Daun-daun Maple

Karya . Dikliping tanggal 2 Juli 2016 dalam kategori Arsip Cerpen, Cerpen Lawas, Majalah, Majalah Matra
DAN, DAUN-DAUN MAPLE PUN BETERBANGAN DIDERA ANGIN MUSIM DINGIN. HATINYA LULUH. CUACA MASIH SAJA gelap dan suram, kendati hari belum terlampau petang. 
Hingga hari itu temperatur udara tidak juga beranjak naik, sementara suhu kian menukik tajam, sebelas derajat Celcius di bawah nol. Saat-saat terdingin, dalam winter kali ini.
Dinaikkannya kerah baju tinggi-tinggi. Syal tuanya yang lusuh ternyata masih mampu menahan tikaman hawa dingin. Sebentar lagi Natal akan turun. Namun, tak sekeping uang pun terselip di saku jaketnya. 
Rasanya cuma orang gila yang mau duduk di taman dalam cuaca seburuk ini. Dan, itulah yang sekarang ia lakukan. Duduk sendirian memandangi daun-daun maple kering, yang menggigil di bawah timbunan es. Gerisiknya bagai gesekan biola sumbang di telinganya. 
Entah sudah berapa bis lewat begitu saja, lenyap dari pandangannya. Namun, dia tetap enggan beranjak, sementara halte di seberang taman mulai lengang. Hanya tinggal seorang nyonya tua, yang berdiri ditemani anjing setianya. 
Apa yang dinantinya di sini; kemurahan hati, ataukah keajaiban dalam bayangan musim dingin yang muram? Bagai menghadang ketidakpastian yang serba-nisbi, hasratnya tiba-tiba merasa lapar. Ia rindu pada sesuatu yang entah. Tapi, lagi-lagi kakinya terasa berat untuk melangkah. 
Taman itu masih saja sepi, tidak terawat. Ranting-ranting pohon maple tampak keabu-abuan disaput kabut, sedang matahari bersembunyi entah di mana. Sudah lama ia tidak melihatnya. 
Lampu apartemen di belakang taman satu per satu nampak mulai dinyalakan. Padahal, hari belum gelap benar. Begitulah winter, di mana-mana selalu menyamarkan waktu. 
Tanpa ia sadari, sang nyonya dan anjingnya sudah berlalu. Kini halte bis itu benar-benar kosong, bagai sebuah lukisan tanpa titik dan garis. Datar, kehilangan emosi. 
Laki-laki itu tercenung sesaat. Sebuah mobil melintas cepat, membawa sebatang pohon Natal di bagasi atasnya. Tenggorokannya yang kering bagai tercekat. Andai dirinya si pengemudi, akan ia tanam pohon itu di taman ini.
Kemudian akan ia ajak semua orang untuk bersama-sama menanamnya di sini. Tidak cuma sebatang, namun berpuluh-puluh, bahkan beratus-ratus. Betapa fantastisnya jika taman ini dipenuhi pohon maple.
Lalu, kepada setiap anak akan ia bagikan beragam hadiah, yang tak berani mereka angankan; rupa-rupa mainan, setumpuk pakaian hangat karya busana perancang terkenal koleksi rumah-rumah mode, serta berpasang sepatu bagi kaki-kaki kecil yang pucat kedinginan. Sudah tentu keluarga mereka tidak ia lupakan. 
Hari itu ia ingin mengadakan pesta buat mereka yang baru menjadi manusia kembali. Sebuah meja panjang segera dipasang di tengah taman. Roti, daging, keju, cokelat, susu, dan anggur lezat terhidang melimpah-ruah.
Tamu-tamunya datang berpakaian lengkap. Mereka turun dari mobil-mobil mewah berkilat mulus. Aroma parfum merebak tajam. Dia sendiri memakai jas dan dasi sutra Cina. Mantelnya terbuat dari wol tebal. Topi tinggi hitam bertengger di kepala. Sebatang tongkat komando dikepit di ketiak, membuatnya tampak gagah berwibawa.
Laki-laki itu tertawa lebar menyambut tamu-tamunya. Mereka bersalaman dan berpelukan hangat satu sama lain. Dengan sorot bangga, matanya menyapu berkeliling, memandang suasana pesta taman yang meriah itu. 
