Doa Penggali Kubur

Karya . Dikliping tanggal 6 September 2016 dalam kategori Arsip Cerpen, Koran Lokal, Pikiran Rakyat

SATU yang tertanam di benak Gunawan saban menyambut pagi, bagaimana hari ini bisa pulang membawa rezeki untuk orang-orang yang dikasihi. bagai sebatang pohon, ia adalah akar. Sumber kehidupan bagi dahan, buah, dan dedaunan. Akar memacu dahan, buah, dan daun untuk tetap hidup dan tumbuh subur. Apabila akar cela, niscaya celakalah rupa.

GUNAWAN segala-galanya bagi keluarga. Ia memikul tanggung jawab untuk enam kepala sekaligus, istri, dua orang anak, serta seorang adik yang ikut bernaung di bawah payung kasih sayangnya. Terlahir sebagai anak tukang becak tak banyak memberi keuntungan bagi hidup Gunawan. Orangtuanya mangkat tanpa mewariskan harta selain rombengan. Malah, kepergian mereka berbuntut utang dengan beberapa orang jiran yang kini menjadi tugas Gunawan untuk melunasinya. Hanya berbekal ijazah SMP, tanpa keahlian kerja yang bergengsi, Gunawan menjemput rezeki dengan menjadi tukang gali kubur.
Telah tujuh tahun lebih ia melakoni pekerjaan menggali kubur. Sejak rambutnya masih legam hingga sekarang mulai ditumbuhi uban. telah beratus-ratus liang ia persembahkan untuk mayit-mayit. Telah banyak kesan yang ia dapatkan selama menjalaninya. Di bawah terik surya atau tikam air hujan, ia mengayun pacul. Berkat ayunan paculnya itu pula, ia bisa memiliki otot bisep yang padat menggelembung.
Namun, sepanjang masa bakti Gunawan, penghasilan yang didapat tidak bisa membuat strata sosialnya beranjak naik. Tidak seperti direktur bank, dokter, arsitek, pilot, atau pengusaha batu bara yang bisa hidup enak dari gaji, duduk di kursi putar, menyeberang benua, dan punya tabungan persiapan hari tua. Nilai upah Gunawan hampir tidak pernah berubah dari masa ke masa. Pekerjaannya tidak mengenal standar upah resmi dari pemerintah. Tiap satu lubang, keringatnya hanya dihargai seratus ribu rupiah. Itu pun, tidak bisa diterima rutin karena belum tentu setiap hari ada orang wafat dan dikuburkan di pemakaman tempat ia bekerja.
Berat beban menggali kubur, lebih berat lagi mendengar omelan sang istri, 
Farida. Dulu, semasa lajang, ia mengenal Farida sebagai wanita pemalu yang tidak banyak cingcong. Gunawan jatuh cinta karena Farida tidak kelihatan seperti wanita-wanita lain yang banyak maunya. Tetapi, tiga bulan setelah ia menghalalkannya, Farida menunjukkan perubahan drastis. Dia menjelma menjadi wanita nyinyir dan tidak sabaran. Saban hari yang dibicarakan tak jauh-jauh dari duit, duit, dan duit. Kapan ada duit? Kapan nambah uang belanja? Kapan utang di warung akan dilunasi? Kapan bayar tunggakan listrik? Kapan, kapan, dan kapan?
Gunawan kejang batin. Kalau marah istrinya bangkit, ia hanya mengatakan, “Sabarlah, bojo-ku. Moga-moga banyak orang mati dan dimakamkan di tempatku bekerja. Jadi aku  bisa bawa pulang uang banyak untukmu.”
Farida lantas berpikir apa yang dikatakan Gunawan ada benarnya. Dia menyimpulkan, “Makin banyak yang mati, makin banyak uang yang kudapat dari suamiku.”
Sejak saat itu, setiap hari mereka berdoa agar musim kematian segera tiba. Gunawan yang paling rajin berdoa dan menjadikannya suatu kebiasaan. Dia selalu mendoakan para jompo di kampung mereka agar lekas tutup usia. Sebagai kepala keluarga, ia bahkan mengajarkan anak-anaknya untuk mendoakan yang sama.
