Dari Sebuah Lobang

Karya . Dikliping tanggal 26 November 2018 dalam kategori Arsip Cerpen, Media Indonesia

TAN punya kebiasaan aneh: memeriksa lubang di setiap dinding yang ditemuinya. Sekalipun hanya ada kesunyian di balik dinding, sebuah lubang selalu membuat rasa penasarannya terdesak keluar.

Kebiasaan ini bermula saat Tan berumur 10 tahun. Ketika Mama tak lagi membacakan dongeng sebelum tidur untuk Tan, tetapi menyuruhnya menghitung domba dengan suara lantang. Mama juga berpesan agar Tan tak keluar kamar sebelum ada yang membangunkannya di pagi hari.

Malam itu, terlalu banyak domba yang melompat di kepala Tan. Batang tenggoroknya mulai kering, ia berhenti menghitung. Mata Tan mengerjap, mulutnya melumat-lumat agar air liurnya jadi banyak. Telinga Tan terbuka, mendengar kesunyian yang sesaat kemudian diganggu oleh suara berisik. Suara yang asalnya dari kamar sebelah, milik Mama-Papa.

Tan ingat larangan keluar kamar, tapi suara di sebelah sangat mengusik. Ia turun dari tempat tidur mengendap-endap, memutar kenop pintu perlahan, tapi pintu tak mau terbuka. Matanya mulai menyisir seluruh kamar, pandangannya tertumbuk pada lubang-lubang di dinding. Lubang itu menghubungkan kamarnya dengan kamar Mama-Papa.

Mama memang melarangnya keluar kamar, tapi tak pernah melarangnya melihat kamar orangtuanya. Sebuah kursi digeser pelan, tepat di bawah tiga lubang berformasi segitiga. Dari salah satu lubang yang paling bawah, Tan melihat apa yang terjadi di kamar orangtuanya. Mama dan Papa saling berpandang. Dia ingin menyapa, melambaikan tangan dan memasang senyum lebar seperti badut. Tetapi apa yang dilihatnya kemudian membuatnya terdiam. Papa menarik rambut Mama dan menghempaskannya ke lantai. Mama menangis sembari menutup mulutnya.

“Kita cerai saja! Bawa anak itu!” kata Mama sedikit berbisik.

“Tidak! Bawa saja dia!”

Tan melorot dari kursi. Ia mulai menutup kedua telinga dari apa pun yang Mama-Papa katakan.

***

Hari-hari Tan beranjak remaja di rumah itu bersama Mama diisi dengan kebungkaman. Tak ada suara yang bertanya tentang harinya di sekolah, bagaimana kabarnya, apa sarapan favoritnya, dan apa ia ingin membawa bekal. Mereka menjadi asing satu sama lain.
Di pagi hari, setelah berias untuk kerja, Mama pergi ke meja makan. Ia membuat segelas kopi, mengoles beberapa roti tawar dengan selai kacang untuk dirinya sendiri, lalu buru-buru memakannya. Tan yang sudah memakai seragam putih-biru menyusul ke meja makan dan melakukan hal sama.

Seusai sarapan singkatnya, Mama akan meletakkan beberapa lembar uang di dekat Tan, bertanya ‘segini cukup, kan?’ lalu pergi tanpa mengelus kepala Tan. Beberapa menit kemudian, Tan menyusul. Sebelum berangkat sekolah, ia bersalaman dengan gagang pintu, berpamitan pada rumah kosongnya.

Sepulang sekolah, Tan disambut kembali oleh rumah kosong dan kehampaan akan melingkupinya sepanjang hari. Ia merasa senasib dengan seorang gadis di salah satu dongeng Mama. Mama pernah bercerita tentang seorang gadis berambut panjang yang dikurung seorang penyihir di sebuah menara sangat tinggi selama bertahun-tahun.