Ratusan bintang berkelap-kelip dari pucuk-pucuk pohon maple. Butiran es menyelimuti daun-daunnya. Lonceng dan lampu-lampu hias tampak bergoyang ditiup angin. Kendati udara semakin dingin, tak seorang pun ambil peduli.
Mereka berkumpul di tengah taman. Seseorang, tampaknya seorang pendeta, maju ke depan. Matanya yang teduh menatap umatnya satu per satu. Dengan suara bergetar, ia memimpin misa Natal kali itu.
Semua yang hadir kelihatan menyimak khusyuk tatkala pendeta tua itu menyemaikan benih kasih sayang ke hati mereka masing-masing. Suasana terasa hening, tak seorang pun berani bersuara. Hanya suara sang pendeta terdengar jernih bagai air yang mengaliri celah-celah nurani, menghanyutkan segala kepedihan hidup.
Misa Natal kali ini terasa lain dari biasa, kata laki-laki itu nyaris berbisik pada dirinya. Hidup hari ini bagai sebuah impian, ataukah hari kemarin hanya rangkaian ilusi belaka? Ia enggan mencari jawabnya.
Usai doa bersama, mereka beranjak ke meja makan. Di sana para pelayan sudah menanti. Alunan musik dari sebuah grup kuintet mengiringi mereka bersantap. 
Seseorang lalu membuka botol anggur dengan ibu jari. Tutupnya terpental ke atas, menimbulkan bunyi letupan. Sebagian isinya tumpah membasahi ujung kemeja jasnya. Yang melihatnya cuma bersorak ringan.
Beberapa anak, pria dan wanita, saling berpegang tangan membentuk lingkaran. Mereka berputar kencang, sambil menari riang. Tiada lagi muka-muka masam berselimut kecemasan.
Seraya menyilangkan kedua tangan ke dada, laki-laki itu menatap tulus kegembiraan demi kegembiraan mereka. Belum pernah ia merasa lebih bahagia dari hari ini; pohon maple sepenuh taman, dan orang-orang yang terbebas kembali ke harkatnya.
Entah berapa botol anggur telah dikuras isinya. Yang berpesta pun sebagian kelihatan mulai lelah. Namun, gelak-tawa masih terdengar di sana-sini, meninggalkan sisa sendawa.
Laki-laki itu tak mau mabuk kepayang dalam kenikmatan tanpa batas. Ia ingin merasakan denyut kehidupan yang sesungguhnya. Ditatapnya wajah-wajah letih namun bahagia itu. Ditatapnya pohon-pohon maple. Ditatapnya pula lampu-lampu, yang terang-benderang di tangan bidadari-bidadari hias. Sebuah Natal, yang entah kapan akan datang lagi, begitu kata hatinya. 
Dan begitulah pada akhirnya. Damai di hati, damai di bumi. Satu per satu tamunya undur diri sambil menyalami laki-laki itu. Sopir-sopir pribadi berseragam kelasi, dengan sikap runduk penuh hormat, segera membukakan pintu bagi tuannya. Lalu, iring-iringan mobil itu pun menghilang menembus kepekatan malam.
TAMAN ITU MASIH SAJA SEPI, TIDAK TERAWAT. Ranting-ranting pohon maple tampak keabu-abuan disaput kabut, sedang matahari bersembunyi entah di mana. Sudah lama ia tidak melihatnya. 
Lampu apartemen di belakang taman satu per satu nampak mulai dinyalakan. Padahal, hari belum gelap benar. Begitulah winter, di mana-mana selalu menyamarkan waktu.
Tanpa ia sadari, sang nyonya dan anjingnya sudah berlalu. Kini halte bis itu benar-benar kosong, bagai sebuah lukisan tanpa titik dan garis. Datar, kehilangan emosi.
Laki-laki itu tercenung sesaat. Sebuah mobil melintas cepat, membawa sebatang pohon Natal di bagasi atasnya. Tenggorokannya yang kering bagai tercekat. Andai dirinya si pengemudi, akan ia tanam pohon itu di taman ini.
