Di Kota Baru Baucau

Karya . Dikliping tanggal 15 Oktober 2018 dalam kategori Arsip Puisi, Media Indonesia

Di Kota Baru Baucau

:Faustino

kau punya hujah sendiri untuk berdiri di gerbang itu
memberi hormat ketika merah putih berkibar
kau selalu memiliki helah untuk selalu lewati jalan itu
mendengarkan suaranya memantul dari bahu-bahu
jalan

lalu kau resapi tembang Jembatan Merah
yang membuat matamu basah
tanyamu: apakah kita sama-sama punya hati yang
tinggal sebelah?
dia wanita Jawa, diamnya adalah kesepakatannya
dan sepotong hatimu utuh kembali

tapi waktu tak abadi
sejarah bicara dari dua kepala
di kota Baucau, kalian berjalan ke arah yang berbeda
menahan kesakitan, membekap separuh hati yang
memar

Di Dili

tolong bacakan nama-nama jalan yang susah kueja itu
entah berapa purnama aku belajar melafalkan
dan aku masih di distrito ini, berputar-putar di rua-
rua
dari sucos ke sucos, dari aldeias ke aldeias

hanya perihal nama, ucapmu
tanah ini masih tempat terbitnya matahari
fajar tetap potongan harapan yang menunggu orang-
orang datang
seperti sajak abadi yang tersimpan di sepanjang
pantai kelapa

Baca juga:  Jantungmu - Pulang

ini hanya tentang garis batas yang dibuat manusia,
katamu
sementara kau pergi berdansa dengan kekasihmu
aku di dapur, merebus mi instan,
sendirian.

Di Ermera

barangkali benar, pertemuan hanya seusia embun
tapi kisah-kisah mengabadi dengan caranya sendiri
kau tahu pasti, bagaimana aku jatuh hati
pada tanah di mana kau bernapas
bukit-bukitnya, sabananya, madrecacaunya, aroma
kopinya

di tepi Sungai Gleno kita lepas kacamata hitam putih
saat membaca sejarah
seperti hari ini, masih kutulis sajak perihal tanahmu,
tempat terbit matahari itu
dan sekali lagi, aku menamainya
:esperansa

Di Kota Lama

:Faustino

ini perihal lelaki yang memesan dua cangkir kopi
katamu; untuk yang bernama kenangan
kita bersisian, menyusuri jalanan melingkar di
perbukitan Baucau
di kota tua, tak ada ingatan yang merapuh bersama
waktu
surat-surat kecil di keramaian mercado municipal
gadis Portugis yang berjalan dengan keranjang
belanja
bagaimana diam-diam kau masukkan lipatan amplop
ke dalam keranjangnya

Baca juga:  Langkah Yang Gemetar

kalian bertukar mimpi, berbagi harapan
namun semua lebur ketika revolusi bunga mekar
kekasihmu pergi,
membawa separuh hatimu yang tak pernah kembali

Di Comoro

perihal rencanakan pertemuan itu
aku tahu, kita sama-sama tak ingin mengingatnya
tapi kartu pos bergambar bandara Comoro itu
membuatku seperti dormouse
yang terbangun oleh embun beku
di musim dingin

Di Atambua
di atas jembatan air mata,
yang menjadi batas negerimu dan negeriku
kau dan aku pernah membaca sajak Neruda:
“Kita bahkan telah kehilangan senja ini”

ribuan senja kemudian
aku baru menyadari
sesungguhnya, hanya senja itu
yang pernah kita miliki

Baca juga:  Lelaki di Bawah Pohon Turi

Romantique 5

bagi penyair, pertemuan pendek adalah
sajak panjang di serentang jalan pulang
pagar-pagar,
rumah-rumah,
daun pintu,
bangku kayu di beranda
adalah halaman-halaman tempat menjatuhkan kata-
kata
di mana kenangan dibangun dan disimpan
untuk kelak dibuka-buka kembali

bagi penyair
pertemuan sekejap, adalah sajak panjang
yang tak habis-habis dituliskan
meski berkali-kali, meski berulang-ulang

Shabrina Ws, tinggal di Sidoarjo. Beberapa novel yang telah terbit, di antaranya Rahasia Pelangi, PING, Always Be in Your Heart, Betang; Cinta yang Tumbuh dalam Diam, dan Sauh.


[1] Disalin dari karya Shabrina Ws
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Media Indonesia” edisi Minggu 14 Oktober 2018

.