Den Ayu Cempaka

Karya . Dikliping tanggal 19 Mei 2015 dalam kategori Arsip Cerpen, Koran Tempo
CEMPAKA tergelak oleh ingatannya sendiri. Ia sudah beroleh jawaban kepada siapa ia harus belajar menulis. Kepada lelaki berambut ombak yang tatapan matanya dari balik lensa kamera tertangkap oleh mata Cempaka. Lelaki itu meninggalkan selembar kertas bertuliskan namanya. “Potretmu besok akan muncul di halaman pertama surat kabarku,” kata Sindhu.
Sambil tersenyum-senyum sendiri, Cempaka melipat mukena seusai salat magrib, mukena yang sama yang ia pakai salat asar di masjid tadi sore ketika senyumnya dicuri Sindhu. Sedari petang, ia sudah bahagia. Bahkan ketika hari berganti, sampai siang ini, dia masih tersenyum-senyum sendiri.
Dalam benaknya, sudah selayaknya seorang wartawan bisa menulis, meski Sindhu menenteng kamera, bukan mengeluarkan buku, pena, atau alat perekam. Ah, Cempaka yakin pastilah potretnya muncul, begitu pun tulisan tentangnya. Matahari sudah condong ke barat dan ia sudah tidak sabar untuk keluar rumah demi mencegat penjaja koran.
Yogyakarta sore ini berlari lebih cepat bagi Cempaka. Namun, cakrawala seolah meredupkan senyumnya setelah hasil jepretan Sindhu ternyata tidak terpampang di koran. Yang ia temukan justru potret sang fotografer dengan bibir terulas sedikit, tatapan mata yang masih sangat muda, rambut ombak yang terlepasbebas, dalam sebuah kolom yang tak besar. “Rahyang Sahid Sindhubumi, 23 tahun, anak kami, kakak kami, yang tercinta.”
Lelaki itu, yang tiba-tiba menjadi idaman Cempaka sejak asar kemarin, yang telah memotretnya di masjid, kini terbujur kaku di kolom kabar kematian di koran sore tersebut.

Cempaka menyentuh kulit wajah Sindhu di kertas koran itu. Meraba lekuk hidungnya, menelusuri ceruk matanya, mencoba memahami senyumnya, dan seketika ia merasa telah mengenalnya sejak lama. Cempaka tidak menyangka akan mendapat ucapan selamat tinggal secepat ini dari Sindhu, kepada siapa ia hendak belajar menulis.

Tapi, ah, nanti dulu. Lalu, siapakah lelaki yang memotretnya sore kemarin? Apakah Sindhu yang sama dengan Sindhu yang dikabarkan di berita kematian koran sore ini? Ataukah Sindhu yang lain? Wajah di kolom obituari ini terlalu mirip dengan wajah Sindhu yang dimiliki Cempaka dalam kenangannya.
Barangkali jiwa penulis telah memanggil Cempaka. Ia hapus agenda mengajar menari dari buku harian, dan ia lantas bergegas menuju alamat yang tertera dalam kolom bergambar Sindhu itu. Sebuah gang sempit di Kotagede. Beruntung ia masih bisa menjumpai lelaki itu sebelum dikebumikan selepas asar ini, meski ia hanya berupa potret  yang sama dengan yang di koran sore. Bedanya, yang ini dalam bingkai yang dipegang seorang gadis cilik yang lirih menahan tangis, yang berjalan lunglai di depan keranda. 
Dari barisan pelayat, Cempaka menyelidik. Ia berharap menemukan Sindhu yang lain sedang mencuri wajahnya sekali lagi dari balik lensa kamera.
“SINDHU, mengapa kau datang padaku sore itu?” tulis Cempaka dalam kalimat terakhir pada cerita pendeknya yang sepekan kemudian diterbitkan koran sore tempat Sindhu pernah bekerja.
