Di Seberang Jendela – Tunduk Pada Kata-kata – Seperti Kutemukan Kembali – Mempelai Cahaya – Penantian – Pagi – Tomohon

Karya . Dikliping tanggal 28 November 2016 dalam kategori Arsip Puisi, Koran Tempo

Di Seberang Jendela

Di seberang jendela bukit-bukit berkilau 
Gumapan awan diuraikan cahaya pagi
Sepanjang pantai rumpun-rumpun bakau
Menyerap ombak. Punggung laut melonjak
Menjelang petang topan mengirimkan kabar
Kau dan aku percaya teluk tak sekadar majas
Lihatlah, seluruh warna memadat pada ufuk
Sampan-sampan menjadi penanda malam tiba
Di seberang cangkir kopi berserak kunang-kunang
Bukit-bukit seakan menghamparkan karpet bulu
Yang bergelombang seperti dadamu. Aku terpejam
Rembang meredup ketika bintang-bintang berkaca 
Pada laut. Kau dan aku yakin rindu tak sekedar diksi
Pertemuan tak sekedar beradunya langit dengan bumi
2015

Tunduk Pada Kata-kata

Langkah fajar bersejingkat mendatangi gigir dermaga
Dalam remang cahaya keemasan. Di antara atap-atap seng
Ranting-ranting pala mengulurkan tangan ke arah pagi
Sedang daun-daun cengkih bercengkerama dengan embun
Matahari menyembul dari ujung tanjung yang menjorok
Ke tengah teluk. Resapan pigmen biruu mencelup sammudera
Rumbai kabut menaungi ombak yang bergerak menuju ufuk
Lalu buih-buih ombak menarik balik rumbai itu dari udara
Paras siang memantulkan kemilau perak dari cangkang lokan
Jejak bianglala menjadi jembatan gantung bagi rembang petang
Mantera-matera lama dari hutan malam kembali terdengar
Kekasihku, mungkin seseorang akan datang dari balik ombak
Mungkin seorang penyair akan datang mengendarai kereta kuda
Lalu selat, tanjung dan teluk semuanya tunduk pada kata-kata
2015

Seperti Kutemukan Kembali

Pada karat yang cokelat kehitaman di kapal itu
Namamu terpahat dalam, seperti kaligrafi
Di batu nisan. Kau sudah lama pergi
Meninggalkan hari
Kau sudah lama menjauh
Dari keluh dan aduh. Kau sudah lama mati
Terkubur bersama puisi
Pada karat yang cokelat kehitaman
Seperti kutemukan kembali dirimu, hidup
Meski redup. Seperti kutemukan cinta itu
Tapi kau tak kunjung mengenaliku
Kau tak pernah menemukanku
Yang berabad menunggu
Di dermaga waktu
2013

Mempelai Cahaya

Di sepanjang gawir bukit
Kutemukan guguran kembang
Seperti tetesan napas yang menjadi silam
Menjelang tenggelamnya rembang
Di balik samudera tanpa tepi
Kudengar langkah-langkah sunyi
Seperti detak jantung yang terantuk
Pada garis pembatas senja di ufuk
Di kesementaraan yang tersisa
Kuikuti camar-camar yang gembira
Mengitari kekosongan di luas hatinya
Kekasihku, seperti mempelai cahaya
Kulihat bianglala bergerak dari arah utara
Seperti sesuatu yang pada akhirnya akan sirna
2013

Penantian 

Aku berdiri sepanjang senja
Di pelabuhan tua. Membaca gumpalan awan
Yang mengirimkan tarian dan wewangian sorga
Pada seseorang. Mungkin tak akan kudengar
Hempasan gelombang pasang yang rutin
Pada tembok dermaga. Tak akan kudengar juga
Aluna kidung dari arah pura. Di sini aku menunggu
Kapal-kapal kayu yang kembali membawa jejakmu
Dari sebuah gugusan pulau masa lalu yang jauh
Melewati selat demi selat, melintasi teluk demi teluk
Bahkan melampaui abad demi abad yanng tak terlukiskan
Sebuah reportoar panjang mengenai betapa ajaibnya 
Pennatian. Mungkin kau sudah lupa siapa namaku
Juga tak ingat gambar naga yang kaurajah di susuku
Sebagaimana kini mataku pun mulai samar-samar
Menyaksikan gumpalan besar awan kelabu
Yang berubah menjadi jingga kehitaman
Begitu mendarat sebagai sunyi
2013

Pagi

Pohon-pohon pala  yang berambutkan embun
Berjajar mengelilingi pagi. Detik-detik berjatuhan
Seperti putik-putik cengkih yang menggugurkan diri
Di bawah matahari yang terkepung gumpalan awan
Nusa-nusa di kejauhan menjelma hamparan
tapestri
2013

Tomohon

Antara datang dan pergi
Masih terdengar repetisi angin
Pada gordin kabut. Dingin yang mengetuk
Dan namamu yang terus disebut
Antara sedih dan gembira
Masih tergurat interval embun
Pada serat daun. Pohon yang terbantun
Meninggalkan jejakmu di sisa unggun
Antara lahir dan mati
Masih tersimpan refrein waktu
Pada salib perunggu. Pantulan sabdamu
Mengendap di lapisan gamping batu
2014
Acep Zamzam Noor, bergiat di Sanggar Sastra Tasik dan Komunitas Azan di tasikmalaya, Jawa Barat. Buku-buku puisinya antara lain Bagian dari Kegembiraan (2013) dan Like Death Approaching and Other Poems (terjemahan Inggris dan Jerman, 2015)


Rujukan:
[1] disalin dari karya Acep Zamzam Noor
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Koran Tempo” edisi 26-27 November 2016