Di Taman Kota

Karya . Dikliping tanggal 25 Maret 2019 dalam kategori Arsip Cerpen, Kedaulatan Rakyat, Koran Lokal

SEPERTI biasa, Jumat pagi saya menghentikan angkot di depan taman kota. Mestinya saya sudah di kantor sekarang. Tapi sudah izin dari kemarin kepada Adri, atasan yang sebenarnya sahabat saya sejak kecil. Izin bahwa kerja pagi saya diganti mulai bakda jumatan saja.

Belum semenit saya duduk di bangku taman, saya dikejutkan oleh seseorang yang menghampiri dan duduk di sebelah saya.

“Halo, Bro. Apa kabar? Kebetulan sekali kita bertemu di sini,” katanya sambil mengajak bersalaman.

“Alhamdulillah, baik,” jawab saya sambil mengingat-ingat.

“Haha… pasti sibuk bertanyatanya: siapa saya? Ya, kan? Pasti lupa, kan? Ini ada tandanya. Permainan masa kecil, main bola di sawah. Lalu mandi di sungai. Lalu….”

“Lalu ke kebun Wak Dullah?”

“Dan kamu mencuri mangga!”

Saya terkejut. Kok, yang diingatnya mencuri mangga? Saya jadi ingat, bukan hanya mencuri mangga, tapi mencuri jeruk juga, mencuri ikan juga, mencuri telur ayam juga… ah, ternyata begitu banyak yang pernah saya curi tapi selalu menganggapnya itu kenakalan masa kecil.

“Makanya, jangan sok baik! Kok, susah banget memaafkan orang yang nyata-nyata mau meminta maaf!”

“Maksudnya?”

“Saya lihat kamu masih hobi demonstrasi. Hobi, kan? Kamu mendemo penghina agama. Lalu begitu heroik bilang, yang tidak ikut demo itu kafir! Yang tidak sependapat bahwa itu penghina agama adalah kafir! Sementara bertahun-tahun kamu melecehkan agamamu sendiri, kamu diam saja. Kamu itu baru bisa membaca Al-Qur’an terbata-bata, tanpa membaca artinya, tanpa membaca tafsirnya, tanpa tahu asbabunnuzulnya, tanpa merenungkan isinya! Makanya kamu eksklusif, tidak bermasyarakat, tidak peduli lingkungan, kamu lebih galak daripada anjing pemburu! Bila dipercaya kamu juga berkhianat, korupsi!”

Rasanya saya semakin mengenal orang yang bicara seperti itu.

“Mestinya kamu bacakan lagi puisi yang pernah kamu tulis pada masa kuliah saat kamu suka demo: Ke jalan mana lagi kita demonstrasi bila yang mendemo diri sendiri?! Itu yang kamu butuhkan sekarang, mendemo diri kamu sendiri!”

Saya suka berbincang dengan siapa saja, termasuk dengan kenalan baru. Tapi dengan orang ini, diam-diam saya mulai jengkel juga. Dia sepertinya tidak sadar apa yang diomongkannya. Mungkin dia sendiri sebenarnya yang brengsek seperti itu! Saya ingin mendebatnya. Tapi sebelum saya bicara, murotal Qur’an dibacakan dari masjid di seberang taman kota.

“Ok, deh. Sepertinya sudah mau jumatan lagi. Saya pergi dulu, saya jumatan di rumah. Assalamualaikum.”

Pulang jumatan, di depan masjid, saya melihat istri saya sedang menunggu.

“Maafkan saya sudah mengikuti Mas sejak pagi. Saya heran waktu Pak Adri bilang Akang tidak pernah masuk kerja setiap Jumat pagi. Saya pikir Akang menemui… istri siri.”

Saya tersenyum kecut.

“Tapi Mas jangan seperti yang bicara sendiri, senyumsenyum sendiri. Mas seperti yang tidak waras! Tadi, di taman kota.”

Saya diam beberapa saat, lalu tersenyum dan bilang: “Justru tadi itu saat-saat Mas merasa waras.” ❑ – g

*) Yus R. Ismail, menulis cerpen, novel dan puisi, dalam bahasa Indonesia dan Sunda. Buku terbarunya In The Small Hours of The Night terjemahan C.W. Watson (Lontar, 2018).


[1] Disalin dari karya Yus R. Ismail
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Kedaulatan Rakyat” Minggu 24 Maret 2019