Cerita dari kisah nyata gadis kelahiran Demak ini pada sore yang sama telah selesai dibaca oleh seorang lelaki berambut ombak dengan tatapan mata yang tajam. Setajam mata yang mungkin mengarahkan lensa kameranya membidik Cempaka yang tersenyum girang membaca tulisannya untuk pertama kali masuk koran. Lelaki itu duduk di kursi baca.
Bacaan yang sangat menyentuh, memang, tentang kisah rindu Cempaka yang berselubung rahasia. Hidup terasa seperti dalam angan meski ia mengalami perasaan yang nyata.
Bagi Cempaka, Sindhu belum mati. Tapi, siapakah yang dikuburkan sore itu? Siapa pula lelaki yang selalu mengincar gerak-geriknya dengan kamera?
Cempaka menemukan jawabannya ketika ia terdampat di sebuah toko buku kecil di sudut kota, yang tak menjual apa pun kecuali buku-buku lama—dan foto-fotonya! Ya, foto-fotonya! Ada juga senyum Cempaka di sana, senyum yang dibidik oleh Sindhu. Namun, potret-potret itu dicetak dengan warna cokelat kusam, beberapa lagi hitam-putih. Seperti sengaja dibuat jadi foto-foto nostalgia.
Toko itu tanpa penjaga, sampai seorang gadis cilik muncul dari balik di sebuah ruangan di dalam. Ah, ini gadis yang membawa foto Sindhu di depan keranda, gadis yang gagal menahan jatuh air matanya ketika Sindhu dimakamkan. Cempaka tercekat, tak tahu harus memulai percakapan dari mana. Ia akhirnya berlagak berbicara sendiri, “Sepertinya aku mengenal wajah dalam foto ini!”
Namun, gadis penjaga toko itu tidak terpancing. Ia tetap asyuk membaca sebuah buku bersampul gambar seorang penari. 
Tapa Wuda, Sinjang Rikma? Buku apa itu?” tanya Cempaka.
“Bertapa telanjang, berbalut rambut. Buku tentang Ratu Kalinyamatyang bertapa telanjang, Den Ayu. Tapa yang lalu dijadikannya tarian dan dibukukan,” jawab gadis penjaga toko.
“Aku bisa mengajarimu menari asalkan kau mengatakan dari mana potret-potret ini berasal.”
“Aku tahu Den Ayu berasal dari sini-sini saja.”
“Dari mana kau….”
Belum lagi selesai gerak tangan Cempaka menguatkan pertanyaan, gadis penjaga toko itu sudah lebih dulu menarik pergelangan tangannya dan mengajak Cempaka keluar. Menerobos arak-arakan sepeda kumbang, menyeberangi jalan-jalan, menelusup gang-gang, dan tiba-tiba pelataran Masjid Besar Mataram muncul di depan mata. Seperti sudah hafal benar dengan lekuk-liuk kawasan itu, ia langsung bergegas menuju kompleks makam raja-raja Mataram.
Cempaka sempat tertinggal, memang, tapi ia tidak khilangan jejak. Bahkan, kakinya sudah sangat mengenal daerah ini. Di sini, ya, di masjid inilah sore itu ia bertemu Sindhu, dan lelaki itu memotretnya. Bagaimana bisa gadis cilik penjaga toko itu membawanya ke…
“Den, itu Den Ayu.”
Hah? Seperti tersihir, Cempaka patuh pada telunjuk gadis cilik penjaga toko buku itu yang bergerak ke arah punggung seorang perempuan sepuh yang sedang menyapu pelataran. Berkain jarik udan liris, berbalut kain kemben warna kamboja, dengan rambut perak digelung, ia setia mengarsir tanah dengan sapu lidi tua. Seolah hendak menulis sandi-sandi tentang kehilangan. Seperti mengeja aksara.