Miranti, anak sulungnya yang berumur enam tahun, dengan kepolosan seorang bocah pernah bertanya, “Kenapa kita harus mendoakan nini-nini dan aki-aki cepat mati, Pak?”
“Karena mereka sudah tua. Yang tua, pasti akan cepat mati,” jawab Gunawan enteng.
Miranti semakin yakin pada jawaban sang ayah ketika sang ibu ikut membenarkan.
***
MUSIM kematian yang dinantikan datang juga. Dalam beberapa bulan terakhir, memang banyak saja yang meninggal dunia. Sebagian besar menimpa orang-orang yang sudah lanjut usia. Perkaranya beragam, tapi lebih banyak karena menderita sakit tua. Bagi Gunawan, kematian mereka semacam doa yang dikabulkan. Berkah yang melimpahi para tukang gali kubur. Dalam sehari ia bersama kawan-kawan sejawat mendapat pesanan menggali empat hingga lima liang. Gunawan senang. Kalikan sendiri berapa rupiah yang bisa ia kantongi.
Musim kematian memberi dampak besar bagi kehidupan rumah tangga Gunawan. Dari penghasilan yang didapat, sedikit demi sedikit mereka bisa mencicil utang dan membeli kebutuhan yang sempat tertunda. Kondisi batin Gunawan juga membaik seiring Farida mulai tidak marah-marah lagi. Setiap pulang dari makam, ia disambut senyum manis sang isteri yang berpoles gincu sirah, secerek teh manis dingin, dan sepiring singkong goreng. Ternyata, uang bisa jadi obat mujarab untuk mengobati istri yang suka ngomel-ngomel.
Gunawan makin gencar mendoakan agar orang-orang cepat mati. Tiap ada orang tua yang sakit-sakitan, ia datang menjenguk dan diam-diam mendoakan agar ajal segera datang menjemput. Lama-lama, Gunawan mulai tidak terkendali. Selain senang bila banyak jompo yang mati, dia juga merasa berkat doanya para jompo terbebas dari beban penderitaan di hari tua. Menurut Gunawan, makin senja usia, makin banyak yang tidak dapat dilakukan oleh mereka selain menatap hampa hari-hari panjang di atas kursi roda dan ranjang. Anak-anak mereka juga tidak perlu repot dan makan hati karena lelah mengurus terlalu lama.
Namun… suatu hari yang tidak terduga-duga, Gunawan dihantam telah oleh sebuah berita berdarah. Malam itu, ia duduk di teras menunggu isteri dan kedua anaknya pulang dari kenduri di kampung sebelah. Dia tidak punya firasat apa-apa sebelum beberapa orang warga datang membuat batinnyajadi berombak. Mereka bilang, angkot yang ditumpangi Farida dan anak-anaknya mengalami kecelakaan. Mobil terguling masuk jurang dan meledak. Tidak ada yang selamat. Semua tewas terpanggang.
Gunawan tergemap. Kabar itu membuat seluruh energi di dalam tubuhnya musnah. Ia rubuh.
Keesokan hari, di hadapan Gunawan berjejer tiga mayit dalam berbagai tingkat usia, tapi tak satupun dari ketiganya sempat menyentuh usia senja. Mereka mati muda, menjadi bagian dari musim kematian. Menjadi rezeki yang ditunggu-tunggu para penggali kubur lain selain Gunawan.
Gunawan menyadari bahwa ajal itu buta dan menyesali doa-doanya. Ajal tak pernah mengenal batas usia. Dia bisa merapat kapan saja tanpa harus ada yang meminta. Di hari itu juga, Gunawan ikut mengeruk tiga lubang untuk mereka bertiga. Bedanya, kali ini jelas tidak ada kesenangan di dalamnya.***
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Ullan Pralihanta
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Pikiran Rakyat” Minggu 4 September 2016