Dinding Ayah

Karya . Dikliping tanggal 2 Januari 2016 dalam kategori Arsip Cerpen, Cerpen Lawas, Majalah, Majalah Matra
TIBA-TIBA TERJADI KERIBUTAN DI DAPUR. SUARA berantakan. Suara berdentam. Barang pecah-belah yang sumyur, hancur berkeping-keping. Gelegar benda besar dan berat yang dibanting, hingga dinding dan lantai bergetar. Menjelang ashar ketika saya sedang menikmati makan siang, saya meloncat meninggalkan piring saya. Menghambur ke pintu dapur yang terkunci, saya tersentak dan tersodok undur. Pintu itu berderak-derak dihujani benda-benda dari dalam yang lalu berserakan di lantai berdentangan.
“Ayah!!!” teriak saya memanggil Ayah yang berada di dapur. Tak ada jawaban. Saya yakin benar Ayah barusan masuk ke dapur sebelum keributan itu terjadi. Dan juga berani pasti di dalam tidak ada orang lain. Para pembantu berhamburan dari kamarnya. Mereka, dengan wajah yang cemas, menanyakan apa yang sedang terjadi. Saya tak sempat menyahut karena saya harus mencari jendela dapur yang mungkin terbuka sehingga saya dapat melongok ke dalam. Jendela itu ternyata terkunci juga. 
“Ayah!!!” teriak saya lagi lewat kisi-kisi. Tetap tak ada jawaban. Lalu saya mengitari dapur dari luar. Jendela yang lain ternyata terkunci juga. Juga pintu yang satunya. Buru-buru saya memanjat ke atas. Barangkali saya bisa melongok lewat plafon. Ternyata lubang plafon yang seharusnya mudah digeser, tertutup rapat-rapat. Saya turun kembali. 
Suara berantakan berlanjut. Sepertinya ada piring-piring baru, gelas-gelas baru yang dibantingi, menyusul barang-barang yang sudah hancur. Sepertinya ada benda besar dan berat baru yang dibantingi berdentam. Dinding dan lantai kembali bergetar. 
Diikuti dua adik saya Ting Ting dan Bom Bom—Ibu datang tergopoh-gopoh sambil berteriak: “Ini apa-apaan!”
“Ayah,” sahut saya memberi tahu Ibu. 
“Ada apa dengan ayahmu?” tanya Ibu sambil mengawasi dinding berkeliling. Kembali pintu dihantam kaleng yang lalu jatuh berderang-derang. 
“Pap! Pap!” teriak Ibu sambil berkacak pinggang dan menendangi pintu yang tertutup itu. Ting Ting dan Bom Bom merapat di pinggang Ibu sambil memegangi blusnya. Para pembantu pada bengong, tak tahu apa yang mesti dilakukan. 
Dua orang bodyguard muncul diikuti tiga orang satpam dan beberapa sopir. Belum sempat bertanya ini itu, mereka menghilang lagi. Lalu muncul kembali dengan linggis. 
“Kita jebol saja pintu ini, Bu,” nyeletuk yang seorang sambil memperlihatkan linggisnya. 
“Jebol!!!” perintah Ibu. Lalu bodyguard itu menghantamkan ujung linggis yang tajam itu ke selot. Berkali-kali. Tapi karena orang kuat ini tak terlatih menombak, maka linggis itu tak mampu menghancurkan selot. 
“Tembak!!!” perintah Ibu. Seorang bodyguard yang lain mencabut pistolnya dan beberapa kali menembaki selot itu. Tembakannya tepat sampai tangkai selot itu lepas dan jatuh berdering. Namun pintu tetap tak dapat dibuka meski kedua bodyguard itu mendobrak dengan tubuhnya yang gempal. 
Sekonyong-konyong dari dalam dapur terdengar suara mendesis yang dahsyat, disusul bau yang sangat busuk. Dua bodyguard itu mundur sambil mencekam erat hidung dan mulutnya. Ibu, Ting Ting, dan Bom Bom menghindar sambil muntah-muntah di sepanjang koridor. Para pembantu berlari sambil menjerit-jerit. Saya berlari ke wastafel dan muntah di sana. 
