Dendam

Karya . Dikliping tanggal 22 November 2013 dalam kategori Arsip Cerpen, Koran Lokal
Baru saja selesai. Lessap terpilih menjadi kepala desa. Tak ada yang meragukannya, ia terpilih untuk yang kedua kalinya. Seekor sapi disembelih. Orang-orang berdatangan ke rumah Lessap. Syukuran atas kemenangannya. Matahari mulai meninggi. Lelaki itu menyulut rokok bersama sekawan pendukungnya, secangkir kopi terhidang. Jelas sekali, gelak tawa mewarnai perjamuan itu. 
Semua penduduk desa menyukai sikap Lessap, ia ramah. Tak pernah kongkalingkong, dari setiap mulut yang terdengar. Mereka berkata, kalau Lessap selalu memberikan bantuan. Sebelum ia menjadi kepala desa, ia sudah begitu. 
Sementara Mahwi, lelaki itu kalah. Tak sebanding, suaranya kalah banyak dari Lessap. Ia lemas tak berdaya, sudah puluhan juta ia keluarkan. Kepalanya seakan hendak pecah. Bagaimana mungkin? Pikirnya. Matanya redup. Istrinya menangis, dielusnya bahu suaminya tanpa tenaga. Hanya Mahwi satu-satunya lawan Lessap pada pemilihan itu. Tampak beberapa keluarganya datang. Mereka berusaha menyabarkannya, namun larut dalam sedih.
“Sudahlah Pak, mungkin bukan waktunya menjadi kepala desa” kata istrinya.
“Aku hanya tidak habis pikir. Bagaimana mungkin aku kalah padahal semua orang sudah aku kasi uang” Mahwi memegang kepalanya.
“Mungkin saja Lessap memberinya lebih besar” cetus istrinya.
Tentu saja ada yang kalah dan ada yang menang. Hanya saja, kali ini Mahwi menaruh dendam. Ia tak terima. Selain itu ia memang tak pernah suka pada Lessap. Lebih-lebih ia dikalahkan, ia merasa direndahkan. Dadanya membara. Terbakar dendam. Ia ingat peristiwa sakit hati itu.
Dulu Mahwi meminta Lessap agar dirinya dijadikan salah satu aparat desa. Lessap diam, tiba-tiba dengan nada santai ia menolak permintaan itu, dengan alasan. Kalau Mahwi tidak becus, lebih-lebih Mahwi bekas maling. Mahwi tersinggung, ia pulang. Ia berjanji kalau suatu saat nanti dirinya akan mencalonkan kepala desa. Tapi ia kembali apes. Tak ada yang memilihnya. 
Di semak belukar, di samping rumah Mahwi. Bersama kawan-kawannya ia berunding, mencari siasat. Mencari jalan untuk melarikan sapi-sapi penduduk. Mahwi kadung sakit hati, sebentar lagi ia akan menjarah sapi. Tentu bukan ia yang akan mencuri, ia tetap di rumah agar tak ada yang curiga.
Malam tanpa bulan, hingga tak ada bias cahaya yang memantul. Semakin mempermudah maling-maling itu untuk menggelandang sapi-sapi penduduk. Malam ini satu sasaran sudah ditentukan, siasat diatur dengan rapi. Tak lupa sebelum berangkat mereka merapal mantra. 
“Kau berjaga di bagian barat”
“Sementara kau yang mengggelandang keluar kandang sapi itu sampai di jalan”
“Ya. Ayo berangkat” 
Sasaran itu tak jauh. Sapi milik tetangga Lessap yang menjadi sasaran malam ini. Ada sepasang sapi jantan dan betina di kandang itu, namun hanya satu yang akan dicuri. Sengaja memilih sasaran pertama di dekat rumah Lessap, agar Lessap risau karena tak bisa menjaga keamanan desanya. Rencana yang bagus. Mahwi tesenyum sinis di rumahnya. 
Mantra itu mulai dirapal, pemilik sapi tak terbangun dari tidurnya, justru semakin pulas. Sementara di kandang terdengar kaki melangkah, suara dua orang dan seekor sapi. Dituntun sapi it. Sapi itu secara tiba-tiba menjadi penurut, padahal biasanya ia akan melenguh setiap didekati orang baru. Berhasil, mantra yang mujarab. Mereka sudah jauh membawa sapi itu. 