Perempuan sepuh ini bukan diam, tapi ia sedang tidak mau berbicara dengan siapa pun selain dengan derak-derak daunan yang berlomba jatuh ke bumi, dan berlomba jatuh ke bumi, dan dengan angin. Ya, angin. Angin yang menerbangkan sayup tembang Witing Klapa yang ia bisikkan nyaris tanpa nada. “Witing klapa, jawata ing ngarcapada. Salugune wong wanita, adhuh Ndara, kula sampun njajah prja, ing Ngayogya Surakarta.” Nyiur kepala, bagai gerak-gerik dewi dan dewa, walau diri ini wanita, duhai Tuhan nan tampan rumpa nan mapan jiwa, telah kujelajah desa dan kota, di Yogyakarta dan Surakarta.
Sayu, seperti penuh luka, gending keteguhan perempuan sepuh itu melukiskan perjalanannya dari waktu ke waktu.
Lidah Cempaka kelu, semakin dekat ia menuju, semakin tercekat ia oleh bisu. Ia ingin menjumpai wajah perempuan itu, yang sedari tadi masih saja menghadap ke gerbang perkasa makam raja-raja. Hendak menyapa, namun ia kehilangan daya. Ngungun Cempaka menginjak bayangannya sendiri, yang telah lebih dulu menyentuh raga perempuan sepuh itu. Terasa betul keinginan untuk menyatu, sampai-sampai ia membungkuk, punggungnya menyerupai punggung di hadapan Cempaka yang rukuk seperti akan mencium tanah.
“Suamiku di dalam sana. Tak boleh aku masuk. meski hanya sekelebat, sekadar untuk menabur bunga di atas pusara.”
“Sa… saya…”
“Suamimu. Suamiku. Di sana. Dinding tebal bentang tangan lelaki dewasa ini menghalangiku, menghalangimu, menembus ruang dan waktu demi menjumpainya.”
“Suamiku?”
Mata Cempaka tak menemukan gadis cilik penjaga toko buku yang adalah adik Sindhu itu. Entah ia sudahpergi atau masih memetik daun mangkokan yang basah oleh gerimis sebentar tadi, tatkala Witing Klapa ditembangkan.
Oh, ya, Sindhu!
“Aku sudah bersuami? Tidak! Aku gadis yang sembunyi dari tatapan Sindhu di balik mukena, jatuh hati padanya, dan mendadak dipisahkan oleh dinding tebal bernama ajal,”gumam Cempaka.
Ajal? Dinding tebal? Setebal bentang tangan lelaki dewasa? Cempaka bahkan belum pernah merasa benar-benar dipeluk. Tidak oleh ibu, tidak pula oleh bapak, pun oleh kakak atau adik. Ia semata wayang. Tumbuh dalam rumah seorang perempuan penari di balik dinding Baluwarti, perempuan yang belum benar-benar ia kenal namun telah meninggalkan Cempaka di tengah-tengah para penari asuhannya. Perempuan penari yang menerima Cempaka sejak masih jabang merah itu mati muda, meninggalkan sanggar tari yang kini dibinanya. Ia tumbuh dari satu selendang ke selendang lain, ditimang dari satu perempuan ke perempuan lain, dibesarkan oleh gending dan tembang.
Lalu, kini tiba-tiba Cempaka sudah bersuami?
“Nenek bicara apa?”
“kau bukan cucuku. Kau aku.”
“Sa…. Saya?”
Angin mendadak berembus dari selatan, mengoyak genggaman daun-daun renta pada rantig pohonan, menyibak persembunyian pasir di balik rumput pelataran, seperti hujan tombak saat menerjan kelopak mata. Sempat memejamkan dan mengusap mata, Cempaka bergegas menatap lagi perempuan berkulit senja itu, tapi terlambat. Yang tersisa hanya lirih gending di gendang telinga, “Salugune wong wanita, adhuh Ndara, kula sampun njajah praja….
Cempaka terpaku, tak mengerti apa yang tadi terjadi.