Tak lama antaranya pintu dapur itu pun membuka. Asap menggelayut keluar dapur disapu angin beranda. Terlihat percikan-percikan api di dalam. Ayah muncul. Beliau kelihatan biasa-biasa saja. Wajahnya nampak lecet-lecet berdarah. Ayah berlalu dari dapur dengan lenggang kangkung. Wajahnya semringah seperti ketika masuk dapur. Hanya saja pakaiannya sekarang jadi compang-camping, kotor, dan di sana-sini berlepotan darah. Beliau tidak peduli akan Ibu dan anak-anaknya yang muntah-muntah penuh kecemasan. Menoleh kepada kami pun Ayah tidak. Sementara itu kedua bodyguard dan ketiga satpam itu menghormat penuh takzim. Para pembantu memandangi beliau penuh keheranan. Dan sopir-sopir terpaku tak bergerak. 
Setelah Ayah masuk ke ruang besar dan lenyap di sana, kami pun menghambur masuk ke dapur. Masya Allah: Seolah habis terjadi pertempuran di dalamnya. Porak-poranda. Asap terus mengepul. Percikan api di beberapa sudut sering terlihat berkilat-kilat. Dua kulkas besar hancur sehancur-hancurnya. Dua lemari dapur tinggal potongan-potongan kayu. Laci dapur sepanjang delapan meter, ludes entah terbang ke mana. Dua perangkat kompor gas, ringsek tak dapat dikenali lagi. Untung sekali, pipa gasnya telah terpilin, hingga gasnya mati kutu di dalamnya. Gelas, cangkir, piring, dan segala bentuk pecah-belah, hancur lumat jadi bubukan beling. Barang-barang logam sudah jadi arang, bersama pecahan kaca yang sebagian menancap di dinding dan plafon. 
Berhari-hari pikiran kami sekeluarga ditohok-tohok pertanyaan-pertanyaan yang amat besar tentang kejadian dapur yang dahsyat itu. Peristiwa dapur kami anggap setarap dengan Perang Dunia II. Atau setarap dengan musibah gempa bumi di Armenia. Tapi kami memberi nilai lebih karena peristiwa dapur ini di luar batas angan-angan. Apa yang sesungguhnya terjadi di balik sosok tubuh daging Ayah?
Apakah Ayah bertempur dengan kekuatan besar yang tidak kasat mata, yang hanya mau muncul di dapur? Mengapa barang-barang dapur hancur-lebur, sementara Ayah hanya lecet-lecet tak berarti? Baju Ayah memang jadi compang-camping dan berlepotan darah, tapi kenapa beliau nampak semringah wajahnya? Lalu suara mendesis itu suara apa? Lalu disusul bau yang sangat busuk, itu bau apa?
Peristiwa dapur merupakan kelanjutan kecurigaan kami yang lebih besar lagi terhadap Ayah. Sebelumnya, pernah terjadi peristiwa kecil di meja taman. Waktu itu kami bertiga. Di meja bundar kayu mahoni yang melingkari pohon cerme, Ibu menghindangkan Frankfurter Kraz, tart kenari a la Jerman. Tart ini kesukaan Ayah. Kadang-kadang Ayah menampakkan keberingasannya begtu menghadapi tart bikinan Ibu ini. Tapi kelahapannya yang paling puncak adalah ketika Ayah menghabiskan tart itu sendirian, berikut piringnya yang lebar dan berat. Melihat kelakuan Ayah ini, Ibu menggigil lalu menyat dari kursinya sambil menggaet tangan saya. Ketakutan dan kemarahan Ibu terhadap Ayah campur aduk begitu pekat. 
Peristiwa dapur itulah yang mendorong kami menemui Ibu Utami, seorang psikolog yang terkenal. Ibu, saya, Mbak Tuti, kakak sulung, bersama suaminya, Mas Indra; lalu Mas Pramana, kakak kedua, bersama Mbak Mari, istrinya; lalu Mbak Asti, kakak ketiga, bersama Bung David, suaminya, tumplek-bleg di ruang praktek Ibu Doktor itu. Lebih mirip pertemuan keluarga daripada suatu pertemuan konsultasi, kami semua ngomong sampai Ibu Utami repot mendengarkannya. 
