Di Bawah Bulan – Dalam Hujan – Cieunteung – Dalam Kabut – Sajak Hitam – Pada Sebuah Malam – Biografi Kegelapan

Karya . Dikliping tanggal 11 Januari 2015 dalam kategori Arsip Puisi, Koran Lokal, Pikiran Rakyat

Di Bawah Bulan

Bergetar jaringan urat syaraf
di sekujur tubuhku
yang kau arsir dengan halus tanganmu.
Sorot matamu mencairkan darahku
yang nyaris beku.
Kata-kata yang kau lanturkan
sungguh racun bagi sukmaku
malam kian larut dan tua. Dan cicak
menafsir desah napasmu
di dadaku
Betapa mau berdiri tegak di situ
Memulas langit dengan warna lipstik
yang aneh. Lalu tiang listrik terdengar
dipukul orang, “Jam berapa?”
tanyamu. Sayup azan Subuh
dari arah yang jauh.
1996

Dalam Hujan

           –Untuk Heni Handayani
Dalam senja yang muram
suara hujan kembali kita dengar
seperti suara seseorang yang datang
dari masa silam. Dan kau tiada
bosannya menafsir cahaya mataku
dengan larik-larik kerinduan yang kau
tulis di luar puisi. “Bila maut memintaku
pergi dari sisimu, apa kau kelak sunyi
bagai Rama ditinggal Sinta?” tanyaku. 
petir di luar sana menggelegar lagi,
dan kau begitu sabar disisiku. Dan hujan
kian deras di luar jendela. Angin
bersiutan di tangkai pohonan. Kau
begitu sabar menanti jawaban
1996

Cieunteung

Saat menerima jasadmu
di liang lahat,
semasa tubuh sendiri yang dikuburkan.
Ikat tanah merah, putih kain kafan
membersihkan tanya: apa kuasa manusia
atas kehendakNya?
Doa para pengantar menyelusup
ke dalam pendengaranku
dan aku tenggelam dalam keheningan.
Saat liang lahat diurug tanah merah
lalu ditikam taburan bunga,
aku masih di situ. Saat para pengantar
melangkah pergi, kenangan menjaringku
“Anakku, duka semacam inikah 
yang kelak kau tanggung bila aku
dikuburkan?” Pepohonan menunduk,
lengang di batinku.
1996

Dalam Kabut 

Inilah kenyataan itu: goresan angin
pada debur ombak dan lengkung langit,
dan jasad dikuburkan. Petikan mawar
dan cempaka aku tabur di situ.
hanya tanah, selalu tanah, melulu tanah
yang kelak memeluk ini tubuh setelah riuh
melayang terbang, dipanggilNya. Sekali lagi
hanya tanah dan cacing hitam di kegelapan
juga potongan bambu dengan ukuran tertentu,
ya, indah kenyataan itu. Jasad yang kelak
membusuk itu disingkirkan dari ranjangmu
tempat bermimpi dan bercinta. Dan kini
di sini, hanya angin dan daun gugur
dan jarum jam bergeser lagi
1996

Sajak Hitam 

Janin dalam rahimmu
kenapa digugurkan?
kenapa tak kau biarkan tumbuh 
hingga lahir dari rahimmu,
dan kelak ia bisa membaca dan menulis,
bisa pula bicara alif adalah alif 
dengan suara yang merdu
Apa karena malu
dengan kenyataan hidup
yang muram, kau gugurkan
bayi yang kau kandung? Betapa
di berbagai pelosok bumi
banyak ibu merindukan bayi
dalam pangkuannya.
Aku tak habis mengeti
Dengan semua itu. Majalah 
dan Koran ramai sudah
dan kau nyaris mati demi
menimbun aib di hatimu
yang semua itu tak bisa
kau hapus dengan 
apa pun itu!
1997

Pada Sebuah Malam

Pada sebuah malam
aku mendengar suara ribuan bayi
mengguncang semesta:
“Ibu mengapa kau hancurkan
taman sorga di kakimu
kau usir aku dari rahimmu?
Ibu bagaimana kelak
aku mengenali wajahmu
bila kau berpaling dariku?”
Tubuhku bergetar mendengarnya.
Ibu aku merindukanmu. Aku
bukan Malin Kundang.
1997

Biografi Kegelapan

Ia mengerat urat nadi
di pergelangan tangannya sendiri
seperti mengerat tali jemuran.
Tapi riuh bayi yang ia habisi di rahim ibunya
dari langit yang lain menyuntikkan
bergalon-galon darah segar ke jantungnya
Ia heran kepada dirinya seniri
masih bisa bernapas, masih bisa melihat
suster cantik, juga lembaran rupiah
yang nilainya terus merosot dihajar dolar
ia gemetar dan takut saat mendengar
suara sepatu di kamar itu, “Adakah polisi
yang datang ke kamar ini?” batinnya.
Di situ tak ada ibu bayi yang ia aborsi
hanya detik jam yang lambat.
Sesekali didengarnya suara lonceng
dari sebuah gereja. Sesekali
ia merasa sudah mati.
1997
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Soni Farid Maulana
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Pikiran Rakyat” pada 11 Januari 2015