Di balik Sebutir – Malaikat Titipan – Pengabdi Angkasa – Musabab – Perginya Purnama

Karya . Dikliping tanggal 9 Juli 2018 dalam kategori Arsip Cerpen

Di balik Sebutir

Tengoklah sesosok wajah lelah
Tertutup hitam legam
debu arang
Tercium kuat aroma
minyak tanah
Telapak tangan pun memerah
dan melepuh
Tersengat hawa panas
dari dalam tungku

Sebutir ubi dia rebus
dalam kuali
Berharap mengganjal perut di
siang bolong
Tiada nampan
daun pisang pun jadi
Tiada lauk hanya bertabur
garam
Hidangan itu pun tak
hanya untuknya

Yogyakarta, 1998

Malaikat Titipan

Hari-hari kau sambut wajah
keruh itu
Kau lirik sebotol alkohol dalam
genggamnya
Tersenyum tipis layaknya
benang kusut
Bertukar pandang dirimu
dengan kilatan tajamnya
Siap sedia dalam degup derita
Gemetar dengan langkah
sepasang kaki gagah
Tertunduk pada suara berat
khas prianya
Memar masih terpeta pada
lengan rampingnya

Angin bertiup menyayat sisa-
sisa siksa

Dinginnya malam membuatmu
kebas, mati rasa
Melirik takut pada si bungsu
yang terlelap dalam dekapmu
Bersyukur tangan kasar itu tak

menjamahnya
Biarlah cangkang ini hancur
dalam cengkeramnya
Menjaga mutiara yang
tersembunyi di baliknya

Gubuk Derita, 10 Juni 2018

Pengabdi Angkasa

Bintang terdekat ‘kan
bersembunyi
Menghilang perlahan tertelan
masa
Dalam balutan jingga
sang langit senja
Pada akhirnya dia
hanya bermigrasi
Pada sisi lain dunia yang sama
Sinarnya tak pernah
benar-benar lenyap
Senantiasa menyirami
dalam gelap
Dia titipkan kilaunya pada sang
penguasa malam

Sang ratu yang setia
menjadi perantara
Sekalipun hanya
serpihan kecilnya
Seolah tak kuasa menahan
kesendirian
Kala bintang terkurung
awan hitam
Kala jangkrik tengah bosan
mengerik
Kepingan sinarnya telah
menghibur sepi
Dia lenyapkan pekatnya
gelap malam
Melebur bersama embusan
dingin angin
Menghangatkan hawa yang
mencengkeram tulang
Sungguhlah dia penghibur
angkasa
Tiada sunyi senyap bila tiba
dirinya
Sungguhlah dia penjaga
tanah-tanah raja

Tiada mati bila tersirami olehnya

Kaki langit, 2018

Musabab

Daun-daun muda tak akan
tumbuh
Bila yang dijumpainya hanya
kehampaan

Burung-burung tak akan per-
nah singgah Bila yang terden-
gar hanya nyanyian kematian

Semut-semut tak lagi
keluar sarang
Bila rintik hujan datang
menghantam

Kaki langit, 2018

Perginya Purnama

Malam bulan purnama
Raga rapuh itu tersirami oleh
cahaya redupnya Terduduk
diam di atas kursi roda

Menyanyikan sebaris melodi
yang sama Memejamkan netra
seraya berpangku tangan
Menikmati desiran harmoni
kehidupan Tiada lagi
sepasang tangan hangat yang
menuntunnya Mendekap
erat seolah takut angin
membekukannya Menikmati
setiap senandung yang
dilantunkannya

Tak pernah jenuh seakan can-
du baginya Sekalipun hanya

sebaris melodi yang sama Di
tempat yang sama,
di malam bulan purnama

Kaki langit, 27 Mei 2007

BonekaAnisa Nurkhasanah, Peminat sajak asal Sleman, Yogyakarta. Kini, tercatat sebagai mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

 

[1] Disalin dari karya Anisa Nurkhasanah
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Lampung Post” Minggu 8 Juli 2018