Di Depan Lukisan – Nocturno – Solilokui – Jam Dinding – Cermin – Riwayat – Tumbang – Ekstase di Bukit Bintang

Karya . Dikliping tanggal 20 Maret 2016 dalam kategori Arsip Puisi, Koran Lokal, Minggu Pagi

Di Depan Lukisan

        : Nasirun

Aku pun terhisap di sana
lebur jadi sapuan warna tanpa pigura
mengalir di kanvas terbuka
Memasuki lukisan hidup
tea-teki makna
yang melampirkan tanda-tanda

Nocturno

Dari balik jendela, dari gorden sedikit terbuka
wajah lelaki sangat tua memasuki malam di luar sana
malam yang tanpa cahaya
Jari jemarinya terjebak di ujung piano
nada-nada pilu yang runcing
Bahkan, ada hujan dan kesepian
meminjam tubuhnya
Lirik sunyi
mengiris

Solilokui

Inilah nyanyian
liriknya tercantum di tubuhku
seperti percakapan tunggal yang terpenggal
Kaukah rindu itu?
Menggigil malam diterpa diam
hanya langkah bayang-bayang
lenyap di kesendirian
Roda-roda kereta mengekalkan perjalanan
aku memanggilmu
di kejauhan

Jam Dinding

Detak jam dan jarum-jarum panjang
sering jadi mimpi buruk yang merampas keindahan
ketika kita merawat bunga-bunga
Layu dan gugur kelopak
menjadi bahasa ketakutan yang tak diucapkan
ketika gagal menangkap makna
antara yang abadi dan yang fana
Di balik bandul besar dan angka-angka yang melingkar
ada rahasia yang memburu sebagai bayang-bayang tubuh
:waktu di luar waktu!

Cermin

Antara aku dan tubuhku, bertemu
bergerak dalam bisu
helai-helai rambut kulit wajah yang keriput
jadi tontonan utuh sepilu tembang megatruh
sebelum tiba subuh
Aku berdiri memandang tubuh sendiri
garis-garis gerimis mengukir sepi
di dataran cermin persegi
Antara tubuhku dan aku, berpisah
Meninggalkan gelisah

Riwayat

Pintu itulah saksinya
ketika kau pergi menembus hujan
hilang di sebuah tikungan panjang
riwayat kejadian yang kemudian jadi kenangan
Bgeitulah kehidupan
rumah yang satu sat ditinggal penghuninya
seperti kepompong dan kupu-kupu
meneguhkan langkah waktu
di luar kekuasaanku

Tumbang

Pohon kecemasan menjulang di tepi jurang sepi
yang panjang dan hitam
Sebelum tumbang
Tuhan datang, menancapkan siang
sekokoh tiang pancang tempatku berpegang
Hidup bukanlah ketakutan yang disembunyikan
di sini akar mencengkeram membangunkan ketabahan

Ekstase di Bukit Bintang

Berlama-lama di sini
menggigil aku dlaam kepung sepi
hanya sajakmu yang tuak
dan aku sepotong roti yang tak enak
Di hangat tuak sajak kuceburkan tubuhku
tubuh roti yang perlahan-lahan mengembang
jadi kapal-kapal hilir-mudik di lautan
laut memabukkan segala kesepian
Di bukit bintang
dari sini sepiku terbang
membangun geriap gelombang berdatangan
di sini gigilku menggetarkan inti kerinduan
Bantul, 2015



Umi Kulsum: pekerja budaya tinggal di Bantul. Aktif bergiat di Sastra Bulan Purnama.

Rujukan
:
[1] Disalin dari karya Umi Kulsum
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Minggu Pagi” 20 Maret 2016