Tiba-tiba keesokan harinya. Pemilik sapi itu bingung. Ia melihat jejak kaki masuk kandangnya, ia mulai yakin. Ia melapor pada Lessap-kepala desa itu-. Lessap menghubungi teman-temannya, sampai berita itu gaduh di telinga penduduk. Mereka berdatangan ke rumah pemilik sapi itu. Lalu mereka menelusuri jejak kaki itu. Memasuki semak belukar, jejak itu hilang sepeti ditelan bumi. 
Cemas, pemilik sapi itu tak berdaya. Tak ada harapan sapi itu akan kembali. Lessap mulai pusing, ia tak menyangka sekaligus heran. Bagaimana mungkin ada maling? Padahal seluruh Bajingan desa sudah ia sewa untuk menjaga desanya. Aneh, baru kali ini ada maling sapi. Lessap pun tak berdaya. Ia duduk di kursi, di rumah pemilik sapi itu. Ia bingung. 
“Kalau sampai maling ini ketemu akan aku bakar” kata Lessap. Yakin.
“Ini pasti ada dalangnya” cetus salah seorang penduduk
“Iya, jangan diberi ampun biar jera”
“Bahkan kita bakar juga rumahnya” kata yang lain penuh amarah. 
Malam berikutnya, semua penduduk mulai siaga. Setiap kandang dijaga, bahkan sampai ada yang tidak tidur semalam. Mereka penasaran, ingin membakar hidup-hidup maling itu. Nihil, sama sekali tak muncul maling-maling itu. Tak ada pencurian sapi lagi. Lessap ikut tak tidur setiap malamnya, sebab ia kepala desa. Merasa bertanggung jawab. 
Mahwi kembali mengatur siasat, ia sangat pintar. Tahu sasaran yang akan dijarah sapinya. Kali ini ia ikut. Ia baca mantra yang diberikan dukunnya. Kemenyan dibakar, agar tak ada orang yang bisa terbangun dari tidurnya. Dendam di hatinya kian membatu, wajah Lessap terbayang. Ia yakin kalau orang-orang akan mengira Lessap tidak becus mengurus desanya. Mulai sapi itu dikeluarkan dari kandangnya. Tiba-tiba terdengar suara batuk. Tak asing, suara Lessap. 
Dengan terpaksa Mahwi melepas sapi itu. Ia lari terbirit-birit. Ia masuk semak belukar. Tak peduli duri menusuk tubuhnya. Segera Lessap menghampiri kandang itu, sapi itu sudah di luar. Sehelai kain tersangkut di paku kandang. Lessap mengenali betul kain itu. Ia mulai curiga, kain yang selalu dipakai Mahwi. Suara jangkrik terdengar mengerikan dari balik pagar. 
Tak berdaya. Lessap tak berani menuduh, sekedar menduga-duga. Malam demi malam maling itu semakin beringas, hampir satu bulan. Sudah banyak sapi yang hilang. Penduduk mulai resah. Tak tenang. Mahwi mengisap rokok, lalu dibuang puntungnya ke halaman. Ia sedu secangkir kopi, nikmat. Senikmat ia membuat gaduh desa itu. Ia tersenyum. Pasti Lessap tak enak makan, tak enak tidur. Yakin kalau penduduk tak akan percaya lagi pada Lessap.
Tapi nahas, Lessap begitu cerdik. Salah seorang kawan Mahwi-yang pernah ikut menjarah sapi penduduk- berhasil dibuka mulutnya. Ia bercerita kalau Mahwi adalah dalang dibalik hilangnya sapi itu. Lessap manggut, ia sulut rokoknya. Dihisapnya pelan. Kawan Mahwi itu, Salim bercerita semuanya. Ia dijamu oleh Lessap. 
“Kenapa Mahwi nekat berbuat seperti itu?” Tanya Lessap.
“Karena dia sakit hati” Salim menyulut rokoknya.
“Sakit hati bagaimana?”
“Sakit hati padamu. Kau pernah menolak dia untuk menjadi aparat desa, lebih-lebih kau kalahkan dia pada pemilihan kemarin. Ia sangat dendam padamu”
“Kenapa harus penduduk yang menjadi sasarannya?”