“Bapak saudara-saudara akan menjadi musuh terbesar planet ini,” ujar Ibu Utami akhirnya. Mendengar kesimpulan Ibu Utami ini, tentu saja kami semua jadi bengong. Kami jadi ribut membahas kesimpulan Ibu Utami yang mengejutkan ini. Bagaimana mungkin seorang psikolog sudah jadi peramal, begitu kira-kira kesimpulan kami tentang ibu psikolog ini. Ujung ilmu psikolog adalah paranormal?
Meski bagi Kakak-kakak pernyataan Ibu Psikolog itu mengecewakan, tapi bagi saya menjadi sesuatu yang sungguh istimewa. Meramalkan Ayah akan menjadi musuh terbesar planet bumi, bukankah ini luar biasa! Rasanya saya ingin secepatnya melihat hal itu terjadi. Hari-hari yang panjang merupakan penantian yang sering melelapkan. Melihat segala tingkah laku Ayah sehari-hari, kami menebak-nebak, kelakuan yang seperti apa yang bakal menghantarkannya untuk menjadi musuh kami semua. Hmm. Hari berganti hari dipenuhi harapan yang musykil, mendambakan seseorang yang kelihatannya baik untuk menjadi sosok yang paling buruk, bukankah ini juga mengkhawatirkan keselamatan jiwa kami sendiri. Meski lontaran-lontaran pernyataan kami sehari-hari bersifat guyon, tapi hal ini kenyataannya keluar dari hati ynag murni, dan ini tentu berbahaya. 
Keinginan aneh menguntit terus. Juga ketegangan. Saya tak hendak mengatakan hidup bersama Ayah merupakan hidup di neraka. Tidak. Tetapi humor-humor Mas Pramana sering dapat menyadarkan kami bahwa segala kelakuan Ayah yang aneh-aneh dan berbahaya itu barangkali suatu usaha untuk berkelit dari kekerasan hidup. 
“Lelucon-lelucon Ayah, meski mengerikan, itulah pikiran bebas beliau tentang lingkungannya, seperti sikap bebas yang kita miliki juga,” ujar Mas Pramana. Sebenarnya sukar ditebak jalan pikiran Mas Pramana ini. Ia menyanjung atau menyindir. Sebagai kakak kedua, Mas Pramana tidak menunjukkan perhatian kepada orangtua yang milyarder. Sejauh ini sikapnya justru menjauhi keluarga. Ia dengan keras melindungi Mbak Mari dan tiga orang anaknya dari kepentingan-kepentingan keluarga. Kami, tiap orang, yang selalu kebanjiran uang puluhan juta rupiah setiap bulannya, ini bagi Mas Pramana merupakan “lelucon tersendiri”. Sungguh, saya tidak tahu jalan pikirannya. Segala yang keluar masuk saku kami dianggapnya lelucon. Ia selalu melengos jika melihat kekayaan keluarga yang melimpah ruah itu, yang kelihatannya ia hanya ingin mengatakan bahwa semua harta itu haram. Ia bersumpah, sedikit pun tak hendak kecipratan. Sementara itu, Bung David (kakak ipar ini minta dipanggil: Bung) dan Mbak Asti jauh-jauh hari—sejah pengantin baru—sudah mengucilkan diri. Pasangan ini dikaruniai tujuh anak. 
Di kalangan bisnis, Ayah dianggap serakah. Yang membuat saya marah besar adalah julukan yang diberikan kepada Ayah oleh saingan-saingan bisnisnya, sungguh keterlaluan: tong sampah. Gosip ini sudah merambah dari kalangan atas hingga paling bawah. Ayah memang biasa dengan sigap menggunakan kesempatan sekecil-kecilnya untuk mengeruk keuntungan sebesar-besarnya. Celakanya, Ayah mudah terikat oleh kesuksesan orang lain di lahan yang sama. Kemudahterpikatan Ayah inilah yang menyebabkan orang lain menderita. Bagaimana tidak. Jika Ayah terpikat akan kesuksesan pembudidayaan ikan Baronang, misalnya, beliau mengambil begitu saja lahan milik orang itu. Tentu saja ini sama dengan membunuhnya. Dan yang paling ndesit, sangat kampungan—meminjam olok-olok Srimulat—Ayah juga sangat rakus untuk mengganyang bisnis yang paling kere sekalipun. Misalnya warung-warung tenda kaki lima, beliau sampai hati mencaploknya. Ini milyarder macam apa?
