Derap Waktu – Bertamu ke Makkah – Pembakaran – Deru – Kampung Nelayan – Hakikat Pantai

Karya . Dikliping tanggal 20 September 2015 dalam kategori Arsip Puisi, Jawa Pos

Derap Waktu

: Sehzade Mustafa

aku bebas, memeluk kematian dengan seluruh ikhlas
menyeret kebenaran yang tercuri dari cintamu
kebenaran telah diredupkan seperti malam,
kebenaran diasingkan hingga jauh
langit memelukku serupa bocah manja, aku merdeka
dari perebutan nyawa dan tipuan mahkota

oh, Ayah, singgasana menyulap siang terus memanjang
silau matamu menghalauku pergi
gemawan dan langit bersekutu menyediakan laju
jiwaku terampas seutas tali
dalam tenda yang kau kuasai

di hari yang tidak kuharapkan, kau tak memberiku alasan
kutunaikan janji kesepakatan, tetapi kalah oleh bujuk ha-
suandan fitnah
dan aku tetaplah pemberontak yang takmampu men-
ghianati isi hati
kepercayaan tak menyelamatkan kebenaran
aku tiada pernah takut dieksekusi
karena au berjalan dalam setapak nurani

kau tahu, Ayah, setia telah menuntunku jadi pedangmu
kuhibahkan jiwaku pada baginda
hanya takdir memberiku kenyataan berbeda
akupergi meninggalkan dunia keji
kenangan ini akan menuliskan kisah seorang putra mati
di pedang ayahnya sendiri

kini, dalam kebebasan hatiku sempurna purnama
luput dari ketakutan dan bayang kekalahan
aku kembali menjadi bocah tak mengenal ambisi
lorong panjang istana semakin jauh menyembunyikan
pandangan

kau memberiku kehidupan, kau pun mengambil dengan paksa
jiwa tak bersalah lepas menuju barzakh
aku menerima takdir sebagai putra dan saudara yang kalah
daripada aku menjadi putra dan saudara yang pembu-
nuh demi tahta

istana, singgasana, dan tahta kulepas sebagai fitnah dunia
kita memang hanya bermain-main dnegan nasib
sekalipun tinggi benteng-benteng istana, kematian te-
taplah kawan karib
datang menangkup tawa kita
biarlah angin membawa namaku ke seberang jalan
meskipun tanpa jejak emas
biarlah aku tertidur dalam kesakitan
bukan di singgasana dan kekuasaan

oh, Ayah, apa yang kau dapatkan atas kematianku?
apakah cinta menandumu lebih tinggi?
engkau hanya mematahkan hatimu sendiri demi cinta
berkulit ambisi
aku membawa kebenaran di dadaku ini ke dalam kubur
yang basah air mataku sendiri
Ayah, engkau memberiku sesuatu melebihi tahta
kemerdekaan menuju satu muara

Yogyakarta, 2015

Bertamu ke Makkah

bulan ini orang-orang menjumpai Baitullah membawa doa
nasib memiliki mereka menjadi tamu dari jutaan tamu
mengais mahabbah
mengetuk pintuMu sembilan puluh sembilan cahaya tu-
run menjadi mega
rintih air mata berlanjut hingga Bir Ali
setiap ucap memajang surga, sunyi lepas hati tajlli

memutara rumahMu bayang jadi tenggelam, kita ada-
lah pemenang
mengalahkan nafsu dan kesombongan
sedih yang mengintai lumer saling bertindih
yang tersisa hanya erangan batin beradu waktu

tiba-tiba angin datang membawa kabar buruk
salju turun berlari-lari memenuhi segala kebesaran
Engkau menjatuhkan harapan
Dan seseorang pergi di tengah hiruk pikuk

Yogyakarta, 2015

Pembakaran

hewan melata terperangkap gelisah dan ketakutan
hutan yang ditempati bertarung melawan api
angin dan panas bersatu dalam sekutu
kita wajib bertanya, siapakah pemantik api?

televisi hanya meramalkan asap
wajah-wajah sayu tak kedip memandang
beku dalam lipatan layar dan bungkam menyerupai
tombol-tombol remot
serangga dan manusia sama-sama mencari juru selamat
mungkin dalam pesawat yang terlambat
atau abu yang telah ditinggalkan harapan

sezarah abu berubah air mata
kota mengasap, desa-desa, terhisap

Yogyakarta, 2015

Deru

adakah yang lebih patuh
dari ombak tak henti bergerak
karena pantai tiada melahirkan pemberontak
meskipun matahari retak dan malam berserak

Yogyakarta, 2015

Kampung Nelayan

terbujurlah ikan-ikan berjemur di bidik. langit dan laut
terus berpeluk
melahirkan dan menelan matahari yang diserang kantuk
di mulut malam sayu.
 gejolak ombak gumam bebatuan
bising ibu-ibu menawar ikan

perempuan-perempuan mengirim cintanya ke sarang
gelombang
ditunggunya ia datang membawa segenggam hidup
ambil berteduh dari bayang kecemasan
saraf-saraf adalah kaki doa membawa udara ke jantungnya
para lelaki tamsil gerak matahari, menggotong cahaya
ke dalam kenang
menanam pukat ke kalbu samudera berharap tumbuh mutiara
kulit legam menantang matahari

gedung tinggi menjualng tempat ikan-ikan dilarikan
dan kami bermusik setiap hari dengan ombak menari

Yogyakarta, 2015

Hakikat Pantai

hamparan deru dan buih di mulut laut
telah mengambil mata untuk menunggu perahu berteduh
di sinilah samua tanya lamur bercampur debur
pekikan menjadi kerdil di telan angin
kau merapikan puisi yang bertebaran di jiwa
meletakkan kenangan sejenak di satu almanak berwa-
jah marah
tentang puisi pecah dan harapan menolak tumbuh

aku betanya apakah pantai selalu menerima tamu putus asa?
dan pantai menjawab dengan mengaduh padamu
deru dan debur bersatu mengegrayang telinga

kau yang merapikan masalah
lembar harapan dan doa kembali di buka
kata-kata yang luka dan puisi tangis
bertumpuk jadi serak pasir di sini

Yogyakarta, 2015


Nurul Ilmi Elbanna, lahir di Sumenep 21 Januari 1993. Mahasiswi Komunikasi Penyiaran Islam, Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Kalijaga. Karyanya terkumpul dalam beberapa antologi bersama: Sebab Cinta (2013) dan Gemuruh Ingatan (2014). Anggota LPM ARENA UIN SUKA.
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Nurul Ilmi Elbanna
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Jawa Pos” Minggu 20 September 2015