Dinding Es di Timur

Karya . Dikliping tanggal 21 Desember 2015 dalam kategori Arsip Cerpen, Koran Tempo
KALAU saja mereka melihat bagaimana Mer menatap laki-laki itu dari jauh, mereka pasti percaya bahwa Mer sudah menghabiskan separuh umurnya untuk mencari laki-laki itu. Sayangnya, ketika lampu-lampu dipadamkan, semua orang langsung bergegas dengan urusan masing-masing. Tidak ada yang melihat betapa tergesa Mer mendekati laki-laki itu, meski si laki-laki sesungguhnya berjalan ke arahnya. 
“Aku tidak bisa, Mer,” ujar laki-laki itu seolah antara Mer dan dirinya hanya terhubung satu perkara. 
“Tolonglah. Aku tahu kau bisa melakukannya. Kau punya kuasa dan orang-orang itu pasti akan mendengarkanmu.”
“Kelihatannya memang begitu. Tapi bukan aku seorang yang bisa memutuskan,” jawabnya.
Mer diam. Laki-laki itu menaikkan lengan panjang kaus merah tuanya sampai siku, lalu memegang pundak Mer dengan dua tangannya. Ia menunduk sedikit untuk mencari mata Mer yang terus saja menatap rumputan. Mer menggoyangkan pundaknya dengan satu sentakan kecil yang membuat laki-laki itu melepas tangannya lalu merapatkan kardigan hitamnya, dan laki-laki itu pun pergi dengan senyum yang sempat ia buat di bibir.
Mer meneruskan lagi apa yang ia kerjakan sebelum laki-laki tadi datang: ia memasukkan kotak-kotak bedak, lipstik, dan lainnya ke dalam sebuah tas kain ungu berukuran besar dan membawanya ke seorang perempuan berambut keriting pendek yang sedang menelepon di dekat seseorang yang merapikan kamera. “Taruh di mobil,” kata si perempuan kepada Mer, dan ke sanalah Mer membawa tas itu. Setelahnya, ia langsung masuk ke mobilnya sendiri, yang diparkir di seberangnya. Ia menyalakan mesin setelah mencolek noda cokelat pada setir yang tertinggal saat tadi pagi ia mengemudi sambil memakan sebatang cokelat setengah lumer.
Mer tiba di rumah pada tengan malam.

KETIKA mobil masuk ke pekarangan rumah, sorotan lampu kuningnya langsung menghajar wajah pucat seorang laki-laki berambut pirang yang duduk di teras. Mata cokelat laki-laki itu menciut di balik tangan kirinya yang mencoba menghalangi cahaya lampu mobil. Setelah lampu mati, laki-laki itu menyambut Mer yang baru menutup pintu mobil. Ia rentangkan tangannya yang besar seperti dahan pohon, hendak memeluk, namun segera Mer mengelak dengan menyampingkan badannya. Dan tangan itu hanya mendarat di bahu Mer.

Mer langsung masuk menuju menuju meja makan dan membiarkan tasnya tergeletak di bangku ruang tamu. Tas itu tentu akan tetap ada di sana seandainya laki-laki itu tak mengambilnya dan, tanpa disuruh, menyusul ke meja makan, meletakkan tas itu di atas kursi hitam di sebelah Mer.
“Kau tidak memasak?”
“Aku menunggumu, sayang. Kau ingin makan apa?”
“Yang cepat saja.” Mer menunjuk mi instan rebus di lemari gantung kecil berwarna cokelat di atas kompor yang berada di depan tempatnya duduk
Si laki-laki melesat ke sana, menarik dua bungkus mi instan dari himpitan bahan makanan lain–spaghetti, sarden kaleng, kornet kaleng, dan teh celup. 
Saat si laki-laki berusaha keras mengeluarkan bumbu mi instan dan menuangkannya ke mangkuk, Mer membuka kardigannya lalu meletakkannya di meja, di sebelah telepon genggam yang sudah dikeluarkannya dari tas.
