Di Hari Kematian Baradita Katoppo – Anak-Anak – Almost Blue – Tentang Orang Datang – Syair Malangsumirang

Karya . Dikliping tanggal 15 Maret 2015 dalam kategori Arsip Puisi, Koran Kompas

Di Hari Kematian Baradita Katoppo

Di hari kematian Bardita Katoppo,
ketika lampu mulai dipadamkan,
sebaris kalimat lewat: “Tak ada yang kembali
dari benua itu.”

“Tak ada yang kembali.”
Hamlet, kita ingat,
mengatakan itu, seraya telunjuknya
ia rapatkan pada pintu.

Langit mengeriput. Antara kata dan katakomb,
ia lihat orang-orang berangkat,
dan seseorang mengirim pesan pendek,
“Aku tinggalkan waktu, Tuanku.”

Itu bisa. Itu mungkin bisa.

Sebab di sini, dekat kau dan aku,
kematian selalu menjemput,
bersama asap

di sudut rumah menjelang sore,
dan kabur ke udara
ketika tetangga-tetangga
membakar sampah dan di corong radio

tak ada orang yang butuh berdoa.
Hanya sejumlah nada lurus
tapi berkabung.
Dan tak satu pun yang kembali.

Hamlet pun bertanya:
mana yang lebih sedih,
mana yang lebih sederhana:
menanggungkan ombak di gempa laut,

atau memangkas nasib
yang tak adil, atau menyeberangi selat
dan menghilang
ke dalam hijau ganggang?

Di jalan ke pengasingan itu Horatio diam,
meskipun wajahnya menua dan berkata,
Kita ada di sana selalu, Tuanku,
kita ada di sana selalu.

2014

Anak-Anak

Di dinding rumah hitam
yang ia ingat 60 tahun kemudian
tertulis empat huruf nama anak
yang tak akan pernah dilahirkan.

Sejak langit tak bisa dingin.

Sejak langit tak bisa dingin
di malam hari dilihatnya malaikat penunggang kuda
dengan muka muram menyelamatkan 1.000 janin
dari bumi.

Dari pertanyaan-pertanyaan
tentang bahagia.

2015

Mendengarkan Kembali ‘Bluette’ Dave Brubeck Quartet, untuk Kanvas Joan Miro

Beri aku, Brubeck,
Beri aku siang yang tak ringkas,
sax yang samar,
jam yang tak membekas.

Beri aku biru
denting yang tak terduga.
Beri aku malam
pada bar ketiga.

Beri aku ritme
dan kanvas yang kekal.
Beri aku anti-melodi.
Beri aku melodi:

kematian yang tertunda
setiap kali.

2015

Almost Blue

Chet Baker mati di kakilima ini. Pada suatu malam, ada
suara trompet yang menggigil dari arah lorong pelacuran,
dan seseorang jatuh dari jendela di lantai kedua. Dinihari
mengeras di seluruh Amsterdam. Kanal seakan terbelah.
Suara trem tertahan dari arah Waag.

Portir hotel mengangkat mayat tamu yang dikenalnya itu
dan menghapus kokain dari pipinya. Di mulut yang tipis dan
berserbuk itu ia sebenarnya ingin dengan sisa suara yang
serak, suara yang pelan, melankoli, mimpi. Tapi telat.

“You will be OK, Chet, you will be OK,” bisiknya. Ia tahu ia
berdusta.

Kemudian esok hari kekosongan, kemudian lusa percakapan,
dan jazz menjalar ke dalam suhu kamar. Nada mencari
jalannya sendiri-sendiri, meskipun, ajaib, tiap kali mereka
ketemu kembali.

Mereka bertemu di titik ini, di sudut kakilima ini, pada
murung dalam angan-angan, narkose dalam biru, ketika
Chet Baker berdiri luka dan senja kembali melihatnya.

Ia meniup terompetnya.

2015

Tentang Orang Datang

Dalam mimpi burukku kau datang merah padam
seperti kusta.

Bertopi kelas, turun dari kapal,
dan berkata, “Aku orang yang tak akan tinggal.”

Di kantor imigrasi itu mereka tak tahu,
adakah kau asing adakah aku asing,

atau justru kota ini
yang akan mengusir kita.

Dalam mimpi burukku kau dengan aku berseru.
Dalam mimpi burukku aku tak tahu siapa yang berseru.

2015

Syair Malangsumirang

               Malangsumirang wus prapti…
               – Babad jaka Tingkir, 1820

Syahdan, murtad itu pun diikat
di atas unggun, dan api naik menggeram,
dan penonton terdiam
di seluruh alun-alun.

Seekor anjing menyalak
ke cuaca Demak, menyeru hujan,
dan hujan tak turun,
dan langit kering,

mendung tak menyahut,
juga ketika seorang anak bertanya,
“Aku tak mengerti,
ke mana orang itu harus mati.”

Seorang orang tua, yang pernah
melihat semuanya, pun berkata,
“Ia akan selalu bersama kita,
dalam abu dahan cendana.”

“Anjingnya yang setia
akan mendatangkannya lagi
dari api – dari kepastian
yang membunuhnya.”

Maka para wali pun terkejut
dan orang-orang suci merunduk,
ketika anjing itu meloncat
ke tengah nyala, dan lidah api meliuk,

dan si murtad terlihat, dari pekat asap:
ia menuliskan sajaknya.
Dan anak itu pun bertanya,
“Katakan, Eyang, apa yang ditulisnya.”

“Sebuah nyanyian, nak,
seperti hutan Kalampisan
yang tak ingin
punya makna.”

2015

Goenawan Mohamad menulis puisi, esai, dan lakon. Buku puisinya antara lain Don Quixote (2011) dan Gandari dan Sejumlah Sajak (2013).




Rujukan:
[1] Disalin dari karya Goenawan Mohamad
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Kompas” pada 15 Maret 2015