yang listriknya mati
hanya sebongkah batu. tapi ia tak dapat lagi
membendung air matanya, ketika suara tangis
anak manusia tak lagi tersisa
tinggal hati yang beku
lebih keras dari batu
Sidoarjo, 2010/2013

Sebilah Pisau di Matamu

sebilah pisau di matamu kembali berkilat
mengincar leherku
aku hendak berkelit, tapi rindu itu menarik 
jantungku ke belahan dadamu. maka pisau
itu pun tersenyum, berkilat
memutar ujungnya ke celah tulang igaku
nanti dulu. jangan  terlalu cepat
membunuhku. sebab, hutang cinta
belum terbayar oleh benci, dan hutang rindu
belum terlunasi
oleh dekapmu. jika aku mati, siapa bakal
melunasi hutangku.
tak mungkin kupu-kupu yang baru lepas dari
kepompong jiwa bisa menuntaskan semua
hutangku pada Rindu.
sebilah pisau di matamu berkilat dan tersipu,
membiarkan rindu
bersayap jadi kembang madu, menyengat
jenjang lehermu.
Jakarta, 2013

Ada Yang Datang, Ada Yang Pergi

ada yang datang ada yang pergi
mencatatkan maut.
pada malam di stasiun waktu kubaca namamu
pun ada di peron stasiun itu tertoreh dengan 
warna biru 
bersama nama-nama yang tak pernah engkau
baca pada koran  kota dan televisi dungu
karena mereka bukan karibmu
tiap malam tiba dengan segenggam rahasia,
di perin itu selalu ada yang tampak menunggu,
untuk seseorang atau sekadar  bunuh diri bersama rindu.
bidak-bidak catur pun dimainkan,
menebak nasib yang tak tercatat
pada lembar-lembar buku harianmu
bangku-bangku menyimpan masa lalu
dalam bisu
sekaligus menyongsong hari-hari baru
kenangan-kenangan baru, lalu membiarkannya
berlalu. bidak-bidak catur pun beringsut pelan
mendekati nasib pada sesobek penanggalan.
akan beringsut ke mana nasibmu? ke pintu
maut atau hari kelahiran baru? kereta mana
yang sedang kau tunggu? sudah adakah
sesobek karcis di tanganmu?
selalu ad ayang datang
selalu ada yang pergi
mencatatkan diri pada malam
dan takdir yang bisu
Jakarta, 2013

Jejak Buram Penyair Mirdad

rambutmu telah memutih sempurna
tapi jejakmu belum sampai juga
pada tamsil mimpi yang menggeliat
pada metafor pemantik makna sajak
ada langkah yang terantuk batu
ada gapai yang tak sampai
cakrawala makin jauh
dalam sajak yang keruh
dahimu mulai berkerut
pada nasib yang lasut
dan jam yang lapar
menenggak usiamu
lalu memuntahkan sisanya
pada setumpuk kalender lapuk
di mana mesti kita eja harapan
ketika langit jiwa mengerut
pada sebait sajak yang kusut
ke mana mesti kita hela angin
ketika arah membeku
pada kompas yang gagu
: kepadaKU, kata maut
pada gadget dungu
di gigil tanganmu
Jakarta,2012

Ahmadun Yosi Herfanda lahir di Kaliwungu, 17 Januari 1958. Ia dikenal sebagai penyair religius-sufistik, tapi juga banyak menulis cerpen, kolom dan esai sastra. Selama 16 tahun menjadi redaktur sastra Harian Republika (1993 -2009). Sejak 2010 dia mengajar Creative Writing dan Academic Writing pada Universitas Multimedia Nusantara (UMN) Serpong.    Ia sering menjadi pembicara dan pembaca puisi dalam berbagai forum sastra nasional dan internasional di dalam dan luar negeri. Saat ini Ahmadun juga menjadi ketua tetap Jakarta International Literary Festival (JILFest) dan anggota pengarah Pertemuan Penyair Nusantara (PPN).
Rujukan:
[1] Disalin drai karya Ahmadun Yosi Herfanda
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Jawa Pos” Minggu 26 Juli 2015