“Ia tidak bisa, James.”
Mer mengambil telepon genggamnya dan mencoba meletakkannya dalam posisi berdiri. Namun seperti bayi yang belum kokoh berdiri, telepon genggam itu jatuh dan jatuh lagi.
“Siapa?” tanya James di depan kompor.
“Erik.”
Knop kompor sudah diputar untuk mendidihkan air panas di pancir dan James pun duduk di sebelah Mer, memijat-mijat pundak perempuan yang masih bermain-main dengan telepon genggam itu. “Dia bohong. Semua orang tahu dialah yang berkuasa.” Suara James lembut dengan posisi mulut yang hanya berjarak dua atau tiga sentimeter dari kuping kiri Mer.
“Coba saja kau bicara langsung dengannya!”
“Aku? Oh, tidak mungkin, Mer. Tidak, sayang. Dia akan menertawakanku dan… ah! Ini pasti caranya supaya kau meninggalkanku!”
Ia langsung membelai pipi Mer dan menggeser kursi merapat ke tubuh Mer. “Dengar, manisku, aku tidak akan meninggalkanmu,” kata James lagi.
“Tentu!”
“Kenapa kau… Ah, tenang, Mer. Bukan cuma dia yang bisa melakukannya, kan? Maksudku, kau sudah tahu bagaimana bisnis itu berjalan.”
James bangkit dan kembali ke kompor, memasukkan dua mi instan ke dalam air yang bergolak di panci. Diaduknya mi itu dengan sendok sebentar, lalu ia duduk lagi di kursi tadi.
“Kau pasti mengenal orang lain, kan?”
“James, kau terlalu memaksakan keadaan.”
“Karena aku tahu akan bisa melakukannya dengan hebat! Dengar, aku pernah belajar drama pada seorang tetanggaku. Ia dosen di Juilliard!”
“Kalau kau sehebat itu, kau tidak perlu datang ke sini!”
“Mer… kau… sayang.” Digenggamnya tangan Mer dan dipaksanya perempuan itu melihat matanya. Tapi segera Mer melepas genggamannya dan beranjak masuk ke toilet.
“Ayolah, Mer. Sayang, apa kau butuh istirahat? Habis makan kita tidur ya.”
Mer membalasnya dengan suara flush toilet.
KELUAR dari kamar mandi, Mer menyalakan pesawat televisi yang ada di ruangan sebelah meja makan. Di layar ada tayangan ulang acara lawak saat James datang membawa dua mangkuk mi instan yang masih mengepul. Aroma ayam bawang menyelipan dari kepulan asap itu.
James menyerahkan satu mangkuk untuk Mer yang duduk di sofa hijau tua berpermukaan kasar dengan kerutan di sana-sini, sedangkan ia sendiri tidak duduk. Ia tetap berdiri memegangi mangkuknya sambil sesekali memberi komentar atas apa yang ia lihat di layar televisi: “Oh, tidak.” — “Kalau aku jadi kau, aku tidak akan melakukan itu.” — “Ayolah, cara itu lagi?” — “Oh, itu tidak lucu, kawan.”
“Aku bisa melakukannya lebih baik, Mer,” katanya sambil tersenyum pada perempuan yang sedang menggulung-gulung mi instan dengan garpu itu. “Dulu, jika aku maju ke depan mikrofon, semua orang akan terpingkal-pingkal.” James meracau, dan senyumnya sudah berlanjut jadi tawa. “Dan sekali di klab yang ramai di Soho itu ada kakek-kakek yang kejang kena stroke karena tertawa terus.”
James melihat lagi seseorang yang sedang melawak di televisi dan memberi komentar dengan lantang,” Oh, itu fatal!”
“James!” pekik Mer ketika James mematikan televisi.