Jangan-jangan sebenarnya Ibu Utami ingin mengatakan bahwa Ayah orang yang sakit; hanya tidak sampai hati. Beberapa kali saya diam-diam getol berkunjung ke Ibu Utami untuk mengorek sedetil-detilnya pendapatnya tentang Ayah. Tapi Ibu Psikolog ini tidak bersedia. Sementara itu pemeo yang beredar di masyarakat makin menjadi-jadi: Bagaimana kalau kita bergabung saja dengan kejahatan Ayah? sama ngetopnya dengan lagu yang paling ngetop.
Siang itu cerah ketika saya menjemput Ayah di lapangan golf. Ditemani Ting-Ting, Bom-Bom, dan seorang bodyguard, kami melenggang masuk. Saat itulah hujan deras tumpah dari langit. Kami lihat Ayah dan teman-temannya berlarian meninggalkan lapangan untuk berteduh. Dua orang temannya dengan satu payung melintas. Ayah mengejarnya untuk nebeng payungnya. Ketika Ayah melihat temannya yang lain sendirian dengan payungnya, Ayah meloncat pindah ke situ. Di saat itulah petir menyambar dua teman yang satu detik ditinggalkan Ayah itu. Seketika dua teman Ayah itu tewas. Dan Ayah dengan seorang temannya itu selamat tak kurang suatu apa, yang hanya berjarak tiga meter dari yang tewas itu. 
Saya menyaksikan peristiwa itu gemetaran. Dan Ting Ting—Bom-Bom menjerit-jerit sambil memeluk bodyguard kami. 
Saya ceritakan kembali adegan di lapangan golf itu di hadapan Ibu, Mbak Tuti, Mas Indra, Mas Pram, Mbak Mari, Bung David, Mbak Asti, dan sepasang tamu kami, Sri Widodo dan Rayani. Tidak seorang pun memberi komentar. Tiap orang agaknya dibalut oleh pikirannya sendiri-sendiri. Barangkali Tuhan telah berkenan menyelamatkan Ayah. 
Tuhan? Jika memang akhirnya Ayah menjadi penjahat, kenapa harus diselamatkan? Nabi Kidir membunuh bayi di hadapan Nabi Musa, dengan alasan bayi itu jika besar kelak akan menyusahkan orangtuanya. Dengan demikian berlangsunglah permohonan kepada Tuhan supaya berkenan menggantikannya dengan bayi yang lebih baik. Dari mana Nabi Kidir memperoleh pikiran yang begitu pasti. Rumusan macam apa pula itu? Apa yang sebenarnya bisa dipegang oleh Nabi Kidir dari tindakannya itu? Tapi ini hanyalah pertanyaan dari kutipan yang sedikit saja dari sejumlah besar kalimat yang terhampar pada kitab suci, tempat firman Tuhan dihimpun. Dan Tuhan membela kitab suci-Nya. 
Atau jangan-jangan Ayah diselamatkan oleh setan? Jika memang demikian, apakah setan mempunyai daerah kekuasaan yang jelas? Adakah ruang dan waktu terhenti dan firman berbalik ketika kesempatan menyediakan kepada setan untuk bertindak? Jauhkah jarak yang terbentang antara setan dengan kebenaran? Apakah pengayoman bagi segala makhluk dapat juga disamarkan oleh setan? Begtu kuatkah setan? Ayah, sebenarnya berpihak ke mana? Apakah beliau tahu? Ah, ini hanyalah lalu-lalang pikiran yang tanpa halte. 
Pikiran-pikiran yang semacam itulah yang membuat saya jatuh bersimpuh di kaki Ayah. Saya menangis. Barangkali saya menangisi Ayah. Atau menangisi keluarga. Saya peluk erat-erat kaki Ayah dan air mata saya tentu membanjiri kakinya. Barangkali saya harus bersyukur. Ayah, bagaimanapun sudah cukup perkasa memelihara keluarga. Juga dengan kasih sayang. Jelas sekali kasih sayang itu beliau tunjukkan, hampir-hampir dapat diraba. 