Sekarang, ia juga terkurung oleh sepi yang Mama ciptakan. Sepulang kerja, Mama lebih suka pergi dengan temannya hingga larut. Sampai di rumah, Mama lebih memilih mendengarkan suara televisi sembari bermain ponsel. Setelahnya, Mama akan masuk ke kamar tanpa mengucapkan selamat malam pada Tan.

Tak ada yang perlu Mama cemaskan tentang Tan. Sekolahnya berjalan baik, Tan tak pernah terlambat, tak pernah dihukum, tak pernah dapat surat peringatan. Tan bisa mengurus hidupnya sendiri.

Suatu hari, kepala Tan mulai dipenuhi pertanyaan: Apa Mama menangis diam-diam di kamar seperti dirinya? Apa Mama ingin mengatakan sesuatu padanya? Apa Mama merindukannya?.

Lubang itu menjadi harapan lagi bagi Tan. Barangkali dia melihat Mama menangis pilu di kamar, pertanda Mama menyesali semuanya Mama juga hancur seperti dirinya. Tan menurunkan lukisan berwarna hitam dengan sedikit coretan abstrak warna putih yang menutupi lubang itu sejak dua tahun belakangan. Matanya mencari sosok Mama. Tan kembali terkejut! Mama merokok! Di atas ranjang, sembari memainkan smartphone. Saat meniupkan asap-asap itu ke udara, wajah Mama terlihat bahagia. Lepas. Bebas.

Tan berpikir sejenak, kemudian mengecek uang dalam dompetnya.

***

Dari Sebuah LubangBulan-bulan berlalu begitu cepat, secepat lenyapnya asap rokok yang Tan tiupkan di halaman belakang rumahnya setiap hari. Secepat hilangnya aroma tembakau sebelum Mama pulang kerja. Tan kini telah memakai seragam putih dipadu abu-abu.

Ada sebuah tempat yang Tan temukan di sekolah baru. Di belakang kantor kepala sekolah. Hebatnya, ada sebuah lubang di tempat itu. Dari situ, Tan bisa mengintip ruang kepala sekolah. Seperti sekarang, Tan bisa melihat seorang siswa laki-laki yang tengah dimarahi Kepala Sekolah.

Ia menjulurkan lidah seraya mengacungkan jari tengahnya saat Kepala Sekolah memunggunginya. Namun, buru-buru kembali ke sikap tegak sempurna dan menunduk ketika dipelototi Kepala Sekolah. Ia lucu. Bibir dan hati Tan tersenyum bersamaan.

Sepulang sekolah, Tan melihat laki-laki itu berjalan santai ke kantin. Melakukan tos dengan teman-teman yang juga mengeluarkan kemeja sekolah mereka. Salah satu siswa mengoper rokok pada laki-laki lucu itu. Tan tersenyum lebar. Mungkin kita akan cocok. Hatinya berbicara sendiri.

“Siapa dia?” tanya Tan pada teman yang duduk di sebelahnya.

Namanya Juan. Siswa dari ‘kelas neraka’, kelas yang membuat para guru dihinggapi migrain sepanjang tahun.

Hari berikutnya, Tan sengaja menciptakan situasi agar Juan melihatnya membawa rokok. Agar ia bisa jadi teman Juan, bisa dekat dengan Juan, atau bahkan, jadi kekasihnya.

Berhasil! Mata Juan tak berhenti menatap Tan yang duduk menyilangkan kakinya di bangku kantin, dengan rokok di pangkuan rok pendeknya. Tan bagaikan magnet untuk Juan. Perokok dan pelanggar peraturan seperti dirinya. Tak butuh waktu lama, mereka pun pacaran.

Di mata Tan, Juan menjadi satu-satunya orang di dunia ini yang menginginkannya. Begitu pula dengan Juan, karena ibunya hanya ingin pria baru yang kaya untuk dijadikan suami, dan ayahnya entah siapa ia tak pernah tahu.

