Dimuka Cermin – Sumur – Tahanan Yang Menatap terali Besi Diam-Diam – Ada Yang Menjerit Memanggil Namamu – Pagi

Karya , . Dikliping tanggal 24 Oktober 2015 dalam kategori Arsip Puisi, Kliping Sastra

Dimuka Cermin

kutemui sekarang,
orang yang sering
menggangguku dengan bisik-bisik

Sumur

aku melihat bahwa ada seseorang yang ingin 
sekali merayapi dinding-dinding sumur dan naik
keatas bumi yang belum pernah dikenalnya.
ia ingin sekali aku menjenguk kedalam sumur
lama-lama, sementara ia bisa menatap langit
sepuas-puasnya.

Tahanan Yang Menatap terali Besi Diam-Diam 

kuingin bulan menjenguk
kamarku yang gelap dan lesu
dari balik terali-terali itu

Ada Yang Menjerit Memanggil Namamu

kau dorong pintu perlahan-lahan
dan terkejut
sesuatu menyumpal ditenggorokan
kau tercekik
tak bisa bernafas
lidahmu terjulur.
ya, kau sadari kini 
telapak kakimu dingin
lututmu dingin
pinggangmu dingin
dadamu dingin
lehermu dingin.
dan kau sadari
bahwa kau tak merasa sakit
waktu tubuhmu terbanting keras
dimuka pintu, lalu
ada yang menjerit
memanggil namamu

Pagi

tenang kabut, embun dan rumput
tentang timur, angin dan matahari
tentang desir, desau dan asap
kemarin baru saja kau katakan
:    kita terlalu banyak bicara
       tentang soal-soal yang
          mengusik tidur kita

Dibalik Pintu Kuning berdebu

dibalik pintu kuning berdebu
terdengar suara langkah makin mendekat
sementara aku berjalan kearah pintu
tiba-tiba terdengar detak-detak jantungku
seperti suara langkah yang makin menjauh
dibalik pintu kuning berdebu

Dalam Sebuah Sajak

dipantai
matahari mendesiskan kata kata senja
sisa-sisa ombak menyapu ujung jari kaki
diujung sana seorang gadis tersenyum padaku
kuremas kertas sajakku,
semuanya lenyap

Sepucuk Surat Yang Datang Malam Hari

ketika itu aku sedang menyisir rambutku
dimuka cermin dikamar adikku malam hari
waktu sepucuk surat kutemukan terselip
dibawah pintu.
kulihat namaku pada alamatnya, kubaca nama
sipengirim lambat-lambat, sedemikian
lambat hingga tak kusadari bahwa aku tak
melihat lagi wajahku dicermin setelah
aku selesai membacanya

Pagi Itu

    Pagi itu aku terkejut waktu
bangun tidur kujumpai karang bunga
ikut berduka dengan namaku pada kertasnya.
    Dan aku semakin terkejut saat
tengkukku menjadi dingin dan aku
seakan dilemparkan oleh kekuatan yang 
luar biasa keruang angkasa tanpa bintang.

Halilintar

dan kaupun terkejut ketika kau dengar
namamu disebutnya
cepat-cepat

Seekor Anak Ayam Yang Bar Menetas

seekor anak ayam yang baru menetas
menyeruak, mengerdipkan mata
pada dunianya yang baru.
ketika kucekik lehernya
seakan terdengar jeritnya :
           alangkah pendeknya hidup ini!

Kitapun Terdiam Seketika

kitapun terdiam seketika
waktu sedang asyik mengobrol
sambil minum kopi sore itu
(ada jeritan dibelakang rumah)
kitapun terdiam seketika
waktu istrimu mendahului kita
waktu sedang asyik mengobrol
sambil minum kopi sore itu
dibelakang rumah
(ada jeritan dimuka rumah)
kitapun terdiam seketika
waktu aku belum menyadari
bahwa kaupun diam-diam
menyusul istrimu
waktu sedang asyik mengobrol
sambil minum kopi sore itu
dimuka rumah

Percakapan Dalam Kamar

ssst! hati-hati
dinding bertelinga
           bertelinga keriput
                          keriput rapuh

Angin Itu Menyusup Di Ketiak

angin itu menyusup diketiak
ada rasa haru merembes dada
air diparit bergolak sedikit
tujuh lautan kering seketika
sekelompok awan menguap bersama
ada nasib ditempa disana

Seekor Ulat Dalam Buah Jambu

aku terkejut melihat seekor ulat
menggeliat dalam buah jambu
ketika aku akan memakannya
aku termenung sesaat, kupikir
mungkin ulat itu ingin berbisik
bahwa ia sama laparnya seperti aku

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Mira Sato
[2] Pernah ditersiar dalam bentuk buku –kumpulan puisi berjudul “MATI MATI MATI,” yang diterbitkan oleh “Pabrik Tulisan – Yogyakarta” pada tahun 1975.