Pernah Ting Ting dan Bom Bom ingin makan hamburger. Kedua anak itu membopong uang berbongkah-bongkah dari kamar ke mobil. Sekian puluh juta rupiah. Beberapa bongkah jatuh dari bopongannya. Lalu kakinya menendang-nendangnya, menggiring uang itu—melewati meja, kursi, pot bunga, dan menuruni tangga lantai—ke mobil. Ayah, yang duduk di kursi goyang memandanginya acuh tak acuh. Sesaat saya melihat Ayah bagai batu gunung yang dingin dan lumutan, cukup sejuk dipandang. Barangkali itulah peran Ayah. 
“Kamu jangan macam-macam,” kata Ayah sambil mencekal kepala saya. “Saya hanyalah pedagang. Kamu tahu tabiat pedagang. Di situ ada batu di situ ada udang. Saya mengangkut batu sebanyak-banyaknya.”
Ayah yang berpikir bebas, melakukan tindakan-tindakan bebas. Juga penuh kekerasan. Siapa saja yang tidak tunduk, Ayah lalu menindaknya dengan tangan besi. Dan tidak ada seorang pun yang tidak bertekuk lutut. Bagi kami sekeluarga, itu semua tak ada harganya. Kami sudah sangat berbahagia dengan cara-cara yang paling sederhana. Sehingga kami sering menyabot sendiri semua usaha Ayah yang penuh penindasan terhadap usahawan lain. Untung sekali Ayah tidak merasa bahwa ada musuh di dalam selimut. 
Ibu, sebagai pemimpin musuh di dalam selimut, tidak jarang menyelamatkan orang-orang yang sudah hampir masuk ke dalam mulut Ayah. Tentu saja Ayah terheran-heran melihat calon-calon korbannya pada berloncatan melarikan diri dan selamat.
“Ini mukjizat. Ini mukjizat,” gerutu Ayah sambil melemparkan paser-paser ke sasarannya di dinding. Lalu saya mengambili paser-paser itu kembali dan memberikannya kepada Ayah. Lalu Ayah mulai lagi melemparkan kembali paser-paser itu ke sasarannya. Olahraga ini nampak sangat menyenangkan Ayah. 
Anehnya, Ayah tak pernah curiga kepada keluarganya. Ayah bekerja mati-matian untuk memberikan kebahagiaan kepada keluarganya. Dengan demikian keluarga pasti memberikan dukungan penuh kepada segala sepak-terjang Ayah. Saya kira seperti ini jalan pikiran Ayah. Di depan pikiran-pikiran saya yang liar, Ayah sering nampak seperti anak kecil. Namun, di depan mata saya, Ayah sesungguhnya binatang yang sangat berbahaya. Orang ini sama sekali tak bermoral, begitu kecaman lawan-lawan bisnisnya. Ayah dianggap sangat jauh dari sopa-santun dan kebejatannya selangit. Mengerikan sekali kedengaran kecaman bertubi-tubi yang dilemparkan kepada Ayah. Ingin rasanya saya melemparkan mereka satu per satu ke dalam sungai yang paling butek. 
Kemesraannya kepada keluarga tak dapat disangkal. Saya yakin Ayah termasuk orangtua yang mampu menyerahkan nyawa dan raganya. Beliau dapat bersusah payah mencari tempat piknik baru yang nyaman, misalnya, untuk menyenang-nyenangkan keluarga. Beliau mengundang teman-teman keluarganya dan memestakannya. Beliau dapat diajak ke mana saja asal dengan begitu teman-teman keluarganya mendapatkan betul kegembiraan. 
Begitulah. Kali ini kami diajak beliau piknik ke kawasan hutan buah-buahan. Kurang lebih lima puluh orang, semuanya teman keluarga—teman Mbak Tuti, teman-teman saya, maupun teman Ayah—lima belas orang di antaranya wanita, menikmati buah-buahan langsung dari pohonnya di hutan buah-buahan itu. “Buah-buahan adalah kue Tuhan,” ujar Pak Takdir Alisjahbana dalam suatu wawancara dengan iman yang dalam mensyukuri mukjizat Allah yang Maha Kepujian itu. Dari sebab hal itu, setiap kali tangan saya menyentuh buah-buahan, saya seperti disuguh kue oleh Tuhan sendiri. Para mahasiswa dari berbagai disiplin ilmu, para pegawai dari berbagai instansi, maupun para pakar dari berbagai keahlian, sengaja diundang Ayah untuk menyaksikan hutan buah-buahannya, yang begitu luas, beliau anggap yang pertama di dunia. Di dalam hutan ini tidak ada tanaman lain kecuali pohon buah-buahan. Durian, rambutan, nangka, hari itu panen bersamaan. Kami makan sepuas-puasnya, dalam ukuran kami nikmati satu per satu. Sejumlah buah-buahan memiliki rasa yang jauh lebih lezat dan jauh lebih wangi. Rupanya, Ayah—lewat para ahlinya—telah melakukan eksperimen yang kemudian diketahui berhasil. 