Tempat rahasia yang Tan temukan menjadi tempat spesial untuk mereka. Di sanalah mereka saling bertukar cerita dan asap.

Sore itu, puntung-puntung rokok berceceran di bawah sepatu Tan dan Juan. Wajah mereka berdua kusut dari pagi dan yang mereka lakukan sepulang sekolah hingga sore di tempat itu hanya mengepulkan asap tanpa bersuara.

“Mama mau pindah kerja ke luar kota,” akhirnya Tan bersuara.

Juan masih menatap lurus dan datar, “Nyokap mau kawin lagi.”

Mereka terdiam lagi. Keheningan di antara mereka akhirnya dirusak oleh suara-suara dari ruang Kepala Sekolah. Ada suara seorang perempuan, entah siapa. Juan dan Tan memutuskan untuk mengintip. Awalnya yang dilihat biasa saja. Lama-lama, Kepala Sekolah dan perempuan itu mendekat, saling mencium. Kemudian, Kepala Sekolah membaringkan perempuan itu di atas meja kerjanya. Mereka setengah telanjang.

Tan terperangah. Dia menoleh, saling tatap dengan Juan. Tapi tatapan Juan bukan tatapan heran. Tatapannya berbeda.

***

Di Ruang Konseling, Mama sedang diberitahu oleh guru bahwa Tan kepergok melakukan yang tidak-tidak dengan Juan. Guru juga membeberkan puntung-puntung rokok yang ada di sana. Mama hanya bilang ‘iya’ saat guru memberi tahu bahwa Tan harus pindah sekolah.

Sesampainya di rumah, Mama menggeret Tan ke ruang tamu. Melemparkan tubuh Tan ke sofa. Tanpa bicara apa-apa, Mama membanting vas kaca, disusul asbak dan taplak meja, ke lantai.

Di hadapan Tan, Mama menendang kursi, melempar apa saja yang bisa dilempar, memecah apa saja yang bisa dipecah. Tangisan dan teriakan Mama terdengar di antara bunyi barang yang pecah. Tan menyaksikan kehancuran ruang tamu karena Mama. Sekaligus menyaksikan satu-satunya kehancuran Mama yang diungkapkan di depannya.

“Siapa yang ngajarin merokok?!” Mama bertanya setengah membentak. Mama menghampiri Tan, meremas bahu Tan, dan mengguncangkannya pelan. Pertanyaan itu diulang berkali-kali. Tan hanya diam, menunduk, tak berani menatap wajah Mama yang kuyup.

“Siapa yang ngajarin kamu…” suara Mama tercekat, seolah ada yang menarik kata-katanya masuk kembali.

“Kenapa kamu melakukannya?” pertanyaan itu akhirnya keluar seiring dengan tangis Mama yang lebih keras. Tubuh Mama melorot perlahan, kepalanya berada di pangkuan Tan.

“Siapa yang ngajarin kamu nakal, Tan? Kamu putri penurut yang Mama punya,” Mama bergumam di pangkuan Tan, di antara tangis yang terus pecah.

Air mata Tan jatuh begitu deras. Mama menginginkanku, Mama menginginkanku… Kalimat itu terus-menerus diucapkan hatinya, membuat tangisnya semakin dalam, hingga rasanya dadanya mau meledak karena terlalu sesak.

Di antara semua sesal, pikiran Tan kembali merunut letak ujung prahara yang menimpanya. Amarah Tan meruncing saat logikanya menasihati, sebaiknya ia menyalahkan diri sendiri. Menyalahkan reaksinya–yang telanjur terjadi ketika melihat apa saja yang seharusnya tidak ia lihat, dari sebuah lubang. Tan menangis semakin keras. (M-2)

Putri Lestari. Saat ini sedang tinggal di Yogyakarta. Bekerja sebagai pengajar paruh waktu dan bergabung dengan beberapa komunitas menulis


[1] Disalin dari karya Putri Lestari
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Media Indonesia” Minggu 25 November 2018