Kemudian akan ia ajak semua orang untuk bersama-sama menanamnya di sini. Tidak cuma sebatang, namun berpuluh-puluh, bahkan beratus-ratus. Betapa fantastisnya jika taman ini dipenuhi pohon maple.
Namun sayangnya, dia bukanlah pengemudi mobil itu. Bukan pula tuan hartawan yang mnjadi Sinterklas bagi kaum fakir. Tidak juga pemilik toko yang tadi pagi berbaik hati memberinya sekerat roti gandum. Dia cuma seorang laki-laki. Itu saja! Selebihnya, ia tidak ingat.
Tapi setahunya, dialah orang yang paling mengerti tentang laki-laki itu; segala impiannya, juga kerinduannya malam demi malam. Cuma dia satu-satunya yang dapat mendengar alunan musik dari hati laki-laki yang duduk sendirian di taman itu. 
Dipungutinya daun-daun maple kering yang jatuh tertiup angin. Lalu, dirangkainya helai demi helai menyerupai mahkota, dan diletakkannya ke atas kepala. “Akulah Sang Raja, pembawa kalam bagi dunia,” katanya lantang. Lagaknya bak tukang obat pinggir jalan.
“Ayo, mari berkumpul. Sang Raja telah datang,” imbaunya. Namun, tak ada tanggapan sedikit pun. “Saudara-saudara, tengoklah rajamu turun ke dunia.” Lagi-lagi tiada reaksi. “Tak adakah yang mau bercengkerama dengan rajanya?” tanyanya geram campur amarah.
“Dengarkanlah, hai umatku. Semakin tinggi tingkat akal budi manusia, makin tipis kesadarannya pada nilai-nilai yang hakiki. Keadilan, kemanusiaan, dan kasih sesama sekadar gelembung kata-kata yang mudah pecah dan menguap begitu saja di udara. Lalu, ke mana lagi kalian harus becermin kalau bukan ke kedalaman hati masing-masing?” katanya menggebu.
Ranting-ranting pohon maple mengangguk-angguk sedih. Angin melenguh, menyembunyikan rasa jengahnya. Belum pernah ada seorang pun yang berani berpidato seperti itu di taman ini; berdiri angkuh di bangku kayu, dengan jari telunjuk mengarah ke atas seolah menghujat langit.
Tapi, laki-laki itu tak peduli. Ia terus saja menyeru kepada “umatnya”. Ia juga tidak peduli pada hawa dingin yang menikam dalam. Walau wajahnya nampak pucat, terus saja ia menyeru dan menyeru. Entah pada siapa lagi. 
Awan hitam tampak mulai letih. Iba melihat tingkahnya. Makin lama suaranya kian menurun. Lalu ia terkulai lemas di atas bangku bagai panglima kalah perang.
Mendadak laki-laki itu meraung parau. Kebanggaannya benar-benar rontok. Betapa cepat dunia terbalik. Dalam waktu singkat, ia keluar sebagai pecundang.
Hembusan angin melarikan kepedihannya jauh-jauh. Sesungguhnyalah tak terkirakan luka hatinya saat itu. Dicengkeramnya rambut kepala. Mahkota daun maple masih teronggok di sana. Ia renggut paksa. 
Laki-laki itu menangis terisak bagaikan anak kecil. Tubuhnya melingkar tipis di bangku kayu tanpa harapan. Lonceng gereja berdentang nyaring, sama sekali tak menggugahnya. Mimpinya telah terbang. Lenyap begitu saja.
Bujuk manis sekalipun agaknya takkan mampu membangkitkan semangatnya. Hidupnya mendarat sukses di tepi liang lahad. Tak ada lagi yang ia inginkan. Kecuali, mati!
Sungguh tak terbayangkan olehnya, bagaimana ia dapat hidup di tengah kematiannya sendiri. Dipandanginya jasadnya yang terbujur kaku di dalam peti. Tidak seorang pun datang melayat dan memberikan penghormatan terakhir pada tubuh itu. Satu-satunya orang yang hadir hanya dirinya, dan si penggali kubur yang bekerja separuh hati, dengan muka masam tanpa bayaran.
