Dentingan Garpu dan Sendok di Mangkuk Kosong – Gumam di Sela Kunyah – Genggam ke Genggam

Karya . Dikliping tanggal 8 Mei 2016 dalam kategori Arsip Puisi, Koran Tempo

Dentingan Garpu dan Sendok di Mangkuk Kosong

ayam jantan hitam dengan taji merah
gelambir itu melekat di dinding mangkuk.
kekosongan tanpa isi, tanpa rasa. juga
setara hidupmu.

hatimu sedangkal mangkuk bakso. tak utuh
dan tandas menyimpan bulir-bulir kehidupan:
asmara, kerumitan, atau juga nasihat yang
semuram cuka.

mangkuk kosong tanpa arti untuk mengenyangkan.
kau seperti tak bernyawa mendenting sendok dan
garpu itu di tepiannya. menguraikan pikir yang
kalut, rusak, tak berhaluan. mengharap kenyang
akan bakso tanpa dendam penghambat hati yang
selalu miring oleh janji.

2016

Gumam di Sela Kunyah

kau mengunyah, bergumam, memetik dua penggal
bait lagu rancu. gumammu selaras dari lezatnya
makanan itu. ada ruang lain yang menyembunyikan
kesadaran dan mengusung khayalan.

berseliwer dari kecipak itu, berarus kait-kelindan masa lalu,
masa kini, atau harapan yang belum tentu. gumammu
kadang lirih, kadang beruntun, kadang menggeram
ketika pedas dari sambal membakar lidah.

atau kau berteriak serak; meneguk buru-buru air
mineral setengah limit. berseru rancu di sela kunyah
yang gamang ketika keringat menjadi pahit.
adakah hidup yang tak memiliki alur indah?

kau–barangkali–hanya perlu sedikit mengeluarkan
air mata, bukan oleh pedas sambal belaka, tapi kesan
dari tajamnya dunia. ketika rasa demi rasa tak singgah
lagi, berarti kau mengunyah kekosongan.

kecut demi kecut sekilas melekat di lidah.
kau bersikut, meludah: singgahlah murka di hatimu.
“sial, itu makanan basi!”

2016

Genggam ke Genggam

dari genggam ke genggam kau menggeram
ke puncak paling ganas.

“tapi lebih pelik adalah beras!” umpatmu.
ketika merosot tajam penjualan lontong itu.
bahwa ini hanya cukup untuk makan malam.
sambil sehari ini kita merasakan mimpi.

mimpimu yang itu-itu juga. paling banter
membelok sedikit ke arah genit: koin dolar,
ATM gendut, dan emas batang. kau berkata
lantang “ayo, jangan ragu menggosok perut
buncit itu.”

rayuan demi rayuan adalah resep
kau memekik merayakan nasib.

kilas balik hidupmu sungguh setipis
bungkusan lontong. antara kulit bawang
dan sambal terasi kau menggabungkan
sebagai teman makan nasi di malam kemelut ini.

“besok aku tidak dapat menjual lontong lagi.”
genggam demi genggam beras mengerucut sudah.
sisa demi sisa hanya tinggal bulir-bulir
pada terengah.

2016



Riki Utomi, lahir di Pekanbaru, 19 Mei 1984. Tinggal di Selatpanjang, Riau.



Rujukan:
[1] Disalin dari karya Riki Utomi
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Koran Tempo” akhir pekan edisi 7-8 Mei 2016