Di Balik Baju Lusuhmu – Sabtu Pagi di Pasar Gapura – Corli – Kutemukan Puisiku di Pojok

Karya . Dikliping tanggal 4 Oktober 2015 dalam kategori Arsip Puisi, Koran Lokal, Minggu Pagi

Di Balik Baju Lusuhmu

dibalik baju lusuhmu kutemukan
seekor semut kecil sedang memakan 
sebagian anganmu dengan ringan
tak peduli kau menjerit kesakitan
jiwaku ikut melejit tak tentu
bagai waktu terbakar oleh rindu
memar merah pun telah menggelitikku
menggoda tangan cinta tak pernah malu
semut terus merayap jadi gelisah
menyela ke rambutmu mencipta resah
menggigit sekujur tubuhmu berdarah
hingga mata hatiku pun jadi basah
maka di balik baju lusuhmu pula
aku harus menaburkan kata-kata
yang akan mengubah semut jadi cinta
hingga tak ka-luka berbahaya
Gapura Tengah, 2015

Sabtu Pagi di Pasar Gapura

di balik kata-kata yang kutulis
juga keramaian seperti gerimis
kau berdiri di depanku dengan tulus
menyanyikan lagu dangdut cukup halus
bersama seorang anak di gendongan
tangan kecilnya memegang satu permen
peluhmu mengerai membakar ngan-angan
hingga jiwa kata menggerakkan tangan
aku berhenti sejenak dan merapat
matamu yang dalam melihat-lihat
pasar angkuh dengan ko-toko berderet
yang menjual jajanan super market
sebelum lagu dangdut itu berakhir
dan dirimu pergi menyelipkan syukur
kuberikan selembar sajak berukir
untuk menghapus peluhmu mar-samar
agar jalanan halus panas terpanggang
terik keangkuhan, kendaraan usang
tak semakin membuat dirimu hilang
atau terselip di saku banyak orang
sebab aku tahu, bahwa dirimu
bagian terpenting dari jak-sajakku
untuk berbicara dan memberitahu
di luar rumah banyak tamu menunggu

Corli

bundar makanan ini mirip sekali
dengan bulat matamu yang kukagumi
mata yang menyimpan ruang tersembunyi
untuk lahirnya puisi dalam hati
rasa manis gula merah di dalamnya
terbuat dari ketulusan cinta
tak lain untuk menyegarkan jiwa
hingga puisi lebih ramah menyapa
selagi masih hangat di atas piring
bersama tengguli yang jernih dan bening
kunikmati perlahan tanpa bimbang
untuk melepas rindu nyaris terbuang
kuhabiskan saja sampai tak tersisa
hingga manis cinta memenuhi dada
kuminum segelas air putih pula
sebagai pelarut jika ada dusta
sungguh bundar makanan ini tak beda
dengan bulat matamu yang bercahaya
menikmatinya tanpa rasa curiga
persis menikmati kata demi kata
Corli: makanan tradisional Sumenep Madura berbentuk bulat kecil dan tipis, rasanya manis yang biasa dijual di pasar-pasar, meski akhir-akhir ini sudah jarang dilirik untuk dijadikan oleh-oleh

Kutemukan Puisiku di Pojok

kutemukan lagi satu puisiku
tiba-tiba memanggilku dengan merdu
dari pojok warung yang lama beku
bersama lelaki tua tanpa bajumu
aku pun mendekatinya pelan-pelan
sambil melirik kangkung dan mentin
tergeletak layu dengan banyak beban
lat-lalat mendekat menghirup harapan
mataku basah secara tiba-tiba
ketika lebih dekat lihat yang nyata
kangkung dan mentimun sudah tak berdaya
menjadi masa lalu di dalam dada
kubiarkan puisiku jadi angin
agar menghempaskan segala beban
setelah meniupkan cinta perlahan
ke dalam dadanya yang mirip kuburan
lalu di saat orang-orang menjauh
ada aku yang tak pernah ingin jauh
bersama puisi yang kian merengkuh
dirinya yang selalu sehening subuh
Faidi Rizal Alief: lahir di Gapura Timur Sumenep. Mahasiswa PBSI STKIP PGRI Sumenep. Tinggal di bandungan Gapura Tengah Sumenep Madura.
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Faidi Rizal Alief
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Minggu Pagi” 4 Oktober 2015