Sindhu, hanya Sindhu yang ia cari, namun perjumpaan demi perjumpaan tak habis-habisnya memaksa Cempaka merumuskan kembali arti kata rindu. Ia merindukan Sindhu, lelaki yang potret-potret karyanya ia temukan di sebuah toko buku kecil di sudut kota. Sederet buku tua yang nama penulisnya nyaris tak terbaca, dan foto-foto, foto-foto dirinya dalam cetakan yang sudah buram, foto-foto sejoli Ndara ganteng dan Den Ayu jelita yang pantas benar menjadi raja dan ratu, juga foto-foto perempuan sepuh berambut perak digelung, berkain jarik udan liris, dibalut kemben warna kamboja.
“Adhuh, Gusti, paringana pangapura. Gusti, ampuni saya.”
Cempaka terhenyak, tersadar bahwa apa yang dilihatnya di toko buku dan pelataran makam ternyata bersinggungan garis. Ia terus bergumam, “Perempuan sepuh itu tadi. Dia perempuan dalam deret bingkai di dinding toko buku. Ya, dia, dia perempuan sepuh yang menyapu pelataran ini, perempuan itu! Nek! Nenek…”
Cempaka berlarian ke utara, ke selatan, mengitari rumah-rumah joglo di depan kompleks makam raja-raja itu, menguak selubung ruang-ruang, membongkar kerumunan daun, seperti ingin menemukan pintu menuju masa lalu. Namun, nenek itu, perempuan sepuh yang menyebut Cempaka tak lain daripada dirinya sendiri itu, lekang oleh pandang, lenyap dalam senyap.
Terlambat ia sadar bahwa perempuan yang berbicara dengan dirinya tadi adalah perempuan dalam foto-foto di toko buku.
Sindhu, ya, Sindhu yang harus menjawab. 
CEMPAKA berbalik arah, tak lagi hirau pada kehilangan, segera mengejar yang ada dan berhenti memburu yang tiada. Gadis kecil penjaga toko itu, yang kali pertama Cempaka lihat berjalan lunglai di depan peti jenazah, memegang bingkai foto Sindhu, sudah tak ada.Mungkin sudah kembali ke toko. 
Demi melunasi segala beban yang ia tanggung, sejak bertemu Sindhu hingga berjumpa nenek ayu di pelataran makam raja-raja, Cempaka tak menahan laju langkahnya menerobos hujan berikutnya. Sudah kepalang basah, kuyup pun jadi. Hunjaman tombak-tombak air dari langit tak ia rasakan. Cempaka berlari dalam genangan air setinggi mata kaki orang dewasa.Sampai akhirnya ia tiba di sudut jalan, di toko buku yang diapit klenteng dan toko baju.
Pintu toko dibiarkan terbuka. Memasukinya kembali laksana memasuki pintu menuju masa lalu. Cempaka tak mendapati siapa pun selain seorang laki-laki tua tanpa kacamata, duduk membisu di kursi baca, sendiri belaka. Di tangannya, sebuah buku ia pegang dengan gemetar. Buku yang sama yang dibaca gadis cilik penjaga toko yang entah di mana sekarang. Buku tentang perempuan penari yang terilhami Ratu Kalinyamat, kata gadis cilik itu.
Cempaka yakin ia mengenal wajah lelaki itu, meski ia teramat sangat ragu. Walau dikelabui oleh gurat-gurat usia pada kantong mata, tatapan mata itulah yang pernah membidiknya dari balik kamera kotak berwarna hitam, bergaris perak, berangka merah 404, merek Kodak diblok warna merah lebih tua, sore itu. Meski telah ranggas, urai rambut berombak itu membangunkan ingatan Cempaka pada Sindhu. Lekuk hidungnya, simpul senyumnya.
Ya, benar.
“Sindhu?”
Yang disapa diam belaka, bahkan ketika Cempaka mendekat ke sisinya, dan melongok ke arah buku yang dipegang lelaki tua itu. Tak ada gerak yang menanggapi kehadiran Cempaka. Tepat di depannya, halaman buku memampangkan foto seorang gadis berkain batik parang gondosuli warna cokelat tua berlapis merah bata, berlatar rerimbun semak daun mangkokan dan pendapa di belakangnya. Mata Cempaka mengerucut, mengeja nama yang tertera di bawah foto itu.