Kami menginap dua malam di villa yang disediakan Ayah dengan pelayanan yang begitu komplet. Saya sebagai wakil Ayah, tuan rumah, sedapat mungkin menyediakan hidangan khusus, harus berbeda dari kebiasaan yang mereka makan sehari-harinya. Teman-teman lama maupun baru kelihatannya dapat dengan leluasa bergembira dan Ayah dengan gesit menyemarakkannya. Seorang tampil mewakili teman-teman untuk menyampaikan rasa terima kasih atas kebaikan Ayah. 
“Saya mencintai mahasiswa,” begitu pidato Ayah, sedetik dua, yang cukup mengesankan teman-teman. 
Menjelang pulang, kami makan siang dulu. Ada tujuh orang mahasiswi yang belum nongol di ruang makan. Kami makan sambil ngobrol. Sejumlah teman yang telah selesai, berkemas-kemas menyiapkan buah-buahan tentengannya yang akan dibawa pulang. 
Jam satu, ketujuh mahasiswi itu belum muncul juga. Barangkali masih di kamar masing-masing. 
Jam dua, mereka belum muncul juga, padahal teman-teman yang lain sudah mulai masuk ke dalam bis. Saya tengok di kamarnya, ternyata kosong. Barang-barangnya sama sekali belum dikemasi. Ke mana mereka?
Jam tiga, mereka tetap belum muncul. Saya berlari ke sana kemari dari kamar ke kamar. Saya mengitari villa. Ternyata Ayah juga tak nampak. Satu dua orang menyaksikan kira-kira jam 10 mereka berjalan ke hutan ditemani Ayah. 
Secepatnya saya dengan teman-teman berikut dua bodyguard, yang biasa mengawal Ayah, bergerak ke hutan mencari mereka. Ayah dengan tujuh wanita tanpa pengawalan, sungguh di luar kebiasaan. Saya menyalahkan kedua bodyguard itu yang terlena dari tanggung jawab. Ketika kedua orang itu menangkis kemarahan saya, saya cabut pistol dari pinggangnya dan saya todongkan ke pelipisnya. 
“Saya bisa kejam seperti Ayah!” bentak saya. Secepatnya teman-teman menyabarkan saya. 
Sekonyong-konyong bau anyir sangat menyengat menyerodok hidung. Semuanya menyeringai. Saya tatap pemandangan mengerikan yang terhampar di hadapan. Serpihan-serpihan daging, potongan-potongan tulang, cabikan-cabikan kain, dan muncratan darah berhamburan di mana-mana. Sudah tidak mungkin dapat dikenali yang berserakan itu. Bahkan ada yang terburai di cabang-cabang pohon tinggi dengan darah yang mengucur-ucur dari potongan tubuh. Saya tersengat. Saya menjerit-jerit seperti orang gila, menembak-nembakkan pistol ke udara sambil berlari-lari mengelilingi sisa-sisa tubuh sahabat-sahabat saya itu. 
“Ayah!!!” teriak saya menembusi pohon-pohon yang rindang. Saya tidak dapat membayangkan Ayah termasuk orang yang dimangsa binatang yang buas itu. 
Teman-teman seperti tersihir, ikut berteriak-teriak dan buyar berlarian ke segala penjuru. Saya menjerit-jerit terus dan menembak-nembak terus. Sepertinya peluru tak ada habis-habisnya. Saya menerobos masuk ke dalam hutan buah-buahan yang rapat itu. Hamparan buah durian yang menempel-nempel rendah itu menjadi barikade jalan saya. Saya sudah tidak peduli. Saya tabrak saja. Luka-luka pada wajah, dada, maupun tangan, sudah tidak terasa. Rasanya barikade itu makin padat dan kejam. Saya menerobos terus. Dua bodyguard itu mau tidak mau harus mengawal terus. Wajah-wajah mereka sudah penuh luka oleh tikaman buah durian. 
