Dengan Sepatu Kecil Anak-anak yang Menyeberang – Pada Suatu Hari dalam Hidup Sugas – Tentang Seorang Orang Tua

Karya . Dikliping tanggal 20 September 2015 dalam kategori Arsip Puisi, Koran Kompas

Dengan Sepatu Kecil Anak-anak yang Menyeberang

 – in memoriam Aylan Kurdi (2012-2015)

Tentu saja di pulau itu orang-orang Kos tak mendengar
derak kapal patah
ketika anak-anak di palka bernyanyi,
“Lihatlah kerudung kami,
kerudung kami.”

*

Pada jam sarapan mualim berkata,
ada tembolok camar yang pecah
di kiri buritan.

Hiu yang menari
sepanjang pasang
menantikan mimpi
di atas buih.

*

Dari kamar mesin,
besi dan hitam berdesakan.

*

Aku mencari sinyal
di tepi Djibouti.

Dalam tugur
dinihari.

Diagram telepon genggam
mungkin isyarat

di seberang, mungkin di seberang,
laut mendekat.

Tapi menjelang siang,
di cuaca bisu,

sinyal meracau
dan gerbang tenggelam,

mungkin tenggelam.
Mereka katakan Laut Merah

terbelah
dan Musa lewat

dalam pawai.
Tapi tidak dari sini,

tidak dari sini
di tepi Djibouti.

*

Kata yang sulit adalah “palestina”. Kadang-kadang eksodus
membentuknya. Kadang-kadang Tuhan,
kadang-kadang firaun, kadang-kadang gurun.
Sesekali teka-teki.
Syahdan semua yang tak menemukan rumah
akan juga sampai.
Semua yang diungsikan
akan berhenti. Yang berjalan, dengan paspor tua
mungkin tiba.
Dan kata yang hilang adalah “palestina”.

*

Dalam dongeng diceritakan bahwa
yang pertama meninggalkan ladang
adalah anak dan ingatan.

Di hari penghabisan
tersisa peta di perapian.

Sebelum kita dengar, “selamat tinggal.”

*

Pada jam mati yang kering
akhirnya mereka temukan waktu.
Tapi di pagar jalan ke arah Aegea
mereka tak lagi temukan nama-nama.

*

Tuhan sebenarnya ingin sederhana.
Sebelum perang.

2015

Pada Suatu Hari dalam Hidup Sugas

Tiap jam 8:00 pagi, setelah cahaya dihidupkan lagi di seluruh mall “Trocadero”, setelah ia selesai menderetkan lima manekin di tangga masuk lobi, setelah para petugas sekuriti dan perempuan-perempuan rias bersiap di ruang parfum, untuk berkata serempak “selamat pagi” ketika manajer penjualan muncul dari lantai lima, setelah AC sejuk dan jingel mulai – Sugas akan kembali ke tugasnya sehari-hari: merapikan syal dan blouse dan gaun dan topi di tubuh manekin pertama, kedua, ketiga, dan seterusnya, dan menggosok dengan kain flanel permukaan wajah mereka, atau jari-jari mereka, atau tungkai kaki mereka, sampai berkilau.
“Kau harus paling ramah hari ini, Isti,” biasanya ia berbisik.
Sudah sejak tiga bulan lalu, sejak ia dipindahkan ke bagian dekorasi, khusus untuk menyiapkan etalase di lobi besar, ia memberi nama Isti kepada tiap manekin yang dibersihkannya di tangga masuk.
“Kau tidak boleh terlalu anu.”
Ia kadang-kadang mengubah apa yang dikatakannya.
Ia tidak menyangka bahwa pada akhir bulan ketiga, ia merasa mendengar Isti, salah seorang Isti, menjawab.
Ia tidak percaya manekin bisa berbicara, juga di toko-toko pakaian yang sepi. Ia hanya tahu di tanggal tua seperti hari itu, di lorong-lorong mall di antara etalase- etalase besar itu, ia sering ketakutan.
2015

Tentang Seorang Orang Tua

Aku bermimpi menemukan kembali anak itu: gadis kecil yang pernah aku angkat ke pundak agar rambutnya yang tebal menyentuh sulur beringin. Aku bermimpi ia memelukku. Lalu pergi.
Dan kau menangis?
Aku coba tidak.
Kota-kota sejak dulu meletihkan.
Berapa umurmu sekarang?
78. Mungkin. Yang aku hitung hanya panjang kuku kakiku tiap kali.
Di lekuk sungai itu ikan-ikan terkadang memepetkan sisiknya ke dahan asam yang patah dan jatuh ke dalam air. Ikan-ikan yang iseng, kata seorang pengail. Kakek itu mengangguk dan memukulkan telapak tangannya ke paha.
Ia tahu ia tidak bisa lagi menggosok-gosokkan otot punggungnya ke gigir tebing.
Kau terlalu lama hidup.
Mungkin.
Umur membuatmu sendirian.
Agaknya.
2015
Goenawan Mohamad menulis puisi, esai, dan lakon. Buku puisinya antara lain Gandari dan Sejumlah Sajak (2013). 
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Goenawan Mohamad
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Kompas” Minggu 20 September 2015