“Kutunjukkan padamu, sayang, bagaimana seharusnya.” Ia meletakkan mi-nya yang belum dimakan sedikit pun di atas televisi. “Tunggu sebentar.” Kemudian ia masuk ke dalam kamarnya.
Mer mengikuti di belakangnya, tapi bukan untuk masuk ke kamar. Mi di mangkuk Mer sudah habis, dan ia mearuh mangkuk kosong itu di meja makan lalu berjalan ke kulkas untuk minum. Saat ia sedang berdiri di depan kulkas itulah James keluar kamar membawa sebuah topeng karet berwarna kulit dan memakainya. Wajahnya jadi terlihat lonjong dan kepalanya botak. Bibirnya merah tebal dan matanya hitam bulat seperti biji kelengkeng berukuran besar. Ia berdiri tegak menghadap Mer yang sedang memegang gelas, lalu ia menggerakkan tangannya seolah sedang memegang stan mikrofon.
“Namaku Billy,” kata James dengan suara diberat-beratkan, “tapi mereka memanggilku bullet.” Tangannya memegang kepala lonjongnya.
Mer tak menengok sedikit pun. Ia menuangkan air dari botol bening ke dalam gelas, lalu memasukkan kembali botol dan menutup pintu kulkas.
James melanjutkan, “Bukan karena kepalaku lonjong, tapi karena ibuku Amerika dan ayahku Israel.”
Usaha James sia-sia. Mer berbalik badan seperti tidak mendengar apa-apa dan meletakkan gelas di meja makan setelah mereguk habis isinya. “Sudah, James. Tidurlah. Besok kau mengajar, kan?”
James membuka topeng karetnya dan melemparnya ke lantai lalu menyusul Mer ke sofa di ruang televisi lagi.
“Ya, ya, aku akan bangun pagi dan menemui setan-setan kecil itu! Aku akan melakukan sebaik-baiknya meskipun aku membencinya. Ya, aku akan melakukannya untukmu.”
“Apa urusanmu denganku?”
“Ayolah, Mer. Mengapa kau jadi dingin sekali?”
Mer duduk di sofa lagi dan kali ini James duduk di sebelahnya, membenamkan wajah ke pundak Mer. Tidak ada satu pun di antara mereka yang bicara. Hanya suara jarum detik jam dinding terdengar menggaruk-garuk sepanjang jalur putarannya. Dan, lama-lama, Mer melihat tubuh James bergetar. Baju Mer basah di bagian pundak.
James menangis.
“Harus ke mana aku pindah?” Suara James parau dan tidak jelas, teredam pundak Mer tapi air matanya semakin deras. Kepiluan yang teredam selalu lebih menyakitkan.
Dalam keadaan begitu, satu-satunya reaksi Mer adalah membiarkan matanya memandangi dinding putih di hadapannya. Di sana ada empat foto James terpanjang dengan bingkai hitam: ia depan plang Welcome To Fabolous Las Vegas, Nevada, dengan kaus polos abu-abu dan celana panjang biru serta kacamata hitam; ia di depan mobil sedan merah yang terparkir di pinggir jalan Freemont Street, sambil mengacungkan jempol kanan di depan dada; ia di tribun stadion baseball, bersama tiga orang lainnya; dan ia di sebuah konser musik, dengan mulut terbuka lebar seperti sedang berteriak.
Setelah James mengangkat wajahnya lagi, Mer melihat wajah pucat itu memerah. Laki-laki itu menekan-nekan titik di tengah keningnya, di antara kedua matanya, seolah dari sanalah air matanya berasal dan jika menekannya dengan jari, tangisannya akan berhenti mengalir, layaknya menyumbat keran yang bocor. Mer hanya memperhatikan gerak-gerik laki-laki itu tanpa bicara apa-apa. 