“Karena penduduk adalah wargamu, ia ingin penduduk membencimu karena tak bisa menjaga keamanan desa. Dengan begitu, kau bisa saja digulingkan sama penduduk” 
Ah, Salim. Sudah jelas, ia berkhianat pada Mahwi. Untuk beberapa malam ini, Lessap membiarkan Mahwi ia mencari waktu yang tepat untuk menangkapnya. Giginya bergemeretak, pertanda kekesalan yang mendalam. Seiring waktu, orang-orang desa mulai curiga Mereka sudah tahu kalau Mahwi adalah dalang di balik hilangnya sapi-sapi itu. Entah siapa yang berkabar. 
Langit gelap. Penduduk desa berkumpul, tampak juga Lessap. Mereka sudah tidak tahan, amarahnya memuncak. Terlihat beberapa celurit mengkilat. Suara burung hantu menjadikan malam semakin ngeri. Mereka beriringan menuju rumah Mahwi. Mata-mata yang penuh dengan amarah. Mahwi tergagap, ia tak bisa lari. Rumahnya telah dikepung. Ia tenang berlagak seolah tak tahu apa-apa. 
“Ada apa ini?” Mahwi pura-pura terheran.
“Sudahlah Mahwi, akui saja kalau kau adalah dalang dibalik hilangnya sapi kami” cetus salah seorang penduduk.
“Ah, bagaimana mungkin. Aku bukan orang yang seperti itu”
“Bagaimana dengan kawanmu ini dan secarik kain yang pernah tersangkut di kandang salah seorang warga” Lessap mendekati Mahwi. Mulai gemetar Mahwi.
Celurit dan pentungan diacungkan. Barangkali Mahwi benar-benar akan dibunuh, ada api berkobar di mata Mahwi. Bagaimana tidak, ia melihat kawannya diantar para penduduk itu. Penghianat! Umpat Mahwi. Dalam hati. Desir angin mulai kencang, daun-daun jatuh di halaman.
“Sumpah aku tidak tahu akan semua itu” Mahwi berusaha meyakinkan. 
Tak percaya. Bukti sudah jelas. Maka penduduk langsung menyerret Mahwi ke tengah massa itu. Ia berontak, tapi tak bisa. Lessap masih diam, ia melihat Mahwi. Benar-benar bajingan, kata Lessap dalam hati. Mahwi sudah babak belur. Lessap menghentikan.
“Pak, bagaimana kalau kita bakar saja orang ini seperti janji bapak kemarin” kata seorang penduduk. Lessap diam. Ia tak tega, tapi kadung terucap. Ia biarkan beberapa orang yang menyirami bensin ke tubuh Mahwi. 
Mahwi masih bersikukuh dengan pendiriannya. Tetap ia tak mengaku. Kalaupun ia mengaku, para penduduk tetap akan membakarnya. Mereka kadung sangat kesal. Tinggal menyalakan korek api Mahwi akan segera terbakar. Tiba-tiba istri Mahwi lari, ia berteriak. Memohon-mohon agar suaminya tak dibakar. Ia berjanji akan keluar dari desa itu. Air mata perempuan itu mampu meluluhkan penduduk. Tak jadi Mahwi dibakar. Hanya rumahnya yang diamuk, lalu dibakar. 
“Kenapa kamu lakukan semua itu Pak?” istri Mahwi membalut luka di matanya.
“Tentu kau lebih tahu. Aku dendam pada Lessap. Selagi aku masih hidup dendam masih tetap ada”
“Sudahlah Pak. Karena dendam itu, kau jadi seperti ini”
“Tidak. Kali ini akan aku bunuh Lessap dengan cara halus”
Istrinya tak paham. Perempuan itu tetap setia sekalipun tahu kalau suaminya adalah maling. Ia rawat suaminya . Mahwi masih menaruh dendam itu. Ia berjanji sehabis sembuh akan membunuh Lessap. Kobaran api menyala di matanya, seperti hendak menjilat-jilat. Gerimis tak jadi jatuh ke bumi. Mahwi tersandar di balik pohon, ia buang puntung rokonya, lalu diinjak seolah menginjak Lessap. Tak akan pernah hilang dendam itu. Watak Mahwi terlalu keras, sekeras batu hitam. 
Batang-batang Madura Agustus 2013
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Zainul Muttaqin
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Jurnal Nasional” 17 November 2013