Doa di Gigir Bukit

Karya . Dikliping tanggal 28 Oktober 2018 dalam kategori Arsip Puisi, Suara Merdeka

Doa di Gigir Bukit

: sedulur kendeng utara

di gigir bukit
waktu melungit
menjelang subuh
segala apa luruh
buliran jagung itu meruah
nyaris menyentuh atap rumah
setiap butir menyesap doa dan pengharapan
melesat ke haribaan sang Pencipta Kehidupan
setiap malam, beratus-ratus malam
kudengar dengung serupa mantra
buliran jagung melenyap
dengung doa melesap
runtuhlah runtuh pabrikmu, utuhlah utuh gunungku
runtuhlah runtuh pabrikmu, utuhlah utuh gunungku
runtuhlah runtuh pabrikmu, utuhlah utuh gunungku
runtuhlah runtuh pabrikmu, utuhlah utuh gunungku
runtuhlah runtuh pabrikmu, utuhlah utuh gunungku
runtuhlah runtuh pabrikmu, utuhlah utuh gunungku
runtuhlah runtuh pabrikmu, utuhlah utuh gunungku
runtuhlah runtuh pabrikmu, utuhlah utuh gunungku
runtuhlah runtuh pabrikmu, utuhlah utuh gunungku
runtuhlah runtuh pabrikmu, utuhlah utuh gunungku
runtuhlah runtuh pabrikmu, utuhlah utuh gunungku
runtuhlah runtuh pabrikmu, utuhlah utuh gunungku
runtuhlah runtuh pabrikmu, utuhlah utuh gunungku
runtuhlah runtuh pabrikmu, utuhlah utuh gunungku
runtuhlah runtuh pabrikmu, utuhlah utuh gunungku
runtuhlah runtuh pabrikmu, utuhlah utuh gunungku
runtuhlah runtuh pabrikmu, utuhlah utuh gunungku
runtuhlah runtuh pabrikmu, utuhlah utuh gunungku
runtuhlah runtuh pabrikmu, utuhlah utuh gunungku
runtuhlah runtuh pabrikmu, utuhlah utuh gunungku
runtuhlah runtuh pabrikmu, utuhlah utuh gunungku
runtuhlah runtuh pabrikmu, utuhlah utuh gunungku
runtuhlah runtuh pabrikmu, utuhlah utuh gunungku
runtuhlah runtuh pabrikmu, utuhlah utuh gunungku
runtuhlah runtuh pabrikmu, utuhlah utuh gunungku
runtuhlah runtuh pabrikmu, utuhlah utuh gunungku
runtuhlah runtuh pabrikmu, utuhlah utuh gunungku
runtuhlah runtuh pabrikmu, utuhlah utuh gunungku
runtuhlah runtuh pabrikmu, utuhlah utuh gunungku
runtuhlah runtuh pabrikmu, utuhlah utuh gunungku
runtuhlah runtuh pabrikmu, utuhlah utuh gunungku
runtuhlah runtuh pabrikmu, utuhlah utuh gunungku
runtuhlah runtuh pabrikmu, utuhlah utuh gunungku
aku terus terjaga
seraya mengeja
alif ba ta
ya, Gusti
kabulkan doa mereka.

10 November 2015

Engkau Telah Kehilangan Telinga

engkau kini telah kehilangan telinga dan memilih bertekun mengolah dendam dan kebencian setiap hari di sembarang tempat. sementara sawah, ladang, dan huma kaubiarkan mengering dan membera. lalu hutan, gunung, dan samudra kaubikin tuba, menggulung semua-mua menjadi sampah menjadi entah. engkau menceracau setiap saat dan tak pernah bersedia berbagi tempat pada siapa pun yang berbeda. kaukirim sumpah-serapah ke sembarang alamat, tanpa pernah mau tahu apakah tetangga samping rumahmu masih mampu membilang usia lantaran tungku mereka telah kehilangan api, yang membakar jutaan hektare hutan di kalimantan dan sumatera. dan, karena itulah, kau tak pernah lagi merasa kehilangan suara jengkerik di sesela rumputan yang gar- ing dan kicau tekukur yang tak menemu reranting pepo- honan. engkau sungguh perwira saat setiap kali menje- lang senja mengamangkan laras senapan ke setiap dahi petani dan buruh, lalu ketika malam tiba di layar televisi riang gembira kautiup gelembung sabun bersama kanak- kanak yang riuh ñ setiap di antara mereka berharap bisa pulang membawa sepeda. bagimu, penderitaan sesama cuma metafora. maka bagimu jerit perih mereka pun serupa dentam musik pada pengujung pesta.

sialan, kamu memang sialan!

Kaligawe, 3 September 2017: 21.52

Gunawan Budi Susanto menulis esai, cerita pen- dek, novel, dan puisi. Kini, dia bergiat di Sekolah Menulis & Membaca dan berdomisili di Semarang. (28).


[1]Disalin dari karya Gunawan Budi Susanto
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Suara Merdeka” Minggu 28 Oktober 2018