Di Balkon – Tengah Malam

Karya . Dikliping tanggal 3 Januari 2016 dalam kategori Arsip Puisi, Koran Tempo

Di Balkon

Sebab bulan akan busuk juga
sepanjang malam
aku duduk
kubaca kitab tentang kenapa sajak musti ditulis
kenapa kota ini terus tiris
dan kenapa pada setiap hari bertukar
akan terus ada sesal. Sekaliigus kesal
Sebab bulan akan busut juga
maka sepanjang malam
di balkon, dengan tirai rotan koyak menjuntai
— dan tikar pandan dari pedalaman Sumatera
aku pandang-pandang pendar lampu bertebaran
merapal lagu lam, meski tak ingin betul
tapi terus kurapal sebisaku.
Jika benar kota ini adalah puisi
yang belum selesai
yang tak akan pernah selesai
maka saat bulan busut
saat rasi bintang paling terang mulai hilang
tidak lagi bisa dipandang
akan aku rebut kota ini
dengan caraku sendiri.
Dan kau di mana,
sementara aku terus duduk
membaca kitab “kenapa” di atas tikar pandan
membiarkan begitu saja angin buruk
menyelinap lewat tirai pandan koyak
dirundung dingin teramat badan ini, dirundung
sampai hingga pangkal tembusu.
Dan kau dimana,
sementara aku terus duduk
di sudut balkon, menunggu bulan busut
menyelesaikan kota ini
dengan puisi
Jakarta, 2015

Tengah Malam

Tengah malam, jika ia berigau tentang aku
maka putarkanlah lagu itu. Dan telah aku tinggalkan bengkelai
kain agar bisa ia hirup bau tubuhku, agar bisa ia reka semaunya
berapa jengkal panjang lenganku. Aku sisipkan pula di balik
gorden kelabu itu–pandnag ke luar kaca jendela– dongeng
tentang rantau, tentang penyeberangan, juga tentang pulang.
Agar kelak ketika hari buruk datang, ia tahu
sebelum kata berangkat diputuskan, telah aku kurung lebih dahulu
segala hantu segala mambang dalam perutku
Di sini, dari satu kedai ke kedai lain aku tempuh
dalam menggumamkan lagu itu. Badanku di sini, cintaku, tapi tidak
dengan tubuhku. Tubuhku tetap adalah riak-riak danau di kaki Merapi itu
adalah pendakian tinggi dan tebing curam di Sitinjau, adalah bau tanah
lembah. Tubuhku tidak akan bisa dipisah dari dingin sungai
dimana pantun demi pantun
terus dialiri jauh.
Tengah malam, jika ia terus berigau tentang aku
dan lagu itu,
dan bengkalai kain itu,
atau dongeng di balik gorden kelabu itu
tidak bisa lagi membuat ia mereka-reka
seberapa jengkal panjang lenganku.
Maka hari baik akan datang.
Jakarta, 2015

Esha Tegar Putra, kelahiran Solok, Sumatera Barat, 29 April 1985. Buku puisi terbarunya Dalam Lipatan Kain (2015). Sedang belajar program pascasarjana di Departemen Susastra Universitas Indonesia.
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Esha Tegar Putra
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Koran Tempo” Sabtu 2 Januari 2016