Tujuh orang gadis dan seorang laki-laki tua dalam sekejap ludes dimangsa binatang yang tak seorang pun mampu mengukur kekuatannya, apakah akan dibiarkan saja. Meski anaknya ini bukan laki-laki perkasa tapi ia wajib menuntut balas. Saya menerobos terus. Terus dan terus. Sampai luka-luka menjadi kering. Sampai luka baru muncul. 
Berhari-hari saya memburu. Berminggu-minggu saya memburu. Berbulan-bulan saya merangsek terus. Hanya dendam yang mampu menopang tubuh saya yang sering terjungkal-jungkal. 
Perburuan kami terhalang lautan. Saya tahu binatang itu menyeberangi lautan. Dengan rakit kami arungi lautan. Saya dan dua bodyguard timbul tenggelam. Gelombang raksasa yang mengempas, angin puyuh disertai hujan deras, tak dapat menggoyahkan semangat kami. Rakit merangsek terus. Rasanya saya melihat telapak-telapak bekas tubuh binatang itu di permukaan lautan yang menggelora. 
Mendarat di pulau ini berarti kami mengarungi rimba raya yang sesungguhnya. Buas dan gelap tak tertembus sinar matahari. Pohon-pohon sebesar rumah, setinggi gedung pencakar langit, sedalam malam tak berhingga, seseram lautan yang menggelora. Api unggun kami yang marak hanyalah sebesar lilin ditelan belantara yang hitam itu. Kami sudah tidak mengenal istirahat lagi. Bertahun-tahun sudah kami bertiga memburu, api unggun kali ini kami harap menjadi tumpuan harapan. Ketika kedua bodyguard itu terkulai tidur, betapa saya menatap suatu kesetiaan yang hanya satu dalam seribu. Mereka berdua kelihatan begitu pasti telah merelakan keluarga. Saya sendiri sudah tidak ingat bahwa masih sendirian. 
Kilatan api unggun yang membayang pada wajah keduanya, memperjelas penderitaan dan kesepian. Rambut-rambut putih kami yang disepuh api unggun ini seperti mencoba mengelak dari ketuaan umur kami. Ya, kami bertahan. Kami harus bertahan. Jika tidak demikian, kami sudah musnah sekian tahun yang lalu. 
Tiba-tiba gempa mengguncang. Saya tersentak bangun. Saya lihat kedua bodyguard itu tergantung diam di udara, persis di atas api unggun, sudah tak berbentuk lagi dengan darah mengucur seperti diperas. Dengan gemetaran saya tatap keduanya untuk memastikan mereka ini melayang bergantung pada apa. Lalu guncangan gempa datang lagi. Tanah bergetar, api unggun bergetar, pohon-pohon raksasa bergetar. Mendadak sontak suara mendesis yang dahsyat terdengar, disusul bau yang amat busuk meruap. Dalam keadaan lunglai tak berdaya saya meloncat seperti disengat. Saya ingat sekarang suara desis yang dahsyat itu! Saya ingat sekarang bau yang sangat busuk itu!
“Jahanam!!!” teriak saya sekeras-kerasnya, pohon-pohon pun memantulkannya. Gema teriakan saya bertalu-talu. Bahkan malam ikut memperbesar volume suara teriakan itu, seperti suatu teriakan memohon keadilan, memohon kasih sayang, dan memproklamasikan pemberontakan. 
Saya sudah tidak peduli lagi seperti apa rupa binatang buas yang telah mencabik-cabik jadi serpihan kedua bodyguard saya; hanya ada satu sasaran pasti kini: saya harus membunuh Ayah!