Lalu, sambil mengelap mata dan pipinya dengan tangan, James berkata, “Aku akan bekerja. Ya, aku akan melakukannya dengan baik. Kita akan menemukan orang yang akan membantu kita.” Ia tersenyum dan tak bergerak untuk sesaat. Barulah, ketika seakan petir di kepalanya mengalirkan arus listrik pada ide yang lama padam, ia berseru, “Oh, ya! Aku juga bisa menulis kalau mereka mau!” Ia berdiri. “Sebentar.”
“Kau mau apa lagi sekarang?” tanya Mer.
“Kutunjukkan padamu naskah-naskahku yang brilian. Yang memiliki ketenangan es di musim salju, kehangatan musim panas, tapi mendebarkan seperti pasar. Aku mengerjakannya dengan serius dan kau akan lihat buktinya! Betapa indah perumpamaanku. Jenis keindahan yang tetap terasa nyata.” Ia tersenyum lagi dengan wajahnya yang merah lalu berlari masuk ke kamar setelah mengeluarkan paksa ingusnya di tangan dengan suara keras dan memeperkannya ke celana tidurnya.
Saat Mer bangun dari duduknya, ia mendengar James berteriak dari dalam kamar. “Ke mana kertas-kertas brengsek itu? Sebentar, buah ceriku, kurasa aku menyimpannya di lemari. Tidak ada di sini! Ke mana tumpukan sialan itu? Oh, aku pasti melupakannya. Aku pasti lupa pada mahakaryaku. Mer, kekasihku yang lembut, kucari sebentar ya.”
NAMUN sesungguhnya yang James lakukan adalah menangis lagi sambil berdiri menghadap tembok putih berisi lembaran-lembaran foto dirinya bersama beberapa anak-anak dalam ruang kelas, foto yang ia tempelkan secara acak-acakan dengan selotip berwarna kuning. James mungkin tampak memprihatinkan tapi tembok itu tak kalah menyedihkan. Tempelan foto-foto yang ada malah membuat dinding di samping lemari pakaian cokelat yang catnya sudah banyak terkelupas itu jadi makin tidak enak dipandang. 
Seakan buruknya tampilan akibat jejeran foto masih bisa ditenggang, ia juga menempel benda-benda lain di sekelilingnya: enam pasang tiket bioskop; guntingan kalender bulan Mei dan Juni yang tanggalnya sudah dilingkari semua; dan tulisan I can do it! miring warna hijau yang posisinya di atas jejeran foto, dengan kata I dicoret dan diganti dengan kata we. 
James menyetuhkan tangan kanannya ke foto-foto itu dan tangan kirinya menutup mulut untuk meredam suaranya. Seakan foto-foto itu mencabuti kuku-kuku jari tangan kanan James. Dan kika ada yang melihat raut wajah anak-anak itu, terbayangkanlah bahwa rasa sakit tak terkira yang diderita seseorang bisa mendatangkan kesenangan luar biasa bagi orang lain.
Mer sendiri saat itu sudah berada di meja makan kembali. Ia duduk menghadap tas dan kardigannya yang masih teronggok di atas meja itu. Lalu perlahan, ia dorong tangannya hingga terjulur makin jauh, masuk ke bawah kardigan. Diangkatnya jari telunjuk kanan di bawah kardigan hingga tegak seperti penis yang menegang di balik celana. Mer menggerak-gerakkan jari itu ke kanan dan ke kiri mengikuti irama detak jarum jam sambil mulutnya membisikkan suara bunyi lonceng.
“Deng… deng… deng.”
Dengan cara itu kesunyian dirawat dan itu berhasil setidaknya sampai gerakan tangan dan bunyi tiruan lonceng yang kedelapan belas. Gerakan dan suara Mer berhenti ketika suara keras James tiba-tiba masuk ke telinga kanan Mer yang menghadap ke atas.
“Sayang, kau menginap, kan?”
Mer tak menjawab. Ia bangkit dari duduknya.
Rizaldy Yusuf lahir di Tangerang, 21 Oktober 1991. Ia bekerja di Jakarta.
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Rizaldy Yusuf
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Koran Tempo” Sabtu 19 Desember 2015