Menyedihkan sekali akhir hidupnya, katanya lemah. Tidak ada taburan bunga, apalagi upacara megah, menghantar dirinya menuju gerbang penghabisan. Tiada lengking terompet dan suara genderang mengiringi perjalanan jiwanya. Bahkan tak seorang pendeta pun sudi membacakan ayat-ayat penghiburan. 
Dirinya cuma seonggok daging, yang beku dalam balutan tuksedo kusam, terkesan seadanya. Peti matinya pun hanya terbuat dari kotak apel bekas. Sangat mengharukan hati.
Laki-laki itu tersedak, namun air matanya tak mampu mengalir. Kepedihannya tiada terperi. Dengan tubuh gemetar, dia berdoa bagi jasadnya yang malang. 
Dengan tergesa-gesa penggali kubur mengeruk gundukan tanah dan menimbun lubang yang menganga itu. Tatkala peti yang berisi jasadnya hilang ditelan bumi, laki-laki itu merasa tidak memiliki siapa-siapa lagi.
Tamat sudah riwayatnya. Tiada yang tersisa kini. Daun-daun maple seolah mafhum, merelakan diri gugur menyelimuti pusaranya. Itulah satu-satunya saksi bahwa dia pernah ada.
Laki-laki itu menggeleng-gelengkan kepala ke kiri dan ke kanan, lalu kanan dan kiri lagi, kiri-kanan, kanan-kiri-kanan, kiri-kiri-kanan, tak beraturan. Dia benar-benar tidak mengerti. Kepalanya terus bergerak bagai gasing, berputar kencang tak terkendali. Ah!
Tiba-tiba kepala itu ditinjunya, sekuat tenaga, hingga terpental ke atas, copot dari badannya. Laki-laki itu berteriak ngeri. Kedua matanya terbelalak memandang tubuhnya, yang tertinggal di bawah.
Sepotong badan tanpa kepala itu terus berputar deras di porosnya. Terhuyung seketika, lalu ambruk tak sadarkan diri, membiarkan sang kepala melayang-layang sendirian di atas taman.
Darah segar menyembur dari leher kepala, jatuh berjuntaian membasahi daun-daun maple. Baunya yang anyir begitu menyengat. Noktah-noktah merah menodai putihnya salju.
Kepala itu berputar-putar mengelilingi taman. Naik-turun terombang-ambing bagai layangan kehilangan arah. Dari atas, udara dingin menerpa, membuat pias wajahnya. Bibirnya yang pucat sudah tak mampu lagi mengeluh. Kedua matanya terpejam, tertutup butiran salju. Betapa letihnya.
Namun, pengembaraan sang kepala belum juga usai. Ia terus mengambang di udara, dengan rambut berkibar kusut-masai. Samar telinganya menangkap desau angin dingin.
Sementara di bawah sana, di taman itu, badan kelihatan mulai siuman. Bergerak-gerak, terdiam sesaat, lalu bergerak lagi. Sebelah tangannya menjangkau ke atas mencari kepala. Sayang, yang dicari tak berada di tempatnya.
Melihat itu, kepala coba memanggil. Namun, tangan terus saja bergerak karena tidak punya telinga untuk mendengar. Kepala berusaha menukik dekatkan diri, hendak bersatu dengan badannya.
Ketika hampir mencapai sasaran, kepala terlempar keras diempas angin. Lantas dicobanya lagi mendekat, tetap sia-sia. Begitu berkali-kali, tiada hasil. Akhirnya, kepala putus asa.
Apa hendak dikata, sudah nasibnya barangkali, menjadi pengintai taman. Dengan sedih, kepala terbang berkeliling mengitari taman itu. Sambil terkantuk-kantuk, ia melayang terus hingga akhirnya tersangkut di pucuk pohon maple.
TAMAN ITU MASIH SAJA SEPI, TIDAK TERAWAT. Ranting-ranting pohon maple tampak keabu-abuan disaput kabut, sedang matahari bersembunyi entah di mana. Sudah lama ia tidak melihatnya.
Jakarta, 21 Oktober 1994

Rujukan
[1] Disalin dari karya Firmiani Darsjaf 
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Majalah Matra” edisi Januari 1995