Saya mengejar suara desis yang dahsyat dan bau yang sangat busuk itu ke mana larinya. Saya mengejar terus dengan sepotong kayu yang membara. Saya mengejarnya sepanjang hari sepanjang malam. Saya mengejarnya berminggu-minggu, berbulan-bulan, bertahun-tahun. Berpuluh-puluh tahun. Saya tidak dapat membayangkan bentuk binatang itu. Larinya menimbulkan gempa di bumi dan di langit. Semua daerah yang dilaluinya terjadi kerusakan hebat: porak-poranda batang-batang pohon itu bertumbangan. Seketika hutan menjadi gundul, disusul kebakaran hutan yang meluas hingga asapnya menyundul langit. 
Saya mengejarnya terus beratus-ratus tahun. Saya mengejarnya sendirian. Lebih mirip fosil daripada batang tubuh yang hidup, betapa rapuh sudah tulang-tulang ini, namun saya masih tetap teguh menodong Sang Waktu untuk memberi kesempatan meringkus binatang itu. Ratusan tahun sudah saya lewati bersama pohon-pohon dan suara-suara. Bersahabat dengan gelap yang begitu setia meneduhi dan menyelimuti. Sekali-kali saya kangen Ibu. Juga Mbak Tuti dengan Mas Indra, Mas Pramana dan Mbak Mari, Bung David dan Mbak Asti. Rasanya saya melihat kelebatnya Ting Ting dan Bom Bom di antara pohon-pohon. Tapi saya sadar bahwa orang-orang yang saya cintai itu sudah lama lewat, sudah menyatu bersama keabadian puluhan tahun yang lalu. Generasi baru mereka tentu susul-menyusul menggantikannya. Cucu, cicit, canggah, wareng, udeg-udeg, gantung siwur, mahacucu muncul dan lenyap menyemarakkan zaman. Tapi saya sendirian di sini, menggapai-gapai kekekalan. 
Sampai akhirnya saya berpapasan dengan rombongan Suku Dayak, ribuan orang, yang mencari daerah baru, karena lahan sawah mereka telah hancur ketika dilewati binatang itu. 
“Binatang-binatang itu hampir-hampir tidak berbentuk,” ujar Ketua Suku memberi komentar tentang binatang yang saya buru itu. “Jika ia berbentuk, kita tidak mungkin dapat melihat bentuknya. Sebelum kita sempat melihatnya, kita sudah jatuh pingsan duluan, saking ngerinya.”
“Saya akan mengejarnya terus,” sela saya. 
“Anda tak mungkin mampu menangkapnya,” tukas Kepala Suku. “Binatang itu sudah kami kenal sejak ribuan tahun yang lalu. Goyangan tubuhnya sedikit saja, dapat menimbulkan kebakaran hutan yang apinya akan menyala-nyala selama bertahun-tahun. Binatang itu kerakusannya selangit. Ia tidak hanya nggaglak kayu, tetapi juga menelan rotan, emas, perak, timah, besi, tembaga, garam, intan, batubara, mutiara, uranium, beras, gula, sayuran, gading, udang, dan semua yang mendatangkan kenikmatan.”
“Ayah!!!” teriak saya sambil berlari meneruskan pengejaran. 
Jakarta, 10 Januari 1989
Danarto. Lahir 27 Juni 1940 di Sragen, Jawa Tengah. Saat ini, ia punya tiga buku kumpulan cerpen: Godlob (1975); Adam Ma’rifat (1982), Berhala (1987); dan satu buku cerita perjalanan Orang Jawa Naik Haji (1983), yang kini memasuki cetakan ketiga. Pada 1973, ia memamerkan Kanvas Kosong, suatu jangkauan seni rupa yang meliputi seni lukis, seni patung, dan arsitektur. Pada 1978 Danarto menyutradai naskahnya sendiri, Bel Geduwel Beh yang melenyapkan batas antara pemain dan penonton. Ia pernah mendapat hadiah sastra Buku Utama untuk Adam Ma’rifat. Tahun lalu orang yang gemar makan enak ini mendapat hadiah sastra S. E. A. Write dari pemerintah Thailand. Kegemarannya yang lain adalah tidur. “Kebahagiaan adalah tidur,” katanya. (MATRA, April 1989)
***
Terimakasih dan apresiasi sebesar-besarnya kami haturkan kepada Dyah Setyowati Anggrahita yang telah berkenan mengirimkan karya cerpen lama ini kepada klipingsastra. Salam Sastra
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Danarto
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Majalah Matra” April 1989