“Ra-den A-jeng Cem-pa-ka. Hah?”
Entah kekuatan dari mana yang mendorong tubuh Cempaka hingga terhuyung, menjauh dari lelaki tua yang masih diam saja itu.
“Gadis cilik itu? Perempuan sepuh itu? Den Ayu? Aku?”
Telapak Cempaka membekap mulutnya sendiri yang meracau. Sindhu, lelaki tua yang dia yakini sebagai Sindhu itu, meraba lembar demi lembar buku seperti tanpa membaca. Cempaka tak lagi berani mendekat. Ia mencurigai sekelilinnya sebagai khayal, hal fana, kepalsuan. Cempaka ingin terbangun. Ia menampar-nampar pipi keras sekali.Namun, bagaimana mungkinia tak merasakan apa-apa?
“Den Ayu….”
Cempaka terperanjat pundaknya disentuh. Seketika ia menoleh, di belakangnya berdiri seorang laki-laki lain berparas sipit yang ia lihat tadi membakar dupa di teras klenteng.
“Den Ayu pulanglah. Pulang dengan tenang.”
“Saya….”
“Den Ayu Cempaka. Pulanglah.”
“Sin… Sindhu?”
“Ya, itu Sindhu. Ia tidak benar-benar mati. Ia hanya diculik telik sandi gara-gara hendak menulis berita tentang Den Ayu.”
“Saya?”
“Iya, Den Ayu. Sebelum dipotong lidahnya oleh telik sandi, dan dibuang ke Kulonprogo, lalu dikabarkan mati, bahkan oleh orang-orang yang dikuasai telik sandi itu petinya dikubur tanpa jenazah, Sindhu sempat bicara padaku tentang satu makam rahasia di kompleks makam raja-raja Mataram di Kotagede?”
“Dipotong lidahnya? Sindhu?”
“Pulanglah, Den Ayu. Terlalu lama Den Ayu menyiksa arwah Den Ayu sendiri dalam pengembaraan waktu.”
“Saya? Saya masih hidup! Ini. ini tulisanku bahkan baru saja dimuat di koran hari ini!”
Cempaka gusar membuka koran yang dia bawa-bawa. Berapi-api menunjukkan cerita pendek yang ditulisnya. Tak cukup sampai di situ, ia juga menghunjam-hunjamkan telunjuknya ke pojok kiri atas halaman koran itu.
“Ini, ini. Hari ini Minggu Kliwon, 22 Maret 1953.”
“Den Ayu, ini hari yang sama tapi beda. Hari ini Minggu Kliwon, 22 Maret 2015.”
Lelaki sipit itu berkata bahwa Cempaka, ya, ia yang bernama kecil Raden Ajeng Cempaka, tak bisa dikelabui dengan maka di Butuh, yang syahdan makam suaminya. Pada kehidupan berikutnya, Cempaka pernah berhasil menerobos kompleks makam raja-raja di Kotagede. Meski ketahuan dan diusir, ia sempat menebar biji bunga di depan Gedong Prabayeksa.
“Cempaka Mulya, pohon bunga yang Den Ayu tebar bijinya itu, kini kekar tumbuh di sana.”
Tubuh Cempaka bergetar hebat.
“Saya….”
“Den Ayu…. Kehidupan Den Ayun yang berikutnya lagi pun telah berakhir lama. PUlang, Den Ayu, ke Praon.”
“Gadis kecil itu? Nenek itu?”
“Den Ayu tidak melihat selain diri Den Ayu sendiri dalam silang sengkarut ruang dan waktu. Pulanglah.”
Jakarta, 28 April 2015.
Candra Malik tinggal di Jakarta. 
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Candra Malik
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Koran Tempo” 17 Mei 2015